
Zayn memutuskan tidak datang ke kampus setelah Ghea banyak menasehatinya perihal rumah tangga. Kini, Zayn berpikir semua yang dikatakan oleh Ghea, Nasihat Ghea dan perkataan Chelsea membuat Zayn berpikir bagaimana jika Chelsea berubah, ia tidak bisa membayangkan cintanya Chelsea yang tulus akan berubah.
Zayn menyebrang jalan untuk kerumah mertuanya, ia melihat Rayyan yang sedang digendong oleh Jessi.
"Mi..." Sapa Zayn.
Jessi menoleh, "Loh, kamu bukannya udah berangkat kerja, Zayn?" Tanya Jessi.
Zayn merasa tak enak, Chelsea memang bukanlah wanita yang suka mengadu, bahkan meski hatinya sedang tidak baik baik saja, ia tetap tidak mengadu pada orang tuanya sendiri.
"Gak jadi berangkat, Mi." Jawab Zayn ragu, "Chelsea mana, Mi?" Tanya Zayn yang ingin segera menanyakan keberadaan istrinya itu.
"Dikamar, masuk aja Zayn." Kata Jessi.
Tanpa banyak berpikir, Zayn langsung masuk kekamar Chelsea, dilihatnya Chelsea yang sedang duduk dikursi meja belajarnya sambil membuka laptopnya. Chelsea menoleh sekilas kemudian menatap layar laptopnya kembali. Zayn yang merasa Chelsea menjadi cuek, langsung menghampiri Chelsea, pandangannya terlihat pada layar laptop, Chelsea sedang membuka situs lowongan kerja didunia pendidikan.
"Kamu mau kerja lagi?" Tanya Zayn dengan hati mulai tidak tenang.
"Hem." Jawab Chelsea datar.
"Kenapa?" Tanya Zayn lagi.
"Jaga jaga jadi janda, kan aku harus menghidupi diriku sendiri nanti." Jawabnya yang membuat perasaan Zayn sedikit tercubit.
Tanpa permisi, Zayn langsung menutup paksa layar laptop milik Chelsea, membuat Chelsea mendongak dan marah.
"Kakak apa apaan sih?" Tanya Chelsea. "Kakak gak bisa seenaknya begini sama aku, aku tuh wanita normal yang butuh perhatian dan kasih sayang dari seorang suami, bukan hanya jadi tempat saat Kakak butuh aku saja." Kata Chelsea mengungkapkan isi hatinya selama ini.
Zayn baru melihat kondisi Chelsea yang terlihat seperti ini, selama empat tahun mereka berumah tangga, Chelsea adalah wanita kedua yang paling sabar setelah Ghea menurut versi Zayn.
Zayn langsung memeluk Chelsea dan Chelsea memberontak, "Lepas, Kak!! Jangan peluk aku, tetaplah Kakak cuekin aku agar aku bisa melepas Kakak." Raung Chelsea.
Zayn semakin mengeratkan pelukannya. "Maaf, Sea. Maafkan Kakak, Maaf Kakak tidak mengerti dirimu."
"Aku lelah, Kak. Aku tidak mau meneruskan rumah tangga ini, lepaskan aku, Kak. Kakak bisa bawa Rayyan, aku tidak akan mempersalahkannya." Chelsea terisak didalam pelukan Zayn.
Zayn tersadar, bahwa kesabaran Chelsea tengah diuji. Zayn tersadar, jika Chelsea mengalami stres akibat kurang nya perhatian dan waktu dari Zayn, ditambah kehadiran Rayyan yang cukup menguras tenaga untuk Chelsea.
"Jangan bilang begitu, Sea. Aku dan Rayyan membutuhkanmu." Kata Zayn.
"Aku juga butuh Kakak, tapi Kakak tidak pernah ada untukku." Chelsea menangis sesenggukan.
"Maaf Sea, maafkan Kakak. Kakak janji akan berubah, menjadikan kamu dan Rayyan prioritas Kakak. Beri Kakak kesempatan terakhir, Kakak Janji, Sea." Pinta Zayn yang terus memeluk istrinya itu.
__ADS_1
Chelsea hanya terus menangis didalam pelukan suaminya.
Setelah beberapa waktu, setelah kondisi Chelsea tenang, Zayn membawa Chelsea duduk dan mengajaknya berbicara.
Tangan Zayn menggenggam tangan Chelsea, sesekali menciumnya dengan lembut.
"Maafin Kakak, ya. Kakak janji akan menjadikanmu prioritas Kakak." Kata Zayn entah untuk keberapa kalinya.
Chelsea mengangguk, "Maafin aku juga, Kak." Kata Chelsea yang juga menyadari dirinya terlalu berlebihan.
"Jangan bicara untuk berpisah dengan Kakak lagi, ya. Jangan bilang akan meninggalkan Kakak dan juga Rayyan." Ucap Zayn lembut.
"Kakak tidak kerja?" Tanya Chelsea.
Zayn menggelengkan kepalanya, "Siang nanti kan kita kerumah Om Fariz, kamu gak mau cari kado dulu untuk Alaska?"
Chelsea menatap wajah Zayn.
"Yuk kita cari kado dulu untuk Alaska. Sekalian cari perlengkapan untuk Rayyan MPASI, bukankah bulan depan Rayyan sudah mulai makan?"
Chelsea mengangguk.
Zayn merasa lega, masalahnya selesai dengan Chelsea. Zayn memang tipikal orang yang cuek, tanpa Zayn sadari jika sikapnya membuat Chelsea merasa tak nyaman. Zayn berjanji, dalam hatinya, akan membuat Chelsea dan Rayyan menjadi prioritasnya.
Nuansa putih menghiasi kediaman megah keluarga Dewantara, Seluruh relasi dan petinggi perusahaan turut hadir.
Clara pun mengundang Rissa yang ternyata sedang dekat dengan Joni. Clara merasa senang karna Rissa kemungkinan akan menikah dengan Joni, Clara sangat tau jika Joni adalah pria yang baik. Meski statusnya duda, namun bukan karna Joni duda cerai, melainkan duda yang ditinggal mati oleh istrinya.
Clara juga mengundang Alesha dan Ragil. Ragil sangat bahagia melihat keadaan Clara saat ini. Clara jauh lebih cantik dan terawat, kali ini bukan hanya cantik dari dalam, melainkan dari luar juga karna Stevi slalu membawa Clara untuk perawatan.
Didalam situasi yang ramai, namun Davan merasakan kesepian yang mendalam. Ia melihat semua keluarga tengah berbahagia bersama pasangannya masing masing. Namun tidak dengan Davan yang hanya seorang diri karna istri kecilnya berada jauh darinya.
**
3,5 tahun kemudian...
Horeee...
Rayyan pintar sekali..
Semua banyak memuji Rayyan saat anak berusia tiga tahun itu memberikan potongan kue ulang tahun kepada Ghea.
Saat ini mereka sedang berkumpul untuk merayakan ulang tahun Rayyan sekaligus akikah putri kedua Zayn dan Chelsea yang diberi nama Amira Khayla Latif.
__ADS_1
"Amira cantik sekali, ini baru miniaturnya Chelsea." Tristan tak henti memuji kecantikan cucu perempuannya itu.
"Duh jadi pengen cucu cewek." Sahut Fariz.
"Semoga nanti adiknya Alaska juga cewek." Jawab Tristan.
"Memang Clara sudah hamil lagi?" Tanya Jessi.
"Belum, Aldrich dan Clara masih mau puas puasin dulu mengasuh Alaska." Jawab Stevi.
Fariz mengangguk, "Ya, kami mendukungnya selama itu nyaman untuk mereka."
"Davan kemana, Ghe?" Tanya Tristan.
"Lagi di Thailand, survei resort ditempat baru, Katanya sih kerjasama dengan pengusaha disana." Jawab Ghea.
"Hubungannya dengan istrinya gimana? Perlu menikah ulang?" Tanya Fariz.
Ghea menggelengkan kepalanya, "Davan menunaikan kewajibannya dengan menafkahi Billa selama tinggal diluar negri, dan Davan juga ikhlas demi masa depan pendidikan Billa. Jadi disini tidak ada yang dirugikan." Jawab Ghea.
"Ya, terlebih sebelum Billa berangkat juga kan surat surat pernikahan mereka sudah selesai diurus Tristan, jadi mereka memang suami istri secara agama dan negara." Sahut Jessi.
Sementara itu, pesawat yang Davan tumpangi baru saja mendarat, Selama Tiga setengah tahun ditinggal Billa, Davan menyibukan diri dalam bekerja, namun ia tetap ingat dengan tanggung jawabnya untuk membiayai Billa meski mereka tidak pernah berkomunikasi.
"Pak, supir anda menunggu disana." Kata Samsul sang asisten.
Davan mengangguk lalu berjalan menuju mobilnya.
"Jenny, kamu naik taxi saja." Kata Samsul pada sekertaris Davan yang sudah dua tahun bekerja bersama Davan.
"Tapi Pak.." Jenny mencoba membantah.
"Kamu kan tau kalau Pak Davan tidak suka seorang wanita satu mobil dengannya." Kata Samsul tegas.
Jenny hanya menghentakkan kakinya. Jenny memang menyukai Davan dan berusaha mendekati Davan, namun Samsul selalu saja menggagalkan niat buruk Jenny. Semua tidak lebih dari pantauan Aldrich yang pernah melihat gerak gerik Jenny menggoda Davan saat ia mengunjungi Davan dikantornya. Sehingga mau tidak mau, Aldrich meminta bantuan Samsul untuk mengawasi Jenny.
Brukk..
Davan bertubrukan dengan seseorang dan segera membantunya untuk berdiri.
Deg..
Seketika jantung Davan berdegup kencang.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...