BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 59


__ADS_3

Bayi mungil Chelsea dan Zayn lahir dengan selamat, bayi mungil yang masih merah itu terlihat mirip sekali dengan Zayn, hidung mancung dan rambut tebal milik bayi kecil itu mengingatkan Ghea saat melahirkan Zayn yang memang mirip sekali dengan Fadhil.


Keesokan harinya, keluarga Ghea dan Keluarga Tristan melihat bersama bayi mungil yang sudah lama dinanti oleh dua keluarga itu.


"Seperti melihat Zayn waktu bayi." Kata Ghea yang terus memandangi bayi kecil itu.


"Iya, ini Zayn sekali. Gak ada Chelsea Chelseanya." Kata Jessi.


"Nanti akan ada, Mi.. Chelsea versi bayi." Sahut Zayn menenangkan hati mertuanya itu.


"Memang mau langsung punya bayi lagi?" Tanya Tristan, "Ini saja belum diberi nama." Ledeknya.


"Langsung, Pi.. Beres nifas nanti langsung bikin adik buat Rayyan." Jawab Zayn sambil tertawa.


"Jadi Rayyan namanya?" Tanya Ghea.


"Rayyan Abizar Latif." Kata Chelsea.


"Serius mau langsung? Gak takut jahitan sakit, Chel?" Tanya Jessi yang bergidik ngeri.


"Biar sekalian capek, Mi. Makanya Chelsea gak mau KB, biar langsung punya anak lagi."


"Ya mana capek, Chel. Palingan Rayyan nanti diperebutkan sama Mama dan Mamimu." Fadhil tertawa membayangkan cucu pertamanya dioper kesana kemari.


"Untung rumahnya sebrangan, jadi gampang nyuliknya." Tristan tertawa membayangi hal itu.


Aldrich dan Clara datang menjenguk pada sore harinya, mereka melihat bayi mungil itu dengan menggemaskan, Clara mengusap perutnya yang kini berusia lima bulan.


"Anak kita nanti seumuran, Ra." Ucap Chelsea.


"Iya, Chel."


"Udah tau apa jenis kellaminnya?" Tanya Chelsea lagi.


"Cowok juga, Ra. Temennya Rayyan nih." Jawab Clara yang tak hentinya mengusap perutnya.


"Davan udah kesini, Chel?" Tanya Aldrich.


"Semalam, Davan yang antar kerumah sakit, tapi habis aku masuk kamar perawatan, dia balik lagi kerumah."


Aldrich menghela nafas, "Davan sekarang menghindar mulu."


"Ya samperin lah, Al." Kesal Chelsea. "Aku kasian sama dia."


"Ya sama, tapi mau gimana? Kalo diajak ngobrol soal Billa, Davannya menghindar terus." Jawab Aldrich.


Ceklekk..


Pintu terbuka dan Davan masuk kedalam kamar perawatan Chelsea.


"Ada kalian." Kata Davan santai. Lalu masuk untuk mencuci tangan dan duduk bersama Aldrich di sofa.


"Kerjaan lancar, Dav?" Tanya Aldrich basa basi.


Davan nengangguk, "Besok aku mau ke labuan bajo, kontrol resort disana udah sejauh mana renovasinya."


"Loh koq besok Dav? Minggu ini Rayyan mau akikah." Protes Chelsea.

__ADS_1


"Aku usahain pulang dihari Rayyan akikah." Jawab Davan yang tak pernah bisa menolak permintaan Chelsea.


"Ngopi dibawah yuk, Dav. Ngantuk nih." Ajak Aldrich yang sebenarnya ingin mengajak Davan berbicara.


Davan yang memang sedang suntuk pun mengiyakan ajakan Aldrich.


Kini mereka duduk berhadapan dikafetaria. Dengan kopi hitam untuk menghilangkan suntuk, dan zupa zupa soup untuk mengisi isi perut yang sedang minta diisi.


"Memikirkan Billa?" Tebak Aldrich pada akhirnya.


Davan hanya asik memakan zupa zupanya. "Mana mungkin tidak memikirkannya." Kata Davan lalu menaruh sendoknya dan bersandar pada sandaran kursi.


"Kenapa tidak menyusulnya?" Kata Aldrich lagi.


Davan hanya bergeming.


"Takut ditolak lagi?" Tebaknya Aldrich.


Davan nenghela nafas, "Tidak." Jawabnya singkat. "Aku hanya ingin Billa fokus kuliah dulu."


"Dav, setidaknya kamu bisa menghubungi lewat telpon, video call, misalnya." Kata Aldrich.


"Ternyata aku mencintai Billa, Al." Jawab Davan dengan pelan. "Aku berharap Billa mempunyai perasaan yang sama, karna itu aku membiarkannya untuk mengetahui perasaannya sendiri."


"Bagaimana jika nanti Billa pulang dan tetap tidak membalas cintamu?" Tanya Aldrich.


"Tidak apa, karna level tertinggi dari mencintai adalah melepaskan." Jawab Davan.


"Ck, kau ini. Level tertinggi mencintai itu bukan melepaskan, tapi memperjuangkan." Ucap Aldrich.


Davan menghela nafas, "Aku sudah memperjuangkannya."


"Sombong sekali, mentang mentang sudah dapat cintanya jadi sok ceramahin." Cibir Davan.


"Yakin menunggunya sampai lima tahun?" Tanya Aldrich lagi. "Lima tahun lagi, umurmu tiga puluh tahun." Ledek Aldrich.


"Tidak ada yang tau masa depan seperti apa, Al. Aku hanya nenyerahkan semua urusanku pada yang maha kuasa, jika aku benar berjodoh dengan Billa, pasti akan bersatu kembali dengan cara seperti apapun." Jawab Davan bijak.


**


Sebelum pulang, Aldrich membawa Clara untuk makan malam disebuah Mall, kebetulan Clara sedang ingin makan ramen yang berada di mall itu.


"Jangan pedes pedes, nanti bayinya kepedesan didalam." Kata Aldrich.


Clara tertawa, Aldrich memang slalu berlebihan jika melarang sesuatu yang Clara inginkan.


"Mana ada seperti itu." Kata Cara.


"Aku takut kamu sakit perut." Ucap Aldrich.


Clara tersenyum, Aldrich slalu saja mengeluarkan kata kata ajaib yang membuat hati Clara terenyuh, perhatian Aldrich slalu tercurah padanya. Membuat Clara menjadi ratu karna slalu di prioritaskan.


"Level tiga aja ya." Kata Clara.


Aldrich mengangguk, "Okey." Jawabnya.


Disisi lain, seorang wanita paruh baya memperhatikan mereka, dia adalah Intan mantan mertuanya dulu. Dan tanpa malu, Intan menghampiri Clara.

__ADS_1


"Kamu sudah menikah lagi?" Tanya Intan sinis lalu melihat kearah Aldrich. "Pria ini yang waktu itu jalan denganmu, kan? Benar dia selingkuhanmu." Kata Intan.


Clara memutar malas bola matanya, "Bukan urusan Ibu lagi."


Mata Intan tertuju pada perut Clara. "Kamu hamil?" Tanya Intan.


"Seperti yang Ibu lihat, Suamiku jauh lebih perkasa dari pada anak ibu." Lalu Clara menarik lengan Aldrich dan meninggalkan Intan yang menganga tak percaya.


"Sayang, kita gak jadi makan?" Tanya Aldrich.


"Seleraku hilang karna dia, Al." Jawab Clara.


Adrich merangkul pundak Clara dan membisikkan sesuatu ditelinganya, "Jadi aku lebih perkasa dari anaknya dia?" Tanya Aldrich bebrisik menggoda.


Clara menyikut perut Aldrich. "Apaan sih, Al." Jawabnya malu.


"Oh Clara, aku tak sabar sampai kerumah, kita menginap dihotel terdekat saja, ya." Ajak Aldrich.


"Aku sedang hamil, Al." Kata Clara.


"Tapi sejak kamu hamil, kamu semakin liar, Sayang. Aku suka." Aldrich menaik turunkan halisnya.


Clara hanya menahan malunya sementara wajahnya sudah terlihat memerah. Bisa bisanya suaminya membicarakan hal itu ditempat umum.


"Al, kalo kamu masih bicara soal ini aku mau bilang ke Mama ya kalau kamu buat aku capek." Ancam Clara.


Aldrich membolakan matanya, bisa bisa gagal membuat malam panjang jika sang Mama turun tangan, "Sepertinya aku harus cari rumah untuk kita berdua, supaya Mama gak ada." Kata Aldrich.


"Aku gak mau, aku nyaman tinggal sama Mama." Ucap Clara lalu meninggalkan Aldrich yang masih berjalan pelan.


Diparkiran, Clara berpapasan dengan Bisma, Bisma yang hendak menjemput sang Ibu ternyata malah melihat Clara dengan perut membuncitnya.


"Kamu sudah menikah lagi?" Tanya Bisma heran."


Clara hanya menatap sengit pria yang pernah menjadi suaminya itu, kini penampilan Bisma terlihat memprihatinkan, tubuh yang kurus membuat wajahnya terlihat lebih tua.


"Sayang..." Panggil Aldrich lalu menghampiri Clara dan Bisma.


Bisma melihat kearah Aldrich lalu menatapnya dengan tatapan yang entah.


"Jangan dilihat, Sayang." kata Clara pada Aldrich.


"Suamimu tampan." Kata Bisma menyeringai.


"Menjijikan." Balas Clara lalu menarik Aldrich untuk menuju mobilnya.


"Dia.." Kata Aldrich menggantung saat sudah berada didalam mobil.


"Mantan suamiku." Jawab Clara. "Al jika bertemu dengannya lagi, jangan melihatnya, aku tidak suka." Kata Clara.


"Kamu takut dia menyukaiku?" Tanya Aldrich penuh selidik. "Hei, aku pria normal, bukankah kau mengakui keperkasaanku?" Goda Aldrich.


"Ya, ayo cepat pulang." Ketus Clara.


"Ya, kita pulang. Aku akan membuktikan keperkasaanku karna kamu sepertinya ragu." Ucap Aldrich tertawa.


"Ishh itu sih mau kamu."

__ADS_1


Aldrich semakin tertawa. "Malam ini aku akan menang banyak, Sayang."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2