
Tiga hari berlalu, Jihan terus saja memikirkan kata kata Aldrich, hingga membuatnya tidak semangat untuk bekerja.
"Ji, mana berkas kesepakatan dengan pihak GAB Travel?" Tanya Beni yang membuyarkan lamunan Jihan.
Jihan terkesiap dan langsung menghela nafas. "Bang Beni kagetin aku aja." Ucapnya.
"Hei, kau kenapa, Ji? Ada masalah? Atau tadi dimarahin si Bos?" Tanya Beni penasaran.
Jihan menggelengkan kepalanya sambil memeriksa berkas yang tadi ia bawa. "Aku lagi gak mood aja, Bang Ben."
Beni tertawa, "Lucu lho, seorang Jihan tiba tiba diam seperti ini." Ledek Beni.
Jihan menonjok pelan bahu Beni, "Bang Ben nyebelin." Ucapnya sambil cemberut. "Nih berkasnya." Kata Jihan sambil memberikan berkasnya pada Beni.
"Ayo keruangan Bos." Ajak Beni.
Jihan berdiri dan mengekori Beni menuju ruangan Alaska.
Alaska yang terlihat sedang menerima telpon didekat jendela besar, menoleh seketika dan langsung memutuskan panggilannya.
"Berkasnya sudah kalian periksa?" Tanya Alaska yang kini duduk didepan Beni dan Jihan.
"Sudah, Bos. Bisa dilanjut ke tandatangan kontrak selanjutnya." Jawab Beni.
Alaska mengangguk, "Siapkan jadwal pertemuan untuk tanda tangan kontrak selanjutnya." Kata Alaska entah ditunjukan pada siapa.
Namun ekor mata Alaska melihat Jihan yang sedari tadi hanya diam, namun Alaska segera menepis rasa penasarannya itu.
Suara pintu diketuk, sosok seorang pemuda tampan yang slalu menjadi pelindung Jihan tiba diruangan Alaska.
"Jid.." Panggil Jihan.
Jidan melihat kearah Jihan dan menghampirnya, "Kau sakit, Ji? Wajahmu pucat sekali." Kata Jidan cemas.
Jihan menggelengkan kepalanya, namun tangan Jidan terulur untuk mengukur suhu tubuh Jihan.
"Kau demam, Ji." Kata Jidan. "Ayo pulang bersamaku." Ajak Jidan.
"Aku masih bekerja, Jid." Jawab Jihan.
"Aku berharap Daddy Al memecatmu agar kau bisa bekerja bersamaku." Kata Jidan pada Jihan, Lalu Jidan menatap Alaska.
"Al, aku akan membawa Jihan pulang. Dia demam."
Alaska mengangguk. "Pulanglah bersama Jidan, Ji. Disini ada Beni yang membantuku, jangan pikirkan pekerjaan." Ucap Alaska melembut.
__ADS_1
Jihan mengangguk samar.
"Lain kali aku akan kesini lagi untuk membicarakan bisnis lagi, Al. Aku bawa Jihan dulu ke rumah sakit." Kata Jidan lalu berpamitan pada Alaska.
Alaska melihat Jidan yang begitu mencemaskan Jihan, tidak pernah Alaska melihat Jidan secemas itu, bahkan kepada lawan jenis sekalipun, meski beberapa kali sewaktu di Inggris Jidan dekat dengan lawan jenis, namun Alaska tidak pernah melihat keseriusan Jidan pada wanita yang dekat dengannya.
Alaska memang slalu mendengar Jidan berkata jika Ibu dan Jihan adalah hidup dan prioritasnya. Jika ditanya soal Davan dan Jaffin, Jidan hanya berkata mereka adalah keluargaku, tapi Ibu dan Jihan adalah hidupku.
Jidan membawa Jihan duduk didalam mobilnya.
"Jid, kita pulang saja." Kata Jihan.
"Ibu akan khawatir, Ji. Aku akan membawamu dulu kerumah sakit. Jangan membantahku, Ji." Kata Jidan meski dengan lembut namun penuh penekanan.
Jihan diperiksa dan mengalami gejala types serta dehidrasi. Dokter menyarankan Jihan untuk dirawat selama dua hingga tiga hari hingga tubuhnya tidak lemas lagi. Bisa saja Jihan dirawat dirumah, namun Jidan lebih memilih agar Jihan dirawat saja karna ia tau jika Jihan tidak akan pernah bisa beristirahat jika dirumah.
"Kau menghubungi Ayah dan Ibu, Jid?" Tanya Jihan yang kini berbaring lemas diatas brankar didalam kamar perawatannya.
Jidan mengangguk, "Ji, apa yang kau pikirkan?" Tanya Jihan.
"Tidak ada, Jid. Aku hanya lelah." Jawab jihan berbohong meski memang Jihan tengah memikirkan kata kata Aldrich.
"Aku sangat mengenalmu, Jid. Ceritakan padaku apa yang kau pikirkan?" Tanya Jidan.
Jidan menggenggam tangan Jihan, "Ada apa Ji?"
"Apa kau tau aku dijodohkan dengan Kak Alaska, Jid?" Tanya Jihan.
Jidan hanya diam.
"Jadi kau tau, Jid?" Tanya Jihan yang melihat Jidan hanya diam.
"Kau bisa menolaknya, aku juga sudah menolak perjodohanmu dengan Alaska, Ji." Kata Jidan.
"Apa kau pernah berpikir jika aku harus berterima kasih pada Daddy Al karna dia yang menemukan kita dan membawa Ayah pada kita, Jid?" Tanya Jihan.
"Tapi tidak dengan mengorbankan masa depanmu, Ji. Aku akan membatalkan perjodohanmu." Kata Jidan menguatkan Jihan.
"Kita punya hutang budi pada Daddy Al, Jid. Hutang budi seumur hidup yang tidak bisa tergantikan." Kata Jihan.
"Kalau begitu aku akan membawamu dan Ibu pergi, kita hidup bertiga lagi seperti dulu. Aku sudah besar dan sudah bisa menghidupimu dan Ibu. Aku bisa bekerja untukmu dan Ibu." Jawab Jidan.
"Bagaimana dengan Ayah dan Jaff? Kita tidak bisa egois, Jid." Kata Jihan.
"Yang egois itu mereka, Ji. Hati kita bukan barang yang bisa dibeli." Jidan mengusap kepala Jihan.
__ADS_1
Davan masuk kedalam ruang perawatan Jihan. Wajahnya terlihat begitu cemas. Dan kecemasan Davan bertambah saat melihat kesedihan di wajah Jidan dan Jihan.
"Ji.." Panggil Davan.
Jidan berdiri dan bergantian dnegan Davan yang duduk disebelah brankar Jihan.
"Aku tidak apa apa, Yah. Jangan cemaskan aku." Kata Jihan sambil tersenyum.
"Berhentilah bekerja di Dewantara, pindahlah ke kantor Ayah, kau bisa bekerja membantu Jidan, atau Ayah akan menyiapkan jabatan tinggi untukmu." Kata Davan.
"Kerja dimanapun sama saja, Yah. Biar aku menyelesaikan kontrak kerjaku dulu." Jawab Jihan keras kepala.
Tak lama kemudian Billa datang dan langsung mendekat pada Jihan. "Ji..."
"Ibu..." Panggil Jihan dan minta dipeluk oleh Billa.
"Mana yang sakit?" Tanya Billa.
"Tidak ada, Bu. Aku juga tidak tau kenapa dokter menyuruhku dirawat. Padahal aku hanya ingin pulang dan istirahat dirumah." Ucap Jihan dengan tersenyum.
Davan melihat Jidan yang sedari tadi hanya diam, entah mengapa Davan merasakan sesuatu yang terjadi pada Jidan dan Jihan.
"Son, mau menemani Ayah minum kopi dikafetaria bawah?" Tanya Davan pada Jidan.
"Tidak, Yah. Lain kali saja. Aku harus keluar, masih ada urusan." Jawab Jidan dan Jidan langsung menghampiri Davan untuk mencium punggung tangannya dan bergantian dengan Billa.
Jidan mendekat pada brankar Jihan dan mencium kening Jihan, namun Jihan menahan lengan Jidan dan nenggelengkan kepalanya samar.
Jihan tau jika Jidan sedang menghindari Davan perihal perjodohan Jihan dengan Alaska, dan Jihan tau urusan apa yang dimaksud Jidan, pastilah Jidan akan menemui Alaska atau bisa jadi menemui Aldrich dan Jihan tidak ingin itu terjadi.
Namun Jidan tetap pergi, Davan ingin sekali menyusulnya, namun ia tidak bisa meninggalkan Jihan yang masih terbaring lemah.
Jidan mengemudikan mobilnya menuju perusahaan Dewantara, ia ingin berbicara langsung dengan Aldrich dan memintanya untuk membatalkan perjodohan antara Jihan dan Alaska.
Namun Jidan terlebih dahulu bertemu dengan Alaska saat keluar dari lift.
"Jid, kau kembali lagi?" Tanya Alaska. "Bagaimana Jihan?" Tanya Alaska lagi.
"Aku ada perlu dengan Daddy Al." Kata Jidan dingin sambil melewati Alaska.
"Jid.." Panggil Alaska.
Jidan menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ia berkata. "Berani kau menyakiti saudariku sedikit saja, aku tidak akan segan untuk menghancurkanmu, Al." Ucap Jidan lalu beranjak menuju ruangan Aldrich.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1