
"Kita naik pesawat, Yah?" Tanya Jidan tidak percaya.
Davan mengangguk. "Kita naik pesawat." Ucapnya lembut.
Jidan menatap Jihan, "Ji, pesawat, Ji.. Kita naik pesawat." Kata Jidan antusias.
"Tapi aku takut, Jid." Kata Jihan.
"Tidak apa, Ji. Ini keren sekali." Ucap Jihan.
Davan dan Billa hanya tersenyum memperhatikan kedua anak kembarnya.
"Kita nungguin siapa, Yah?" Tanya Jidan.
"Anaknya Daddy Al. Kalian memanggilnya Kak Alaska. Apa kemarin tidak bertrmu di Villa?" Tanya Davan.
Jidan dan Jihan menggelengkan kepalanya. Alaska memang tidak menyukai keramaian, ia lebih menyukai menyendiri sambil membaca buku, Alaska juga type orang yang cuek namun ia sangat perduli dengan orang orang disekitarnya.
Tidak lama kemudian, Aldrich datang bersama Alaska. "Sudah siap semua?" Tanya Aldrich.
Davan mengangguk.
"Bill, sampai jumpa kembali di Jakarta." Kata Aldrich.
Billa mengangguk. "Terimakasih Kak Al, aku tidak akan melupakan kebaikan Kak Al." Ucap Billa tulus.
"Kapan kalian kembali ke Jakarta?" Tanya Davan.
"Mungkin minggu depan." Jawab Aldrich. "Aku titip Alaska." Kata Aldrich pada Davan.
"Tentu saja, Alaska juga anakku, akan ku jaga sama seperti menjaga anak anakku." Ucap Davan.
Jihan dan Jidan duduk berhadapan dengan Alaska. Alaska yang cuek hanya asik membaca buku. Anak remaja berusia 12 tahun itu sudah tertarik dengan dunia bisnis sedari kecil.
Alaska merasa jika dirinya tengah diperhatikan oleh kedua anak kembar tidak identik itu. "Kalian bosan?" Tanya Alaska.
Jidan menggelengkan kepalanya sementara Jihan menganggukan kepalanya.
"Kalian selain tidak identik juga ternyata juga tidak kompak." Ucap Alaska tersenyum.
"Baca buku biar tidak bosan." Kata Alaska pada Jihan.
Jihan menggelengkan kepalanya.
"Jihan tidak suka baca buku." Sahut Jidan.
Alaska menatap Jidan, "Kau suka baca buku?"
Jidan nengangguk, "Aku suka baca." Ucapnya.
"Buku apa yang kau suka?" Tanya Alaska yang mulai tertarik pada kepribadian Jidan.
__ADS_1
"Aku tidak punya buku untuk dibaca, tapi saat kami masih berjualan asongan dan sedang istirahat, aku suka ikut membaca buku di emperan yang menjual buku bekas. Aku menyukai buku cara cara menghasilkan uang." Kata Jidan.
Alaska menaikkan satu halisnya, "Bisnis maksudmu?"
Jidan mengerdikan bahunya, "Aku tidak tau, hanya saja jika aku bertanya pada Pakde Eko yang menjual buku, buku mana yang bisa menambah ilmu untuk menghasilkan uang, ia memberiku beberapa buku untuk kubaca."
"Kau pernah menerapkannya?" Tanya Alaska semakin tertarik.
"Aku tidak tau." Jawab Jidan.
Alaska tertawa, anak yang hampir berusia delapan tahun ini terlihat begitu memiliki banyak potensi. Beruntung Davan segera menemukannya, karna kelak Jidan lah yang akan meneruskan usaha sang Ayah.
"Mainlah kerumahku nanti, disana ada banyak buku yang bisa kau baca." Kata Alaska.
Pesawat pribadi milik keluarga Dewantara itu mendarat di Jakarta saat sore hari, Davan membawa Alaska kerumahnya karna Fariz dan Stevi pun ada disana.
"Mas ini rumah siapa?" Tanya Billa saat Davan menghentikan mobilnya disebuah rumah mewah dan cukup besar itu.
"Ayo turun." Ajak Davan.
Davan merangkul pundak Billa. "Aku memberikanmu sebuah rumah, rumah ini atas nama dirimu." Kata Davan.
Billa sedikit terkesiap, "Tapi, Mas.."
"Kamu pergi dan tidak tau tujuan kamu kemana sampai kamu berada di kota itu. Sekarang jika kamu marah lagi sama aku, ini rumahmu, jangan pulang kemana mana. Tinggallah disini dan pulanglah kesini." Kata Davan.
Mata Billa sudah dipenuhi genangan.
Billa mengangguk. "Makasih, Mas." Ucap Billa.
"Kita tidak tinggal dirumah Mama?" tanya Billa kemudian.
"Kita bisa tinggal disana jika kamu mau, jaraknya tidak terlalu jauh. Aku hanya ingin membelikanmu sebuah rumah untuk jadi tempat tujuanmu pulang." Kata Davan.
Davan membawa Billa dan kedua anak kembarnya berjalan masuk kedalam rumah. Alaska pun mengikutinya.
Davan membuka pintu dan terlihat Ghea juga Fadhil dan keluarga yang lain tengah menyambutnya.
Billa berhambur dan memeluk Ghea saat Ghea merentangkan kedua tangannya. "Maafin Billa, Ma." Kata Billa sesenggukan.
"Maafin Mama juga ya, Sayang. Mama tidak bermaksud untuk menyalahkanmu, sungguh Mama tidak menyalahkanmu." Kata Ghea sambil mengusap punggung Billa yang masih menangis.
"Sudah Billa, yang berlalu sudah terlewati. Papa minta maaf sama kamu karna perbuatan anak anak Papa." Kata Fadhil pada Billa.
Billa melepaskan pelukannya pada Ghea dan menatap wajah Fadhil. "Billa juga salah, Pa. Maafin Billa."
Zayn pun meminta maaf pada Billa, ia menyesali semua perkataannya pada Davan hingga akhirnya semua terjadi.
Setelah kejadian penuh haru itu, tatapan mereka tertuju pada sepasang anak kembar.
"Davan junior." Kata Fariz.
__ADS_1
"Ya, benar kata Aldrich, Jidan mirip sekali dengan Davan, wajar saja langsung mengenalinya." Sahut Tristan.
Davan pun mengingat ucapan ghea saat dihotel, jika Davan mengadopsi Jidan, orang akan menyangka bahwa Jidan adalah anaknya. Dan benar saja, memang Jidan adalah putra kandungnya, pantas saja jika begitu mirip.
Malam semakin larut, setelah acara makan malam bersama, mereka memutuskan untuk pulang kerumahnya masing masing.
"Mama berharap kalian tinggal bersama Mama, tapi jika Billa nyaman disini, Mama juga ikut seneng." Ucap Ghea pada Davan dan Billa.
"Nanti sesekali kami akan menginap dirumah Mama, Davan disini dulu ya Ma, masih kangen sama Billa dan anak anak." Kata Davan.
Ghea mengerti, Davan sudah delapan tahun berpisah dengan istri dan anak anaknya. Ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan keluarga kecilnya dengan bebas.
Jidan dan Jihan sudah tertidur di sofa, "Mas, Jidan dan Jihan tidur." Kata Billa.
"Padahal aku ingin memberikan kejutan pada mereka." Kata Davan.
"Kejutan apa?" Tanya Billa.
"Aku sudah membuatkan mereka kamar sendiri sendiri." Jawab Davan.
"Besok saja, Mas ditunjukinnya. Sekarang mereka tidur bersama kita dulu, kasihan Jihan jika bangun malam dan belum terbiasa ditempat yang baru." Ucap Billa.
Davan mengangguk. "Biar aku pindahkan Jidan dulu, baru Jihan." Kata Davan.
"Kita pindahkan bersama saja, aku masih sanggup menggendong Jihan." Kata Billa.
Davan merangkul pundak Billa dan mendekatkan bibirnya di telinga Billa seraya membisikan sesuatu. "Masih kuat juga kan jika aku berada diatasmu?" Tanya Davan dengan nada sensual yang membuat wajah Billa merona merah.
Davan tersenyum, "Aku akan bersabar, Sayang." Ucapnya lagi.
Davan dan Billa menidurkan anak anak mereka diatas tempat tidur didalam kamar utama. Billa melihat sekeliling kamar yang dibuat senyaman mungkin oleh Davan. Bahkan ada satu pintu yang terhubung dengan ruang kerja pribadi Davan.
Davan masuk bersama dua orang yang mengangkut sebuah kasur, memang setelah Davan meletakan Jidan, Davan keluar dari kamarnya lagi.
"Bawa kasur kesini, Mas?" Tanya Billa heran.
"Biar kamu dan anak anak gak sempit, aku tidur dibawah saja." Kata Davan.
Setelah diberi seprai, Davan bersiap untuk tidur, namun Billa ikut merebahkan diri disamping Davan.
"Aku ingin tidur bersamamu." Kata Billa pelan.
Davan tersenyum. Ia langsung membawa Billa kedalam pelukannya. Menghirup aroma wangi shampoo dirambut Billa.
"Jangan pergi lagi dariku. Ini rumahmu." Kata Davan berbisik.
Billa mengeratkan pelukannya, "Maafkan aku, aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku mencintaimu."
Davan tersenyum mendengar kata cinta dari Billa. "Aku lebih mencintaimu, Nabilla Azzahra."
Mereka tidur dengan saling berpelukan, dimulai dengan rumah ini, mereka akan menjalani lembaran hidup yang baru. Kini Billa tau kemana ia harus pulang, ketempat dimana ada seseorang bernama suami.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...