
"Kalian mau makan apa?" Tanya Davan.
"Bolehkah kami memesan burger, Pak?" Tanya Jihan.
Davan tersenyum, "Mau sekalian dengan Ayamnya?"
Jidan dan Jihan saling menatap, "Bolehkah?" Tanya Jidan seakan ragu.
"Tentu saja, Son." Kata Davan yang tanpa sengaja memanggil Jidan dengan panggilan son.
"Mau nasi atau kentang?" Tanya Davan lagi.
"Kentang saja, Pak." Kata Jihan antusias.
"Kalian duduklah disana." Davan menunjuk pada satu meja yang kosong.
Davan memesankan Dua ayam, dua kentang goreng, dua cheese burger, dua ice cream dan dua minuman coklat untuk JJ. Sementara untuk dirinya, Davan hanya memesan satu burger dan ice coffee.
Davan membawa nampan berisikan makanan itu menuju meja yang sudah ditempati oleh JJ. Davan melihat JJ seperti sedang berdiskusi dan itu membuatnya ingin sekali tertawa.
"Makanan datang." Kata Davan sembali membagi bagi makanan itu didepan Jidan dan Jihan.
Mata Jihan berbinar, begitupun dengan Jidan. "Ini banyak sekali, Pak." kata Jidan.
"Kalian sudah cuci tangan?" Tanya Davan.
JJ mengangguk kemudian Jihan mulai mengambil kentang dan menggigitnya. "Enak sekali." Kata Jihan.
Jidan mengambil satu kentang milik Jihan, dan hal itu terlihat oleh Davan.
"Jid, bukankah kau juga punya bagianmu?" Tanya Davan.
"Biar Jidan makan punyaku saja, pak. Bagian Jidan akan dibawa pulang untuk kami makan malam bersama Ibu." Kata Jihan.
Lagi lagi hati Davan terasa sesak, entah seperti apa kehidupan yang Billa jalani bersama kedua anak mereka, hingga untuk makan saja mereka saling menyisihkan satu sama lain.
Mata Davan memerah namun ia menahan airmatanya, ia tidak boleh terlihat rapuh didepan kedua anaknya.
"Jid, makanlah bagianmu. Nanti aku akan memesankan untuk kalian bawa pulang, juga untuk ibu kalian." Kata Davan.
"Bapak akan membelikan kami lagi?" Tanya Jidan.
Davan mengangguk. "Makanlah, dan habiskan." Kata Davan tersenyum.
__ADS_1
Davan merasakan kebahagiaan yang selama ini tidak ia rasakan, baginya ini masih seperti mimpi bisa bertemu dengan anaknya, bukan hanya satu, melainkan dua anak kembarnya.
"Ini sangat enak. Pantas saja Rosa selalu bilang makanan ini enak." Kata Jihan bercerita.
"Siapa itu Rosa?" Tanya Davan.
Teman sekelas kami, dia slalu bercerita jika burger dan ayam disini enak. Pernah dia berulang tahun disini, tapi kami tidak diundang olehnya hanya karna takut kami tidak bisa memberikannya kado." jawab Jihan apa adanya.
Davan menghela nafas, ini sudah kesekian kalinya hatinya terasa diremas remas.
"Kalian ingin merayakan ulang tahun disini?" Tanya Davan.
"Ingin tapi kami tidak akan memaksakan diri." Jawab jidan.
"Kenapa?" Tanya Davan.
"Karna kami tidak ingin membuat Ibu sedih dengan meminta hal hal yang tidak bisa Ibu penuhi." Jawab Jidan lagi.
"Kalian memanggilnya Ibu?" Kali ini Davan ingin bertanya soal Billa.
Jidan mengangguk.
"Kemana Ayah kalian?" Tanya Davan lebih dalam.
"Tapi waktu itu ada yang kerumah mengaku sebagai Kakak dari Ayah kami. Kami berharap dia datang kembali, namun orang itu tak datang lagi, kata Ibu orang itu hanya salah alamat." Sahut Jihan.
Davan mengangguk, ia tau jika yang dimaksud JJ adalah Aldrich.
"Bagaimana jika suatu saat kalian bertemu dengan ayah kalian?" Tanya Davan.
"kami tidak berharap sampai kesitu, Pak. Ibu bilang kami tidak boleh mengharapkan hal itu karna akan menyakiti diri kami sendiri." Jawab Jidan.
Davan hanya tersenyum tipis, sepertinya ia masih harus sabar untuk mendekatkan diri pada JJ.
Mereka larut dalam obrolan, JJ menceritakan aktifitasnya disekolah dan sehabis pulang dari sekolah pada Davan. Hingga tidak terasa mereka semua menghabiskan makanan itu tanpa sisa. JJ sangat menikmati makanan yang belum pernah mereka makan.
"Untuk hari ini, cukup sampai disini saja. Besok kita bertemu lagi didepan sekolah kalian, Ya." Ucap Davan.
"Bapak tidak jadi kepasar?" Tanya Jihan.
"Besok saja, sekarang kalian bawa pulang makanan ini." Kata Davan sambil memberikan makanan cepat saji yang ia pesan kembali untuk JJ bawa pulang.
"Terimakasih, Pak." Kata Jihan.
__ADS_1
"Kalian langsung pulang tidak usah berjualan selama kalian menjadi pemandu wisataku, okey?" Kata Davan memberi penawaran.
Jidan dan Jihan mengangguk. "Terimakasih, Pak." Ucap Jidan kemudian mencium tangan Davan.
Ingin rasanya Davan Menarik JJ untuk memeluknya, namun Davan tidak seberani itu, takut membuat JJ marah dan tidak mau bertemu lagi dengannya.
Sore hari, Billa pulang kerumah dan melihat rumah yang sudah rapih, bahkan ia melihat JJ ada dirumah, padahal biasanya JJ akan pulang kerumah sekitar jam lima sore.
"Kalian tumben sudah dirumah." Kata Billa pada kedua anaknya.
"Iya, Bu. Kami tidak berjualan hari ini." Kata Jihan.
Billa melihat ada makanan cepat saji dimeja, "Dari mana makanan ini, Jid?" Tanya Billa.
"Dari bapak baik hati, Bu. Dia meminta kami untuk menjadi pemandu wisatanya slama berlibur disini. Dia memberikan kami makanan itu." Jawab Jidan.
Billa mengernyitkan dahinya, "Kalian jadi pemandu wisata?" Tanya Billa yang kini duduk bersama JJ diatas tikar yang sudah lusuh.
Jidan nengangguk, "Bapak itu pernah memborong dagangan kami. Dan tadi kami bertemu lagi dengannya, dia sedang tersesat Bu. Kami mengantarnya kehotel, lalu dia memberikan kami makanan itu, dia juga meminta kami untuk menemaninya jalan jalan besok ke kraton." Jelas Jidan.
"Ibu tidak marah kan? Kami bekerja seperti Mas Rio, memandu orang berwisata, kami tidak menentukan tarif, Bu." Kata Jidan mencontohkan anak tetangganya itu.
"Tapi Ibu takut jika dia orang jahat dan menculik kalian." Kata Billa khawatir.
"Ibu tenang saja. Kami sudah membuat kesepakatan dengannya, kami hanya pergi dengan berjalan kaki atau naik becak. Dan dia menyetujuinya. Boleh ya Bu, hanya satu minggu." Pinta Jidan.
"Tapi jaga adikmu, Ya. Dan ingat jangan pernah mau masuk kedalam mobil atau dibawa ketempat sepi. Jika menemukan hal seperti itu, segera teriak meminta pertolongan."
Jidan dan Jihan mengangguk.
Malam hari, Billa tengah duduk sendirian dikursi meja makan yang terbuat dari kayu jati yang sudah usang, entah mengapa saat ia melihat makanan cepat saji itu, ia mengingat Davan dan begitu merindukannya.
"Apa Kak Al sudah memberitahumu keberadaan kami, Mas? Mengapa kamu belum juga mencari kami?" Tanya Billa pada dirinya sendiri.
Billa berpikir, mungkinkah apa yang dikatakan oleh Aldrich adalah kebohongan, mungkin saja jika Davan memang berniat melepaskannya dan kini ia tidak perduli tentang keberadaannya.
Billa tersenyum miris, hingga satu minggu berlalu dari kedatangan Aldrich, tidak ada tanda tanda Davan mencarinya. Harusnya jika memang Davan hidup dalam penyesalan, ia akan segera menemui Billa kurang dari 24jam, namun kenyataanya lagi lagi Billa merasa kecewa.
Meski ia belum siap bertemu Davan, namun tidak Billa pungkiri, ia begitu merindukan Davan, ingin sekali bertemu dengan Davan meski entah hubungannya akan kembali membaik atau tidak.
Billa berjalan masuk kedalam kamar kedua anaknya. Hidup yang serba kekurangan, Jihan tidur beralaskan kasur kapuk yang sudah lapuk, dan Jidan tidur beralaskan tikar diatas papan. Miris sekali, padahal mereka semua adalah anak dari pemilik banyak hotel dan restort besar yang tersebar di Indonesia.
"Maafkan Ibu membuat kalian merasakan susah. Tapi kalian adalah semangat dan alasan untuk Ibu terus bertahan. Jika tuhan mengijinkan, kalian akan bertemu dengan Ayah yang kalian rindukan." Lirih Billa sambil mengusap air mata di pipinya.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...