
"Mau kerja dikantorku?" Tanya Davan.
Billa langsung menoleh kearah Davan.
"Kerja apa, Om?"
"Tergantung, aku harus lihat dulu ijazahmu nanti."
Billa mengangguk, "Kalo untuk sekarang sekarang ada gak, Om? Misal jadi pembantu dirumah Om juga gak apa apa. Saya butuh kerjaan, Om."
"Untuk apa? Sekarang kan kamu masih sekolah."
"Ya untuk makan lah, Om. Bayar kontrakan, dan juga ongkos sehari hari." Jawab Billa.
"Tapi aku belum punya rumah. Aku masih numpang sama orangtua." Jawab Davan.
Billa terdiam, ia memang tengah dipusingkan dengan kontrakan yang akan habis masa kontraknya.
"Minta nomer hp kamu, biar nanti aku hubungi kalau ada kerjaan." Kata Davan.
Billa langsung tersenyum, "Sebentar." Jawabnya lalu mengeluarkan ponselnya.
Davan mengernyitkan dahinya saat melihat ponsel Billa, pasalnya ponsel itu layarnya sudah retak dan sudah tidak respon saat disentuh.
"Itu ponselmu?" Tanya Davan heran.
Billa mengangguk, "Tapi Om jangan mengirimiku pesan ya, gak akan kebaca. Tapi kalo telpon masih bisa aku terima, asal jangan di jam sekolah." Jawabnya.
Mereka saling bertukar nomer ponsel dan Billa berpamitan pada Davan.
"Hei, dimana sekolahmu?" Tanya Davan.
"SMA YY." Jawab Billa.
Davan mengangguk, ia tau sekolah itu karna Yayasan yang sang ayah kelola menjadi donatur tetap disekolah itu.
Malam hari..
Tiga keluarga besar itu melakukan acara barbeque dipinggir pantai.
Terlihat wajah Chelsea yang bahagia, sikap Zayn belakangan ini berubah setelah mendapat wejangan dari Ghea.
"Kak.. Terimakasih." Kata Chelsea saat Zayn memeluk pinggangnya dari samping.
"Harusnya aku yang bilang begitu, Sea. Terimakasih sudah mau menemani Kakak selama tiga tahun ini. Maaf jika Kakak masih belum bisa bahagiain kamu." Zayn mengecup puncak kepala Chelsea yang tertutup hijab.
"Jangan pernah bosen sama Kakak ya, Sea. Kakak sangat mencintaimu." Ucap Zayn lagi.
__ADS_1
Chelsea terharu mendengar ucapan cinta dari Zayn. Meski awalnya Chelsea merasa jenuh dengan rumah tangganya, tapi kini rumah tangganya kembali hangat. Ghea sang mertua, slalu menguatkan dan memberi semangat pada Chelsea. Chelse benar benar beruntung menikah dengan Zayn. Selain Zayn adalah cinta pertamanya, keluarga Zayn juga sangat menyayangi Chelsea.
Davan menghampiri keluarga besar itu. Aldrich melihat Davan yang duduk bersebrangan didepannya.
"Tadi sore kemana? Aku ketuk kamar kamu tapi gak dibuka." Tanya Aldrich.
"Keluar, cari angin." Jawab Davan.
"Kirain cari cewek." Sahut Chelsea.
"Ya cari angin dan kalo dapet cewek berarti beruntung kan. Sama kaya ibarat menyelam sambil minum air." Balas Davan.
"Cepet punya pacar, Dav. Terus nikah biar orang gak curigain kamu pasangan aku." Ucap Aldrich.
Chelsea dan Davan melihat kearah Aldrich, sementara Clara hanya memegang pelipisnya.
"Pasangan apa?" Tanya Davan.
"Metha mikir aku g*ay karna slalu nolak bercinta sama dia. Dan parahnya dia bilang ke Clara pasangan aku tuh kamu, Dav." Kata Aldrich.
Davan dan Chelsea tertawa, "Parah ya tuh cewek." Ucap Davan.
"Iya, bukannya bersyukur kalau kamu jaga kehormatan dia, malah dia nya yang ternyata memang rendahan." Sahut Chelsea.
Aldrich mengangguk, "Ya, aku bersyukur tidak pernah tergoda olehnya, aku juga bersyukur tau kejelekan dia dan tidak memperjuangkan dia."
"Itu sih kata katamu untuk membela diri, Dav." Ledek Chelsea. "Biar gak ditanyain jodoh terus."
Mereka berempat tertawa, hingga Davan berdiri untuk mengambil makanan, namun matanya menangkap sosok wanita yang tadi ia temui tengah berlari ketakutan seperti dikejar oleh seseorang. Davan mengedarkan pandangannya dan benar saja, jika Billa dikejar oleh seorang pria.
Davan segera meninggalkan acara keluarga tanpa mereka menyadarinya.
"Lepas Dit, lepas!!" Teriak Billa.
"Kenapa kamu lari, kamu nolak aku cium?" Tanya Pria yang ternyata bernama Adit.
"Dit kamu pacar Silvia, jangan dekati aku!!"
"Oh ayolah Billa, kamu bisa menjadi selingkuhan aku dibelakang Silvia."
"Tidak, aku tidak mau seperti itu." Ucap Billa.
Adit mencapit kedua pipi Billa, "Berani ya kamu nolak aku? Lihat di belakang sana banyak wanita yang antri buat jadi kekasih aku."
"Sakit Dit, lepas!!"
"Anak ja*lang kayak kamu aja banyak bertingkah, kamu sama ibumu itu sama aja tau gak!! Berapa bayaran yang kamu terima? Aku bisa membayarnya!!" Bentak Adit diwajah Billa.
__ADS_1
"Lepaskan dia!!" Kata Davan yang berada dibelakang Adit.
Adit melepaskan tangannya dari wajah Billa, Billa berlari kearah Davan.
"Kamu tidak apa apa?" Tanya Davan.
Billa hanya menggelengkan kepalanya.
"Oh ternyata ini sugar daddy kamu Bill? Om om." Adit tertawa. "Pantas saja tidak mau jadi selingkuhanku karna bayaran Om Om sangat tinggi ya."
Davan hanya menatap tajam kearah Adit.
"Sudah puas bicaranya? Anak kemarin sore melakukan kekerasan pada wanita. Saya akan melaporkan kamu ke pihak sekolah." Ucap Davan mengintimidasi.
Adit tertawa, "Silahkan saja, asal anda tau, kepala sekolah saya itu adalah ayah saya, bukan saya yang kena sanksi, tapi cewek ja*lang itu yang akan kena sanksi." Jawabnya percaya diri.
Davan tersenyum smirk. "Ya kamu benar." Kata Davan seolah mengalah. Tapi tanpa anak remaja itu tau, mengalahnya Davan hanya untuk memenangkan ujung permasalahan.
"Dav..." Panggil seorang wanita yang ternyata adalah Ghea.
Rupanya Ghea melihat saat Davan terburu buru meninggalkan acara barbeque itu. Ghea yang penasaran mengikuti kemana tujuan Davan dan melihat apa yang dilakukan oleh putranya itu. Davan yang biasanya acuh dengan masalah orang lain namun kali ini terlihat perduli.
"Mama.." Kata Davan sedikit terkejut.
Ghea menghampiri Davan yang seolah sedang melindungi gadis remaja bernama Billa.
Hal itu dijadikan kesempatan untuk Adit melarikan diri, karna tidak dipungkiri oleh Adit, jika ia takut pada Davan karna mempunyai postur tubuh yang lebih tinggi dari tubuhnya dan tangan kekar yang bisa saja membuat Adit babak belur.
Davan ingin mengejarnya namun tertahan karna Ghea menghampirinya.
Ghea melihat kearah Billa yang sedari tadi menunduk dan berlindung dibelakang punggung Davan.
"Hei, siapa namamu?" Tanya Ghea lembut.
Billa mendongakan wajahnya melihat wajah Ghea, kemudia ia melihat ke wajah Davan dan Davan mengangguk.
"Nabilla, Bu." Jawab Billa grogi.
Ghea menatap wajah Davan. "Ada yang mau kamu ceritakan pada Mama?" Tanya Ghea.
"Ma, dia Billa. Dia murid sekolah YY yang sedang study tour disini." Kata Davan dan Ghea masih mendengarkannya tanpa menyelaknya. "Tadi siang Davan melihatnya tengah di bully oleh teman temannya, dan barusan Davan melihat Billa dikejar oleh pria tadi yang mau nelecehkannya." Jelas Davan.
Ghea merasa ada yang aneh Davan bisa seperduli itu dengan lawan jenisnya, dan kenapa harus gadis SMA? Beribu tanya berada dibenak Ghea, ingatannya kembali saat masa remajanya dulu, saat ia dinikahkan dengan Fadhil yang usianya terpaut enam belas tahun.
Akankah sejarah terulang lagi? Akankah Davan putra bungsunya jatuh hati pada gadis remaja yang mungkin baru berusia tujuh belas tahun?
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1