
Pagi ini Aldrich bangun lebih pagi, posisinya tidak berubah, masih mendekap tubuh Clara dengan sayang.
Aldrich mengingat kejadian semalam dimana ia menunaikan hak dan kewajibannya pada istrinya yang bernama Clara.
Tak pernah terbayangkan dalam benak Aldrich, ia yang akhirnya bisa mendapatkan kesucian Clara seutuhnya. Menurutnya ini diluar ekspektasinya, padahal Aldrich menerima Clara apa adanya tanpa ingin tau masa lalu Clara.
Semalaman Aldrich terus menciumi puncak kepala Clara dengan gemas dan rasa sayang, ia tak mengulangi lagi kegiatannya karna melihat Clara yang meringis kesakitan meski Clara tidak mengeluh. Terlebih saat Aldrich membawa Clara untuk membersihkan sisa percintaan mereka ke kamar mandi dan melihat noda merah di sprei berwarna abu muda itu, membuat Aldrich semakin dalam mencintai Clara.
Aldrich kembali mencium puncak kepala Clara sebelum ia mencoba bangkit untuk membersihkan diri. Namun pergerakan Aldrich membuat Clara sedikit terganggu dan mengerjapkan matanya.
"Hei, udah bangun?" Tanya Aldrich lembut.
Clara mengangguk dengan kondisi masih setengah mengantuk, "Ini jam berapa?" Tanya Clara.
"Masih jam empat subuh, aku mau mandi dulu, mau ikut?" Tanya Aldrich menggoda.
Clara mengangguk, Aldrich tidak menyianyiakan kesempatan ini, ia langsung menggendong Clara kekamar mandi dan mendudukannya diatas meja wastafel, sementara Aldrich mengisi bath tub dengan air hangat untuk berendam mereka berdua.
"Al..." Panggil Clara saat Aldrich mulai menyalakan keran.
Aldrich menghampiri Clara, berdiri didepannya dan tangannya memegang pinggang Clara.
"Kamu tidak mulai lagi?" Tanya Clara ambigu.
Aldrich tersenyum, "Aku takut kamu masih sakit, pasti sakit banget kan?" Tanya Aldrich.
Clara menggigit bibir bawahnya dan mengangguk.
"Kamu mau lagi?" Tanya Aldrich menggoda.
Tangan Clara menyentuh dada bidang Aldrich dan membuat hasrat Aldrich sedikit naik kembali. "Aku suka.." Kata Clara dengan pelan.
Aldrich tidak berpikir lama, ia langsung bertindak sesuai instingnya kembali, Aldrich menahan tengkuk Clara dan menciumnya lebih dalam, tangannya mulai mencari titik sensitif Clara, lalu Aldrich membuka kaos oblong miliknya yang Clara pakai semalam, Aldrich melihat kulit Clara yang penuh dengan kissmark yang ia buat.
Ia membelai punggung polos Clara dan hal itu membuat Clara semakin meremang.
"Sudah tidak sakit?" Tanya Aldrich ragu saat mereka sudah sama sama polos.
"Masih, tapi tidak terlalu." Jawab Clara.
Aldrich memulai aksinya, ia kembali membenamkan juniornya didalam sesuatu yang ia sebut rumahnya itu.
Clara mencengkram kedua pundak Aldrich sambil menengadahkan kepalanya, membuat lehernya terpampang jelas dan siap untuk Aldrich nikmati, tanpa menundanya Aldrich langsung menenggelamkan wajahnya diceruk leher Clara.
Clara dibuat melayang dengan apa yang diperbuat Aldrich, merasakan pelepasan berkali kali hingga tubuhnya baru merasa lemas.
__ADS_1
Aldrich tersenyum saat melihat wajah Clara yang sudah terlihat lelah.
"Aku akan menyelesaikannya, Sayang." Kata Aldrich sambil mempercepat gerakannya dan berhasil mencapai puncaknya.
Aldrich memeluk Clara dan tak henti menciumi wajahnya.
Setelah melakukan aktifitas panasnya, Aldrich membawa Clara untuk berendam didalam bath tub dengan air hangat, Aldrich memeluk tubuh Clara dari belakang.
"Al..." Panggil Clara.
"Hem.."
"Apa yang kau pikirkan sekarang?" Tanya Clara.
"Merencanakan masa depan denganmu dan membuatmu bahagia." Jawab Aldrich.
"Boleh aku jujur." Kata Clara.
"Jujur apa?"
"Sebenarnya, wanita yang mengaku mantan kekasihmu itu bilang sesuatu padaku." Kata Clara.
"Aku tidak perduli apa yang dia katakan padamu, cukup kamu percaya padaku saja, Ra. Maka aku akan abai dengan yang lainnya." Jawab Aldrich.
"Dia bilang, kamu g*ay, karna tidak pernah mau menyentuhnya." Kata Clara akhirnya.
"Kenapa? Mantanmu itu cukup se*xy." Kata Clara menyelidik.
"Ya, dia sering berpenampilan se*xy didepanku, dan pernah nyaris tela*njang." Aldrich menghela nafasnya. "Bukan aku tidak tergoda olehnya, Ra. Tapi Mama slalu mengajariku untuk menjauhi hal hal seperti itu apa lagi se*x diluar nikah. Aku hanya menjalankan amanat Mama untuk tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas."
Clara terdiam mendengar jawaban demi jawaban Aldrich. Ia tak menyangka jika Aldrich dibesarkan dengan didikan yang sangat baik.
"Dia juga bilang, pasangan sejenismu adalah Davan." Kata Clara lagi.
Aldrich tertawa, sungguh ia tidak dapat menahan tawanya. "Apakah karna hal itu kamu jadi menanyakan soal Davan saat pulang dari Mall?"
Clara mengangguk.
Aldrich mencium sekilas bahu Clara yang terbuka, "Cukup percaya padaku, Ra. Jangan pernah dengar apa yang kau dengar dari orang lain."
"Iya, Al. Aku percaya kamu." Ucap Clara.
"Tentu saja saja kau percaya, aku sudah membuatmu lemas berkali kali." Aldrich kembali tertawa dan Clara mencubit lengan Aldrich.
Mereka menyelesaikan ritual mandinya setelah Clara merasakan tubuhnya mengantuk kembali, Aldrich dengan siaga membantu mengeringkan rambut Clara dengan handuk kecil lalu mereka menunaikan kewajiban subuhnya.
__ADS_1
"Kamu tunggu sini ya, aku mau turun ambil makanan." Kata Aldrich pada Clara.
"Aku ikut turun aja."
"Jangan, Ra. Turun tangga, memang kamu sudah tidak sakit?"
Clara hanya diam, apa yang dikatakan Aldrich benar adanya, bagian intinya masih sedikit perih dan tidak yakin jika harus turun dan naik tangga.
Aldrich bersiul sambil menuruni anak tangga, wajahnya terlihat berseri seperti baru saja mendapatkan undian.
"Tumben sudah bangun, biasanya kalo weekend bangunnya siang." Ledek Stevi.
Aldrich nenggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Al laper, seamalam gak sempet makan." Jawabnya cengar cengir.
"Clara mana?"
"Ada, tapi Al mau bawa makanan ke kamar." Jawab Aldrich.
Aldrich meminta Art untuk dibuatkan susu coklat hangat, kopi susu panas, dan sarapan yang akan Aldrich bawa ke kamar.
"Memang Clara kenapa? Clara sakit?" Tanya Stevi sedikit panik.
"Bukan, Ma. Tapi Claraa..." Aldrich bingung menjawab apa, "Ya Clara gak bisa turun, Ma." Jawabnya tidak jelas.
Stevi mengernyitkan dahinya. "Habis kamu apain?" Tanyanya menyelidik.
Aldrich menghela nafas, "Ah Mama kepo aja, Mama gak usah tau, tau tau nanti nanti Mama punya cucu aja deh." Jawab Aldrich.
Stevi menutup mulutnya, "Sudah Al?" Tanyanya ambigu.
"Ishh Mama, apaan sih nanyanya gitu." Kesal Aldrich yang nenutupi rasa malunya.
"Ohh anak Mama sudah dewasa, sudah bukan anak kecil lagi." Ucap Stevi.
"Ya dia bukan anak kecil lagi, Ma. Tapi sekarang anak kecilmu itu udah bisa bikin anak." Sahut Fariz yang menyusul Stevi kedapur.
Fariz merangkul pundak Stevi dan menatap Aldrich. "Enak, Son?" Tanya Fariz menggoda.
Aldrich mengambil nampan yang sudah disiapkan oleh art nya, "Papap gak usah tanya, tiap hari kan Papap ngerasain juga." Aldrich tertawa lalu berbalik menuju kamarnya.
"Al, tau dari mana?" Tanya Fariz setengah tertawa.
"Periksa Pap alat kedap suara dikamar Papap rusak atau lupa nyalain. Tiap malam Al dengerin suara horor." Jawab Aldrich tertawa sambil jalan meninggalkan Fariz dan Stevi.
"Oh my God, anak itu dengar, Pap." Kata Stevi.
__ADS_1
"Biar saja, Ma. Sekarang kan udah gak jomblo lagi, udah ada tempat halal untuk menyalurkan hasratnya itu." Jawab Fariz enteng.
......ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ......