
"Gab.. Ada yang ingin ku bicarakan. Apa kau masih lama pulang ke Jakarta?" ~Jihan~
Di sisi lain Gibran tersenyum membaca pesan masuk dari Jihan, ia berpikir jika yang dimaksud Jihan ada soal perasaannya uang sudah mencintainya. Dengan segera Gibran membalas pesan Jihan.
"Besok aku akan ke Jakarta, aku akan segera menemuimu." ~Gibran~
Jihan menghela nafas saat membaca balasan pesan dari Gibran.
Jihan mengusap perutnya yang masih rata, "Pantaskah jika aku bersedih untuk kehadiranmu? Maaf, maafkan aku." Gumam Jihan.
Beni masuk kedalam ruangan lalu membereskan mejanya.
"Bang Ben mau kemana?" Tanya Jihan.
Beni menatap Jihan lalu menghampirinya. "Aku dan si Bos akan ke Bali, orang orangku menemukan bukti." Ucap Beni.
Jihan berdiri dari duduknya dan segera menuju ruangan Alaska.
Alaska melihat kearah Jihan yang masuk ke ruangannya begitu saja.
"Siapa orangnya?" Tanya Jihan to the point.
"Aku belum tau, aku akan kesana sama Beni. Kau disini saja." Ucap Alaska.
Jihan terdiam dan Alaska mendekat kearah Jihan. "Ji, selesaikan urusanmu dengan Gibran. Sepulangku dari Bali, aku akan bicara pada Jidan dan menemui orang tua kita. Jangan bicara apapun, biarkan aku yang menyelesaikannya dan menghadapi semuanya terutama Jidan." Kata Alaska. "Bisa?" Tanya Alaska.
Jihan nengangguk lemah.
"Ingat, kau hanya harus menyelesaikan hubunganmu dengan Gibran, aku akan mengurus semuanya dan nenyelesaikannya." Kata Alaska lagi.
Jihan hanya diam.
"Boleh ku pegang perutmu? Aku ingin menyapa dia." Kata Alaska.
Jihan mengangguk, Alaska menurunkan tubuhnya bersimpuh dengan lututnya, mensejajarkan wajahnya dengan perut Jihan.
"Hai.. Aku Daddy mu. Kau mau kan menungguku? Aku janji akan bertanggung jawab padamu. Baik baiklah di dalam perut Mommy mu, Jangan menyusahkannya. Oke?" Lalu Alaska mencium perut Jihan.
"Maafkan aku, Nak." Gumam Alaska didatas perut Jihan yang terdengar oleh Jihan.
Hati Jihan merasa terenyuh, tiba tiba saja tangannya terulur mengusap rambut Alaska.
Alaska juga terbawa perasaan hingga tangannya melingkar dipinggang Jihan dan menangis disana.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk merenggut kesucianmu, tapi bolehkah aku bersyukur karna adanya dia diperutmu? Aku mohon bertahanlah, Ji. Aku berjanji tidak akan menyakitimu. Percayalah padaku."
Suara pintu diketuk dari luar, Alaska melepaskan diri dari perut Jihan dan mengusap air matanya. Begitu juga Jihan yang mengusap air matanya.
"Masuk." Kata Alaska dengan membelakangi pintu.
__ADS_1
Jihan melihat sekilas kearah pintu, seorang wanita yang terlihat cantik berjalan cepat lalu memeluk Alaska dari belakang.
Alaska terkesiap langsung membalikan tubuhnya dan mendorong wanita itu.
"Rania.." Kata Alaska.
"Al.. Kenapa kamu tidak pernah mengangkat telpon dariku" Kata Rania.
"Kita sudah tidak ada hubungan apapun, Ran." Ucap Alaska.
"Al, kemarin aku hanya butuh waktu untuk menyelami perasaanku." Kata Rania.
"Pergilah, Ran. Aku menyerah dan jangan ganggu lagi hidupku." Kata Alaska.
"Maaf, Pak. Saya permisi." Kata Jihan yang entah merasakan hatinya sedikit tercubit dengan melihat kehadiran Rania.
"Ji..." Panggil Alaska.
"Iya, Pak." Jawab Jihan formal.
"Bersiaplah, kita keluar bersama Beni." Ucap Alaska yang diangguki oleh Jihan.
"Al..." Panggil Rania.
"Kita sudah selesai Ran. Kau kembali padaku karna Jidan menolakmu." Ucap Alaska.
Rania menggelengkan kepalanya.
"Kapan kau pulang?" Tanya Rania.
"Tidak tau, aku belum tau jadwalku disana." Jawab Alaska dingin.
"Al.. Kita..."
"Tidak ada kita, Ran. Kita sudah berakhir." Alaska keluar meninggalkan Rania lalu menuju ruangan Jihan dan Beni.
"Ben, sudah siap?" Tanya Alaska.
"Sudah semua, Bos." Jawab Beni.
"Kita antar Jihan pulang dulu, baru ke bandara." Kata Alaska yang diangguki oleh Beni.
Sepanjang jalan, Jihan hanya diam, entah mengapa ia merasa tidak suka dengan kehadiran Rania.
Alaska menyadari Jihan yang sedari tadi hanya diam tanpa memikirkan apa yang membuat Jihan diam seperti ini.
Hingga mereka tiba dihalaman rumah Jihan.
"Ji, ingat pesanku." Kata Alaska.
__ADS_1
"Kau menyuruhku mengakhiri hubunganku dengan Gibran tapi kau sendiri masih menjalin hubungan dengan kekasihmu." Kata Jihan pada akhirnya.
"Aku sudah tidak berhubungan dengannya, Beni adalah saksinya. Aku tidak akan menjalin hubungan dengan wanita manapun, tidak akan mengkhianati pernikahan kita meski kita awali dengan cara yang salah. Satu yang harus kau ingat, Ji. Diperutmu ada anakku, tidak mungkin aku menyakiti wanita yang dengan rela mengandung anakku. Kau bisa pegang ucapanku." Alaska berbicara dengan serius dan tatapan lembut. Disaksikan oleh Beni yang mendukungnya untuk bertanggung jawab pada Jihan.
"Aku turun." Kata Jihan.
"Jaga dirimu slama aku belum kembali. Dan ingat pesanku, Ji." Ucap Alaska entah untuk keberapa kalinya.
Sore hari itu juga Alaska dan Beni terbang menuju pulau Bali, mereka mendatangi hotel untuk mengecek cctvnya. Setelah negosiasi dengan pihak hotel hingga membawa polisi untuk mengancam, akhirnya pihak hotel buka suara dan memberikan bukti.
"Inikan wanita yang cari gara gara dengan Jihan saat di pantai, Ben." Kata Alaska.
"Wanita itu bernama Rosa dan kini kembali ke Jogja. Dia adalah wanita yang mengejar pria bernama Gibran namun tuan Gibran memilih Nona Jihan. Motif nya adalah merusak Nona Jihan dan akhirnya membuat Tuan Gibran meninggalkan Nona Jihan. Ia juga berencana untuk memberikan Nona Jihan pada teman teman prianya." Kata Orang suruhan Beni pada Alaska. Mereka menyekap dua orang teman Rosa dan memintai keterangannya.
Alaska geram, ia meremas jari jarinya sendiri. "Dia tidak tau berhadapan dengan siapa, bahkan jika Jidan tau mungkin Jidan akan membunuh wanita itu."
"Selanjutnya bagaimana, Bos?" Tanya Beni.
"Kita kembali besok ke Jakarta. Aku akan membawa bukti ini pada Jidan dan kedua orang tua kami. Lalu akan menyerahkan pada mereka untuk keputusan akhirnya." Kata Alaska yang dimengerti oleh Beni.
Keesokan harinya, Jihan tengah bersiap untuk bertemu dengan Gibran. Jihan mengajak Gibran untuk berjanjian disebuah pantai yang masih berada di daerah Jakarta.
"Hai.." Sapa Gibran dengan tersenyum.
Jihan menoleh dan membalas senyuman Gibran.
"Mau ke taman bermain?" Tanyanya.
Jihan menggelengkan kepalanya. "Aku ingin dipantai saja." Ucapnya.
"Kamu kurusan, dua bulan tidak ketemu koq malah kurus." Ucap Gibran.
Jihan hanya tersenyum, sungguh ia tidak tega jika harus menyakiti Gibran.
Gibran duduk disebelah Jihan dengan dibatasi minuman air mineral botol diantar keduanya. Mereka duduk menghadap pantai melihat laut yang luas.
"Bagaimana urusanmu di Jogja?" Tanya Jihan basa basi.
"Sudah menemukan titik terang, hanya saja karna itu kejadian beberapa tahun lalu membuat tim audit susah melacaknya, ditambah ada data data yang direkayasa." Kata Gibran tidak bersemangat.
"Kau mencurigai Ayahnya Rosa?" Tanya Jihan.
Gibran mengangguk, "Ya.. Tidak mungkin dia bisa memiliki saham 50% di perusahaan Ayahku."
Jihan mengangguk, "Aku sangat berharap, masalahmu segera selesai. Kau bisa memiliki perusahaanmu seutuhnya." Kata Jihan dengan tersenyum.
Namun Gibran dapat melihat kesedihan dibalik senyum Jihan.
"Ada apa, Ji?" Tanya Gibran.
__ADS_1
Jihan menghela nafas, "Gab.. Bisakah kita putus saja." Ucapnya yang membuat Gibran terdiam seketika.