
"BILLAAAAAAAA." Teriak Davan sesaat setelah membaca isi surat yang menyakitkan dari Billa.
Tubuh Davan melemas, ia bersimpuh dilantai dengan meremas surat dari Billa.
"Mengapa kamu tidak memberiku waktu sebentar lagi saja, Bill." Lirih Davan dalam tangisannya.
Aldrich segera masuk kekamar Davan saat mendengar Davan berteriak memanggil Billa dari kamarnya yang tidak tertutup rapat.
"Davv.." Panggil Aldrich.
"Dia mendengar semuanya, Al. Billa pergi meninggalkanku tanpa mau memberiku waktu sedikit lagi saja." Davan terlihat berantakan.
Aldrich mengambil kertas itu dan membacanya, ia merasakan rasa sakit yang Billa rasakan disetiap guratan tinta yang tertulis.
Chelsea yang baru saja kembali kerumah Ghea segera masuk kekamar Davan setelah PRT menceritakan keributan dikamar Davan.
"Al.. Davv.." Panggil Chelsea.
Davan hanya menunduk sambil menangis dengan kondisi kacau sementara Aldrich menoleh kearah Chelsea.
"Ada apa?" Tanya Chelsea.
Aldrich memberikan surat Billa dan Chelsea membacanya.
"Jadi kau tau ini Dav?" Tanya Chelsea.
"Davan tau, dan ini semua karna Kak Zayn yang memberitahu Davan, sehingga Davan sempat ragu dengan hubungannya bersama Billa karna memikirkan kondisi Tante Ghea." Jawab Aldrich.
Chelsea merasa marah, "Dan mengapa kau menangis, Dav? Menyesal? Percuma!!" Bentak Chelsea.
"Chel.." Kata Aldrich mengingatkan.
"Biar saja Davan tenggelam dengan penyesalannya, Al. Wanita mana yang tidak sakit hati jika mendengar dirinya akan dilepaskan? Kamu terlalu naif, Dav. Aku kecewa padamu." Kata Chelsea.
Davan hanya terus menunduk.
"Chel, udah!!" Kata Aldrich memperingatkan kembali.
"Aku harap, diluar sana, Billa hidup dengan lebih baik, Dav." Kata Chelsea pada akhirnya.
"Jika aku jadi Billa, mungkin aku juga aku akan seperti itu, untuk apa bertahan dengan pria yang ragu memperjuangkannya dan berpikir untuk melepaskannya." Kata Chelsea lagi.
"Belum lagi mendapat tatapan sinis dari Kak Zayn, sungguh aku tidak tega pada Billa." Sahut Aldrich.
Davan langsung melihat kearah Aldrich. Aldrich pun merasa jika dirinya tengah ditatap oleh Davan.
__ADS_1
"Saat dirumah sakit, saking khawatirnya kamu dengan Tante Ghea, hingga kamu meninggalkan Billa begitu saja diluar kamar perawatan Tante Ghea, Kak Zayn menyuruh Billa pulang dan bilang jika kamu akan berjaga dirumah sakit. Aku melihat ketidaksukaan Kak Zayn pada Billa, hingga melihat guratan kesedihan diwajah Billa." Jawab Aldrich.
Davan menggusar rambutnya kebelakang.
Chelsea pun terkejut mendengar jika suaminya tega berbuat seperti itu.
"Bantu aku, Al. Bantu aku mencari Billa." Pinta Davan.
"Ada apa ini?" Tanya Fadhil yang baru saja masuk kedalam kamar Davan.
Davan tidak berani menatap wajah Fadhil. Mata Fadhil tertuju pada selembar kertas yang dipegang oleh Chelsea.
"Berikan pada Papa, Chel." Kata Fadhil.
Chelsea memberikan surat itu dan Fadhil membacanya.
"Jadi Billa pergi?" Tanya Fadhil.
"Dav, mengapa kamu tidak bisa bertanggung jawab dengan pernikahanmu? Bagaimana bisa kamu mempunyai niatan untuk melepas Billa? Pernah Papa mengajarimu seperti itu?" Tanya Fadhil.
Fadhil pun terduduk disisi tempat tidur. Ia pun lelah dengan kondisi seperti ini.
"Kenapa Papa memiliki anak anak yang tidak bisa berpikir luas? Apa salah Papa dalam mendidik kalian? Tidak bisakah kalian menjadikan sikap baik Papa pada Mama sebagai contoh untuk kehidupan rumah tangga kalian?" Tanya Fadhil.
"Pa, maaf ini salah Zayn." Kata Zayn yang ikut masuk kedalam kamar Davan.
"Dimana Mama?" Tanya Davan, ia takut jika sang Mama kembali drop saat mengetahui kepergian Billa.
"Mama dikamar ditemani oleh Mami, Clara dan Tante Stevi." Jawab Zayn.
"Kakak tega sekali, aku tidak menyangka Kakak bisa seperti ini." Kata Chelsea lalu keluar dari kamar untuk melihat mertuanya.
Zayn ingin mengejar Chelsea, namun ia masih harus menyelesaikan masalah yang ada karnanya.
Sementara di Jogja, Billa mencari penginapan murah setibanya dikota ini. beruntung tukang becak bisa memberikan informasi dan mengantarkannya, Billa juga sempat bertanya pada tukang becak perihal kontrakan yang bisa ia sewa. Tukang becak bernama Pak slemet itu berjanji esok hari akan membawa Billa untuk melihat tempat kontrakannya.
Billa merebahkan tubuhnya dikamar hotel, ia menghitung uang cash yang ia punya, beruntung saat di Labuan Bajo, Billa sempat ke ATM dan tarik tunai dengan uang yang cukup banyak karna ingin membelikan oleh oleh di UMKM setempat yang memang harus menggunakan uang cash.
Belum sempat uang itu dibelanjakan oleh oleh, Davan sudah mengajaknya pulang karna kabar tentang sakitnya mama mertuanya itu.
Pak Slamet menjemput Billa untuk melihat rumah yang akan ia sewa, rumah yang berada dipinggiran kota.
"Ini rumahnya, Mba. Disewakan murah karna yang punya rumah tidak niat mengontrakan, yang penting ada yang merawatnya saja." Kata Pak Slamet.
Rumah yang terlihat jadul dengan jendela kayu namun tetap terurus itu membuat Billa merasa langsung klik untuk tinggal disitu, belum lagi sewa rumah yang terbilang sangat murah dan jauh dari keramaian.
__ADS_1
"Sudah ada isinya Mbak, tapi ya parabotannya jadul jadul. Kursinya masih kayu, tempat tidur juga masih kayu dan kasurnya pun masih
kapuk, parabot dapur juga ada, hanya saja tidak ada barang elektorniknya Mbak." Kata Pak Slamet.
"Tidak apa, Pak. Segini juga Alhamdulillah ada tempat berteduh." Jawab Billa dengan tersenyum sambil mengusap perutnya mencoba mencari kekuatan dari janin yang sedang ia kandung. "Bantu Ibu untuk kuat ya, Nak." Batin Billa
Disebelah sana rumah saya, Mbak. Saya tinggal hanya sama istri." Kata Pak Slamet.
Billa melihat kerumah Pak slamet yang kondisinya sudah memprihatinkan.
"Anak Bapak kemana?" Tanya Billa.
"Saya dan istri tidak mempunyai anak, Mbak." jawab pak Slamet.
Billa hanya mengangguk.
Saat itu juga Billa kembali ke hotel untuk mengambil barang barangnya untuk diangkut kerumah yang ia sewa.
Billa pun diantar oleh pak slamet untuk melapor ke RT setempat, ia menceritakan jika dirinya tengah hamil dan bercerai dengan suaminya, Billa hanya tidak ingin jika warga setempat menilainya yang tidak tidak.
Billa pun menunjukan KTP dan foto copy surat nikahnya sebagai bukti jika dia wanita bersuami, hanya saja Billa beralasan jika akta cerai belum keluar karna belum diurusnya.
Billa memang nenyiapkan foto copy surat nikah untuk mempermudahnya jika nanti membuat akta untuk anaknya saat lahir.
Istri Pak Slamet yang bernama Mbok Mar membantu Billa membersihkan rumah, bahkan meminjamkan sprei bersih untuk Billa.
Billa pun mendapat kiriman makanan dari berbagai tetangganya yang tau jika ia adalah penghuni baru yang datang seorang diri dan tengah hamil lalu berpisah dari suaminya. Membuat para tetangganya itu merasa prihatin akan kondisinya.
"Kamu suka kan disini? Disini banyak orang baik meski mereka tidak mengenal ibu." Kata Billa mengajak bicara janinnya itu.
Lambat laun, akhirnya Ghea tau kondisi pernikahan putranya itu. Ghea menyayangkan sikap Zayn yang seolah menghakimi adik iparnya sendiri.
"Dav..." Panggil Ghea saat masuk kedalam kamar Davan.
Davan terlihat tidak terurus, badannya sedikit mengurus, bahkan ia tidak mencukur kumis dan jambangnya. Matanya selalu terlihat memerah seperti menahan tangis dan amarahnya.
Ghea duduk disebelah Davan,
"Davan memang salah, Ma. Billa memang pantas meninggalkan Davan." Kata Davan pada Ghea.
Ghea hanya diam mendengar curhatan Davan, ia sudah mendengar dari chelsea jika banyak orang yang nenyalahkan Davan karna kepergian Billa.
"Dav memang pantas ditinggal oleh Billa, tapi Ma, apa Dav salah jika Dav ingin tau kabar Billa dan memastikannya jika dia hidup dengan layak? Billa tak punya siapapun, Ma. Dav takut Billa kesulitan diluar sana." Kata Davan yang kemudian bersimpuh dikaki Ghea.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1