
"Kenapa kau membawaku?! Apa yang kau inginkan?!" ucap Rafa dengan tajam. Di hadapannya sudah ada seorang anak kecil laki laki yang masih terdiam sejak tadi. Namun bila Rafa mencoba melarikan diri darinya, maka anak kecil itu akan langsung menghentikannya.
Tempatnya sekarang ini di dekat sungai dengan arus sedang berukuran tidak begitu besar. Air itu mengalir dengan jernih dan akan terlihat indah andai ada sinar matahari atau bulan yang menyinarinya.
Anak kecil yang sejak tadi memasang wajah datar dan tanpa mengucap sepatah kata pun itu akhirnya angkat bicara, "Jangan percaya dengan Kite."
Rafa mengerutkan kening dengan tatapan waspada, "Apa maksudmu?"
"Aku membawamu kemari karena menurutku, dia sedang mengincarmu untuk mendapatkan tubuh baru. Tidak semua tubuh dapat cocok dengannya, karena itu, setelah melihatmu, kau sudah menjadi targetnya."
"Untuk apa aku percaya padamu? Kau sudah membawaku kemari dan melukai teman temanku!" sergah Rafa.
"Tapi aku tidak membunuh mereka. Aku melawan mereka karena mereka juga menyerang."
Rafa menjadi kesal ketika mendengar ucapan itu, "Bagaimana mereka tidak menyerang?! Kau datang tiba tiba dan menyerang lebih dulu!"
"Tapi aku melakukannya untuk membawamu. Bahkan jika aku meminta baik baik, mereka tidak akan membiarkanku. Kau juga tidak akan mau ikut," jawaban yang dikatakan anak laki laki itu selalu datar bak tanpa emosi.
Warna rambutnya hitam dengan mata kiri berwarna merah dan kanan biru. Kulitnya kuning langsat dengan hidung yang sedikit mancung. Pakaiannya berwarna gelap namun dengan corak.
Seakan tak mau kalah, Rafa membalas ucapan itu, "Setidaknya, jangan menyakiti teman temanku. Bahkan sebagian dari mereka mendapat luka yang parah!"
"Aku tidak sengaja. Ini kulakukan untuk melindungimu dari Kite. Dia sekarang pasti sedang membicarakan sesuatu pada teman temanmu bahwa aku memiliki niat jahat, lalu mulai menyusun rencana untuk menghabisiku. Padahal penjahat sebenarnya di sini adalah dia."
Nada ucapan datar tanpa perubahan ekspresi membuat Rafa tidak yakin dengan ucapan itu. Apalagi anak di depannya baru saja membawanya kemari dengan cara paksa. Bagaimana bisa ia percaya?
"Kau pasti tidak akan percaya dengan ucapanku. Orang lain pun sama. Hanya karena aku tidak menunjukkan ekspresinya, mereka menyimpulkan begitu saja dan lebih mempercayai Kite."
"Orang lain? Apa yang kau maksud?" Rafa bertanya dengan heran. Tapi tidak sedikit pun ia mengendurkan kewaspadaan.
"Akan kukatakan dari awal hingga akhir," anak laki laki itu terdiam sejenak dan melanjutkan, "Kite... Dia adalah iblis yang dulu pernah membuat kekacauan di dunia ini. Nama aslinya adalah Osmond. Dia menciptakan perang besar ribuan tahun lalu yang dikenal dengan nama perang Os."
Rafa berkedip. Ia tidak tahu sejarah di dunia iblis ini sama sekali dan saat mendengar ucapan anak itu, akhirnya ia menjadi heran. Namun ia tak ada niatan untuk berbicara.
"Perang itu sangat mengerikan hingga memakan banyak korban. Tidak hanya di pihak iblis, tapi juga di pihak manusia yang ikut membantu melawannya."
"Tunggu, manusia?" Rafa tiba tiba saja menghentikan ucapan anak itu saat mendengar ada kata menarik di sana.
"Ya, dulu di dunia ini, manusia dan iblis hidup bersama dan berdampingan. Tidak ada perselisihan antar mereka. Karena itu, saat perang Os, mereka bekerja sama untuk membinasakan iblis Osmond. Iblis yang kuat, juga kejam."
__ADS_1
"....Perang itu berakhir dengan kematian banyak manusia dan iblis. Di perang yang sangat besar itu, ada beberapa orang yang berkontribusi besar dalam pelenyapan Osmond saat di garis depan. Banyak orang yang mengira jika Osmond dan satu pengikut setianya mati.
Namun orang yang berada di garis paling depan perang tahu, musuh mereka tidak sepenuhnya mati. Mereka akan kembali lagi dan membuat kerusakan di dunia iblis. Lalu salah satu orang yang berada di garis depan itu adalah aku."
Rafa tersentak. Matanya sedikit melebar secara tiba tiba dan menatap anak itu tanpa berkedip, "Katakan siapa namamu?"
"Michael, itu namaku."
"Kenapa kau mengatakan jika Kite adalah Osmond?"
Michael terdiam sejenak dan seperti meneliti tiap guratan wajah pemuda di depannya, "Karena aku sudah pernah melawannya, aku tahu itu adalah dia. Dan sekarang, dia sedang berpura pura menjadi Kite, orang yang juga berada di garis depan sepertiku."
Rafa menggeleng, "Aku sama sekali tidak mengerti. Tapi aku tidak mau percaya padamu. Kau pasti berbohong agar aku melakukan sesuatu padanya."
"Wajar jika kau tidak percaya padaku. Karena itu, apa yang kau ingin aku lakukan agar kau percaya dengan ucapanku?"
Rafa terdiam sejenak dan berpikir. Michael adalah iblis yang pertama kali ditemui olehnya, berbeda dengan Kite yang sudah sejak semalam dan Kite pun iblis yang sudah bersama Leon sejak mereka bertemu kembali di dunia iblis. Bukankah Michael ini yang mencurigakan? Kite adalah orang yang bersama Leon dan pasti bisa dipercaya.
"Berikan bukti jika Kite adalah Osmond."
"Bukti? Kau sudah mendapatkannya di depan matamu."
"Duduk," ucap Michael dengan datar.
Perkataan Michael seperti mutlak. Rafa sampai langsung duduk. Tak lama, anak laki laki itu segera berdiri di belakang Rafa. Ia mengelus punggungnya beberapa saat sebelum jari jari tangannya saling menempel dan mengerucut.
Michael menarik sesuatu yang tak terlihat dari dalam punggung Rafa dan saat ia melakukannya, Rafa terus menggeram kesakitan.
Kejadian itu terus terjadi selama beberapa menit sebelum akhirnya Michael berhasil mengeluarkan sesuatu dari dalam tubuh Rafa. Benda itu terlihat seperti belati kecil yang diikat dengan tali tipis transparan. Bentuk dari belati juga hampir tidak nyata seperti tali tipis yang mengikatnya.
Bulir bulir keringat terlihat di wajah Rafa. Napasnya sedikit tidak beraturan dan terdapat darah di sudut bibirnya.
"Kau tidak sadar jika Kite sudah memasukkan serangan jiwa padamu. Dia sudah mengambil langkah awal untuk membunuhmu. Ini bukti jika Kite tidak baik. Lalu kedua, dia sudah membunuh seseorang yang dekat denganmu 'kan?"
Walaupun dalam keadaan sakit, tapi Rafa tetap mendengar ucapan Michael dengan baik. Bukti kedua yang dikatakan anak itu memang benar, namun...
"Dari mana kau... Bisa tahu jika Nev dibunuh olehnya?" ucap Rafa dengan sedikit terengah.
Michael berjalan ke depan untuk bisa berdiri di hadapan Rafa, "Karena aku melihatnya. Dia membunuh orang yang dekat denganmu. Lihat, ini yang dia lakukan padamu tadi."
__ADS_1
Rafa menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat sebuah belati kecil yang terikat tali tipis mulai menghilang. Entah apa yang ditunjukkan Michael, ia tidak mengerti.
"Dia menanamkan ini padamu. Mungkin sejak kalian pertama bertemu."
Rafa mengatur napasnya. Ia juga menggunakan kemampuannya agar luka dalam yang dialaminya segera mereda, "Kenapa... Kau baru mengatakan ini padaku? Bukan sejak dia menanamkannya?"
Jelas Rafa merasa aneh. Jika sejak awal Michael sudah tahu Kite menginginkan tubuhnya, maka seharusnya sejak awal Michael bertindak jika dia memang peduli padanya dan tidak mau Kite mendapatkan tubuh baru.
Namun bahkan sampai Kite menanamkan serangan jiwa itu, Michael tidak juga mencegah atau menghentikan atau setidaknya, mengeluarkan serangan tidak terlihat itu pada saat siang tadi. Kenapa baru sekarang Michael peduli dengan itu dan menemuinya?
"Karena aku tidak bisa mendekatimu disaat ada orang kuat di sekitarmu," Michael terdiam sejenak, "Sebenarnya, aku baru menemukan Kite bersamaan ketika dia menemukan anak bernama Leon. Sejak itu, aku mengikutinya dan mengawasinya."
"Orang kuat?" ucapan Rafa terdengar sinis dan tak percaya, "Mananya orang kuat? Kau bahkan bisa melukai orang orang yang bersamaku dalam waktu bersamaan."
"Tentunya Kite yang kumaksud. Saat tadi, dia sedang tidak bersamamu."
Rafa terdiam sejenak, "Maksudmu... Kite sangat kuat hingga tidak bisa kau lawan?"
"Tidak juga. Tapi akan sulit melawannya dan membutuhkan waktu lama. Selain itu..., kau dan Leon ada di tempat yang sama. Kemungkinan untukmu mati... Sangat besar karena kalian berada di tempat yang sama dan berdekatan. Aku tidak bisa mengambil resiko."
"Kau juga tahu tentang aku dengan Leon satu jiwa?" Rafa menggeleng tak percaya, "Sebenarnya apa saja yang sudah kau ketahui? Bagaimana kau tahu hal seperti itu?"
Raut wajah Rafa kembali berubah waspada. Orang asing tiba tiba mengatakan banyak hal penting dan seolah tahu banyak hal tentangnya. Bagaimana bisa ia tidak waspada? Orang di depannya pasti sudah menargetkannya.
"Kau pikir hanya dia yang dapat melihat jiwa? Aku juga bisa melakukannya dan dari yang kulihat, kalian setengah," sahut Michael tanpa membuat perubahan ekspresi sama sekali. "Kelebihan dari satu jiwa yang menjadi dua jiwa berbeda adalah... Mereka tak bisa mati kecuali mati dalam waktu yang sama."
"...Keberadaanmu dan Leon yang saat itu ada di satu tempat berdekatan, tentu membuatnya bisa dengan bebas membunuh dan mengambil tubuhmu menjadi miliknya."
Rafa terdiam sejenak. Ia memandang tiap inci wajah Michael yang masih berdiri di depannya dengan raut datar. Untuk bisa menatapnya, ia harus sedikit menengadah karena posisinya sedang duduk, "Kalau apa yang kau katakan benar, kenapa dia tidak langsung membunuhku dan Leon pada saat bersamaan? Kite berada di tempat yang sama dengan kami sejak semalam. Kenapa dia tidak melakukannya?"
"Karena dia belum mendapatkan waktu yang tepat. Dia akan bisa mengambil alih tubuhmu saat syarat telah terpenuhi. Bahkan jika kau mati di waktu yang sama dengan Leon, dia tidak akan bisa mengambil tubuhmu jika syarat ini tidak terpenuhi."
Rafa mengerutkan kening dengan sangat, "Syarat? Apa syaratnya?"
"Dia harus membunuh kalian di waktu bulan penuh. Tepatnya, malam ini dia bisa melakukannya."
Rafa tersentak mendengar ucapan Michael, bak mendengar suara petir di siang bolong.
"Kalau dia tidak bisa mengambil alih tubuhku karena aku mati di waktu bulan tidak penuh, kenapa kau tidak membunuh kami sebelum itu terjadi? Kau akan lebih tenang jika melakukannya dibanding harus membawaku seperti ini."
__ADS_1