
Deg..
Dada Alaska bergemuruh saat Jihan mengatakan sudah memiliki kekasih.
Brakk..
Jihan pergi dengan kondisi marah sambil menutup pintu dengan keras.
Alaska mengusap wajahnya kasar, ia mengumpat karna tidak bisa menahan diri pada Jihan.
"Perasaan apa ini? Kenapa aku mengatakan menyukai Jihan?" Tanyanya pada diri sendiri.
Sewaktu Alaska mengunjungi proyeknya diluar kota, ia selalu mengingat Jihan. Entah mengapa ia seakan tidak rela kerja berjauhan dengan Jihan. Bahkan saat Rania sang kekasih menghubunginya, Alaska bersikap acuh dan tidak mengangkat panggilannya sama sekali.
Jihan dengan kesal masuk kedalam ruangannya dan segera duduk dikursi kerjanya. Beni melihat wajah Jihan yang terlihat kesal.
"Hei, Ji. Kau kenapa?" Tanya Beni.
"Bos mu ngeselin, Bang!!" Kata Jihan jutek.
"Bos kita, Ji." Balas Beni. "Memang si Bos ngapain?" Tanya Beni penasaran.
Jihan menatap wajah Beni, "Bang Beni tau kata ngeselin gak sih?" Tanya Jihan ketus lalu mengalihkan wajahnya.
"Iya, Ji. Tapi ngeselinnya kenapa?" Tanya Beni. "Ngasih kamu kerjaan? Ngasih kamu tugas yang numpuk? Atau si Bos nyatakan cinta padamu?"
Berbagai pertanyaan Beni membuat Jihan langsung mendelik kearah Beni. Dan hal itu membuat Beni menaikan satu halisnya lalu bangkit dan berjalan kearah meja Jihan yang berada tepat didepannya.
"Si Bos menyatakan cinta padamu?" Tanya Beni lagi.
Jihan membuang nafas kasarnya dan memegang kepalanya.
Beni mengangguk anggukan kepalanya dan kini duduk di depan Jihan yang hanya terhalang oleh meja kerja Jihan.
"Sewaktu di lombok, si Bos ngebut ngejar kerjaan. Dia banyak ngelamunnya, tapi sesekali senyum sendiri dan sumpah Ji, itu membuatku ngeri sendiri." Kata Beni dan tanpa sadar Jihan tersenyum samar.
"Aku sering mendampingi si Bos dinas luar kota maupun kuar negri, Bos gak pernah mau ribet soal oleh oleh, tapi kemarin dia mengajakku untuk mampir ditoko perhiasan dengan bahan utama mutiara asli, aku sempat bingung ia akan membelikannya untuk siapa." Cerita Beni.
"Mungkin saja untuk kekasihnya." Jawab Jihan cepat.
"Awalnya kukira begitu, tapi apa kau tau, Ji? Bos memilih liontin dengan bandul mutiara asli, aku mendengar sendiri gumamannya, Ini cocok sekali untuk Jihan." Kata Beni memperagakan ucapan Alaska.
"Tapi dia sudah memiliki kekasih, Bang." Ucap Jihan.
"Bahkan ketika ponselnya berdering yang entah itu dari siapa, si Bos enggan mengangkatnya." Kata Beni.
"Dan akupun sudah memiliki kekasih." Ucap Jihan.
Beni terkejut, ia seakan tak percaya dengan ucapan Jihan." Kekasih, Ji?" Tanya Beni memastikan.
Jihan mengangguk. "Gibran menyatakan cintanya padaku dan aku menerimanya." Jawab Jihan.
"Benarkah?" Tanya Beni lagi dan diangguki oleh Jihan.
__ADS_1
Beni menghela nafas, "Padahal aku kira dengan batalnya perjodohanmu dengan Bos dulu, dan kau masih bekerja disini, akan membuat kalian bersatu dengan sendirinya."
Jihan hanya diam,
"Kau mencintai Gibran?" Tanya Beni.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Belum, dan aku sedang belajar untuk mencintainya." Jawab Jihan.
"Salah!!" Kata Beni tegas.
"Mencintai itu tidak butuh belajar, Ji. Tapi mengalir apa adanya." Kata Beni.
"Bang Ben sok tau." Jihan kembali cembeut, "Udah ah, aku mau kerja." Usir Jihan.
Beni menggeleng gelengkan kepalanya, ia merasa lucu terhadap Jihan.
Drtt drtt
Jihan meraih ponselnya dan seketika tersenyum saat melihat nama Gibran mengiriminya sebuah pesan.
"Hei pacar, jangan lupa makan ya." ~Gibran~
"Iya Gab, kamu juga ya." ~Balas Jihan~
Jihan kembali meletakan ponselnya diatas meja kerjanyan fokus kedalam pekerjaannya.
"Ji, ini berkas untuk pertemuan dengan Kemala Grup siang ini." Kata Beni sambil menyerahkan map berwarna merah.
Jihan menghela nafas, "Bang Ben aja yang pergi sama si Bos." Pinta Jihan.
Jihan mau tak mau menjalankan pekerjaanya.
"Jangan campurkan urusan pribadi dengan pekerjaan, Ji." Kata Beni menasehati.
Jihan mengangguk dan menuju ruangan Alaska.
Jihan menarik nafas dalam dalam sesaat sebelum mengetuk pintu ruangan Alaska.
Sebenarnya Jihan masih merasa enggan untuk kembali keruangan Alaska.
Perlahan, dengan menghembuskan nafasnya, Jihan mengetuk pintu ruangan Alaska dan Alaska menyuruhnya masuk.
Mata mereka saling bertatapan sebelum akhinya Jihan yang terlebih dahulu memutuskannya.
"Pak, kita ada pertemuan dengan Kemala Grup." Ucap Jihan mencoba seprofesional mungkin.
"Lima belas menit lagi kita berangkat." Kata Alaska.
"Maaf Pak, hari ini saya tidak membawa mobil." Kata Jihan.
"Aku tau, Ji. Tadi kau kan diantar oleh teman masa kecilmu itu, kan?" Tebak Alaska dengan tatapan sinis.
Jihan hanya diam enggan membahasnya. Ia terlalu malas berdebat dengan Alaska.
__ADS_1
Alaska melangkahkan kakinya menuju mobilnya yang sudah berada di depan loby, namun bukannya masuk kedalam mobil melainkan terlebih dahulu ia membukakan pintu mobil didepan untuk Jihan, membuat Jihan mengernyit heran.
"Masuklah, Ji." Kata Alaska lembut.
Jihan menatap mata Alaska yang memperlihatkan ketulusannya, Jihan pun masuk dan Alaska menutup pintu mobil dengan pelan.
Didalam mobil, mereka sama sama saling terdiam. Jihan pun sesekali berbalas pesan dengan Gibran. Semua gerak gerik Jihan terlihat oleh Alaska, ingin sekali rasanya Alaska tau dengan siapa Jihan berbalas pesan.
"Soal tadi...." Kata Alaska menggantung kalimatnya.
"Tidak terjadi apapun tadi." Jawab Jihan cepat.
Alaska mengatukpkan bibirnya setelah Jihan berkata dengan nada galaknya.
"Tapi aku benar benar menyukaimu, Ji." Kata Alaska dengan pandangan lurus kedepan.
"Tidak pantas berkata menyukai seorang wanita sedangkan statusmu sudah memiliki kekasih Kak." Jawab Jihan sinis.
Alaska hanya bergeming, ia sadar diri karna ia sendiri belum mengakhiri hubungannya dengan Rania. Jarak yang membuat batas diantara mereka dan kebersamaan setiap bersama Jihan membuat Alaska sedikit demi sedikit berpaling dari perasaanya terhadap kekasihnya.
Mereka tiba di sebuah restoran, Alaska dan Jihan langsung menuju meja dimana kliennya berada. Jihan bekerja seprofesional mungkin. Kecerdasan Jihan slalu membuat Alaska terpesona, Alaska memang menyukai wanita yang pintar dan cerdas.
Lagi lagi kata deal keluar dari sang klien, Jihan berhasil membuat klien menyetujui penawaran yang diberikan.
Pertemuan itu di akhiri oleh jabat tangan ceo dari kedua belah pihak sebelum akhirnya klien mengundurkan diri.
"Lagi lagi kau mendapatkan klien, Ji." Kata Alaska.
"Ini memang pekerjaanku." Jawab Jihan.
"Jihann.." Panggil seseorang dengan suara yang tak asing.
Jihan dan Alaska menoleh kearah sumber suara.
"Hai, Gab. Kamu disini juga?" Tanya Jihan yang kini berdiri dan langsung memasang wajah tersenyum dan Alaska tidak menyukai itu.
"Aku baru saja bertemu calon investor disini. Tidak menyangka kamu juga disini." Kata Gibran.
"Iya, aku menemani Pak Alaska bertemu klien disini." Jawab Jihan.
Alaska berdiri dari duduknya, "Sudah selesai, Ji. Ayo kita kembali kekantor." Ajak Alaska.
"Selama siang Pak Alaska." Sapa Gibran ramah.
Alska hanya menjawab dengan deheman saja.
"Ini sudah masuk jam istirahat, boleh saya mengajak Jihan untuk makan siang bersama?" Tanya Gibran karna menghargai Alaska yang merupakan atasan dari kekasihnya.
"Kami akan makan siang bersama, Pak Gibran." Jawab Alaska.
"Maaf Pak, ini jam istirahat, saya akan makan siang dengan Gibran." Sahut Jihan sedikit berani.
Gibran tersenyum, "Bagaimana jika kita makan siang bersama." Ajak Gibran.
__ADS_1
Alaska mau tidak mau menerima tawaran Gibran, dari pada ia harus melihat Jihan pergi bersama Gibran dan meninggalkannya seorang diri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...