
"Dav.." Panggil Ghea dan Davan menoleh kearah Ghea.
Ghea duduk dikursi taman lalu Davan berlutut dengan menaruh kepalanya dipangkuan sang Mama.
"Davan harus bagaimana, Ma.. Apa Davan harus menyerah? Apa Davan harus melepaskan Billa?" Isakan Davan dipangkuan sang Mama.
Ghea mengerti kondisi Davan, benar kata Fadhil, Davan memanglah miniatur dirinya, Ghea versi pria, semua yang ada pada Ghea melekat didiri Davan termasuk perasannya yang sensitif dan tidak percaya diri juga slalu mengalah pada orang lain.
Tangan Ghea terulur mengusap kepala Davan. "Ceritakan pada Mama, ada apa?" Tanya Ghea.
Davan masih sesenggukan dan Ghea mengusap punggungnya. "Ceritakan pada Mama, Dav. Apa yag terjadi."
Perlahan Davan mulai tenang, ia menceritakan sikapnya yang tlah membuat Billa merasa tak nyaman hingga Billa menangis.
"Dav bukan pria yang baik ya, Ma.. Dav nyakitin istri Dav sendiri." Kata Davan tidak percaya diri.
Ghea menarik Davan untuk kembali duduk disebelahnya, kemudian kepala Ghea bersandar pada bahu Davan.
"Mama pernah berada diposisi, Billa. Dav.." Kata Ghea sambil menerawang kemasa lalu.
"Mama menikah karna terpaksa dengan Papamu, awalnya Mama merasa dunia ini jahat sekali pada Mama, tapi ternyata Mama salah, Mama justru menemukan kenyamanan dikeluarga Papamu yang tidak pernah Mama rasakan sebelumnya. Kesabaran dari Papamu membuat rasa nyaman itu akhinrya perlahan menjadi cinta, hingga kami memiliki Kak Zayn dan Kamu, Dav." Ghea menghela nafas sejenak. "Jalani semuanya dengan sabar dan penuh keikhlasan." Kata Ghea lagi.
"Tapi Billa meminta Dav untuk menceraikannya, Ma. Billa bilang ingin lepas dari Dav." Lirih Davan.
"Itu karna Billa tidak siap dengan pernikahan ini, Dav. Umurnya baru saja tujuh belas tahun, Billa masih labil. Kamu harus mengerti hal itu, Nak." Kata Ghea bijak.
"Lalu Davan harus bagaimana, Ma?"
"Berikan waktu pada Billa, menerima seseorang dalam ikatan pernikahan yang bukan keinginanya membutuhkan waktu, Dav." Kata Ghea.
"Dengan cara apa, Ma?" Tanya Davan tidak bersemangat.
"Berpisah dengannya untuk sementara waktu." Sahut Fadhil yang sedari tadi menyimak obrolan ibu dan anak itu.
"By..." Panggil Ghea.
Fadhil duduk dikursi taman yang lain. "Papa berpikir, sebaiknya kalian memberikan waktu untuk sama sama menyiapkan diri dalam pernikahan."
Ghea masih menenangkan Davan dengan usapan lembutbdigenggaman tangannya dan Davan nenyimak apa yang akan dikatakan oleh Papanya.
__ADS_1
"Dav, Papa akan mengirim Billa keluar negri, Billa akan kuliah disana hingga waktunya selesai baru dia akan kembali kesini." Kata Fadhi.
"Tapi, Pa..."
"Dav, istrimu masih terlalu muda, ia tidak siap dengan pernikahan ini." Fadhil menghela nafas sejenak. "Berikan ruang waktu untuk istrimu, Dav." Kata Fadhil.
"Ma..." Panggil Davan seolah meminta pendapat Ghea.
"Jika Billa tetap disini, Mama khawatir bukan rasa cinta yang akan tumbuh dihatinya, tapi rasa benci padamu, Dav." Kata Ghea yang sepertinya mendukung keputusan sang suami.
Davan menunduk, "Papa dan Mama tolong bantu urusan Billa, untuk sementara Dav menginap dihotel." Kata Davan.
"Kamu tidak ingin mengucapkan perpisahan dengan Billa?" Tanya Ghea.
Davan menggelengkan kepalanya. "Dav takut tidak bisa menahan diri dan memaksa Billa untuk mengerti Dav." Kata Davan.
Ghea menatap sang suami dan Fadhil menganggukan kepalanya.
Pagi itu juga, Davan meninggalkan rumah untuk tinggal sementara dihotel yang ia kelola. Fadhil menyuruh asistennya untuk mengurus segala keperluan Billa. Ghea menyampaikan maksudnya untuk mengkuliahkan Billa di luar negri, sekaligus untuk memberinya ruang menerima pernikahannya dengan Davan.
Billa mengerti dan menerima keputusan itu, meski ia merasa bersalah pada Davan, terlebih selama satu minggu ini Davan tidak pulang kerumah. Membuat Billa semakin merasa bersalah.
"Ma.. Om Davan tidak kesini?" Tanya Billa sedih pada Ghea. Kini posisi mereka ada di bandara. Tak Billa pungkiri, dua minggu tanpa Davan membuatnya kosong seperti tanpa arah.
"Davan sedang banyak pekerjaan, sayang." Ucap Ghea.
"Om Davan marah sama Billa, Ma.. Sebelum pergi Billa mau minta maaf sama Om Davan." Kata Billa.
"Davan tidak marah padamu, Sayang. Davan hanya sedang banyak kerjaan dan sekarang ada di labuan bajo melihat renovasi resort yang ada disana." Kata Ghea menenangkan hati menantu kecilnya itu.
"Billa titip salam ke Om Davan ya Ma." Lirih Billa.
"Nanti mama sampaikan, Sayang. Kamu disana harus jaga kesehatan, jaga diri dan ingat jika disini ada suami yang menunggumu pulang, juga Mama mertuamu yang menantimu." Kata Ghea penuh kelembutan.
"Dan ada kakak ipar yang juga nungguin pulang untuk bantu mengasuh ponakannya." Sahut Chelsea mencairkan suasana.
Billa tersenyum meski wajahnya terlihat guratan kesedihan, "Kak Chelsea, sehat sehat ya sama dede bayi nya."
"Iya Auntie Biyaaa.." Kata Chelsea menirukan suara anak kecil sambil mengusap perutnya yang sudah membuncit diusia kehamilan 5 bulan.
__ADS_1
billa dan Ghea tertawa, tanpa Billa sadari, sedari tadi Davan memperhatikannya. Ingin rasanya ia mendatangi Billa dan memeluknya, namun ia takut membuat istri kecilnya itu tidak nyaman.
Davan tersenyum kala melihat Billa tertawa, rasanya ia rindu dengan tawa itu, Billa si anak remaja yang baru menginjak usia tujuh belas tahun berhasil memporak porandakan hati Davan, ya Davan jatuh cinta pada Nabilla Azzahra.
"Selamat tinggal gadis kecil, aku menunggumu." Gumam Davan.
Billa berjalan menuju pesawat, ia membuka ponselnya dan sejenak mengirimkan oesan pada Davan.
"Om, aku minta maaf. Tunggu aku ya." ~Billa~
Sementara itu,
Clara tengah memegang kepalanya yang terasa sangat berat. Wajahnya terlihat pucat dan sekujur tubuhnya mengelurkan keringat dingin.
Brukk..
Clara terjatuh saat membuka pintu kamarnya.
"Ya ampun Nona Claraaa." Teriak salah satu PRT yang sedang membersihkan rumah.
Stevi yang mendengar keributan itu menghampirinya.
"Ya ampun anak Mama.." Pekik Stevi.
"Panggil Aji, Bi." Kata Stevi pada PRT nya untuk memanggilkan supir keluarga Dewantara.
"Aji datang dengan terburu buru. "Ji, angkat anakku kemobil kita kerumah sakit." Kata Stevi panik
Dimobil, Stevi terus mengusap kening Clara yang penuh dengan keringat, tangan Clara begitu dingin, mambuat Stevi semakin khawatir.
Stevi dibawa langsung ke IGD, ia langsung mendapatkan tindakan. Dokter mengatakan jika Clara tengah hamil, namun kondisinya terlalu lemah karna kurang istirahat, dokter menyarankan agar Clara dirawat beberapa hari hingga kondisinya stabil, terlebih saat ini tensinya rendah dan membahayakan janinnya yang masih berusia empat minggu.
Stevi yang tengah bahagia itupun menyetuji saran dokter dan langsung menempatkan Clara dikamar VVIP, apapun ia lakukan untuk kesehatan menantu kesayangannya itu.
Saking paniknya, Stevi tidak membawa ponsel dan tidak bisa menghubungi Aldrich maupun Fariz, begitupun dengan aji yang tadi terburu buru untuk menolong sang majikan dan meninggalkan ponselnya di pos satpam.
Stevi menyuruh Aji untuk mendatangi kantor Dewantara dan menyampaikan pesan pada Aldrich dan juga Fariz jika Stevi dan Clara berada dirumah sakit.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1