Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 98 -Bercanda


__ADS_3

Sebenarnya alasan penolakan menghidupkan manusia lain yang dikatakan Leon adalah alasan ketiga dan itu bukanlah alasan satu satunya Leon menolak menolong mereka.


Memang benar dia tidak suka menolong blizt yang sudah mau menyerang iblis diam diam. Tapi alasan pertamanya adalah karena dia tidak yakin apakah dia bisa menghidupkan para blizt itu. Ia tahu kemampuan sebenarnya yang ia miliki adalah memutus takdir. Bahkan karena kemampuan ini, ia bisa memutuskan takdir kematian seseorang yang seharusnya telah mati hidup kembali dengan takdir yang berubah. Walau begitu, ia memang tidak tahu takdir selanjutnya dari orang tersebut.


Jika digambarkan, maka seperti jalan yang bercabang, lalu seseorang akan berada pada salah satu jalan. Kemudian Leon menggunakan kemampuannya dalam memutus takdir, maka orang tersebut akan berpindah ke jalan bercabang lain. Jadi ia tidak tahu apa yang akan terjadi kedepannya pada orang tersebut. Ia hanya memutus takdir, bukan mengubah takdir seseorang sesuai kehendaknya.


Walaupun begitu, kemampuan ini tetaplah sangat luar biasa. Kemampuan seperti ini pasti selalu memiliki banyak batasan. Itulah yang membuat Leon tidak yakin bisa menghidupkan para blizt itu.


Alasan kedua adalah karena kondisi dirinya. Walau terlihat baik baik saja di mata yang lain, nyatanya ia mengalami luka dalam yang parah setelah membuat Nevan hidup kembali. Setiap darah di tubuhnya terasa seperti ribuan jarum yang bersarang di dalam tubuh. Setiap mengambil napas pun rasanya paru paru tertusuk benda yang tajam mirip dengan tulang rusuk. Jantungnya berdebar tidak normal.


Ini membuat Leon sangat tidak nyaman dan ia berusaha menyembunyikannya. Ia hampir saja memuntahkan darah dan memperlihatkan keadaan aslinya jika saja ia tidak menelan darahnya lagi.


Saat Leon sedang memperhatikan mayat mayat manusia yang telah dikumpulkan di satu tempat, tiba tiba seorang pria berkumis tipis berjalan mendekatinya. Luka memenuhi seluruh tubuh pria itu. Diantara manusia, hanya dia dan seorang pemuda yang tidak Leon tahu namanya yang masih hidup.


"Nama saya adalah Nixon."


Leon hanya diam tanpa memandang pria itu. Matanya terfokus pada Kite yang sedang mengangkat satu mayat dan membawanya ke satu titik yang telah ditentukan. Rencananya mereka akan membakar mayat mayat ini sebelum mereka menjadi mayat hidup.


Melihat Leon tidak menatapnya, tidak membuat Nix menyerah. Ia kembali berucap, "Aku melihatmu menyembuhkan Nev. Tidak, lebih tepatnya menghidupkannya."


Tetap tidak ada respon dari Leon membuat Nix berucap lagi, "Ini memang egois dan tidak tahu malu, tapi bisakah kau juga menghidupkan mereka kembali? Aku tahu... Kami sudah berniat tidak baik sejak kemari. Tapi mereka masih memililiki keluarga yang menunggu mereka.


Aku tidak bisa mengatakan pada orang orang itu jika keluarga yang mereka tunggu telah tiada. Mereka... Pasti akan terluka mendengarnya.


Kau mungkin tidak mengerti perasaan seperti ini. Tapi itu adalah perasaan yang menyakitkan ketika ditinggal oleh seseorang yang sangat disayangi. Keluarga yang menunggu mereka pulang pun demikian. Mereka mengharapkan Ayah, saudara, pasangan atau anaknya pulang dengan selamat."


Nix langsung menjatuhkan dirinya dan bersujud pada Leon. Hal ini membuat pemuda itu tersentak dan langsung menatap Nix yang bersujud di bawah kakinya.


"Karena itu, saya mohon... Tolong hidupkan mereka kembali."

__ADS_1


Leon menetralkan ekspresinya. Ia terdiam beberapa saat dan menatap Nix tanpa merasa kasihan, "Aku tidak bisa."


Nix tertegun sejenak. Ia seketika mengangkat wajahnya dan menatap Leon, "A-aku tahu jika kami sudah merencanakan tentang penyerangan diam diam ini. Kau merasa marah dengan itu dan pasti tidak mau menghidupkan mereka kembali.


Tapi aku berjanji, jika kau mau menghidupkan mereka lagi, aku tidak akan melakukan kekacauan apapun di sini. Aku akan berbicara pada petinggi untuk tidak pernah masuk ke dunia iblis lagi dan kami tidak akan menyerang iblis kecuali mereka melukai manusia di dunia kami.


Karena itu, kumohon.. Berikan kami kesempatan. Biarkan mereka hidup kembali. Dengan kekuatan yang kau miliki, kau pasti bisa melakukannya–"


"Jika kau berjanji untuk membuat semua blizt tidak pernah menyerang iblis walau mereka menyerang manusia pun, aku tetap tidak bisa melakukannya. Setiap orang memiliki batasan, termasuk diriku."


Jawaban dari Leon membuat Nix langsung bungkam.


"...Untuk sekarang, kita harus membakar mayat mereka."


Nix tersentak. Ia seketika berdiri ketika mendengar ucapan itu. Ia tahu jika Leon berencana membakar mayat rekan rekannya agar tidak menjadi mayat hidup. Tapi ia tidak benar benar yakin jika ternyata Leon akan melakukannya.


"Ini mungkin terlihat kejam bagimu. Tapi jika tidak dilakukan, maka mereka bisa bangkit kembali menjadi mayat hidup tanpa pikiran. Kau juga...," Leon melirik Nix dengan tatapan dinginnya.


Nix tertegun mendengar ucapan Leon. Ia memperhatikan iblis itu yang mulai berjalan mendekati tumpukan mayat. Tidak ada kata yang bisa terucap dari bibirnya. Karena ia tidak memiliki perlawanan apapun terhadap semua ucapan itu.


Leon berhenti berjalan. Ia melirik ke belakang menatap Nix, "Dan juga.. Aku mengerti perasaan ditinggalkan yang kau katakan. Kau mungkin tidak akan percaya. Tapi ketahuilah, iblis pun memiliki perasaan, sama seperti kalian para manusia."


Leon kembali berjalan dan mengacuhkan reaksi dari Nix. Pria berkumis tipis itu terlihat terkejut. Ucapan dari Leon terdengar seperti kebohongan, tapi tidak dengannya. Ia merasa jika ucapan Leon seperti hantaman besar dalam jiwanya dan itu seperti kenyataan yang tidak diketahui blizt.


"Serius kau berbicara seperti itu padanya?" Kite seperti menahan senyum.


Leon membalas, "Memang ada yang salah?"


"Tidak, tapi apa kau benar benar memiliki perasaan? Kurasa iblis lain memiliki perasaan, tapi tidak denganmu. Tidak ada makhluk berperasaan yang akan memakan daging dari ras nya sendiri tanpa rasa bersalah atau jijik sepertimu."

__ADS_1


Leon menatap Kite dengan dingin, "Kau tidak tahu apapun, diam saja."


Kite berekspresi ketakutan, "Huu~ menakutkan. Bisa bisa aku akan menjadi makananmu malam ini, hahaha."


"Kau ingin mengujinya?" Leon berjalan mendekati Kite hingga sepatunya bersentuhan dengan sepatu lawan bicara. Ia mengusap pipinya dengan ibu jari hingga membuat Kite membeku di tempat dan tanpa sadar menahan napas.


"Aku bisa memulainya dari wajahmu. Kebetulan sejak berada di dunia manusia aku belum memakan satu iblis pun. Kau bisa menjadi yang pertama."


Kite seketika memundurkan langkahnya dengan wajah pucat, "T-tidak, aku salah.. Aku tidak akan berbicara seperti itu lagi."


Leon menurunkan tangannya dengan pandangan yang sedikit menurun ke bawah, "Ternyata dagingmu lembut. Aku jadi ingin mencobanya."


"H-hei, aku sudah mengaku salah. Jangan lanjutkan ucapanmu itu. K-kau membuatku takut."


Leon menatap Kite dengan mata berkilat dingin, "Apa kau mau mematahkan satu tanganmu? Aku akan menumbuhkannya lagi nanti."


"Hentikan candaanmu itu. K-kau tidak lucu saat bercanda seperti ini," Kite kini merasa tengkuknya dingin.


"Aku sedang serius."


Kite seketika membeku. Ia menatap Leon tanpa membalas satu patah kata pun dan melamun karenanya.


Diam diam Leon tersenyum tipis karena berhasil membuat Kite bungkam. Ia pun kembali mengubah rautnya menjadi dingin, "Sebaiknya segera bakar mayat mayat ini."


Kite tersadar dari lamunannya setelah mendengar ucapan Leon. Ia memperhatikan Leon yang pergi berlalu dari hadapannya, "Dia tadi sedang bercanda 'kan?" batinnya.


Kite terus menatap Leon hingga beberapa saat sebelum akhirnya berjalan menuju perapian yang baru dinyalakan oleh Need sebelumnya. Ia mengambil sebatang kayu yang telah terbakar sebagian dan mulai membakar semua mayat.


"Ah! Aku baru menyadarinya," gumam Kite. Ia memperhatikan kobaran api yang membakar daging bertumpuk di depannya, "Seharusnya mereka sudah menjadi mayat hidup sejak tadi. Tapi kenapa mereka tidak? Apa mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menjadi mayat hidup? Atau karena.."

__ADS_1


"..Mereka bukan iblis?" gumam Kite.


Selain Kite, Leon pun memiliki pemikiran serupa tentang hal ini. Namun Leon belum mengatakannya pada siapapun.


__ADS_2