BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 78


__ADS_3

"Dan besok, kalian tidak perlu mengantarku jalan jalan. Aku akan menemui kalian dirumah kalian dan bertemu dengan Ibu kalian untuk mengucapkan terimakasih." Kata Davan.


"Bapak akan kerumah kami?" Tanya Jidan.


Davan mengangguk. "Aku akan kerumah kalian. Jam berapa Ibumu pulang?" Tanya Davan.


"Jam empat." Jawab Jihan.


"Kalau begitu aku akan datang sebelum jam lima. Dan aku minta, sepulang sekolah, kalian harus langsung pulang. Karna setiap pertemuan kita, aku tetap akan menghitung hari kalian kerja sebagai pemandu wisataku itu artinya kalian tidak boleh mengambil job lain apa lagi bekerja menjual souvenir. Okay?" Kata Davan.


Jidan dan Jihan mengangguk.


"Bapak akan kerumah kami, apa itu artinya Bapak akan meninggalkan kota ini lalu berpamitan dengan kami?" Tanya Davan seakan tak rela.


"Aku tidak tinggal disini, rumahku di Jakarta. Jadi sewaktu waktu aku akan kembali." Kata Davan menjelaskan.


Terlihat guratan kesedihan di wajah Jidan. Pria kecil itu merasa akan kehilangan sesuatu.


"Mengapa Bapak tidak tinggal disini?" Tanya Jidan.


"Kau akan merasa kehilanganku?" Tanya Davan dengan penuh harap.


Jidan nengangguk.


"Aku juga akan merasa kehilangan." Sahut Jihan.


"Tunggulah besok aku dirumah kalian. Aku janji tidak akan mengecewakan kalian." ucap Davan.


Davan meminta Becak yang ia sewa untuk mengantarkan Jidan dan Jihan pulang.


"Apa becak ini sudah Bapak bayar?" Tanya Jihan yang terlihat lucu.


Davan mengangguk. "Aku sudah membayarnya."


"Bolehkan jika aku menjemput ibuku dulu ketempat kerjanya, baru mengantar kami pulang?" Tanya Jihan lagi.


"Tentu saja, nanti akan aku bilang pada tukang becaknya." Ucap Davan.


Sebelum JJ pulang, Davan membungkuskan makanan lezatnya dari resto di hotelnya. Ia juga memberi banyak buah segar untuk Jihan.


"Jid, Kenapa Bapak itu baik sekali pada kita?" Tanya Jihan saat diperjalanan menuju tempat kerja Billa.


"Karna dia orang yang baik." Jawab Jidan datar.


"Beruntung sekali yang menjadi anaknya, tidak seperti kita." Ucap Jihan sendu.


"Hei, kita juga beruntung karna memiliki Ibu, Ji. Jangan bicara seperti itu. Jika Ibu mendengarnya pasti akan sedih." Kata Jidan memperingatkan.


"Apa Ayah kita sebaik dia, Jid?" Tanya Jihan lagi.

__ADS_1


Jidan mengerdikan bahunya, "Entahlah.. Dan aku juga tidak ingin tau."


"Pria yang pernah datang mengaku sebagai Kakaknya Ayah, kenapa dia tidak datang lagi, ya Jid? Padahal aku slalu berharap jika dia datang dan membawa Ayah."


Jidan menghela nafas. "Sudahlah, Ji. Ibu sudah bilang jika dia salah orang, salah alamat. Jangan bicara soal ini lagi pada Ibu, Ibu pasti sedih."


Lima belas menit kemudian, mereka melihat Billa yang sedang berjalan.


"Jid, itu Ibu." Seru Jihan.


Jidan melihat kearah yang ditunjuk oleh Jihan, "Ibu...." Panggil Jidan.


Billa menoleh dan mengernyitkan dahinya saat melihat Jidan dan Jihan naik becak.


"Kalian kesini?" Tanya Billa.


Jidan mengangguk, "Bapak yang baik hati itu menyewa becak seharian untuk berkeliling Bu, dan mengantar kami untuk pulang, lalu kami ingin menjemput Ibu supaya tidak lelah berjalan." Kata Jidan.


"Ayo Bu, naik." Ajak Jihan.


Billa naik dan memangku Jihan. Sementara Jidan memegang belanjaan berisikan tas dan sepatu milik mereka berdua.


Dari kejuahan, didalam mobil suv berwarna putih. Davan memperhatikan interaksi anak kembarnya dan istri yang ia rindukan. "Aku akan menjemput kalian besok." Gumam Davan dengan air mata yang menggenang.


Davan merasa sudah berhasil merebut hati kedua anaknya itu, terbukti saat melihat Jidan dan Jihan yang berat melepasnya.


Setibanya dirumah. Billa menanyakan sesuatu yang sedari tadi ingin ia tanyakan perihal belanjaan yang dibawa oleh Jidan dan Jihan.


Jidan dan Jihan tau apa yang ingin ditanyakan Billa, mereka hanya saling melirik kemudian diam.


"Barang barang ini dari mana?" Tanya Billa tanpa menghakimi.


"Bu, Bapak itu yang membelikannya. Katanya sebagai hadiah untuk kami yang sudah menemaninya jalan jalan dan membuatnya tidak bosan tinggal dikota ini." Jawab Jidan jujur.


"Tapi jika Ibu tidak suka, besok kami akan mengembalikannya saat dia kesini." Kata Jihan.


Billa mengernyitkan dahinya. "Dia akan kesini?" Tanya Billa.


"Bapak itu bilang besok sore akan kesini untuk bertemu dengan Ibu dan mengucapkan terimakasih." Jawab Jidan.


"Mungkin dia mau berpamitan Bu." Sahut Jihan dan Billa melihat guratan kesedihan diwajah Jidan dan Jihan.


Jidan sangat susah berinteraksi dengan orang lain, Jidan anak yang kritis dan krisis akan kepercayaan. Namun akhir akhir ini ia terlihat bahagia dan lebih banyak bicara.


"Kalian menyukai hadiah hadiah ini?" Tanya Billa.


"Bolehkah jika kami menyukainya, Bu?" Tanya Jidan balik.


Billa tersenyum dan mengangguk. "Selama bukan kalian yang memintanya, Ibu mengijinkannya." Jawab billa.

__ADS_1


"Kami tidak memintanya, Bu. Bapak itu sungguh memberikannya pada kami." Jawab Jidan sungguh sungguh. "Ya kan, Ji?" Tanya Jidan pada Jihan.


"Iya Bu, Bapak itu yang membawa kami ke dalam Mall dan menyuruh kita memilih sepatu. Jidan sudah menolaknya tapi Bapak itu tetap memaksa, katanya ini sebagai hadiah untuk kami." Jawab Jihan.


"Kami juga membawa makanan, Bu. Bapak itu membawakan kami makanan dari hotel tempatnya menginap." Kata Jidan sambil mengeluarkan bungkusan berisikan kotak mika.


"Hotel?" Tanya Billa memastikan.


"Ya, Bapak itu menginap di hotel itu." Jawab Jidan.


"Hanya menginap? Bukan pemiliknya?" Tanya Billa yang mulai merasa tak enak.


"Bapak itu bilang menginap disana, Bu. Dia tidak bilang pemiliknya, hanya bilang menginap selama tinggal dikota ini." Jawab Jidan lagi.


Billa mengangguk. "Baiklah. Kalian mandi dan beristirahatlah. Ibu akan menghangatkan makanan ini dulu."


"Tapi besok Ibu ada dirumah, kan?" Tanya Jihan.


"Ibu akan pulang seperti biasa. Jika Bapak itu datang duluan, kalian temani saja dulu." Jawab Billa.


Keesokan harinya, Jidan dan Jihan bersiap untuk kesekolah, mereka seakan mempunyai semangat baru karna memakai sepatu dan tas baru yang diberikan oleh Davan.


"Jid, kau keren sekali." Kata Jihan memuji penampilan Jidan.


"Kau juga terlihat lebih cantik dengan sepatu pink mu. Hari ini jangan bertengkar, Ji. Malu lah dengan sepatu pink mu itu, sepatu mu terlihat girly tapi sikapmu tomboy." Kata Jidan.


"Tas ini bagus ya Jid, katanya kalo kena hujan, air tidak akan tembus kedalam. Buku kita tidak akan basah." Ucap Jihan.


"Iya, kalo tas mahal memang bagus, Ji. Kau harus jaga dan merawat tas itu." Ucap Jidan.


Dari dekat ambang pintu Billa mendengar percakapan kedua putra putrinya itu. Mereka terlihat bahagia karna mendapatkan barang mahal dan bagus. Sejenak Billa berpikir. Ia ingin memberikan kebahagiaan pada Jidan dan Jihan, namun yang Billa berikan hanya mampu sekedar kasih sayang tanpa mampu memberikan materi, padahal kedua anaknya sedang dimasa pertumbuhan yang membutuhkan metri untuk mendukung kehidupannya.


Bahkan Jidan yang menyukai futsal, tidak bisa mengikuti ekskulnya hanya karna tidak mampu membeli sepatu dan baju untuk bermain futsal.


Jam pulang sekolah, Jidan dan jihan bersemangat untuk pulang, mereka berjalan dipinggir trotoar.


"Jid, kita jadi membelikan kenang kenangan untuk Bapak itu, kan?" Tanya Jihan.


Jidan mengangguk, "Jadi, ini aku membawa uangnya. Kita belikan apa, Ji?" Tanya Jidan.


Bagaimana jika kita belikan baju saja, Jid. Baju khas bertuliskan Jogja." Kata Jihan.


Jidan mengangguk, tabungan mereka yang akan dibelikan sepatu dipasar tidak jadi terpakai karna Davan sudah membelikannya yang jauh lebih mahal. Karna itu Jidan dan Jihan bersepakat akan menggunakan sebagian uangnya untuk membelikan kenang kenangan untuk Davan.


Jidan mengeluarkan uangnya, namun tanpa diduga, seorang pencopet merebutnya dan langsung berlari.


"Ji, uang kita diambil." teriak Jidan yang berlari mengejar pencopet itu.


Jihan juga ikut berlari, namun naas saat Jihan turun ke jalan, sebuah motor menyerempet Jihan hingga terjatuh dan kepalanya membentur trotoar.

__ADS_1


"Aaaaahhh." Teriak Jihan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2