
Alaska mengambil lembur karna dirinya ingin menepati janjinya pada Jihan untuk honeymoon di Paris. Sudah tiga hari ini Alaska slalu pulang malam, namun sebelumnya Alaska ijin terlebih dahulu pada Jihan dan Jihan mengijinkannya.
Hal itu membuat Aldrich merasa ingin tau, mengapa tiba tiba saja Alaska slalu lembur padahal sebelumnya Alaska slalu pulang lebih cepat karna rindu pada Jove.
"Tuan muda Alaska mengajukan cuti selama dua minggu, Tuan." Kata Joni pada Aldrich.
"Cuti untuk apa?" Tanya Aldrich heran.
"Saya menyelidikinya, Tuan Muda akan ke Paris bersama Nona Jihan, Sepuluh hari disana." Ucap Joni.
Aldrich menganggukan kepalanya, "Mungkin mereka akan honeymoon." Gumam Aldrich.
"Bagaimana dengan Nona Jove, Tuan? Karna saya lihat hanya ada dua tiket perjalan." Kata Joni.
"Tentu saja Jove disini, dia bersamaku ataupun dirumah Davan. Tidak mungkin honeymoon membawa anak." Jawab Aldrich mendukung putranya itu.
Alaska pulang larut malam, Jihan menyambutnya diruang tamu. Alaska segera memeluk Jihan dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Jihan, tangan Jihan terulur untuk mengusap punggung Alaska.
"Lelah?" Tanya Jihan.
"Tidak, karna aku punya tujuan, bekerja untukmu dan juga Jove. Lelahnya tidak berasa." Jawab Alaska.
Jihan tersenyum, "Gombal." Katanya namun bahagia mendengarnya.
Alaska menatap wajah Jihan, "Gombal untuk membuatmu senang dan bahagia, bukankah seorang Mommy harus bahagia agar menjadi Mommy hebat untuk anak anaknya?" Tanya Alaska.
Jihan mengangguk, "Mandi, biar aku hangatkan makananmu." Ucap Jihan dan Alaska segera naik ke kamarnya sementara Jihan menghangatkan makanan untuk Alaska menggunakan microwave.
"Alaska baru pulang, Ji?" Tanya Aldrich yang akan mengambil air minum didapur.
"Iya, Dad." Jawab Jihan.
"Daddy senang hubunganmu dan Alaska benar adanya." Kata Aldrich dan Jihan mengernyitkah dahinya.
"Maksud Daddy?" Tanya Jihan.
"Daddy mengira, jika kalian menikah hanya karna Jove. Lalu kalian tidak bahagia dalam pernikahan kalian." Ucap Aldrich mengeluarkan isi hatinya.
Jihan tertawa, "Aku dan Kak Al tidak sedang menjalani sebuah drama pernikahan, Dad. Pernikahan ini bukan untuk sebuah drama, Aku dan Kak Al menjalaninya dengan sungguh sungguh, dan aku bahagia karna Kak Al memberiku dan Jove banyak cinta, Dad."
__ADS_1
Aldrich tersenyum mendengarnya. "Terimakasih tlah memberikan kesempatan pada Alaska, Ji. Daddy sungguh tenang sekarang."
Alaska turun menyusul kedapur saat Jihan menyajikan makanannya dipiring untuk Alaska. Ia melihat Aldrich jg berada disana tengah berbincang dengan istrinya itu.
"Daddy mau ikut makan juga?" Tanya Alaska lalu duduk dimeja bar.
"Engga, Daddy mau ambil air minum." Jawab Aldrich.
"Momny sudah tidur?" Tanya Alaska lagi.
"Belum, Mommy masih bergadang menemani Jove main." Kata Aldrich.
"Kalau begitu Jove tidur denganku dan Jihan saja, Dad." Kata Alaska yang memang merindukan Jove.
"No!!" Jawab Aldrich cepat. "Biar Jove dengan Daddy, kalian fokus saja buat adiknya Jove, mudah mudahan adiknya Jove kembar, mengikuti gen dari keluarga Latif." Kata Aldrich lagi.
"Jove masih kecil, Dad." Ucap Alaska.
Aldrich mengerdikan bahunya, "Biar capek sekalian, nanti anak anak sudah besar kalian bisa honeymoon lagi." Jawabnya.
"Ck, Daddy bisa ngomong begitu, sedangkan aku dan Alika saja bedanya 7 tahun." Kata Alaska.
Aldrich hanya tertawa, "Kalian dipermudah berduaan aja banyak alasannya." Kata Aldrcih lalu meninggalkan Jihan dan Alaska.
"Karna Jove anakmu, Daddy dan Mommy menyangimu, karna itu mereka juga snagat nenyayangi Jove." Jawab Alaska.
**
Jihan lebih sering memompa Asinya, selama nanti di Paris, Jove akan dititipkan di rumah Davan, Billa dan Davan sendiri yang memintanya karna slama ini Jihan slalu tinggal dirumah Aldrich.
Aldrich mau tak mau menyetujuinya, meski ia berat melepas Jove dan hampir setiap malam Jove tidur bersama dirinya dan Clara.
**
Kini, Alaska dan Jihan berada di Paris. Mereka menempati hotel termewah dikota ini, dengan balkon yang menghadap langsung ke menara Eiffel, Jihan menatap takjub pada menara Eiffel, tangannya memegang pagar balkon sambil menatap keindahan tower itu.
Alaska memeluk Jihan dari belakang, mendaratkan dagunya dibahu kiri Jihan, "Kamu suka?" Tanya Alaska.
Jihan menjawab dengan anggukan, rasa lelah diperjalanan sirna begitu saja saat merasakan udara sore di kota ini.
__ADS_1
"Aku mencintaimu, Kak." Kata Jihan berkata cinta terlebih dahulu pada Alaska.
"Aku lebih mencintaimu, Ji." Balas Alaska.
**
Lima hari sudah, Jihan dan Alaska berada di Paris, selama lima hari itu juga, Alaska begitu memanjakan Jihan, menemani Jihan kemanapun Jihan pergi, dan tidak pernah menolak apapun permintaan Jihan. Begitupun setiap malamnya, Jihan tidak pernah absen melayani hasrat sang suami, sebagai imbalan karna tlah memanjakan Jihan seharian, maka malamnya Jihan yang akan memanjakan Alaska.
Pagi ini Jihan tengah merasa kesal ketika bangun dari tidurnya, ia tak menemukan Alaska dimanapun, bahkan alaska mematikan ponselnya sehingga membuat Jihan tidak bisa menghubunginya.
"Pasti Kak Al lagi manjain matanya nih lihatin bule bule seksi disini." Gerutu Jihan sambil mengoper saluran tv menggunakan remote kemudian melempar remote itu kesembarang tempat.
Pada akhirnya rasa kesal membuat Jihan lelah dan akhirnya tertidur di sofa, hingga menjelang sore waktu Paris, Jihan baru membuka matanya dan mengedarkan pandangannya, masih terlihat sepi namun matanya tertuju pada sebuah kotak besar diatas tempat tidur.
Jihan berdiri dan mendekat pada tempat tidur lalu mengambil secarik kertas yang Berada diatas kotak itu.
"Pakailah, dan bersiaplah. Akan ada supir yang menjemputmu di loby pukul 7 nanti malam."
Jihan mengernyitkan dahinya, lalu membuka kotak itu, berisikan gaun malam berwarna hitam dan sepatu high heels yang senada dengan gaunnya.
Jihan sedikit tersenyum, kemudian segera membersihkan diri untuk bersiap menemui pujaan hatinya.
Tepat jam 7 malam, Jihan turun ke loby, ia melihat seorang wanita menghampirinya dan berbicara bahasa asing dengannya. mengatakan jika mobilnya sudah siap dan akan membawa Jihan ke sebuah tempat dimana Alaska menunggunya.
Dan disinilah Jihan berada, Resto La Ciel de Paris. Dimana Alaska menunggunya dan menyiapkan makan malam romatis untuk sang istri yang tanpa sengaja pernah disakitinya.
Restoran ini ada di Menara Montparnase setinggi 700 meter. Resto La Ciel de Paris ini menempati lantai 56, yang membuat siapa saja saat makan di sana bisa melihat pemandangan sekitar kota Paris, termasuk menara Eiffel.
Alaska berdiri dan tersenyum saat melihat Jihan yang berjalan kearahnya.
"Kak.." Panggil Jihan pelan.
Alaska hanya tersenyum lalu meraih tangan Jihan dan mencium punggung tangannya, "Kamu cantik sekali." Ucapnya.
Ucapan Alaska membuat Jihan merasa malu, wajahnya merona percis seperti seorang remaja yang sedang jatuh cinta.
Alaska menarik kursi untuk Jihan duduki, kemudian ia sendiri duduk didepan Jihan, wajahnya terus berseri, tak hentinya ia mengulas senyum.
__ADS_1
"Kakak menyebalkan." Kata Jihan sedikit merajuk.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...