
"Sekarang aku hanya perlu membuatnya ingat kembali dengan masa lalunya," gumam seorang pemuda yang terlihat berumur 25 tahun. Ia memiliki telinga runcing dan satu tanduk di kening bagian kirinya. Ia adalah Raja Iblis Ralt. Raja paling pemalas diantara Raja iblis lain.
Mata hijaunya memancarkan perasaan senang seolah apa yang sudah ia tunggu sejak lama akan segera dimilikinya. "Setelah membuatnya ingat dan kembali kemari, maka kehidupan yang memuakkan ini akan segera berakhir. Aku hanya perlu melakukan rencana terakhir setelah itu."
***
Tak terasa akhirnya 2 bulan telah terlewati sejak Leon mulai bertarung dengan Need. Ia mengalami banyak peningkatan setelah itu. Namun menurut Need, kemampuan Leon tidak sampai dengan kekuatan Leon yang sesungguhnya.
Ia sedikit kecewa karena tidak bisa membuatnya seperti dulu. Namun ada perasaan bangga dalam dirinya bila ia'lah yang sudah membuat seorang Raja Iblis menjadi kuat. Terlebih Raja itu adalah Leon.
"Jika hanya seperti ini, kurasa kau masih belum bisa pergi ke dunia iblis. Jangankan melawan Raja iblis, melawan panglima saja kau akan kesulitan," ucap Need sambil menghela nafas.
Leon berekspresi datar. Memang benar ia bisa merasakan kekuatannya sekarang. Kekuatan itu sangatlah besar, namun ia merasa tidak bisa mengeluarkan seluruh kekuatan yang ia miliki. Tanpa Need mengatakan itu, ia sendiri tahu bila kekuatan yang dikeluarkannya tidak bisa membuat Need terpojok. Apalagi bila ia harus menghadapi Raja iblis lain.
"Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Memang benar bila kita masih memiliki banyak waktu sebelum gerbang dimensi dibuka setelah 6 bulan sejak itu, tapi kita tidak tahu kapan panglima lain akan menemukanmu. Jika itu terjadi, kau harus melawan mereka sendiri. Pada saat itu, apakah kau bisa mengatasi mereka? Kau saja tidak bisa memojokkanku, bagaimana bisa melawan mereka?" ucap Need.
Leon sendiri tidak yakin bila dirinya bisa. Namun apa yang harus dilakukan olehnya lagi?
"Aku tahu, memang cara paling efektif adalah mengembalikan ingatanmu. Tapi aku sendiri tidak tahu bagaimana caranya. Kurasa ingatanmu tidak disegel, tapi ingatanmu mengalami masalah. Si sialan Radolf itu mungkin membuat retakan dimensi dengan terburu buru. Karena itu terjadi efek samping pada orang yang menggunakannya.
Aku adalah panglima yang memiliki kemampuan untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Jika berpindah dengan cara tidak benar, maka hal yang terjadi adalah efek samping yang diderita bagiku.
Konsep dari retakan dimensi mungkin sama. Hanya saja, efek samping akan diterima oleh orang yang memasuki retakan dimensi. Aku tidak tahu itu benar atau tidak, karena nyatanya, walaupun aku bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tapi aku tidak bisa berpindah ke dunia yang berbeda."
"..."
"Selain itu, kupikir kita harus–" Need menghentikan ucapannya dan melihat ke arah rimbunan bambu kuning. Ia merasakan hawa kehadiran seseorang di sana.
"Wah, wah, kenapa kau tidak mengatakan bila kau sudah menemukannya? Padahal kau sendiri yang mengatakan agar mengabari yang lain bila bertemu dengan Raja Leon."
__ADS_1
Seseorang keluar dari rimbunan pohon bambu. Ia adalah Belle, tangan kanan dari Silvia.
Namun tidak hanya dirinya, Diva pun segera keluar dari rimbunan pohon bambu. Raut wajahnya terlihat buruk saat melihat adanya Leon. Apa yang dicari akhirnya ditemukan, tapi ia merasa takut jika harus melawannya.
"Apa mereka mendengar apa yang kukatakan beberapa saat lalu?" batin Need dengan waspada.
"Jika seperti ini, bagaimana kalau kita langsung membawanya saja ke dunia iblis? Kau hubungi Raja Stev, lalu dia akan membukakan retakan dimensi kembali," ucap Belle sambil berjalan mendekat. Tidak ada kecurigaan sama sekali di wajahnya tentang Need.
Walau melihat ekspresi itu, Need merasa waspada. Hawa kehadiran yang dirasakannya secara tiba tiba tadi, membuatnya yakin bila mereka menyembunyikan keberadaannya dan mengamati mereka beberapa saat lalu.
Belle tersenyum sinis, "Kenapa kau waspada sekali denganku? Apa aku terlihat seperti ingin menghabisimu?" ia mengulurkan tangannya ke samping. Pada saat itu pula pedang mulai terbentuk di tangannya. Ia tidak menciptakannya, melainkan memanggil pedang nya.
Belle melesat dengan cepat ke arah Need dan Leon. Ia pun mengayunkan pedangnya tanpa aba aba.
Need menjatuhkan pedang kayu dan memunculkan pedang miliknya pula.
Tringgg
Namun yang diserang wanita itu bukanlah dirinya, melainkan Leon. Leon menghentikan serangan yang datang ke arahnya dengan kuku nya. Wanita itu yang terus menekannya, membuat Leon melompat mundur untuk menjaga jarak.
Need berkedip mendengar ucapan Belle. Apakah artinya perempuan itu tidak tahu dengan percakapan yang ia lakukan dengan Leon tadi? Apa dia hanya kebetulan menyembunyikan hawa keberadaannya karena waspada merasakan kehadiran Leon?
Leon menyipitkan matanya dan memfokuskan pandangannya pada serangan Belle selanjutnya. Gerakan wanita itu sangat cepat, namun masih bisa ia lihat.
Belle melakukan tebasan dengan incaran leher Leon, namun Leon menahan serangannya dan memutar kakinya untuk menjatuhkan wanita itu.
Belle melompat sambil mengayunkan pedangnya secara horizontal. Tetapi Leon menundukkan kepalanya dan menghilang dari pandangan wanita itu.
Dalam sepersekian detik kemudian, Leon muncul di atas Belle dan memukul leher belakangnya dengan begitu keras hingga tanah tempat dimana Belle berpijak menjadi cekung dan retak. Dari hal itu saja sudah bisa disimpulkan seberapa keras pukulan itu.
"Kenapa lemah sekali? Padahal aku yakin serangannya akan lebih kuat dari ini,"
__ADS_1
Tanpa membiarkan Leon bereaksi lebih dulu, Belle langsung memutar tubuhnya sambil mengayunkan pedang di tangannya kepada Leon.
Leon sempat bereaksi, namun telat. Tubuhnya tertebas pada bagian dada saat akan menghindar.
"Ternyata tidak sesulit yang kupikirkan?" ucap Belle dengan percaya diri. Ia menatap Leon yang berlutut di tanah dengan keadaan terluka. "Karena itu, mari bereskan ini secepatnya."
Saat Belle merasa ini akan segera berakhir, Leon muncul tepat di depan Belle dan memberinya serangan tepat di wajah hingga menciptakan goresan pada wajah cantik itu.
Belle berteriak kesakitan. Refleksnya langsung menendang tubuh Leon selepasnya hingga membuat anak itu terdorong ke belakang. Darah menetes ke tanah akibat luka yang dideritanya. Tiga garis darah terbentuk di dahinya, ke hidung hingga pipi bagian kirinya. Setidaknya ia akan membutuhkan waktu beberapa hari untuk bisa menyembuhkannya, "Akhh, wajahku–sialan!"
Belle menjadi marah. Ia menyerang Leon dengan membabi buta tanpa peduli dengan goresan goresan besar yang ia ciptakan di batang pohon.
Leon sendiri bergerak menghindar terus menerus sambil menyembuhkan luka di dadanya. Saat tebasan Belle hampir memenggal kepalanya, Leon menunduk hingga membuat beberapa helai rambutnya terpotong.
Kini jarak antara Belle dengan Leon ada beberapa meter. Wanita itu menghentakkan kakinya ke tanah hingga menciptakan getaran tanah yang cukup kuat.
Leon dibuat oleng oleh getaran. Namun ia langsung melompat ke atas agar tidak terpengaruh. Namun hal itu lah yang justru diincar Belle. Saat dirinya tidak bisa bergerak bebas di udara, Belle dengan segera melakukan tebasan padanya.
Leon menyilangkan kedua lengannya dan memperkuat bagian itu.
Bruukk
Ia pun terhempas ke tanah setelah menerima serangan Belle. Kedua lengan yang ia gunakan untuk menahan serangan berlumuran darahnya sendiri. Tangannya bahkan hampir terpotong. Leon meringis sakit. Tapi ini bukan'lah waktunya untuk lengah.
"Padahal itu hampir saja bisa memotong lenganmu," ucap Belle. Tanpa memberikan Leon bernafas sejenak, ia mengayunkan pedangnya secara bertubi tubi.
Leon pun menghindarinya dengan kesulitan. Ia harus menyembuhkan lengannya karena sekarang kedua tangannya tidak bisa digerakkan.
"Kau melihat kemana?" Belle muncul di depan Leon dengan tiba tiba dan langsung menendangnya hingga Leon terhempas ke atas.
Tidak sempat untuk Leon terkejut, Belle mensejajarkan dirinya dengan Leon yang ada di udara dan menendang punggungnya hingga Leon terhempas ke tanah dengan keras.
__ADS_1
Braakkk
Tanah seketika retak dan menjadi cekungan. Leon bisa merasakan tulangnya retak karena merasa sakit di seluruh tubuhnya.