BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 62


__ADS_3

Brukk..


Davan bertubrukan dengan seseorang hingga menyebabkan orang itu terhuyung, dan saat Davan ingin membantunya untuk berdiri, langkahnya terhenti.


Deg..


Seketika jantung Davan berdegup kencang.


"Billa.." Lirih Davan.


Ya wanita itu adalah Billa, Billa yang juga baru saja mendarat selisih dua puluh menit dengan Davan.


Billa yang sedang berdiripun melihat Davan saat menyebutkan namanya, "Om." Pekik Billa tak percaya.


"Bill.. Ini benar kamu.." Davan memberanikan mendekat dan tanpa Davan duga, Billa langsung berhambur memeluknya.


"Om.. Maafin Billa." Kata Billa mengungkapkan rasa bersalahnya. Akhirnya kata maaf yang ingin Billa ucapkan di 3,5 tahun yang lalu bisa tersampaikan pada Davan langsung.


Davan tersenyum dan membalas pelukan Billa. "Gadis nakal, baru ingat pulang." Kata Davan sambil menikmati pelukannya itu. Ia merindukan gadis kecil yang kini sudah berubah menjadi wanita dewasa, bahkan Billa terlihat sangat cantik sekali.


Sementara Billa masih betah berada dalam dada bidang Davan, tidak Billa pungkiri, selain ada rasa bersalah, Billa pun merindukan Davan.


Hal itu membuat Jenny membolakan kedua matanya, "Siapa itu, Pak?" tanya Jenny pada Samsul.


Samsul tau siapa Billa, karna Billa dulu sering datang kekantor Davan dan lama tinggal diruangan kerja Davan. Namun ia tidak tau jika Davan dan Billa sudah menikah. Karna memang pernikahan yang tidak di sengaja itu hanya diketahui oleh Aldrich dan Joni juga keluarga besarnya saja.


"Kepo banget, kamu." Balas Samsul yang memang tidak menyukai Jenny.


"Ishh, Bapak ini." Jenny merengut kesal.


Davan mengendurkan pelukannya dan membawa Billa duduk dikursi yang tersedia.


"Kenapa pulang?" Tanya Davan pada Billa. "Kuliahmu?" Tanya Davan lagi.


"Kuliahku sudah selesai." Jawab Billa.


Davan terkejut mendengarnya, Billa mampu menyelesaikan pendidikannya dalam waktu singkat. Dan Davan pun terpana melihat Billa kini berubah, yang dari gadis remaja menjadi gadis dewasa yang sangat cantik, dengan tampilan yang fashionable dan sporty.


"Mama tau?" Tanya Davan ingin tau.


Billa menggelengkan kepalanya, "Tidak tau. Tapi Kak Chelsea tau, karna aku bilang padanya akan pulang saat baby Amira akikah."


Davan menganggukan kepalanya, "Ayo kita pulang." Ajak Davan yang diangguki oleh Billa.


Tanpa sadar Davan menggandeng tangan Billa lalu menghampiri Samsul.

__ADS_1


"Aku mau bawa mobil sendiri." Ucap Davan.


Tanpa membantah, Samsul langsung berkordinasi dengan supir dan memberikan kunci mobil pada Davan.


"Terimakasih." Jawab Davan lalu Davan membukakan pintu mobil untuk Billa.


Jenny semakin kesal melihat wanita muda itu berhasil dekat dengan Davan. Ia berpikir jika Billa adalah sugar daddynya Davan, mengingat Billa tadi memanggil Davan dengan panggilan Om.


"Sudah makan?" Tanya Davan.


"Belum." Jawab Billa terus terang.


"Mau makan dulu atau langsung pulang?" Tanyanya lagi.


"Pulang saja, Om. Aku kangen Kak Chelsea juga Mama." Jawab Billa. "Aku tidak sabar bertemu anak anak Kak Chelsea." Katanya lagi.


"Sama aku gak kangen?" Tanya Davan ingin tau.


"Hmm kangen gak ya? Maunya Om gimana?" Tanya Billa sambil tertawa.


Davan hanya tersenyum saat Billa menggodanya seperti itu. Senyum yang hilang 3,5tahun kini kembali lagi diwajah Davan. Wajahnya seketika berubah menjadi berseri, menghempaskan kesedihan selama ini. Davan juga tidak menyangka jika kini sikap Billa lebih hangat dan tidak kaku, bahkan berani memeluknya duluan. Davan sering berpikir, bagaimana jika suatu saat nanti ia bertemu Billa, rasa penolakan yang dulu diberikan Billa membuat Davan berpikir keras hingga tidak percaya diri jika nanti bertemu Billa kembali. Namun semua terpatahkan saat pertemuan mereka tadi, sepertinya Billa sudah menerima takdirnya yang sudah menikah dengan Davan.


Ghea terkejut melihat Billa pulang kerumahnya bersama Davan, wanita paruh baya itu cukup heran mengapa bisa Billa bersama Davan.


Davan menceritakan soal pertemuannya bersama Billa yang tidak disengaja itu. Billa sendiripun menceritakan soal kuliahnya yang sudah selesai, hal itu membuat Fadhil dan Ghea merasa bangga dengan menantu kecilnya itu.


Adlrich nenyenggol Davan dengan sikutnya. "Ciyee yang istrinya pulang, berbinar banget itu wajah." Ledek Aldrich.


"Ishh apasih, Al." Balas Davan yang merasa malu bak remaja yang sedang jatuh cinta.


"Buka puasa dong." Ledek Aldrich, "Enak lho, Dav. Gak akan bisa satu kali." Bisik Aldrich memanas manasi Davan.


Davan mentoyor kepala Aldrich. "Diem, Gak!!" Ucapnya.


Aldrich tertawa, "Beneran enak tau, Dav." Goda Aldrich.


"Enak apa?" Sahut Clara yang mendengar bisikan Aldrich pada Davan.


"Hei, Ra. Nih Daddy nya Alaska, bertingkah, mau coba istri dua." Ucap Davan berbohong, ingin mengerjai Aldrich.


"Dad..." Panggil Clara sambil menatap tajam.


Davan tertawa, Kebucinan Aldrich membuat Aldrich seperti suami takut istri.


"Bukan, Sayang. Aku sedang godain Davan yang bentar lagi mau buka puasa, aku bilang enak dan bikin gak bisa berenti." Jawab Aldrich.

__ADS_1


"Ishh kamu ya Dad, bilang begitu sama Davan. Parah ya kamu." Kata Clara pada Aldrich, lalu Clara melirik kearah Davan. "Mending kalo buka puasa, kalo engga bagaimana?" Clara tertawa ikut meledek Davan, hal itu membuat Aldrich pun ikut tertawa.


"Haishh.. Ternyata kalian pasangan yang cocok." Kata Davan memutar malas bola matanya.


Aldrich dan Clara tertawa,


"Billa makin cantik, Dav." Kata Clara memperhatikan sosok Billa yang lebih cantik dari sebelum Clara bertemu dengannya sebelum keberangkatan Billa ke luar negri.


"Ya namanya cewek, cantik lah Ra." Davan menjawab dengan wajah yang berseri.


"Udah gak mendung lagi tuh muka?" Cibir Chelsea yang tiba tiba saja menghampiri Davan, Aldrich dan Clara. Sementara Billa asik berbincang dengan Ghea dan Fadhil.


"Mentarinya kan udah terbit, Chel." Jawab Aldrich.


Davan menghela nafas, "Ada lagi aja yang bully aku."


"Kalo aku jadi kamu, Dav. Billa langsung aku tarik ke kamar. Buka puasa, Dav." Ledek Aldrich.


Davan hanya diam dan tersenyum menatap Billa dari kejauhan, ia masih tidak menyangka jika istri kecilnya itu akan pulang dan hubungan mereka membaik.


Ahh benar kata Aldrich, sepertinya Davan ingin sekali membawa Billa kedalam kamar dan mememeluknya sampai puas.


Davan beranjak dari duduknya dan menghampiri Billa yang masih asik bicara dengan Ghea dan Fadhil.


Ghea mengerti jika Davan masih menahan rindunya pada gadis berstatus istrinya itu.


"Dav, ajaklah Billa beristirahat dulu. Billa pasti lelah duduk lama didalam pesawat." Kata Ghea.


"Ayo Bill." Ajak Davan dan Billa mengangguk sambil tersenyum.


"Ma, Pa.. Billa istirahat dulu ya." Pamit Billa pada Ghea dan Fadhil.


Davan mengajak Billa kekamarnya, kamar yang pernah mereka tempati bersama hanya satu hari, Davan berharap, kedepannya, kamar ini akan mereka tempati bersama selamanya.


Billa masuk dan begitu pintu ditutup oleh Davan, ia langsung membuka cardigannya, tanpa melihat kearah Davan.


Davan hanya mematung saat melihat Billa memakai thanktop nya saja.


"Bill.." Kata Davan dan Billa menoleh kearah Davan.


"Ya, Om?" Tanya Billa cuek tanpa merasa ada yang salah.


"Ganti baju dikamar mandi." Kata Davan yang kini membuang pandangannya kesembarang arah. Davan hanya takut tidak bisa menahan dirinya.


Bukannya menjauh tapi Billa mendekat kearah Davan.

__ADS_1


Deg..


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2