
Rafa yang masih terkejut dengan apa yang sudah terjadi, kini mulai sadar. Temannya itu pasti sangat kesakitan. Ia langsung jongkok di lantai dan menatapnya dengan khawatir, "K-Kevin, kita harus segera menutup lukamu."
Walaupun ia mencoba menenangkan dirinya, namun ia tidak bisa. Kejadian ini begitu tiba tiba dan membuatnya begitu syok. Apalagi melihat potongan lengan temannya yang kini masih ada di depannya.
"Sakit..., ini sangat menyakitkan...," lirih Kevin dengan mata berkaca kaca. Ia menangis bukan karena cengeng, tapi karena rasa sakit di tangannya itu memang bukan main.
Rafa merasa ngeri setelah melihat dengan jelas keadaan tangan Kevin sekarang. Ia merasa tak sanggup melihat keadaannya yang seperti ini. Ia harus mengambil kotak obat. Tapi ia tidak bisa meninggalkan Kevin sendirian di sini.
Ia ingin bergerak, namun rasanya begitu berat. Tubuhnya seakan tak mau bergerak. Ia takut, ia sangat takut melihat keadaan ini. Melihat bagaimana temannya terluka semudah ini, "Ayo.. ayo bergerak! Kevin terluka, a-aku harus segera menutup lukanya. Bergerak'lah, sialan!" batinnya.
Karena ia tidak bisa bergerak dari tempatnya berada, Rafa langsung menyobek baju tangan kanannya dan melilitkannya pada lengan Kevin. Tangannya sangat gemetar entah sejak kapan, "Bertahanlah.." bahkan suaranya pun gemetar sekarang. Deru nafasnya tidak beraturan.
Dahi Kevin berkeringat karena menahan rasa sakit. Ia menggigit bibirnya agar ia tidak kembali berteriak seperti sebelumnya.
"KAU MENDENGARKU?! CEPAT KEMARI! JANGAN MEMBUATKU MENUNGGU! WALAU RAJA SEKALIPUN, AKU TIDAK PEDULI!" Teriak Flynn kembali. Ia merasa begitu emosi saat ini, karena Leon tidak juga menampakkan dirinya.
Rafa dan Kevin dibuat terkejut oleh suara teriakan yang dilakukan oleh Flynn. Kevin yang selalu berani, kini menjadi sedikit takut karena apa yang sudah diperbuat oleh pria itu.
Untuk pertama kalinya, Kevin seperti ini. Padahal sebelumnya, tidak ada orang yang pernah bisa membuatnya takut. Tubuhnya bergetar karena sakit dan juga takut.
***
Leon saat ini berada di hutan yang baru saja ditinggalkannya. Ia tahu ada sesuatu yang terjadi di rumah. Karena sesaat sebelum ia kemari, ia sempat mendengar suara teriakan Kevin.
Pada saat itulah, Need langsung memindahkannya ke tempat ini seolah tahu hal yang terjadi di rumah.
"Cepat kembalikan aku ke rumah," ucap Leon dengan kesal. Ada suara teriakan orang asing di rumah dan disusul dengan jerit kesakitan Kevin. Bagaimana bisa ia mengabaikan hal itu?
"Tidak perlu mengkhawatirkan mereka. Pikirkan saja dirimu sendiri. Orang yang masuk ke rumah adalah jenderal Flynn. Dia perwakilan dari Raja Flor. Jika kau tertangkap, maka kau akan diserang habis habisan olehnya sebelum dibawa ke dunia iblis," ucap Need.
Leon merasa geram oleh ucapan Need. Dia terus terusan menolak untuk membawanya kembali, "Jika aku tidak boleh ke rumah untuk mengecek kondisi mereka, lalu apa? Apa yang harus kulakukan? Kenapa kau tidak menyerangnya dan mengusirnya saja dibandingkan diam di sini dan menjagaku?"
"Menyerang Flynn hanya akan membuat masalah yang tidak perlu. Aku akan dicap sebagai pemberontak. Jika seperti itu, aku tidak akan bisa menolongmu dengan bebas sama sekali. Lalu saat kau terbebas dari semua ini, aku yang akan memberikan informasi tentang para Raja padamu. Jadi aku tidak boleh sampai dicap seperti itu.
__ADS_1
Sejujurnya, aku khawatir mereka akan melakukan sesuatu padamu. Karena sudah 3 bulan sebelum mereka menyerangmu, mereka sudah tahu kejahatan yang dilakukan oleh si sialan Raflo. Tapi mereka tidak melakukan apapun dan hanya diam tanpa mengganggumu.
Lalu kenapa mereka baru bertindak sekarang? Bahkan mereka sangat berusaha keras untuk mencarimu sampai mengirimkan panglima mereka? Padahal mereka bisa saja mengirimkan banyak iblis kuat lain. Namun mereka langsung mengirimkan panglima.
Aku memiliki firasat buruk dengan apa yang mereka lakukan. Mereka pasti mengincar sesuatu darimu setelah mengetahui sesuatu. Jadi kau jangan sampai tertangkap," ucap Need dengan serius.
"Aku tidak peduli, aku ingin pergi ke sana. Mereka berada dalam bahaya!" Leon menjadi lebih geram.
"Jika kau ke sana, lalu apa yang akan kau lakukan? Kau akan melawannya dengan kekuatanmu tadi? Kau bisa melakukannya? Kau sudah tahu cara bertarung? Jujur saja, apa yang kau lakukan padaku tadi sama sekali bukan hal berarti. Itu tidak memberikan luka fatal.
Kau tidak akan bisa menghentikannya hanya dengan kekuatan itu. Pada akhirnya kau hanya akan membuat keadaan lebih buruk. Kau sudah mendengar bagaimana teriakannya. Dari pengamatanku, dia sudah biasa bertarung. Satu goresan saja tidak akan bisa membuatnya berteriak atau kesakitan.
Itu pasti karena yang terjadi padanya lebih buruk dari itu. Flynn tidak main main dalam melukainya. Kau mengerti? Lebih baik diam di sini dan menunggu dia pergi dari rumah itu."
Leon merasa kesal dengan apa yang diucapkan Need. Namun itu tidak sepenuhnya salah. Apa yang bisa ia lakukan? Tapi walaupun begitu, ia tidak bisa hanya berdiri diam saja di sini. Rafa dan Kevin jadi terlibat dengan urusannya. Mereka terluka karenanya. Lalu ia sendiri? Ia hanya bersembunyi seperti pengecut.
Ia merasa frustasi karena tidak bisa melakukan apapun. Apakah ia tidak bisa melakukan apapun? Apa yang akan terjadi pada Kevin dam Rafa setelahnya?
***
"Ck, kalian berisik sekali! Apa kalian tidak bisa diam?! Hanya satu tangan saja yang terpotong, tapi kalian sangat berisik! Apa perlu kupotong semua tangan dan kaki kalian berdua?!" teriak Flynn dengan kesal.
Kevin dan Rafa terlonjat kaget. Mereka sangat terkejut dengan apa yang diucapkan pria itu. Ancaman yang sangat menakutkan. Mereka pun mencoba untuk tidak menimbulkan suara apapun.
Sreett
Garis di lantai terbentuk di depan mereka. Keduanya langsung terkejut hingga langsung menatap Flynn. Pria itu baru saja melemparkan sebuah serangan sebagai bentuk peringatan.
"Bawa Raja Leon ke hadapanku!"
Keduanya terdiam. Mereka tidak mengerti siapa yang dimaksud oleh Flynn. Tapi dia menyebut nama Leon. Namun orang yang dimaksudnya pasti bukanlah Leon. Itu yang dipikirkan Rafa. Tapi berbeda dengan Kevin. Yang dimaksud Flynn pasti memang Leon.
"D-dia tidak ada di rumah ini," balas Kevin. Ia dengan keberaniannya yang cukup menatap Flynn tanpa ragu.
__ADS_1
"Omong kosong!" ucap Flynn.
Bruukkk
Tubuh Kevin terlempar dengan kuat hingga menghantam dinding setelah mendapat pukulan tiba tiba dari pria itu.
Dinding yang terkena tubuh Kevin bahkan menjadi retak akibat hantaman itu. Pukulan yang sangat keras.
Tubuh Kevin jatuh ke lantai dengan wajah yang menghadap lantai. Dahinya terluka. Ia pun terbatuk darah. Seluruh tulangnya terasa remuk. Ini membuatnya semakin kesakitan.
Rafa tidak bisa bereaksi cepat dengan apa yang baru saja terjadi. Ia melihat ke depannya. Flynn sudah tepat berada di depan dengan pandangan mata yang tertuju pada temannya.
Ia pun memberanikan diri mengalihkan pandangan dari Flyn dan melihat keadaan Kevin. Pemuda itu tersungkur di lantai dengan keadaan yang semakin parah, "Kevin..," gumamnya. Tidak pernah sekalipun ia melihat keadaannya yang separah ini.
"Aku bisa merasakan auranya tadi. Tapi auranya tiba tiba saja menghilang. Apa yang terjadi? Bagaimana bisa dia melakukan itu?! Padahal aku sudah lelah untuk pergi kemari, tapi dia tidak ada," Flynn berjalan mendekati Kevin dengan perasaan kesal. Ia ingin melampiaskan semuanya pada pemuda itu.
Rafa terkejut melihat Flynn yang mendekati Kevin. Jika dibiarkan, pria itu pasti akan melukainya lebih jauh. Ia merasa takut, namun ia tidak bisa membiarkan Kevin semakin terluka. Ia tidak bisa diam saja dan menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Rafa mencengkram kaki Flynn dengan tangan. Ia begitu gemetar. Tapi ia menahannya, "T-tunggu.."
Flynn berhenti dan melihat ke bawah dengan wajah sinis, "Ada apa? Kau ingin menggantikannya terluka?"
Rafa terkejut. Ia tidak menjawab, namun tangannya tetap menahan kaki Flynn.
Flynn langsung menendang tubuh Rafa dengan kuat, "Jawab! Apa kau tuli hah?!"
"Uhuk..," Rafa terbatuk karena tendangan itu. Namun ia tidak melepaskan cengkramannya. Ia masih dengan kukuh mempertahankan pria itu agar tidak mendekati temannya.
Flynn menjadi kesal. Ia berkali kali menendang tubuh Rafa untuk melepaskan cengkraman tangan itu. Tapi, Rafa tidak mau melepaskannya sama sekali, "Lepaskan kakiku, sialan!"
"T-tidak.."
Bruukk Bruukkk
__ADS_1
Flynn mulai memukul mukul tubuh Rafa. Ia menendang dan memukulnya berkali kali. Tapi tidak sedikitpun cengkraman itu melemah.