Blizt'N Demon

Blizt'N Demon
Chapter 85 -Mayat Hidup


__ADS_3

Radolf dan Need terus melawan Nevan. Mereka sebisa mungkin tidak melukai pemuda itu. Namun untungnya, walaupun roh dapat menguasai tubuh Nevan, tapi dia tidak bisa memunculkan kekuatan blizt milik manusia itu. Jadi Nevan hanya menyerang dengan tangan kosong.


Rafa sendiri terkadang berusaha menahan pergerakan Nevan, namun itu cukup sulit. Nevan begitu agresif dalam menyerang dan terus memberontak saat sudah ia tangkap. Mereka seperti harus menangkap belut yang begitu lincah.


Mereka yang tidak bisa melukai Nevan juga kesulitan. Mereka kuat dan bisa saja memberikan luka, namun luka itu akan dialami oleh Nevan yang asli pula.


Rafa berdecak. Giginya menggertak dan menatap Nevan dengan serius, "Baiklah, tidak ada cara lain."


Rafa menerjang Nevan ketika Need dan Radolf tidak berada di sekitarnya. Ia membuat tubuh Nevan terjatuh dengan pandangan menghadap langit. Tidak hanya itu, Rafa juga mencekiknya dengan kuat hingga membuat pemuda itu melotot dengan mata yang sepenuhnya putih.


Radolf dan Need tersentak, namun mereka tidak mencoba menghentikan dan hanya memperhatikannya.


"Sadar, Nev..! Bangunlah..!" Rafa mencoba memanggil manggil nama Nevan disela sela mencengkram lehernya.


Nevan yang berada di bawahnya memberontak, menggeram. Lalu mulai memukul mukul lengan Rafa, bahkan mencakarnya hingga melukai kedua tangan pemuda itu.


Rafa meringis, namun tidak melepaskan cengkramannya. Nama Nevan senantiasa ia panggil hingga tenggorokannya menjadi sakit.


"Ohok.. Ohok.. A-arh.."


Rafa tersentak saat melihat kedua tangan Nevan yang kini mencengkramnya dan kedua bola mata saudaranya itu terlihat sedikit muncul, namun seakan bisa menghilang kembali karena kesulitan bernapas.


Rafa dengan segera melepaskan cengkramannya yang kuat hingga menciptakan bekas merah di leher Nevan. Ia juga segera menyingkir dari atas tubuh pemuda itu.


Nevan terbatuk batuk dengan wajah merah padam. Ia mengambil napas sebanyak banyaknya, seolah udara ini akan menjadi udara terakhir yang akan ia hirup. Lehernya terasa begitu sakit dan panas. Udara yang masuk ke paru parunya bahkan sempat terkendala.


Rafa berekspresi khawatir. Namun ia belum mengatakan satu patah kata pun untuk memberikan waktu bagi Nevan.


Setelah beberapa saat, akhirnya Nevan berhenti terbatuk. Namun wajahnya masih merah. Matanya pun nampak berair seakan hampir menangis. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan raut kesakitan yang amat.


"Nev.. Kau.. Baik baik saja?" akhirnya Rafa membuka suara dan menanyakan keadaan saudaranya.


Nevan mengubah posisi tubuhnya dan duduk dengan baik. Keningnya berkerut, menahan rasa panas dan sakit di lehernya. Ia merasa tak kuasa untuk berbicara dan hanya membalas dengan anggukan kepala.


Rafa sedikit bernapas lega. Melihat reaksi Nevan yang seperti ini, sepertinya saudaranya telah kembali dan roh yang memasukinya menghilang.

__ADS_1


Need buka suara dengan nada ketus, "Kau sedikit keterlaluan. Cengkramanmu sangat kuat sampai menciptakan bekas yang sangat merah di lehernya. Kau seperti ingin membunuhnya saja."


Mendengar ucapan Need, membuat Rafa memperhatikan leher saudaranya dengan baik. Bekas dari cengkraman tangannya memang sangat merah hingga ia sendiri merasa ngilu melihatnya. Padahal ia merasa tidak sekuat itu mencengkramnya. Namun hasilnya ternyata se-membekas ini.


"M-maaf Nev.. Aku hanya mencoba menyadarkanmu. Kau tiba tiba saja mengamuk, lalu menyerang. Aku hanya mencoba menyadarkanmu," bela Rafa sambil menatap Nevan.


Nevan sedikit terbatuk dan menatap Rafa dengan mata yang berair. Ia menggeleng dan paham dengan yang dimaksud Rafa, "Tidak apa.."


Suaranya kini malah terdengar sangat serak, hampir mirip seseorang yang bangun tidur dengan keadaan tenggorokan kering.


"Aku benar benar tidak menduganya. Apa.. Kau baik baik saja?" Rafa menatap Nevan dengan cemas. Walau sudah tahu warna mata dari saudaranya ini sudah kembali, namun ia masih merasa sedikit khawatir jika yang di depannya bukanlah Nevan.


Nevan sendiri hanya mengangguk dan merasa tidak bisa berbicara banyak.


"Sebaiknya kita segera pergi dari kawasan ini sebelum hal huruk kembali terjadi," ucap Need. Bukannya ia tidak berbelas kasih ataupun tidak peduli pada kondisi Nevan yang masih lemas, namun tempat ini memang tidak aman untuk beristirahat. Mereka bisa saja mengalami hal yang sama seperti tadi jika nekat diam dalam waktu lama di sini.


Radolf mengangguk. Ia setuju dengan ucapan Need dan segera berjalan mendekati Nevan. Ia pun berjongkok membelakanginya, "Naiklah, aku tahu kau belum sanggup untuk berdiri sekarang."


Nevan terlihat lemah, namun tetap memberi respon dengan anggukan singkat. Ia tidak menolak bantuan ini.


Rafa menelan ludahnya tanpa sadar. Ia merasa bersalah karena membuat bekas yang sangat nampak di leher Nevan. Tapi karena itu pula Nevan bisa sadar.


Keadaan sekitar tidak jauh berbeda dengan saat sore hari. Hanya saja, udaranya sedikit lebih dingin. Mereka tiba di sebuah desa yang ramai oleh penduduk. Hanya saja, tidak ada satu pun iblis yang beraktivitas malam hari di sini. Semua pintu dalam keadaan terkunci rapat.


Karena tidak ada satu pun iblis yang keluar, tempat ini menjadi begitu sunyi, walaupun ada beberapa penerangan dari obor yang menyala di beberapa titik tempat.


"Aku sudah lebih baik, anda turunkan aku saja," ucap Nevan ketika berada di belakang punggung Radolf.


Ucapannya membuat pria bermata hitam ini langsung menurunkannya. Ia memperhatikan Nevan, "Panggil saja paman."


Nevan mengangguk, lalu mengalihkan pandangannya ke sekitar. Tempat ini begitu hening, tidak ada suara apapun yang terdengar. Hanya hembusan angin yang membawa hawa dingin menusuk yang dirasakannya, "Apa mereka.. Sudah diserang?"


Nevan menelan ludah saat memikirkan hal itu. Masalah yang terjadi pada dunia iblis saat ini membuatnya bisa berpikir demikian.


"Tidak ada serangan apapun. Keadaan di desa ini sangat baik, tidak ada tanda tanda penyerangan," ucap Need dengan suara pelan.

__ADS_1


Sebenarnya ia merasa heran dengan keadaannya sekarang. Padahal sedang ada banyak serangan besar besaran dari monster dan kupu kupu, namun bagaimana bisa desa ini sangat hening tanpa ada bekas pertarungan? Ia juga tidak melihat darah atau mayat yang berceceran.


Dari yang terlihat, sebenarnya desa ini cukup dekat dengan hutan. Sedangkan, hutan adalah tempat bagi para monster hidup. Tentunya tempat ini menjadi salah satu sasaran serangan monster. Tapi nyatanya, tidak ada hal apapun di sini.


"Aku bisa merasakan ada pelindung energi di sekitar sini," ucap Radolf sambil membuka mata.


Mendengar ucapan Radolf, membuat Need langsung memfokuskan diri. Ia tersentak, apa yang diucapkan Radolf memang benar.


Nevan mengerutkan kening ketika menyadari sesuatu. Ia fokus melihat sekitar dengan baik dan merasa yakin akan sesuatu, "Tempat ini... Aku pernah melihatnya. Ini adalah tempat dimana aku berada tadi."


Mendengar ucapan saudaranya, Rafa langsung menoleh dan menatapnya, "Maksudmu?"


Nevan terlihat serius ketika menatap Rafa, "Tempat ini adalah tempat dimana aku berada ketika tidak sadarkan diri–"


Ucapannya terpotong ketika mendengar suara hantaman hantaman keras di sekitarnya. Ia tersentak dan melihat sekitar baik baik. Pintu yang terkunci rapat ini didobrak dari dalam, seolah ada seseorang yang berada di dalam mencoba untuk keluar. Tapi anehnya, bukan hanya satu atau dua pintu saja, melainkan semua pintu di sini mencoba untuk didobrak dari dalam.


Semakin lama, suara itu terdengar keras. Geraman aneh dan cakaran pada kayu terdengar saling bersahut sahutan. Suasana yang awalnya tenang seketika berubah dalam sekejap mata.


Nevan tiba tiba merinding ketika mendengarnya. Suasana di tempat ini menjadi begitu tidak nyaman. Keningnya pun berkerut dan spontan menutup hidung kala mencium aroma busuk yang menyengat. Hidungnya sangat tajam dan sensitif hingga baunya sangat menyakiti indra penciumannya, "B-bau apa ini?"


Belum sempat Rafa memberi respon, sebuah pintu rumah tiba tiba terbuka dengan kuat, bahkan hingga membuat pintu itu terhempas ke tanah. Bukan hanya Rafa dan Nevan yang tersentak, namun dua iblis lainnya yang bersama mereka pun ikut merasakan hal yang sama.


Ada 2 iblis yang keluar dari dalam rumah itu. Mereka berjalan begitu lambat dengan kepala yang menekuk ke samping. Awalnya tidak ada yang aneh, namun kedua iblis itu seketika menghilang dalam pandangan dan tiba tiba muncul di hadapan keempatnya.


Nevan dan Rafa tersentak hingga tidak bisa bereaksi cepat. Tapi untungnya, Need dan Radolf berdiri di depan keduanya sambil menahan serangan dari kedua iblis itu dengan senjata masing masing.


Radolf mengerutkan kening. Dia melihat mata iblis di hadapannya terlihat kosong. Bukan hanya kosong, tapi kedua matanya berwarna hitam sepenuhnya. Ia juga mencium bau busuk dari tubuh iblis itu dan melihat garis merah samar yang ada di lehernya, "Kalian berdua menjauhlah!"


Ssecara spontan, Nevan dan Rafa berjalan mundur.


Bersamaan dengan itu, Radolf menahan serangan lain dari iblis di depannya. Tanpa membuang waktu, ia langsung menebas lehernya begitu saja. Rasa terkejut nampak dalam tatapan matanya. Ia tidak menyangka dengan apa yang dia lihat ini. Iblis yang ia lawan bukanlah iblis hidup, melainkan sudah menjadi mayat, "Bagaimana bisa...?"


Need pun melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Radolf. Dia memotong iblis itu menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya menebas lehernya. Ia berucap tanpa nada, "Sepertinya pertanyaan kita sudah terjawab. Tempat ini.. Tidak mungkin bisa setenang ini padahal sudah ada banyak pertempuran di luar sana."


Keduanya memperhatikan pintu pintu yang didobrak dari dalam semakin kuat. Satu per satu dari pintu itu mulai terbuka. Ada yang sampai rusak, juga ada yang sampai terlempar jauh. Dari setiap rumah yang ada, akan terdapat iblis iblis yang keluar. Tepatnya, mayat iblis yang keluar.

__ADS_1


Radolf dan Need tanpa sadar menahan napas. Begitupula dengan kedua manusia yang berdiri di belakang mereka. Kini suasana berubah menjadi tegang ketika para mayat itu berjalan keluar menggunakan kedua kakinya.


Hanya beberapa dari mereka yang memiliki bekas darah di pakaiaan. Lalu sebagian lainnya tampak baik baik saja. Hanya, keadaan mereka semua sama. Tercium aroma busuk yang menguar dari tubuh mereka semua.


__ADS_2