BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 38


__ADS_3

Arah mata Stevi masih tertuju pada Aldrich dan Clara.


"Tapi tadi kalian seperti mau berciuman? Mama lihat sendiri." Kata Stevi.


Clara semakin menunduk, ia merutuki dirinya yang seolah terhipnotis oleh tatapan Aldrich.


Sementara Aldrich, ia hanya kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mama minta kalian Menikah karna perbuatan kalian sudah diluar batas." Tegas Stevi.


Clara terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Stevi. "Tapi Bu, kami tidak melakukan apa apa."


"Tidak melakukan apa apa bagaimana? Jelas aku melihat kalian hampir bebuat mesum, sebelum hal itu terjadi, Mama meminta kalian menikah sekarang juga."


"Ohooo, drama macam apa ini? Menguntungkan sekali untukku." Batin Aldrich. "Terimakasih mama, aku menyayangimu."


Clara melihat kearah Aldrich yang tidak melakukan pembelaan. "Pak, koq diam saja, bilang dong ke Ibu anda jika kita tidak melakukan apapun." Ucap Clara cemas.


"Tapi, Ra. Tadi memang benar kita hampir berciuman dan kamu juga tidak menolak." Kata Aldrich.


Wajah Clara memerah, ia tidak menyangka jika Aldrich tidak menyangkal tuduhan Mama nya dan malah menyambut baik peristiwa tidak disengaja ini.


Clara bersikap tegas. "Maaf Bu, sungguh apa yang Ibu Stevi dan Pak Fariz lihat tidak sepenuhnya disengaja, itu semua murni kecelakaan."


"Clara, Aldrich putra saya satu satunya. Aldrich slalu serius jika menjalin sebuah komitmen." Stevi berbicara seolah sedang mempromosikan Aldrich.


"Tapi saya dan Pak Aldrich tidak memiliki komitmen apapun, Bu. Sungguh ini hanya ketidaksengajaan. Mohon ibu berbaik hati mengerti hal ini, pernikahan itu tidak bisa main main dan Saya tidak pantas untuk putra Ibu." Wajah Clara sudah terlihat memucat, terlebih air mata sudah menggenang di matanya.


Stevi yang melihat hal itu sungguh tidak tega, tapi Stevi ingin sekali Aldrich mendapatkan cintanya terlebih karna Stevi melihat Clara adalah wanita yang baik.


"Baiklah, tapi kalian tidak bisa bersama lagi sebagai bos dan sekertaris." Kata Stevi.


"Mana bisa seperti itu, Ma." Kata Aldrich tidak terima.


"Clara akan Mama pindahkan untuk jadi sekertaris di divisi lain. Dan kamu Al, bersiaplah untuk menerima perjodohan yang Mama siapkan." Stevi berbicara penuh ketegasan.


Clara menunduk, entah mengapa hatinya tiba tiba merasakan tidak rela jika Aldrich dijodohkan dengan wanita lain.


"Al tidak mau, Ma!!" Ucap Aldrich lirih.

__ADS_1


"Jika tidak mau, ajaklah Clara menikah." Jawab Stevi santai.


Pandangan Aldrich tertuju pada Clara yang hanya menunduk sedari tadi.


Setelah beberapa saat hanya ada keheningan, akhirnya Clara mengeluarkan suaranya.


"Saya akan mengundurkan diri dari perusahaan." Lirih Clara.


"Maaf Nona Clara, anda masih berada dalam kontrak perusahaan, anda harus membayar pinalty jika anda mengundurkan diri."Kata Joni mengingatkan.


Stevi menghela nafas, sungguh ia tidak tega mengintimidasi Clara seperti ini. "Mengapa kamu tidak mau menikah dengan putraku?" Tanya Stevi pada akhirnya.


Clara perlahan mengangkat kepalanya, menatap sendu pada wajah Stevi. "Maafkan saya, Bu. Saya bukan orang yang tepat untuk putra anda. Saya tidak sempurna untuk menjadi pasangan putra anda."


Stevi tersenyum, sungguh ia tak menyangka jika Clara bukan wanita yang gampangan, Clara tidak melihat Aldrich seorang pewaris tunggal Dewantara, sungguh Clara tidak silau akan harta.


"Apa karna statusmu?" Tanya Fariz dengan hati hati.


Clara mengangguk pelan.


"Clara, kami tidak mempersalahkan statusmu, tidak sama sekali." Sahut Stevi meyakinkan.


Tubuh Aldrich terasa lemas, ia bersandar pada tembok dan sedikit tertunduk saat Clara mengeluarkan kata kata yang membuatnya tidak bersemangat.


"Kalian bicaralah berdua, jika kalian tidak menikah sekarang juga, maka Mama akan menjalankan apa yang Mama bilang tadi, memindahkan Clara ke divisi lain dan Aldrich harus menerima perjodohan ini. Mama tunggu satu jam kedepan diruangan Papap." Kata Stevi lalu menarik tangan Fariz untuk keluar dari ruangan Aldrich dan diikuti oleh Joni.


Clara menghela nafas kemudian ia memilih duduk karna merasa tidak kuat lagi berdiri. Aldrich melihat kearah Clara yang sedang duduk sambil memegang keningnya yang terasa pusing.


"Kenapa kamu tidak menentangnya, Al?" Tanya Clara lirih.


Aldrich perlahan mendekat kearah Clara, ia berlutut didepan Clara dan tangannya menggenggam kedua tangan Clara.


Clara yang sudah pasrahpun menerima tanggannya digenggam oleh Aldrich.


"Aku mencintaimu, Ra." Kata Aldrich dengan wajah yang serius.


"Saat ku tahu kau sudah menikah, aku berpikir ingin merebutmu dari suamimu, aku tau aku ini gila hingga aku sadar jika aku mencintaimu maka aku tidak boleh membuatmu terluka, karna itu aku merelakanmu dan pergi, Ra."


Clara hanya diam, air mata perlahan keluar dari matanya.

__ADS_1


"Kita menikah ya, Ra. Tidak apa jika kamu belum ada peasaan padaku, aku janji akan membangun dan menumbuhkan rasa cinta dihatimu untukku." Pinta Aldrich sungguh sungguh.


"Aku pernah gagal, Al. Tidak pantas janda sepertiku bersanding dengan bujang sepertimu, terlebih aku hanya orang biasa dan kamu pewaris tunggal yang kaya." Jawab Clara.


"Aku mencintaimu dengan segala apa yang ada didirimu, Ra. Aku sudah terpesona dengan kebaikanmu saat membayarkan secangkir kopi untukku." Aldrich terus meyakinkan Clara.


"Aku takut gagal lagi, Al. Dan aku belum siap." Ucap Clara.


"Aku tidak akan membuat pernikahan kita menjadi sebuah kegagalan, Ra. Dan jika kamu belum siap, aku tidak akan menyentuhmu sebelum ada cinta dihatimu untukku." Aldrich menatap mata Clara dengan tatapan lembut dan begitu meyakinkan.


Clara melihat kesungguhan diwajah Aldrich.


"Tiga bulan, Ra. Aku yakin dalam waktu tiga bulan aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Aldrich mengeratkan genggamannya.


"Bagaimana jika tidak bisa juga, Al?" Tanya Clara lirih.


Aldrich tersenyum tipis. "Aku yakin dihatimu sudah ada cinta untukku, hanya saja kamu masih membentengi diri karna rasa luka yang ditorehkan oleh mantan suamimu, meski aku tidak tau itu luka apa."


Clara mencoba menyelami perasaannya, ia mengingat masa masa bersama Aldrich saat masih di Erlasha dulu, saat Aldrich menjadi Aldi yang slalu bisa membuatnya merasa nyaman dan tertawa lepas.


"Mau ya, Ra." Bujuk Aldrich lagi.


Perlahan Clara mengangguk pasrah membuat Aldrich mengukir senyum diwajahnya.


Aldrich tidak perduli ini jebakan yang dibuat orang tuanya atau apalah, asal wanita itu Clara, sudah pasti Aldrich akan senang menerimanya.


Sementara diruangan Fariz. Stevi tengah cemas menanti jawaban sang anak dan wanitanya. Stevi takut Clara berpikir dirinya tengah dijebak walaupun memang ini semua adalah ide Joni untuk Fariz dan Stevi. Dari mulai membuat handel pintu macet, mematikan pendingin ruangan hingga ponsel Aldrich yang tertinggal dimobil dan juga mematikan sambungan telpon.


"Sudahlah, Ma. Clara pasti menerima Aldrich." Kata Fariz yang sedari tadi pusing melihat sang istri mondar mandir menunggu kedatangan sang anak dan wanitanya.


"Mama ragu, Pap. Clara itu tidak seperti wanita lain yang gampang luluh hanya dengan melihat latar belakang putra kita." Jawab Stevi.


"Clara itu menyukai Aldrich, Ma. Hanya saja dia merasa minder dengan statusnya." Kata Fariz. "Aldrich harus berusaha meyakinkan Clara."


"Padahal kita tak mempersalahkan statusnya Clara, Pap. Mama tau dia wanita yang baik dan pantas untuk Aldrich."


Ceklekk..


Seketika arah mata Stevi dan Fariz tertuju pada pintu yang terbuka.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2