Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 69 -POV Selesai


__ADS_3

Aku menghampiri anak laki laki itu. Saat aku melihatnya dari dekat, dia sedang tidak sadarkan diri. Namun aku bisa mencium pekatnya aroma darah dari tubuh anak itu. Bahkan aku bisa merasakan jika anak itu sudah pernah membunuh beberapa iblis. Padahal jika dilihat dari tubuhnya, dia pasti masih berusia sekitar 7 tahun.


Aku sedikit tidak percaya saat menyadarinya. Anak berumur 7 tahun sudah membunuh. Bahkan di setiap kehidupanku, aku tidak pernah membunuh seseorang dengan umur semuda itu.


Kondisi di sekitar tempat ini begitu kacau. Tempat yang dikenal dengan perang tiada akhir digelimpangi oleh darah. Setelah aku turun tangan membereskan perang yang dilakukan oleh Raja iblis sebelumnya, akhirnya perang ini bisa aku selesaikan untuk 'sementara'.


Lalu tanpa sengaja aku malah mendapati seorang anak iblis yang masih bernyawa di tempat seperti ini. Rasanya aku tak percaya bila anak semudanya bisa bertahan diantara perang. Jauh di depan sana, aku juga bisa melihat sebuah pedesaan yang sudah luluh lantah dengan tanah. Puing puing bertebaran dimana mana. Aku jadi menduga bila anak ini berasal dari sana.


Aku membawa tubuh anak itu dan mendekati desa yang sudah runtuh. Tidak ada satupun diantara iblis ini yang masih hidup. Bahkan..., mereka semua sudah menjadi tulang belulang. Diperkirakan mereka telah mati 2 minggu lalu hingga menciptakan bau begitu busuk.


Anak ini... Dia bertahan di sini sendirian? Dia tangguh juga. Aku segera membaringkan tubuh anak itu ke tanah. Tidak hanya itu, aku juga memanggil dokter yang berada di tenda--cukup jauh dari tempat ini.


Aku memerintahkannya untuk mengobati anak tangguh ini dan Dokter pun segera menutup luka luka dan memberikan sebuah pil obat pada anak di depanku. Tidak membutuhkan waktu lama, wajah pucat anak itu segera membaik.


Aku pun memerintahkan semua iblis agar kembali ke tenda masing masing. Awalnya mereka ragu untuk meninggalkanku sendirian, karena bagaimanapun tempat ini adalah sebuah medan perang walaupun sudah usai. Aku yang mengerti dengan pemikiran mereka langsung memberikan tekanan auraku hingga mereka menuruti perintah.


Tinggal aku dan anak itu di sini. Desa yang sudah luluh lantah tidak akan bisa ditinggali lagi. Aku jadi tertarik untuk memberinya kekuatan. Apa yang akan terjadi bila dia memiliki kekuatan hebat hingga melakukan pembalasan pada kerajaan yang berperang? Desa ini jelas sekali terdampak akibat perang ini hingga hanya menyisakan seorang anak kecil saja.

__ADS_1


Aku pun memberikan banyak kekuatanku padanya. Jika dia mati walaupun aku sudah memberinya kekuatan seperti ini atau dia mati karena tidak bisa menampung kekuatanku, maka dia memang tidak pantas hidup. Aku segera pergi meninggalkannya sendiri setelah selesai dengan urusanku.


Awalnya niatku hanyalah untuk bersenang senang dengan menggunakan kehidupan anak ini. Tapi tak disangka, anak itu sampai bisa menjadi seorang Raja iblis karena menghabisi Raja iblis yang berperang melawanku sebelumnya.


Saat itu terjadi, aku terpikirkan sesuatu. Pohon kehancuran masih membutuhkan banyak darah. Bahkan bisa dikatakan, banyak sekali. Aku harus mengorbankan ratusan juta nyawa lagi untuk bisa mencapainya. Hanya saja, itu terlalu melelahkan dan membosankan. Tidak ada hiburan sama sekali hingga aku akhirnya mendapatkan ide bagaimana cara menghancurkan dunia ini dengan hiburan cukup bagus.


Di saat yang sama, aku pun menyadari kehidupan tak asing yang kurasakan. Tiba tiba pandanganku seperti melihat tempat lain. Semuanya begitu jelas terlihat, seakan aku berada di sana.


Aku sedikit terkejut saat tiba tiba melihat wajah orang yang kukenali. Itu adalah... Stev..! Aku seperti berhadapan dengannya secara langsung! Apa yang sebenarnya terjadi?


Setelah kepergian Stev, tanpa sengaja tatapan mataku langsung beralih menatap hal lain. Pandangan mata ini terus bergerak seperti sedang berjalan. Aku terus diam dan memperhatikan dengan seksama. Hingga akhirnya, iblis yang kuambil penglihatannya ini berkaca di depan sebuah cermin yang ada dalam sebuah ruangan.


Aku terkejut. Sosok ini.. Wajah ini.. Aku tidak akan lupa. Dia.. Adalah boneka ciptaanku. Boneka paling sempurna yang kuciptakan. Tapi kenapa dia bisa berada di tempat Stev? Dalam penglihatan ini, Stev sepertinya percaya dengan bonekaku. Apa boneka ini mendapatkan sebuah posisi di sana? Tapi.. Sudah sejak lama aku tidak melihatnya, namun dia sudah bisa melakukan itu?


Aku mencari tahu tentang identitasnya sekarang ini. Aku cukup penasaran dengan keadaannya sekarang. Walaupun dia hanya boneka, namun iblis lain sepertinya tidak menyadari itu.


Setelah kuselidiki, aku pun akhirnya tahu. Dia sekarang menjadi tangan kanan Stev. Itu kedudukan yang sangat tinggi untuk boneka sepertinya. Apalagi dari penglihatan matanya, aku jadi tahu jika dia berhubungan menjadi mata mata untuk Leon, anak yang kutolong dulu.

__ADS_1


Pada saat itu pula, aku merombak rencanaku. Aku menyusunnya kembali dengan lebih detail. Aku membuat sebuah buku yang terlihat kuno untuk kusimpan di perpustakaan tiap kerajaan--kecuali kerajaan Leon secara diam diam.


Aku juga membukakan sebuah gerbang dunia seolah muncul dengan tiba tiba di suatu tempat, lalu menyedot panglima dari Leon untuk pergi ke dunia manusia. Dengan ini, Leon hanya sendiri. Jika harus melawan semua Raja yang memperebutkan kekuatan kuno yang sebenarnya adalah kekuatanku yang kusimpan dalam tubuhnya, maka Leon tidak akan bisa bertahan.


Tapi tidak kusangka para Raja itu masih ragu untuk menyerang Leon setelah tahun lalu mendapatkan buku kuno yang kutulis. Rumor tentangnya yang sangat kuat sepertinya membuat mereka tidak bisa bergerak sembarangan.


Lalu beberapa tahun kemudian, panglimanya kembali bahkan dari yang kudengar dari pembicaraan bonekaku dengan Leon, ternyata panglima bernama Radolf itu membuat kesalahan yang begitu besar. Dia melanggar aturan dunia iblis. Aku tidak menyangka mendapat informasi seperti ini. Padahal aku hanya membawanya ke dunia manusia agar tidak ada yang bisa membantu Leon, tak kusangka jadi seperti ini.


Ini adalah kesempatan untuk para Raja penakut itu untuk maju. Dengan alasan menyerang Leon karena pelanggaran dari bawahannya, itu akan lebih baik.


Namun aku tidak langsung menyebarkan ini. Jika Leon itu sampai mencurigai bonekaku yang telah membocorkan informasi pelanggaran Radolf, maka rencanaku akan menjadi sulit. Aku pun menunggu sebentar sebelum akhirnya menyebarkan itu.


Walau membutuhkan waktu agar para Raja itu mau menyerang Leon, namun itu tidak masalah. Karena pada akhirnya, mereka benar benar menyerangnya. Bahkan malah bekerja sama untuk memperbesar kemungkinan untuk menang.


Lalu kini.. Setelah menunggu begitu lama.. Akhirnya.. Pohon kehancuran itu tumbuh!


POV Ralt End~

__ADS_1


__ADS_2