
Hanya tinggal Jihan dan Alaska yang berada di kamar perawatan Jihan.
"Ji.." Panggil Alaska.
"Maafkan aku, kau tau kan jika aku kemarin sedang lupa ingatan dan tidak tau jika..."
"Wanita yang mengandung anakmu adalah wanita murahan." Balas Jihan cepat.
"Ji... Itu diluar kendaliku." Ucap Alaska seserius mungkin.
Jihan hanya diam.
Alaska menggenggam tangan Jihan. "Apa aku begitu menyakitimu?" Tanya Alaska.
"Kakak melukaiku." Jawab Jihan.
Alaska mengangguk karna mengakui kesalahannya, "Aku harus bagaimana agar kau mau memaafkanku?" Tanyanya tulus.
Jihan tampak berpikir, "Akan aku pikirkan." Jawab Jihan.
"Aku akan melakukan apapun agar kau mau memaafkan aku." Kata Alaska yang kini mencium genggaman tangan Jihan.
**
Hari ketiga, Jihan dan bayinya sudah diperbolehkan pulang. Alaska mengantarnya pulang hingga kerumah Davan, meski Alaska ingin sekali membawa Jihan dan putri mereka kerumahnya.
"Al, Jove akan di Aqiqah di minggu ini. Rencananya kami akan mengundang anak yatim piatu dan acara digelar disini. Apa kau setuju?" Tanya Davan.
Alaska mengangguk, "Alaska setuju, Yah." Jawab Alaska yang kini memanggil Davan dengan panggilan Ayah.
"Persiapan pernikahan kalian bagaimana?" Tanya Davan.
"Itu Mommy dan Ibu yang mengurusnya, Yah. Mereka yang ingin mempersiapkannya." Jawab Alaska.
"Setelah menikah, kalian akan tinggal dimana?" Tanya Davan lagi.
"Al belum bicarakan hal itu dengan Jihan, Yah. Nanti akan Al tanyakan dulu pada Jihan. Jika Jihan masih mau disini, Al akan mengikuti Jihan untuk pindah kesini, Jika Jihan mau tinggal dirumah Daddy, Al juga akan mengikutinya. Dan jika Jihan ingin tinggal mandiri bersama Al, untuk sementara bisa tinggal di apartemen Al dulu sampai Al membeli rumah untuk Jihan." Jawab Alaska dan di setiap jawaban Alaska membuat Davan menyukainya.
"Baiklah, Ayah suka dengan jawabanmu." Ucap Davan.
Hari Aqiqah bayi perempuan dari Alaska dan Jihan yang resmi diberi nama Alarice Jovelyn Dav Dewantara itu akhirnya digelar. Sukacita mewarnai acara tasyakuran itu.
Alaska tak lelah menggendong putri mungilnya, bahkan ia menolak saat Clara ingin bergantian menggendongnya.
"Kau sangat cantik, Jove. Daddy harus ekstra menjagamu." Gumam Alaska yang tak ada bosannya memandangi wajah Jove.
Pipi Jove yang kemerahan, bibir mungil, mata bulatnya, membuat Alaska betah berlama lama menatapnya.
"Daddy ingin tidur bersamamu setiap malam, tapi belum boleh." Kata Alaska seolah mengajak bicara Jove.
"Jove jangan nakal ya, jangan ajak Mommy bergadang, tunggu Daddy sampai bisa bersama kalian." Kata Alaska yang terus terusan mengajak bicara Jove.
__ADS_1
Jidan mendengarnya, ia merasa yakin jika Alaska akan menjadi pria yang tepat untuk Jihan. Jidan mulai menerima takdir Jihan yang memang harus melalui lika liku untuk bertemu dengan jodohnya.
Meski pada awalnya mereka di jodohkan dan saling menolak, lalu Jihan memiliki kekasih dan Alaska mulai menyadari jika dirinya menyukai Jihan, dan pada akhirnya mereka melakukan kesalahan karna sebuah jebakan, tapi pada akhirnya mereka tetap bersatu.
Jidan tidak menyalahkan siapapun, baik Rosa, Alaska, ataupun siapapun. Jidan hanya berharap, Jihan akan dihinggapi dengan banyak kebahagaiaan dalam hidupnya.
"Kau terlalu banyak melamun, Jid." Kata Amel entah sedari kapan Amel berada disisinya.
"Jihan sudah akan bahagia." Jawab jidan.
Amel mengangguk, "Kau menjaga Jihan dengan begitu baik. Aku salut padamu."
Jidan menoleh kearah amel, "Hanya sekedar salut?" Tanyanya.
Amel membalas tatapan Jidan, "Memang harusnya apa?" Tanya Amel balik.
"Mencintaiku, mungkin." Jawab Jidan.
Amel tertawa, "Haruskah aku yang mengatakan cinta duluan padamu, Jid? Tidak bisakah kau dulu yang mengatakannya?"
Jidan menggaruk keningnya yang tak gatal, "Aku mencintaimu, Mel." Katanya.
Amel malah tertawa, "Kau mengatakan cinta seperti mau mengajakku main saja, Jid. Tidak ada romantis romantisnya."
Jidan semakin salah tingkah, "Lalu harus seperti apa?" Tanyanya bingung.
Amel mengerdikan bahunya, "Entahlah." Ucapnya kemudian meninggalkan Jidan seorang diri yang masih kebingungan.
"Wanita itu kenapa rumit sekali? Tak bisakah tak harus mengatakan cinta?" Gumam Jidan.
"Terimakasih, Gab." Ucap Jihan.
"Semoga kau slalu bahagia, Ji. Masih mau kan berteman denganku?" Tanyanya.
Jihan mengangguk, "Tentu saja, bukankah kau juga Daddy nya Jove?"
Gibran tertawa pelan, "Ya, ajarkan J memanggilku Daddy Gab."
"Mengapa memanggilnya hanya J?" Tanya Jihan.
"Untuk membalas dendam pada Mommy nya yang memanggilku Gab dan bukan memanggilku Gib." Jawab Gibran lalu mereka berdua tertawa.
Melihat hal itu, Alaska ingin menghampiri Jihan namun Jidan menahannya.
"Biarkan saja, Al. Bukankah hanya tinggal selangkah lagi Jihan akan menjadi milikmu seutuhnya, malah diantara kalian sudah ada Jove." Ledek Jidan.
Alaska menghela nafas, "Harus waspada, Jid. Bukankah pebinor itu slalu lebih terdepan?"
Jidan mengerdikan bahunya. Namun Alaska menjahili Jidan.
"Waspada itu perlu, Jid. Bahkan jika kau tidak gerak cepat, bisa jadi Gibran beralih pada Amel karna Jihan sudah akan menikah denganku."
__ADS_1
Jidan menatap tajam Alaska,
"Aku bilang wasapada itu perlu, kau harus gerak cepat. Apalagi menurutku Gibran pria romantis yang jadi idaman banyak wanita." Kata Alaska lagi yang mampu membuat Jidan ketar ketir.
Dalam acara Aqikah sang putri, Alaska mengambil moment untuk melamar Jihan secara langsung. Meski Alaska tidak tau perasaan Jihan bagaimana terhadapnya, namun ia hanya ingin membuat Jihan merasa sebagai wanita baik baik yang dilamar secara baik baik juga.
Didepan kedua keluarga besar, Alaska meminta Jihan secara resmi pada Davan sebagai ayah kandungnya. Alaska juga meminta ijin pada Jidan untuk menikahi Jihan.
Davan, Billa dan Jidan dengan hati yang lapang dan penuh keikhlasan menerima lamaran Alaska untuk Jihan yang mereka sayangi.
Jihan pun tak pernah menyangka jika Alaska akan melakukan hal ini, dalam hatinya ia berjanji akan mencoba menerima takdirnya sebagai istri dari Alaska, belajar mencintainya dan menjadi istri yang baik untuk Alaska.
"Oupss, maaf." Kata seorang gadis yang hendak mengabadikan moment lamaran Alaska dengan Jihan, ia tak sengaja menyenggol lengan Gibran dan membuat ponsel Gibran hampir terjatuh.
Gibran tersenyum, "Tidak apa." Jawabnya.
"Omg, tampan sekali pria ini. Siapakan dia?"
"Kau baik baik saja? tidak jadi memfoto mereka?" Tanya Gibran
Alika terkesiap, "Ah, iya.. Maaf. Aku hanya terlalu mengagumi wajah tampanmu, Mas." Katanya terus terang.
Gibran mengernyitkan dahinya, "Mengagumi? Dan kau panggil aku apa? Mas?" Tanya Gibran.
Alika tersenyum, "Mas temannya Kak Jidan dan kak Jihan kan?"
Gibran mengangguk.
Alika mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. "Alika, aku adik Kak Alaska." Ucapnya memperkenalkan diri.
Gibran hanya tersenyum tipis tanpa membalas uluran tangan Alika. Namun Alika menarik tangan Gibran agar mau berjabat tangan dengannya.
Jidan mengantar Amel kembali ke apartemen yang amel sewa, apartemen yang hanya type studio itu membuat Amel sangat nyaman.
"Minum, Jid." Kata Amel sambil memberikan mug berisikan teh hangat.
"Terimakasih." Jawab Jidan.
Jidan kembali gugup, ia takut apa yang dikatakan oleh Alaska benar adanya, jika Jidan tidak waspada, akan membuat Amel berpaling.
"Mel.." Panggil Jidan.
Amel melihat kearah Jidan, "Ya?".
"Aku benar benar mencintaimu, Mel." Ucapnya dan Amel dengan serius mendengarkannya.
"Aku menyukaimu sejak berumur delapan tahun, selama itu pula aku tidak pernah menjalin hubungan dengan wanita lain, aku bahkan mencarimu hingga ke Jogja dan ternyata takdir mempertemukan kita kembali." Kata Jidan dengan berani.
"Apa yang membuatnu menyukaiku?" Tanya Amel.
"Aku slalu ingin mempunyai kekasih atau istri yang bisa bersahabat baik dengan Jihan. Dan itu ada padamu. Jihan tidak pernah bisa dekat dengan orang lain, namun Jihan slalu mengingat kebaikanmu." Ucap Jidan.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku menolakmu?" Tanya Amel.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...