BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 35


__ADS_3

Chelsea kembali mengajak ngobrol Clara yang sedari tadi hanya diam.


"Oh iya, Ra. Kata Papi akta ceraimu sudah ada dikantor Papi, kalo kamu mau ambil nanti janjian sama aku ya." Ucap Chelsea yang langsung membuat Aldrich tersedak saat meminun minumannya.


Uhukk uhukkk..


"Pelan pelan lah, Al." Kata Davan sambil menepuk nepuk punggung Aldrich.


Clara menghela nafas, ia lupa memberitahu Chelsea untuk menutupi statusnya.


"Akta cerai siapa?" Tanya Aldrich menatap bergantian pada Chelsea dan Clara.


Chelsea langsung mengatupkan bibirnya lalu melirik kearah Clara, sementara Clara yang melirik Chelsea balik hanya mengerdikan bahunya dan tersenyum tipis.


Aldrich berdiri dari duduknya dan mendekat kearah Clara, diraihnya lengan Clara agar mau ikut dengannya.


Chelsea pun ikut berdiri saat melihat Clara tengah berdiri seakan terpaksa.


"Al, kamu mau apa?" Tanya Chelsea menahan tangan Clara yang satunya lagi.


"Lepas Chel, aku ada urusan sama Clara." Kata Aldrich dengan wajah serius.


Belum pernah Chelsea melihat wajah Aldrich yang serius seperti ini.


"Udah Chel, gak apa apa." Kata Clara sambil tersenyum.


Aldrich membawa Clara masuk kedalam mobilnya dan melajukannya ke satu tempat.


"Al, aku belum pamitan sama Chelsea."


Aldrich hanya diam saja hingga dirinya menepikan mobilnya dipinggir jalan yang cukup sepi.


"Jelaskan padaku!!" Kata Aldrich seolah tak sabar.


"Jelaskan apa?" Tanya Clara.


"Kamu bercerai? Kapan? Dan mengapa tidak bilang padaku."


Clara menghela nafas, "Untuk apa aku bilang statusku, Al?"


"Ra.." Panggil Aldrich.


"Al, tetaplah kita seperti ini. Kita tetap seorang teman seperti waktu kita di Erlasha dulu." Kata Clara cepat sebelum Aldrich mengucapkan sesuatu.

__ADS_1


"Ra..."


"Aku tidak akan membuka hati aku lagi, Al. Apa lagi dalam waktu yang dekat. Jika kamu membuatku tak nyaman, jangan salahkan aku jika aku menghindarimu." Kata Clara lagi.


Aldrich menghela nafas. Mereka sama sama tenggelam dengan pikirannya masing masing.


"Al, jujur sedari awal mengenalmu, aku nyaman kita hanya sebagai teman. Aku merasa bebanku sedikit hilang saat aku berbagi cerita dan tawa bersamamu." Kata Clara dengan tatapan lurus kedepan.


"Aku mohon padamu, Al. Jangan mempunyai perasaan lebih padaku karna itu akan membuat rasa nyamanku hilang."


Aldrich mendengarkan apa kata Clara, dirinya berpikir memang salah jika memaksakan kemauannya meski dirinya memang tidak sabar.


"Tidak ada pernikahan yang sempurna, Al. Dan tidak mungkin tidak ada luka disetiap pernikahan yang hancur. Tolong jangan cari tau mengapa aku bercerai dari mantan suamiku, dan jangan berusaha menjadi obat untuk hatiku yang terluka. Karna yang kubutuhkan saat ini hanya mempunyai banyak teman dan pekerjaan untuk tetap menjaga kewarasanku dan memulihkanku dari luka ini." Clara berkata dengan begitu pilu disetiap kalimatnya, membuat hati Aldrich tercubit dan merasakan nyeri yang teramat dalam.


"Bisakah kita hanya berteman saja, Al?" Clara menoleh kearah Aldrich.


Aldrich menunduk, perasaannya tak karuan, ia ingin memiliki Clara namun Clara masih membentengi dirinya dengan alasan luka dihatinya.


"Dimana tempat tinggalmu? Aku akan mengantarmu." Kata Aldrich.


**


Setelah mengantar Clara, Aldrich langsung mengemudikan mobilnya kerumah keluarga Fadhil untuk makan malam bersama menyambut kepulangan Davan.


Aldrich hanya terdiam seolah pikirannya entah berada dimana.


"Kenapa gak cerita sama aku jika wanita yang membuatmu menjadi konyol itu Clara, Al?" Tanya Chelsea. "Clara teman baikku."


"Aku seperti dipermainkan takdir, Chel." Aldrich duduk dibangku teras.


"Sejak kapan kamu menyukai Clara?" Tanya Chelsea lebih ingin tau.


"Sejak aku tidak tau jika dia dulunya istri orang." Aldrich menatap kedepan dengan tatapan kosong. "Aku sudah mundur Chel, saat itu aku sudah mundur saat tau jika Clara sudah bersuami." Aldrich menghela nafas sejenak. "Tapi takdir membawanya kembali kehadapanku, Chel. Aku tidak tau jika dia sudah bercerai." Kata Aldrich lagi.


Sebelumnya Clara sudah menelpon Chelsea untuk tidak memberitahu Aldrich perihal detail perceraiannya, membuat Chelsea paham maksud Clara yang ingin menutupi masalah rumah tangganya karna itu adalah hal yang privasi. Biarlah Aldrich tau jika Clara memang seorang janda cerai seperti ini.


"Al, bagaimana perasaanmu pada Clara?" Tanya Davan yang memang sedari tadi juga berada disitu.


"Aku meyukainya, aku ingin slalu berada disisinya, menjadi tempat paling nyaman untuknya." Jawab Aldrich.


"Kalau begitu berjuanglah." Ucap Chelsea.


"Bagaimana aku bisa berjuang, Chel. Sedangkan Clara menolak ku duluan." Aldrich menggusar rambutnya kebelakang, frustasi.

__ADS_1


"Berjuang bukan berarti memaksa, Al. Kamu harus pelan pelan meyakini Clara, dia masih terluka. Sabarlah dalam meraih hatinya." Kata Chelsea memberi nasihat.


Aldrich mengangguk pasrah, entah apa yang akan ia lakukan kedepannya.


"Jadi Aldrich suka sama sekertarisnya?" Tanya Jessi dengan keponya pada Stevi, mereka sedang duduk bertiga bersama Ghea di meja makan.


Stevi mengangguk, "Iya, kata Fariz sih dia janda, tapi ga ada anak diantara mereka."


"Lo setuju?" Tanya Ghea menyelidik.


"Kenapa engga, gue sempet ketemu dan feeling gue bilang, dia baik." Jawab Stevi lagi.


"Lo gak gak masalahin statusnya?" Kali ini Jessi bertanya lebih serius.


"Jaman sekarang, Jess. Gadis aja belum tentu bener. Gue sih setuju aja, gak masalah, asal dia juga cinta sama Aldrich." Jawab Stevi bijak.


"Gue salut sama lo." Kata Ghea dengan tersenyum.


"Tapi kayaknya Claranya susah dideketin Aldrich deh, Jess, Ghe." Ucap Stevi lesu.


"Bagus dong, meski janda tapi gak gampangan." Kata Jessi yang disetujui oleh Ghea.


"Tapi gue pengen cepet cepet Al nikah, terus punya cucu deh gue."


Jessi berdecak, "Ck, belum nikah udah mikir cucu, gue nih sama Ghea besanan udah dua tahun lebih belum gendong cucu."


"Sabar Jess, mungkin memang belum rejekinya." Jawab Ghea bijak.


"Gue takut Chelsea bermasalah, Ghe. Gimana kalo nanti anak gue ditinggal Zayn nikah lagi." Kata Jessi.


"Anak gue gak akan begitu, Zayn tuh cinta banget sama Chelsea. Dan cuma Chelsea yang akan jadi istri Zayn satu satunya dirumah ini, gak ada yang lain." Jawab Ghea.


Tanpa sengaja Chelsea yang hendak kedapur mengambil minum untuk Aldrich mendengar obrolan tiga wanita yang masih cantik diusianya yang tidak lagi muda. Entah mengapa saat ia mendengar Maminya mempunyai rasa khawatir jika Chelsea bermasalah dan Zayn akan berpaling membuat dirinya juga dilanda ketakutan.


Sementara di kamar kost nya, Clara termenung seorang diri, menurutnya ini diluar ekspektasinya.


Jujur memang Clara mencari Aldrich sampai ke DW Group hanya untuk membalas budi kebaikannya, tapi ia tak menyangka jika ternyata Aldrich adalah seorang CEO dan bukan staff biasa. Membuat Clara menjadi minder dan tak percaya diri walaupun hanya untuk sebagai teman.


Sudah terlambat untuk Clara jika ingin menghindar, ia sudah menandatangani kontrak slama satu tahun kedepan. Clara seolah seperti terjebak oleh keadaan.


Dicintai seorang Aldrich Dewantara bukan kebanggaan untuk Clara Adisty, jika kelak Clara membuka hatinya lagi pun, dia hanya ingin mempunyai pasangan hidup dari kalangan biasa. Clara merasa dengan statusnya sekarang sangat tidak pantas untuk dicintai oleh Aldrich apalagi sampai bersanding dengannya.


***

__ADS_1


__ADS_2