BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 40


__ADS_3

Aldrich membantu Clara membereskan pakaiannya kedalam koper, ia melihat kost kost an Clara yang begitu sederhana.


Hanya ada satu ruangan kamar menyatu dengan dapur dan satu kamar mandi.


"Kenapa menyewa kamar yang kecil begini? Gajimu sebagai sekertarisku kan lumayan besar, Ra." Kata Aldrich.


"Iya, tapi sayang pilih tempat yang besar dan hanya tinggal sendirian, udah gitu cuma dipake tidur doang." Jawab Clara.


"Aku akan membuat hidupmu layak dalam segala hal, Ra." Batin Aldrich.


Selesai membenahi barang barang Clara seadanya, Clara berpamitan pada ibu kost. Kemudian Aldrich membawanya kerumah milik keluarga Dewantara.


"Ramai sekali dirumahmu, Al." Kata Clara saat melihat banyaknya mobil yang berjajar rapih dihalaman rumah Aldrich.


"Itu paling keluarganya Chelsea dan keluarganya Davan, Papinya Chelsea dan Mamanya Davan itu itu sahabat Papap dan Mamaku." Ucap Aldrich.


"Rumahmu besar." Kata Clara lagi.


"Ini rumahmu juga, Sayang." Balas Aldrich sambil tersenyum.


"Kita akan tinggal disini?" Tanya Clara lagi yang masih belum mau turun dari mobil Aldrich.


"Ra, aku anak satu satunya Mama dan Papap, aku tidak tega jika meninggalkan mereka dan membuat rumah ini sepi. Tapi kalau kamu tidak merasa nyaman, aku akan membawamu untuk tinggal ditempat lain. Bagaimana?" Tanya Aldrich.


Clara menggelengkan kepalanya, "Tidak apa, Al. Aku mau tinggal disini bersama orang tuamu." Clara menyetujui tempat tinggalnya meski ia masih trauma dengan mertuanya yang dulu, yang slalu mencecarnya soal keturunan.


Guratan keraguan Clara terlihat jelas oleh Aldrich, sebenarnya Aldrich ingin bertanya masalah perceraian Clara dengan mantan suaminya, namun ia tidak ingin membuat Clara merasa tidak nyaman.


"Turun yuk, Ra. Masuk kedalam rumah. Mereka pasti sudah menunggu kita." Ajak Aldrich dengan lembut.


Clara terlihat memandangi rumah Aldrich yang megah itu. Kamudian ia kembali menatap Aldrich. "Kamu tidak malu menikah denganku, Al?" Tanyanya sekali lagi.


Aldrich menggelengkan kepalanya, "Tidak sama sekali, Ra. Aku yakin seyakin yakinnya."


Clara mengangguk, "Terimakasih, Al." Ucapnya lirih.


Aldrich keluar dari mobil kemudian mengitari mobilnya untuk membuka pintu Clara. Mereka jalan beriringan masuk kedalam rumah Aldrich.


"Claraa.." Chelsea menghampiri Clara dan memeluknya.


"Beritahu aku jika Aldrich memaksamu." Kata Chelsea setelah melerai pelukannya.

__ADS_1


"Jangan jadi provokator deh Chel." Kesal Aldrich kemudian menarik pinggang Clara, Clara yang tak siap pun bergeser seketika dipelukan Aldrich.


"Al, lepas." Kata Clara pelan.


"Belum halal, Al." Cibir Chelsea.


Aldrich melepaskan tangannya dari pinggang Clara. Stevi yang tau Aldrich datang langsung menghampirinya.


"Kalian sudah datang?" Tanya Stevi yang kemudian mencium kedua pipi Clara dan melewati Aldrich yang sudah terlihat membuka tangannya untuk mendapatkan pelukan sang ibu.


"Ma, ini anakmu." Kata Aldrich memelas.


"No, mulai hari ini, Clara yang anak Mama. Awas kalau kamu berani menyakitinya." Kata Stevi lalu mengajak Clara untuk bersiap.


Chelsea dan Davan mentertawai Aldrich. Sementara Aldrich hanya mendengus kesal.


"Kak Zayn mana, Chel?" Tanya Aldrich.


"Keluar kota lagi, ada seminar di Jogja." Kata Chelsea dengan raut wajah sedih.


"Acara anniversary kalian bagaimana?" Tanya Aldrich.


Aldrich dan Davan hanya saling melihat dan merasa ada yang disembunyikan oleh Chelsea.


"Chel, are you okay?" Tanya Aldrich.


Chelsea tersenyum, namun senyumnya masih menampilkan guratan kekecewaan. "Aku gak apa apa, Al. Malah aku khawatir sama Clara, aku khawatir dia yang kenapa kenapa, karna itu aku mau melihatnya.


Stevi membawa Clara kedalam kamar tamu, "Bu.. Ini..." Kata Clara yang seolah kaget melihat ada kebaya berwarna broken white dan tiga orang asing disana yang merupakan MUA dan dua asistennya.


"Mama dong, Ra. Panggil aku Mama, ya." Ucap Stevi lembut.


"Meski kalian menikah dadakan, tapi Mama dibantu oleh tante Jessi dan tante Ghea bisa menyiapkan semuanya semaksimal mungkin, kamu tetap harus tampil cantik dihari pernikahanmu." Kata Stevi.


"Ra...." Panggil Chelsea yang ikut menyusul.


"Ah Chel, temani Clara ya. Tante mau ngurusin dibawah dulu." Kata Stevi kemudian meninggalkan kamar itu.


"Apa perasaanmu?" Tanya Chelsea yang menemani Clara yang sedang dirias.


"Aku tidak tau, Chel. Hanya saja aku begitu terharu dengan kebaikan keluarganya Aldrich." Jawab Clara.

__ADS_1


"Mereka itu baik, Ra. Om Fariz sahabat Papiku dan juga Mama Ghea sejak di SMA, akhinya Om Fariz menjadi saudara tiri Mama Ghea. Dan Tante Stevi itu sahabatnya Mama Ghea dan Mamiku sejak di bangku kuliah." Kata Chelsea.


"Mereka unik." Ucap Clara.


"Dan kita juga akan seperti itu ya, Ra." Chelsea menggenggam tangan Clara, Clara tersenyum dan mengangguk.


Aldrich tampak gagah memakai Jas bewarna hitam, meski acara ini dadakan, namun Stevi berhasil merubah penampilan halaman belakang rumahnya menjadi sebuah pesta keluarga inti dan beberapa relasi penting seperti pemegang saham dan pimpinan Divisi.


Aldrich sudah duduk didepan penghulu, karna Clara anak yatim piatu dan tidak memiliki wali, maka pernikahan diwalikan pada wali hakim. Meski Clara masih memiliki sang Kakek, namun Kakek itu dari pihak ibunya bukan dari sang ayah.


Chelsea dan Ghea mengantar Clara untuk duduk bersama Aldrich sebelum akad dimulai. Aldrich sampai tak berkedip melihat kedatangan Clara.


"Bucinnya anak lu, percis banget kayak lu." Bisik Tristan pada Fariz.


"Ya, ini definisi dari like father like son, Tan." Jawab Fariz cuek.


Acara akad dimulai, dalam satu tarikan nafas, Aldrich berhasil mengucap ijab qabul dengan benar tanpa kesalahan. Kini Clara resmi menjadi istri sah Aldrich dimata agama dan segera akan di sah kan secara negara.


Clara mengusap wajahnya setelah doa pernikahan yang dilantunkan oleh pemuka agama, Stevipun terharu melepas putra tersayangnya itu.


Aldrich dan Clara menghampiri tamu tamu yang berdatangan, mereka menyalami satu satu dan ikut dalam pembicaraan. Wajah Aldrich begitu berseri dan terlihat bangga memperkenalkan istrinya itu.


"Aldrich beruntung sekali." Gumam Chelsea yang terdengar oleh Davan.


"Clara juga beruntung dapatin Aldrich." Balas Davan.


"Aku rasa, Aldrich yang lebih beruntung." Ucap chelsea lagi.


"Maksudmu?" Davan semakin penasaran apa yang dimaksud oleh Chelsea.


"Kamu janji tidak akan mengatakannya pada Aldrich?" Tanya Chelsea yang diangguki oleh Davan.


Chelsea menghela nafas sejenak, "Clara itu meskipun dia bersatatus janda, tapi dia masih suci, karna dulu suaminya seorang g*ay, tidak pernah mau menyentuh Clara." Ucap Chelsea dengan pandangan lurus kedepan melihat sepasang pengantin baru itu.


"Benarkah?" Tanya Davan tak percaya. "Aldrich tidak tau hal itu?" Tanya Davan lagi.


Chelsea mengangguk, "Aku tau karna Papi yang jadi kuasa hukum Clara dan Clara menjelaskan mengapa ia ingin berpisah dengan suaminya, itu smua karna Clara hanya untuk jadi pajangan dan hanya jadi sekedar status. Mantan suaminya dulu penyuka sesama jenis dan Clara pernah memergokinya saat sedang bercumbu dengan pasangannya sesama jenisnya."


"Apa??" Pekik Stevi yang ternyata mendengar percakapan Chelsea dan Davan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2