
Hari ini hari terakhir mereka berada di Bali, sebelum pada sorenya mereka akan kembali pulang ke Jakarta.
Clara keluar dari kamarnya, ia berencana akan jalan jalan disekitar pantai untuk menghirup udara pagi ini.
"Mau kemana, Ra?" Tanya Aldrich yang sedang duduk bersama Joni menikmati kopi panas yang tersaji.
"Mau jalan jalan sekitar pantai, Al." Jawab Clara.
Aldrich berdiri dari duduknya, "Ayo sama aku, Ra."
Joni pun ikut berdiri, membuat Aldrich menatapnya tajam.
"Kamu mau ngapain, Jon?" Tanya Aldrich yang menahan langkahnya.
"Ikut." Jawab Joni santai.
"No!!" Kata Aldrich tegas, tentu saja karna Aldrich ingin menghabiskan waktu berdua dengan Clara sebelum nanti pulang ke Jakarta.
"Tapi, Bos...."
"No!! Atau aku potong gajimu 50%." Tegas Aldrich.
Clara memutar malas bola matanya.
"Biar aja sih, Al. Biar rame." Kata Clara.
"Tidak, biar dia jaga Villa aja disini." Jawab Aldrich.
"Bos, Villa ini sudah banyak penjaga yang menjaganya." Kata Joni.
Namun Aldrich tidak menjawab dan segera menarik tangan Clara untuk keluar dari Villa.
Joni mendengus kesal, "Dassar Bos bucin." Umpat Joni. "Belum tau Clara janda aja udah kayak begitu gimana kalo udah tau."
Sementara itu Clara menikmati udara pagi di sekitar pantai, "Tempat ini bagus, Al." Kata Clara sambil merentangkan kedua tangannya, menikmati hembusan udara pagi dipinggir pantai.
Aldrich berjalan sambil memasukan kedua tangannya ke saku celananya, "Ini Villa milik Kakek untuk Nenek ku. Villa ini dibuat untuk hadiah pernikahan mereka." Kata Aldrich.
"Dimana sekarang Kakekmu?" Tanya Clara.
Aldrich mengerdikan bahunya, "Tidak tahu. Mereka menghabiskan masa tua berkeliling dunia, entah sekarang ada di dunia bagian mana." Kata Aldrich.
"So sweet sekali." Gumam Clara.
Aldrich nengangguk, "Semua kekuargaku, sayang sama istri istrinya. Mungkin karna Melihat Kakek Erick yang begitu menyayangi Nenek Diana." Aldrich nenghela nafas sejenak, "Sama seperti Papapku yang begitu menyayangi Mama, dan akan berencana pensiun dini jika sudah mendapatkan cucu." Kata Aldrich lagi.
"Pak Fariz masih muda, kenapa pensiun dini?" Tanya Clara.
"Karna Papap ingin mengikuti jejak Kakek Erick, menghabiskan waktu dengan berkeliling dunia bersama Mama." Kata Aldrich sambil menatap kedepan.
Clara tersenyum, "Kalau begitu kamu juga harus segera punya istri, Al."
Al menoleh kearah Clara yang berada disisinya, dan tanpa disengaja Clara pun menoleh kearah Aldrich, sehingga membuat wajah mereka sangat dekat.
__ADS_1
"Ra.. Aku tak perduli kau istri siapa, yang jelas saat bersamaku, kau adalah milikku." Gumam Aldrich yang terdengar oleh Clara.
Clara mengalihkan pandangannya kedepan, ia merasa jantungnya tengah berdegup kencang.
"Al, kita temankan?" Tanya Clara sesaat. "Jangan merusak kedekatan kita dengan pernyataanmu, Al. Karna pada kenyataannya kita berbeda jauh." Kata Clara.
Aldrich menunduk dan tersenyum tipis, ingin rasanya ia menertawai perasaannya yang tak mungkin terbalas.
"Aku nyaman seperti ini, Al. Kita berteman diluar jam kantor dan tetap formal saat dikantor. Biarkan aku merasakan kenyamanan seperti ini." Kata Clara lagi.
Aldrich berpikir, Clara tidak bisa membalas perasannya karna statusnya yang sudah menikah, dan Clara membentengi diri karna status jandanya itu, belum lagi dari status sosial yang bagaikan bumi dan langit.
Sore hari mereka kembali ke Jakarta, mereka tiba sebelum gelap.
"Ayo Ra, Aku antar kamu." Ajak Aldrich.
Clara hanya diam, ia tidak ingin Aldrich tau bahwa dirinya kini tinggal di kost kost an dekat kantor DW Group.
"Ra.." Panggil Aldrich lagi.
"Aku naik taxi aja, Al." Kata Clara.
Aldrich menghela nafas, "Kamu takut suamimu marah kalo aku mengantarmu?" Tanya Aldrich. "Aku kan Bos mu, bisa mengantarmu sekalian."
"Al, tidak ada Bos yang mengantar sekertarisnya pulang." Kata Clara yang memang masuk akal.
Joni berdehem, "Bos bagaimana jika Clara ikut kita antar Bos dulu, lalu nanti saya yang antar Clara pulang." Usul Joni.
Joni menepuk keningnya sendiri, "Ya ampun Bos, belum jadi suami aja udah posessif gini, gimana nanti kalo jadi Suami Clara." Cibir Joni.
"Sudah, Al. Biar aku naik taxi aja, ya." Kata Clara supaya tidak berkepanjangan.
Aldrich menggelengkan kepalanya, "Kamu ikut aku aja, biar nanti diantar Joni. Tapi jangan duduk didepan sama Joni." Kata Aldrich lagi.
Clara mau tak mau ikut kedalam mobil Aldrich, diperjalanan mereka hanya saling diam, Clara pun terlihat lelah.
Joni membukakan pintu mobil Aldrich, Stevi keluar rumah saat mendengar suara mobil dihalaman rumahnya.
"Sudah pulang, Al." Tanya Stevi.
Aldrich mencium pipi kanan dan kiri Stevi, "Night Mam."
Stevi melirik kearah Joni, "Jon, makan malam dulu disini." Ajak Stevi.
"Maaf Nyonya, saya harus antar Clara pulang." Kata Joni.
Clara pun turun dari mobil untuk menyapa istri dari atasannya itu, dan menghampirinya.
"Selamat malam Nyonya." Sapa Clara sopan.
"Hai, apa kau sekertaris putraku?" Tanya Stevi lembut.
Clara tersenyum, "Iya Nyonya, saya Clara sekertaris Pak Aldrich." Clara memperkenalkan diri.
__ADS_1
"Baiklah karna kalian tiba disaat waktu makan malam, kita makan malam bersama dulu." Kata Stevi.
"Tapi, Nyonya...." Kata Clara ingin menolak.
"Tidak ada kata penolakan, baik dari mu maupun dari Joni." Ucap Stevi. "Meja makan kami terlalu sepi jika hanya makan bertiga. Ayolah kalian harus mencicipi sop gurame buatanku, pasti kalian suka." Ajak Stevi sambil menarik Clara kedalam rumahnya.
Aldrich hanya tersenyum karna bisa menikmati waktu lebih lama bersama Clara.
Fariz melihat Clara yang diajak oleh Stevi menuju ruang makan.
"Kalian sudah pulang?" Tanya Fariz.
"Selamat malam, Pak." Sapa Clara.
"Malam, duduklah." Jawab Fariz.
"Aku mengajak mereka untuk malam disini, Pap." Kata Stevi.
"Bagus, biar gak sepi disini." Jawab Fariz.
"Clara, duduklah disebelahku." Kata Stevi, namun Aldrich menahan pergelangan tangan Clara.
"Tidak Ma, Clara duduk disebelahku saja." Kata Aldrich.
"Lalu Joni duduk didekat Mamamu?" Tanya Fariz pada Aldrich.
Sementara Stevi hanya mengernyitkan dahinya melihat tingkah putranya yang seolah posessif itu.
"Al, jangan mempersulitku disini." Bisik Clara.
Aldrich terpaksa melepaskan tangan Clara dan membiarkannya duduk disebelah Mamanya.
Fariz tersenyum samar tatkala melihat sang putra yang tidak bisa berkutik.
Mereka makan dengan tenang, hanya Clara yang merasa canggung. Aldrich terus memperhatikan Clara dan hal itu terlihat jelas dimata Stevi.
Selesai makan malam bersama, Joni mengantar Clara, Aldrich hanya bisa pasrah melihat Joni dengan leluasa mengantar Clara.
"Kamu menyukainya?" Tanya Stevi yang melihat wajah murung Aldrich.
"Bolehkah aku menyukainya, Mam? Sementara dia sudah ada yang memiliki." Kata Aldrich tak bersemangat.
"Selama janur kuning belum terpasang, Mama rasa tidak ada salahnya berjuang, Al." Ucap Stevi.
Aldrich tersenyum sinis, "Janur kuning itu sudah terpasang, bahkan sudah dilepas dari tempatnya, menjadi saksi bahwa dia telah dimiliki oleh orang lain." Kata Aldrich lesu lalu berbalik manatap wajah Stevi. "Dia sudah jadi istri orang, Ma. Jauh sebelum Al mengenalnya."
Aldrich berjalan gontai melewati Stevi, ia berjalan menuju kamarnya.
Sementara itu Fariz menghampiri Stevi dan merangkulnya.
"Pap, Aldrich jatuh cinta sama istri orang?" Tanya Stevi pada Fariz. Namun Fariz hanya tertawa sambil mencium pelipis Stevi.
***
__ADS_1