
Jove menangis karna haus, Alaska langsung bangun dan menimang kembali Jove.
"Anak Daddy haus, ya?" Tanya Alaska sambil mencoba menenangkan Jove.
Jihan tampak lelah dan belum menyadari tangisan Jove, Alaska mendekat dengan membawa Jihan, dilihatnya kancing piyama Jihan yang terbuka tiga kancing dari atas.
Alaska ingin membantu Jove memberikan asi Jihan pada Jove namun ia belum cukup berani.
"Ji.." Panggil Alaska sambil sedikit menggoyang goyangkan lengan Jihan.
"Hemm." Jawab jihan dengan masih memejamkan matanya.
"Jove nangis, Ji." Kata Alaska lembut.
"Tidurkan disini aja." Jawab Jihan sambil menepuk nepuk bagian didekatnya yang kosong.
Alaska meletakkan Jove didekat Jihan, Jihan yang masih terpejam dengan tak sadarnya mengeluarkan salah satu isi dari balik pembungkus didalam piyamanya dan menyumpal bibir mungil Jove dengan bulatan diujung gunungnya.
"Ya Tuhan, Ji..." Kata Alaska namun tidak berkedip, sementara Jihan masih memejamkan matanya sambil menyusui Jove tanpa memperdulikan adanya Alaska dikamar itu.
Alaska merasa tubuhnya menjadi panas, ia memilih keluar untuk mengambil air es didalam kulkas.
Alaska menenggak habis air minum di gelasnya, rasanya ia masih merasa gerah.
"Kau belum tidur, Al?" Tanya seseorang yang ternyata Jidan.
Jidan sengaja turun kebawah untuk mengambilkan air minum untuk Amel.
"Aku haus." Jawab Alaska yang kini memperhatikan penampilan Jidan.
"Kau berantakan sekali." Kata Alaska menyelidik.
Jidan hanya mengerdikan bahunya.
"Kau dan Amel.... Sudah?" Tanya Alaska penasaran.
Jidan mentoyor kepala Alaska. "Kepo!!" Ledeknya.
"Jadi sudah, Jid?" Tanya Alaska lagi.
"Aku dan Amel sudah menikah. Wajarlah kalau aku menunaikan kewajibanku." Kata Jidan dengan cuek.
Jawaban Jidan malah membuat Alaska semakin cenat cenut. Jidan bisa menyalurkan hasratnya sementara Alaska masih harus menunggu satu bulan lagi dimana Jihan menyelesaikan masa nifasnya. Itupun jika Jihan mengijinkannya.
Jidan tersenyum smirk, "Tahan, Al. Tidak lucu kan jika Jove yang masih bayi langsung punya adik." Ledek Jidan. "Lagi pula sebulan itu tidak lama." Ucapnya lagi.
"Aku kekamar dulu, kasian Amel nungguin minum. Sekalian mau ngulang, katanya yang kedua bisa lebih tahan lama, Al." Jidan tertawa puas meninggalkan Alaska.
Jidan hanya menggoda Alaska, dalam hatinya ia tidak akan tega mengulang apa yang baru saja dilakukannya pada Amel mengingat Amel masih merasakan sakit di area miliknya terlebih saat Jidan melihat ada noda merah di spreinya.
Alaska pun kembali ke kamar Jihan, ia melihat Jove sudah melepaskan bulatan yang menjadi sumber makanannya, sementara Jihan masih tertidur tanpa merapihkan dulu bagian dadanya yang terekspos.
__ADS_1
"Oh Jihan istriku, kau benar benar barbar sekali." Kata Alaska lalu memindahkan jove ke box dan kini Alaska memilih tidur disofa karna tidak ingin kebablasan dan berlaku tidak sopan pada Jihan.
"Lebih besar dari sebelumnya." Gumam Alaska sebelum akhirnya ia tertidur.
**
Pagi hari rumah kediaman keluarga Davan terlihat lebih ramai.
Davan bersama Jidan dan Alaska tengah mengobrol di halaman belakang.
salah satu impian Davan yang sempat dilepaskannya kini terwujud, yakni menjadikan Alaska sebagai menantunya meski dengan awal yang salah namun Davan mencoba memaafkan dan meyakini bahwa ini memang sudah jalannya.
"Rosa sudah berada dikantor polisi. Ternyata banyak terlibat kasus. Dia juga terlibat kasus prostitusi online, Yah." Kata Alaska yang menjelaskan masalah kasus penjebakan Jihan dan Alaska pada Davan.
"Gadis itu sedari kecil slalu tak suka pada Jihan. Entah apa yang membuatnya iri, padahal Jihan dulu tidak sebanding dengannya." Sahut Jidan.
"Kita serahkan saja pada polisi." Ucap Davan.
"Kasihan Gibran kalau harus menikah dengan Rosa, semoga Gibran mendapatkan wanita yang baik karna dia memang orang baik." Kata Jidan.
Alaska pun mengakui hal itu, Gibran memang sosok pria yang baik dan santun. Bertanggung jawab pada kedua adiknya, dan mempunyai hati yang luas dengan mengikhlaskan Jihan untuk Alaska.
Jihan menghampiri dengan membawa Jove digendongannya, Alaska langsung berdiri dan mendekatkan diri pada Jihan.
"Biar aku yang gendong Jove." Kata Alaska.
Jihan tersenyum dan membiarkan Alaska menggendong Jove.
"Anak Daddy sudah wangi sekali, cantik banget sih." Kata Alaska yang tengah mengajak ngobrol putri kecilnya itu.
Jidan beranjak dari duduknya untuk kembali ke kamar. Ia ingin melihat sang istri yang tadi ia tinggalkan.
"Mel..." Panggil Jidan saat Jidan masuk kedalam kamarnya.
"Aku disini, Jid." Jawab amel yang sedang merapihkan pakaian miliknya kedalam lemari di walk in closet.
Jidan segera menghampirinya dan memeluk Amel dari belakang, mencium leher Amel hingga membuat Amel sedikit meremang.
"Jid.. Geli.." Kata Amel sambil menggoyangkan bahunya agar Jidan berhenti menciuminya.
"Kamu wangi sekali." Ucap Jidan yang kini mencium pipi Amel.
"Ishh kamu ini ternyata mesum sekali." Amel tertawa karna kini mengetahui sisi lain dari suaminya.
"Mesumnya sama kamu dong koq, Mel. Udah halal juga." Jawab jidan yang memang masuk akal.
"Masih sakit?" Tanya Jidan ambigu namun dapat dimengerti oleh Amel.
"Sedikit." jawab Amel.
"Tapi bisa jalan?" Tanyanya lagi.
__ADS_1
"Bisa, ini bisa beresin pakaian." Amel tersenyum karna Jidan begitu perhatian padanya.
"Biar bibi aja yang beresin, ayo kita turun kebawah, sarapan." Ajak Jidan dan Amel mengangguk.
"Al, ayo makan." Ajak Davan pada Alaska yang masih betah menggendong Jove.
"Biar Jihan duluan aja, Yah. Mumpung Jove masih anteng." Jawab Alaska.
"Berikan dulu saja pada suster, kamu bisa makan dulu." Kata Jihan.
"Nanti saja, biar aku gendong Jove dulu." Balas Alaska.
Billa merasa bahagia, karna Alaska bersikap manis pada putrinya. Tak ada lagi kekhawatiran didiri Billa. Baik Jihan maupun Jidan sudah bahagia dengan pilihannya masing masing.
"Ji, aku akan kerumah daddy dulu ambil baju ganti. Mau ikut?" Ajak Alaska saat mereka masih berada di meja makan.
"Tapi Jove gimana?" Tanya Jihan.
"Diajak aja, kan dimobil ini. Biar Jove terbiasa jalan jalan. Daddy sama Mommy pasti seneng Jove main kerumahnya." Kata Alaska.
Jihan mengangguk, "Ya udah, Kak. Aku siapin dulu perlengkapan Jove ya." Ucap Jihan yang diangguki oleh Alaska.
"Menginap saja dirumah Daddy Al. Kasihan Jove kalau harus bolak balik." Kata Davan memberi ide.
Billa mengangguk setuju, "Lusa baru kesini lagi."
"Tapi katanya Gibran mau kesini untuk ketemu Jove." Jawab Jihan.
"Suruh kerumah Daddy aja, nanti aku share alamatnya ke ponsel Gibran." Balas Alaska dan Jihan menyetujui.
Selesai sarapan, Jihan mempersiapkan perlengkapan Jove, sementara Alaska masih betah menggendong Jove.
"Kak Al lebih mencintai anaknya daripada aku sebagai ibu dari anaknya." Gumam Jihan yang merasa sedikit cemburu pada kedekatan Jove dengan Alaska. "Semalam saja Kak Al lebih milih tidur di sofa dari pada tidur sama aku." Gumamnya lagi.
Alaska memberikan Jove pada Jidan karna Jidan ingin menggendong Jove dan membawanya pada Amel. Setelah itu Alaska menghampiri Jihan.
"Sudah beres, Sayang?" Tanya Alaska.
Jihan menatap sinis Alaska sementara Alaska menjadi bingung.
"Hei, kamu kenapa? Aku ada salah sama kamu?" Tanya Alaska.
"Gak usah panggil sayang kalau gak sayang." Kata Jihan ketus.
Alaska mengernyitkan dahinya. "Kamu kenapa?" Tanya Alaska. "Oh kalo begitu aku panggil kamu cinta karna aku mencintai kamu. Gitu ya?" Tanya Alaska dengan menaik turunkan halisnya.
Jihan hanya memutar malas bola matanya, "Ishhh." Decaknya.
Alaska yang merasa Jihan menyembunyikan sesuatu langsung menarik Jihan untuk menghadapnya dan menahan pinggangnya.
"Kamu kenapa?" tanya Alaska.
__ADS_1
Degg..
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...