
Kevin melirik Leon saat menyadari bila mereka kembali ke rumah Rafa. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada anak itu, "Sebenarnya siapa dia? Bagaimana bisa dia membawa kita ke tempat itu dan membawa kita kembali ke sini dalam sekejap?
Aku bahkan tidak menggerakkan kedua kakiku untuk pulang. Tapi dia..., itu seperti kekuatan teleportasi yang ada di film film. Apa hubunganmu dengannya?"
"Maaf, aku juga tidak begitu mengerti dengan apa yang terjadi. Tapi kau harus lebih berhati hati lagi agar kau tidak mengalami hal seperti tadi," ucap Leon tanpa menatap Kevin sama sekali. Ia kini merasa begitu lelah. Bahkan ia yang biasanya kelaparan di jam segini, tidak memiliki selera untuk makan.
"KEVIN..!! KAU ADA DIMANA?! KENAPA KAU TERUS SAJA MENGHILANG TIDAK JELAS?!"
Kevin terkejut saat mendengar teriakan Rafa yang begitu keras. Temannya itu pasti sedang mencarinya sekarang karena ia menghilang tiba tiba. Karena teriakan itu pun, ia menyadari bila apa yang sudah terjadi bukanlah mimpi.
"Sebaiknya kau menemuinya agar dia tidak cemas. Aku sekarang terlalu lelah," ucap Leon sambil merebahkan tubuhnya di kasur.
"Sebaiknya kau membersihkan dirimu terlebih dahulu," ucap Kevin sambil pergi keluar kamar. Ia akan membiarkan Leon istirahat sementara ini. Mungkin anak itu juga sudah lelah.
"Aku ada di sini. Maaf tadi aku pergi tiba tiba. Aku baru ingat bila keran di kamar menyala, jadi aku mematikannya lebih dulu," Kevin menuruni tangga dan menghampiri Rafa yang berada di bawah.
"Jangan ceroboh seperti itu. Ini di rumahku. Jangan memboros air. Ingat, aku yang membayar listrik di rumah ini. Jadi jangan boros. Matikan keran bila sudah tidak dipakai. Matikan lampu bila akan tidur. Matikan televisi jika sudah tidak ditonton. Kau mengerti?" kesal Rafa.
Kevin mengangguk angguk. Temannya pun tiba tiba melihat sekitar secara terus menerus. Ia menjadi heran, "Kenapa? Ada barang yang hilang?"
"Leon..., aku tidak melihatnya. Kemana dia? Biasanya dia selalu ada di rumah dan akan mengatakan padaku bila akan pergi," Rafa menatap Kevin dengan selidik, "Kau yang selama seharian ini terus bersama dengannya. Sekarang kemana dia? Aku sudah mencarinya ke semua ruangan, tapi tidak menemukannya."
"Ah, dia sedang istirahat di kamar. Dia sepertinya sangat kelelahan."
Rafa mengangkat sebelah alisnya, "Kenapa dia sampai kelelahan? Biasanya dia tidak keluar rumah. Dia juga tidak main dengan siapapun."
Kevin menatap ke arah lain. Ia sedikit bingung bagaimana harus menjelaskannya. Karena untuk saat ini, mungkin ia tidak perlu mengatakan yang sebenarnya terjadi pada Rafa. Ia akan menunggu Leon mengatakan kejadian itu sendiri,
"D-dia... Dia baru saja berkebun. Dia mengatakan bila bunga sangat indah, jadi dia ingin mencoba menanamnya dan menyirami semua tanaman yang ada di halaman depan dan belakang. Karena itu, dia sampai kelelahan. Sekarang dia di kamar."
"Aku sudah mengecek kamarnya tadi. Tapi dia tidak ada. Kenapa dia tiba tiba bisa berada di sana?" Rafa semakin aneh mendengar penjelasan Kevin. Pemuda itu memang jago bertarung, tapi dia tidak jago dalam hal menipunya. Seperti ada sesuatu yang dia sembunyikan saat ini.
Untuk memastikan perkataan Kevin benar, ia segera pergi naik ke atas dan mengecek kamar Leon. Ternyata benar apa yang dikatakan temannya. Leon saat ini sedang beristirahat dan menutupi tubuhnya hingga dada dengan selimut.
__ADS_1
Ceklekk
Rafa menutup kembali pintunya saat sudah memastikan," Aakhhh..!"
Ia terkejut saat Kevin tiba tiba berada di depan wajahnya. Dalam jarak ini, ia bisa melihat jelas wajah pemuda itu, "Menjauhlah!" ia pun segera mendorong wajahnya untuk menjauh darinya.
"Kau sangat keterlaluan. Jangan mendorongku seperti itu," ucap Kevin dengan nada protes.
"Ssstttt... dia sedang tidur. Kau bisa membuatnya bangun!" kesal Rafa.
Kevin menutup mulutnya dengan tangan dan menganggukkan kepala, "Dia tidur dengan cepat," batinnya.
"Sekarang yang akan aku tanyakan, dimana mejaku?"
Kevin tertegun saat mendengar ucapan Rafa. Temannya itu tidak lupa tentang meja yang hilang, "Tentang hal itu..., aku akan menggantinya. Jadi kau jangan khawatir. Sekarang juga akan aku pesan."
Rafa menaikkan sebelah alisnya mendengar balasan itu, "Kenapa kau harus menggantinya? Apa yang terjadi pada meja itu?"
"Sebelumnya aku berlatih di ruang tamu, lalu tanpa sengaja.. aku menendangnya dan menghancurkannya...," Kevin menunjukkan raut bersalah.
"Aku sudah membuangnya sebelum kau sampai rumah."
***
"Aku bisa merasakan energi kekuatannya walau samar samar. Ini..., adalah miliknya," gumam seorang pria berambut oren. Ia adalah Flynn, tangan kanan Raja Flor.
Tanpa basa basi, ia langsung membuka gerbang rumah seseorang dan masuk ke dalam. "Padahal dia bisa menyembunyikan auranya dengan baik. Kenapa dia memberikan celah kecil seperti ini? Tapi baguslah. Ini membantuku menghemat waktu."
Flynn kini berdiri tepat di depan pintu. Tanpa permisi sama sekali, ia mendobrak pintu hingga pintu itu hancur dan terlempar menghantam lantai.
Braakkk Brrukkk
Mendengar keributan di bawah, Rafa dan Kevin langsung menuruni tangga dan pergi mendekati sumber suara.
__ADS_1
"DIMANA KAU?! TUNJUKKAN DIRIMU SEKARANG, RAJA LEON!" Teriak Flynn. Ia memiliki sifat yang mirip dengan Flor. Mudah emosi dan tidak sabaran. Karena hal itu pula, ia tidak menghubungi panglima lain bila dirinya sudah menemukan keberadaan Leon.
"Ada apa ini?! Siapa kau?!" Geram Rafa setibanya di bawah.
Flynn menatap kedua pemuda yang datang. Tidak satu pun dari mereka yang memiliki aura Leon. Mereka hanya manusia. Ia tidak mempedulikannya, karena mereka bukan yang ia cari. Namun sepertinya Rafa tidak bisa mengabaikan dirinya.
"Masuk ke dalam rumah orang lain dan menghancurkan pintuku! Aku bertanya, siapa kau?! Apa yang kau lakukan di rumahku?!" Rafa berjalan mendekati pria berambut oren itu. Ia merasa begitu geram. Padahal mejanya baru saja dirusak oleh Kevin, kini pintunya yang rusak. Apa orang orang suka menghancurkan barang barang di rumahnya?!
Kevin bisa merasakan sedikit tekanan dari pria di depannya. Ia merasa bila orang itu adalah orang yang berbahaya. Dengan segera, ia menarik lengan temannya.
Benar saja, sepersekian detik setelah ia menariknya, lantai di depan mereka tiba tiba tergores dengan dalam. Goresan itu tipis, namun cukup dalam.
Rafa sedikit terkejut saat menyadari keadaan keramik itu. Bila Kevin tidak menariknya, mungkin kakinya yang akan kena.
"Ck, jangan menggangguku. Aku sedang mencari orang lain!" kesal Flynn. Kekuatan yang ia miliki adalah pisau angin. Serangannya akan sulit dilihat ataupun dirasakan. Orang lain akan menyadarinya saat tubuh mereka sudah terluka karena serangannya.
"Apa apaan itu?" gumam Rafa dengan tidak percaya. Padahal lantainya baik baik saja sebelumnya, namun sekarang lantai itu tiba tiba rusak. Sebenarnya apa yang terjadi?
Kevin terkejut. Itu adalah kemampuan yang sama seperti yang dimiliki Need, walaupun berbeda jenis kegunaan. Berarti dia adalah orang yang berbahaya, "Sebaiknya kau pergi dan sembunyi darinya, Rafa. Kau tidak akan bisa menangani orang seperti dia," ucapnya dengan suara kecil.
Rafa melirik Kevin yang ada di sampingnya, "Kenapa? Apa maksudmu? Apa dia adalah murid sekolah lain yang menantangmu?"
"Tidak, aku tidak mengenalnya. Yang jelas dia adalah orang yang berbahaya."
Flynn merasa kesal saat kedua pemuda itu malah asyik berbisik disaat ia berada di depannya, "Apa yang sedang kalian bicarakan, hah?!"
Dalam sekali tebasan tangannya, angin yang kecil, namun padat dan tajam langsung mendekati Rafa.
Kevin bisa merasakan adanya bahaya yang mengancam. Walau tidak tahu dimana itu, namun ia merasa itu mengarah pada Rafa. Tangannya refleks langsung terulur melindungi Rafa.
Sreeett Cruuatt Bruukk
Kevin terkejut. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Tubuhnya membeku, rasa sakit pun mulai menjalar di tangannya. Ia tak bisa menahan rasa sakitnya hingga akhirnya berteriak kesakitan, "Aaakhhhh..."
__ADS_1
Wajah Rafa memucat saat melihat lengan Kevin yang terpotong tepat di depan matanya. Lengan itu jatuh di depan kakinya berpijak. Darah sedikit memuncrat mengenai wajahnya. Ia tidak bisa bereaksi untuk beberapa saat. Matanya menatap horor pria asing yang masuk ke rumahnya itu.
Kevin terduduk di lantai sambil memegangi tangannya yang terasa begitu sakit. Ia tidak pernah merasakan rasa sakit ini. Demi apapun, ini sangat menyakitkan baginya. Bahkan bila perutnya tertusuk sekalipun, rasa sakit ini lebih dari pada itu.