Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 97 -Hidup Kembali


__ADS_3

Radolf melompat dari atas pohon saat melihat kedatangan Leon. Namun tanpa diduga, pelukan langsung mendarat. Ia terkesiap dan melihat sedikit ke bawah, karena tinggi tubuh yang memeluknya sedikit lebih pendek darinya.


"Jangan ceroboh lagi," ucap Leon dengan pelan.


Radolf mengubah ekspresinya menjadi senyum. Ia mengusap kepala Leon, "Aku sangat terkejut, ternyata kau kembali seperti ini. Maaf belum sempat memberikan sambutan. Aku sangat senang... Kau masih hidup dan ada di sini."


"Mn..," Leon hanya menggumam. Mungkin tidak banyak iblis yang tahu jika hubungan antara dirinya dengan Radolf bukan hanya sekedar Raja dan Panglima. Hubungan mereka lebih dekat dari itu. Leon menganggap Radolf seperti Ayahnya sendiri.


Namun saat ada iblis lain, maka hubungan mereka hanya sebatas bawahan dan atasan. Walau begitu, terkadang ia bisa bersikap seperti bawahan dan atasan saat mereka hanya berdua tergantung dengan situasi yang ada.


Leon masih dalam posisi sama untuk beberapa menit, sebelum akhirnya melepaskan pelukannya.


"Apa Need berbohong jika Leon sudah tiada? Tapi apa maksudnya dia berbohong seperti itu?" batin Radolf.


Radolf baru akan buka suara ketika Leon lebih dulu membuka pembicaraan, "Aku sempat mati, tapi hidup kembali."


"A-apa?" Radolf terkesiap.


"Sudah kubilang, hentikan itu!


Dia sudah mati, apapun yang kau lakukan tidak ada gunanya. Itu semua sia sia."


Radolf langsung menatap ke arah suara berasal. Ia mengerutkan kening ketika ia melihat Need yang bersama dengan anaknya. Ia tahu yang bersuara keras tadi adalah Need. Namun ia tidak mengerti apa yang membuatnya berbicara sekeras itu.


Leon pun penasaran dan langsung mendekat. Radolf mengikut di sampingnya.


Melihat kehadiran Ayahnya, Rafa berekspresi memelas, "Ayah, Nev belum mati. Dia.. Aku bisa menyembuhkannya. Aku akan melakukannya."


Radolf memiringkan kepala dan masih belum mengerti, "Nevan? Ada apa dengannya?"


Need malah terlihat semakin kesal. Ia menatap Radolf, "Anak itu sudah mati, tapi dia bersikeras untuk menyembuhkannya. Itu adalah usaha yang sia sia. Aku menyuruhnya berhenti, tapi dia keras kepala."


"Tidak, aku bisa melakukannya!" sergah Rafa.


"Kau sudah mencobanya, tapi tidak berhasil," balas Need dengan sinis.


Radolf langsung berlutut di samping Nevan di arah berlawanan dengan Rafa. Ia mengecek kondisi anak itu dan tidak ada tanda tanda kehidupan apapun darinya. Bahkan napasnya pun tidak ada. Ia menggeleng tak percaya, "Dia.. Sudah tiada."


"Tidak, Ayah. Aku bisa menyembuhkannya," ucap Rafa dengan yakin.

__ADS_1


Radolf terdiam ketika melihat ekspresi yang diperlihatkan Rafa. Ia merasa tak tega dengannya. Raut memelas yang bercampur putus asa itu membuatnya sulit berkata kata.


Need menyela, "Lihat! Bahkan Ayahmu sendiri tidak membelamu. Jika anak itu hanya mengalami luka dalam, mungkin kau masih bisa menyembuhkannya karena masih ada kehidupan darinya. Tapi kali ini berbeda. Dia sudah mati dan orang yang mati tidak akan bisa disembuhkan."


Rafa menggeleng. Ia ingin mengucap sesuatu, tapi lidahnya kelu untuk mengungkapkannya.


Leon kini dapat memahami apa yang dibicarakan setelah memperhatikan. Ia pun menatap Nevan yang kini telah menjadi mayat. Namun yang membuatnya heran adalah tubuh pemuda itu yang tidak kurus kering seperti mayat lain yang sudah dihabisi serangga bersayap indah itu.


Mengesampingkannya, Leon ikut berlutut di samping Radolf. Hal ini membuat Radolf beserta Need langsung menatapnya.


Tanpa mengucap sepatah kata pun untuk menjelaskan, Leon langsung menaruh lengannya di atas tubuh Nevan. Ia memejamkan mata. Sebenarnya ia tak pernah melakukan hal semacam ini. Namun, ia tidak mau membiarkan Nevan mati.


Cahaya putih keperakan bersinar di telapak tangannya, disusul dengan tubuh Nevan yang ikut bercahaya.


Ketiga orang yang menyaksikan itu nampak terkesiap. Mereka menatap Leon dengan tanda tanya. Namun dalam tatapan Rafa, terdapat secercah harapan. Ia tidak tahu apa yang dilakukan oleh Leon, namun firasatnya mengatakan jika itu adalah hal baik.


Selama beberapa menit, itu terus terjadi hingga akhirnya cahaya mulai redup dan menghilang bersamaan dengan terbukanya mata Leon. Ia mengerjap pelan dan menjauhkan lengannya dari tubuh Nevan. Ia memperhatikan manusia itu dengan seksama.


"Apa yang baru saja kau lakukan?" Radolf mengerutkan kening dan sangat penasaran.


Tapi Leon tidak memberikan jawaban dan hanya mengarahkan pandangan matanya pada Nevan.


"Ne.. Nev..," jantungnya terasa berhenti berdetak hingga akhirnya berdetak dengan kuat. Rafa tidak bisa menahan rasa bahagianya dan langsung memeluk leher saudaranya itu.


Nevan terbelalak dan kesulitan bernapas. Ia bahkan sampai terbatuk. Menyadari hal ini, Rafa pun langsung melepaskan dirinya dari Nevan, "M-maaf.. Aku tidak sengaja."


Radolf maupun Need ikut terkejut dengan peristiwa ini. Mereka sampai berkedip berkali kali untuk memastikan apakah yang mereka lihat nyata atau hanya ilusi. Namun berkali kali melakukannya, tidak membuat pemandangan ini berubah, "Aku rasa tidak salah. Jelas jelas Nev tadi sudah..," Radolf tak bisa melanjutkan ucapannya dan langsung mengarahkan pandangan pada Need.


Need pun demikian. Dia menatap Radolf dengan tanda tanya besar dalam kepalanya. Ia juga yakin jika Nevan telah mati tadi. Namun apa yang mereka lihat ini sungguh bertolak belakang dengan kenyataan yang ada.


Nevan mengubah posisinya menjadi duduk, dibantu oleh Rafa. Ia melihat sekitar seolah linglung, "Apa yang terjadi?"


"Kau tadi hampir saja tiada. Tapi Leon melakukan sesuatu padamu dan akhirnya kau sadar," balas Rafa dengan senyum merekah di wajahnya.


Nevan mengerutkan kening. Ia tidak ingat apa yang sudah terjadi beberapa saat lalu. Leon pun berpikir ini terjadi karena Nevan yang baru hidup kembali membuat ingatannya sedikit kacau dan ingatan terakhirnya menghilang, entah itu sementara atau akan selamanya. Tapi melihat reaksi Nevan, Leon berspekulasi jika pemuda itu tidak kehilangan ingatan sesuatu yang penting seperti identitasnya ataupun siapa orang di sekitarnya.


Nevan menatap Leon dengan mata melebar, "K-kau.. Kau di sini? B-bagaimana bisa? Bukankah kau sudah.."


Leon merasa senang karena kemampuan yang ia miliki ternyata bisa menghidupkan Nevan kembali. Namun ia kecewa ternyata apa yang ia lakukan malah membuat ingatan Nevan agak kurang seperti ini.

__ADS_1


"Kau tidak ingat saat bertemu dengannya tadi?" tanya Need.


Nevan mengerutkan kening sambil menatap Need. Ia berpikir dengan keras, namun tak menemukan jawaban. Akhirnya ia hanya bisa menggeleng.


"Tidak apa, yang terpenting dia sudah kembali," ucap Radolf.


"Memang apa yang sudah terjadi? Sejak kapan Leon ada di sini? A-apa mungkin.. Yang kulihat ini adalah hantunya yang bergentayangan?!" Nevan berekspresi syok dan spontan mundur ke arah Rafa.


Rafa terkejut dan menahan punggung saudaranya yang hampir saja membuatnya jatuh terjungkal.


"A-aku minta maaf jika selama kau hidup aku tidak memperlakukanmu dengan baik. Aku benar benar minta maaf. Walaupun kau terlihat sedikit berbeda, tapi aku tahu itu kau! Kau pasti menjadi hantu penasaran karena kau terbunuh sangat mengenaskan oleh monster yang memakanmu. Kau ingin mencari jasadmu dan tidak menemukannya hingga kau masih bergentayangan seperti ini."


Rafa berkedip ketika melihat reaksi yang diberikan Nevan, "Tidak, dia benar benar Leon. Jangan berbicara sembarangan seperti itu."


"Bagaimana itu mungkin? Sejak kapan dia ada di sini?"


"Mengerikan.. Sangat mengerikan.. Aku tidak tahan lagi.."


Rafa mengurungkan niat untuk membalas saat mendengar suara ketakutan dari seseorang. Ia menengok ke arah samping. Cukup jauh darinya, seorang pemuda terduduk dengan kepala yang ditaruh di atas lutut. Ia tidak bisa melihat wajahnya dengan baik, karena jarak diantara mereka. Namun dari suaranya, ia bisa tahu jika dia sedang ketakutan.


"Kalian sebaiknya istirahat terlebih dahulu," ucap Leon.


Nevan menegak ludahnya dan menatap Leon dengan hati hati, "Kau benar benar Leon? Kau hidup? Kau bukan hantu gentayangan 'kan?"


Leon berekspresi datar. Ingin sekali menjitak kepala manusia itu, namun situasinya sedang tidak baik sekarang.


"Leon.."


Suara dari Rafa membuat Leon langsung menatap pemuda itu. Ia mengikut arah pandang Rafa dan melihat mayat mayat manusia yang tergeletak di tanah, "Apa kau juga bisa menghidupkan mereka?"


Leon, "Aku bisa melakukan itu."


Rafa langsung menatap Leon ketika mendengarnya. Namun ucapan lanjutan darinya membuat Rafa terdiam, "Tapi aku tidak mau. Mereka awalnya berniat untuk menyerang iblis diam diam. Aku tidak mau menghidupkan orang seperti itu."


Rafa tidak bisa memaksa. Alasan Leon sudah cukup untuk membuatnya tidak menyembuhkan manusia manusia itu.


"Dari pada itu, lebih baik kau beristirahat. Wajahmu sangat pucat. Aku akan mengobatimu nanti."


Rafa menggeleng, "Tidak, aku tidak apa, " ia menyeka air mata yang ada di pipinya dan darah yang ada di bawah hidung serta darah di sudut bibir.

__ADS_1


"Jangan memaksakan diri, ikuti apa yang dikatakannya, Rafa," tambah Radolf.


__ADS_2