BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 96


__ADS_3

Alaska terihat tak senang saat melihat keakraban Jihan bersama Gibran. Wajahnya kembali datar setelah melihat Jihan yang menghampiri Gibran.


"Bos, ini proposal yang anda cari." Kata Beni sambil memberikan proposal itu pada Alaska.


"Dimana Jihan?" Tanya Alaska.


"Jihan sedang mengerjakan berkas untuk kontrak dengan Tama Group." Jawab Beni.


Alaska mengangguk, ia melihat jam dipergelangan tangannya dan menunjukan hampir pukul lima sore.


"Kau bisa pulang duluan." Ucap Alaska.


"Tapi anda masih disini, Bos." Beni mendadak ragu.


"Aku akan bersiap pulang, Kau bawa saja mobilku, dan suruh Jihan kemari sebelum dia pulang." Ucap Alaska.


Beni mengangguk patuh meski ia merasa heran karna Alaska tidak membawa mobilnya, namun Beni segera keruangannya yang ia tampati bersama Jihan.


"Ji, aku pulang duluan." Kata Beni sambil merapihkan berkas yang berserakan dimejanya.


"Loh, si Bos udah mau pulang juga?" Tanya Jihan ragu.


"Si Bos lagi bersiap untuk pulang juga, jadi aku juga bisa pulang. Kata si Bos, sebelum pulang, kamu keruangan Bos dulu." Ungkap Joni.


Jihan segera membereskan juga meja kerjanya dan bersiap untuk pulang, ia sempatkan keruangan Alaska karna Alaska memintanya lewat Joni.


"Kak, sudah mau pulang?" Tanya Jihan.


"Iya, tapi kau antarkan aku pulang dulu, mobilku dibawa Joni pulang." Ucapnya.


Jihan mengernyitkan dahinya. "Kakak mau naik mobilku?" Tanyanya.


Alaska berdiri dan memakai Jas nya, "Ya mobilmu lah." Ucapnya cuek. "Ayo, Ji. Keburu Maghrib." Ajak Alaska.


Jihan menghela nafas, lagi lagi dia harus membatalkan janjinya dengan Gibran untuk mentraktirnya makan burger.


Didalam lift, Jihan mengirimkan pesan pada Gibran dengan alasan mengantar bosnya pulang. Gibran mengerti akan hal itu karna itu bagian dari tugas seorang asisten pribadi CEO.


"Kau sudah ada janji?" Tanya Alaska pada Jihan yang sedang mengemudi.


"Iya, tadinya aku ada janji dengan Gibran." Jawab Jihan dengan pandangan fokus karna sedang menyetir.


"Dinner?" Tanya Alaska yang penasaran.


Jihan mengerdikan bahunya, "Tidak, hanya untuk makan burger bersama saja."


"Burger?" Tanya Alaska memastikan.


"Kak, aku pikir pendengaranmu masih baik baik saja, deh." Ucap Jihan. "Tak perlu mengulang lagi apa yang aku katatan."


Alaska hanya diam, Jihan banyak menyukai hal sederhana, termasuk hanya makan burger.


Ia tidak menyangka Jihan sesederhana itu mengingat sang Ayah merupakan seorang pengusaha hotel dan resort yang semskin sukses.


"Kau tidak nengajakku untuk makan burger juga?" Tanya Alaska dengan cueknya.


Jihan menengok kearah Alaska tepat saat mobilnya berhenti dilampu merah. "Kakak mau makan burger?" Tanya Jihan memastikan.

__ADS_1


"Ya, mendengarmu berkata ingin makan burger, aku jadi ingin makan burger juga." Ucap Alaska.


Jihan mengangguk, "Tapi Kakak yang teraktir." Ucap Jihan.


"Tidak masalah, anggap saja sebagai tanda terimakasih karna sudah mengantarku pulang." Jawab Alaska.


"Oke." Kata Jihan antusias.


Kini Jihan dan Alaska berada disebuah retoran cepat saji, Alaska mengantri hanya untuk membeli burger. Jihan melihatnya dari meja yang ia tempati dan tersenyum melihat Alaska yang rela mengantri, pasalnya Alaska adalah pria yang enggan ribet dan menyukai kepraktisan dalam hidupnya.


Alaska berjalan dengan membawa nampan lalu meletakan berbagai makanan diatas meja. Jihan melihat dengan mata berbinar sambil menggosok gosokan kedua telapak tangannya.


Jihan mulai membuka bungkusan burger dan menggigitnya. Alaska hanya tersenyum samar melihat sikap Jihan. Ternyata dibalik sikap Jihan yang bar bar, Jihan juga gadis yang polos dan menyenangkan.


Malam itu mereka makan sambil berbincang, Alaska baru mengenal lebih dalam sosok Jihan, entah mengapa Alaska mulai tertarik pada kehidupan Jihan.


Di sisi lain, Billa tengah menunggu Jihan dan Jidan pulang, Billa juga sambil menemani Jaff yang sedang mengerjakan tugas sekolah nya.


Jidan yang baru saja pulang langsung masuk dan langsung mencium punggung tangan Billa.


"Saudarimu belum pulang, Jid." Kata Billa.


"Sudah Ibu telpon?" Tanya Jidan.


Billa mengangguk, "Katanya sedang bersama Alaska."


Jidan mulai berpikir, Alaska pergi bersama Jihan diluar jam kerja, sepertinya Jidan harus mencari tau sesuatu.


"Tenang saja, Bu. Jihan pintar bela diri, lagi pula Jihan pergi bersama Alaska. Tidak mungkin Alaska akan menyakiti Jihan." Kata Jidan menenangkan sang Ibu.


Tidak lama kemudian, suara mobil Jihan terdengar, membuat Billa dan Jidan melihat kearah pintu.


Jihan mencium punggung tangan Billa kemudian mencium pipi Jidan. "Aku habis mengantar Kak Alaska, mobilnya dibawa Bang Beni." Jawab Jihan.


"Alaska tidak pulang dengan Daddy Al?" Tanya Jidan mendalam.


"Daddy Al slalu pulang jam tiga sore, sedangkan Kak Alaska tadi pulang jam lima." Jawab Jihan jujur.


"Ya sudah, Kalian segera membersihkan diri lalu makan." Sahut Billa.


"Jid tadi sudah makan bersama calon


investor, Bu." Jawab jidan.


"Jihan juga sudah makan sama Kak Alaska sebelum mengantarnya pulang." Jawab Jihan.


Billa dan Jidan hanya saling melirik.


"Ya sudah, bersihkan diri kalian dulu." Ucap Billa.


Jihan masuk kedalam kamarnya dan disusul oleh Jidan.


"Ji..." Panggil Jidan.


"Hem..." Jawab Jihan.


"Tumben kau mengantar Alaska pulang." Kata Jidan.

__ADS_1


Jihan duduk bersandar di sofa. "Iya, aku juga aneh, Kak Al minta aku mengantarnya pulang.


"Kau masih suka bertemu dengan Gibran?" Tanya Jidan lagi.


Jihan mengangguk, "Tadi juga Gab ke kantorku, Jid."


"Alaska tau?" Tanya Jidan lagi.


"Kak Al melihatnya. Memang ada apa, Jid?" Tanya Jihan.


"Tidak ada, lupakan saja." kata Jidan. "Mandilah air hangat dan istirahatlah, Ji." Ucap Jidan pada saudari kembarnya.


Keesokan harinya, Alaska menelpon Jihan untuk kembali menjemputnya, hal itu membuat Jihan pergi dengan tergesa gesa.


"Ji, sarapan dulu." Kata Davan yang melihat Jihan hanya meminum susu coklat kesukaannya.


"Tidak sempat, Yah. Ji harus menjemput Kak Alaska." Kata Jihan.


"Bawa roti ini, kau bisa memakannya sambil mengemudi." Sahut Billa.


Jihan menerima lunch box berisikan roti, lalu mencium punggung tangan Billa kemudian Davan dan beralih mencium pipi Jidan juga Jaff.


"Hati hati, Ji." Kata Jidan.


Jihan hanya menjawab dengan tersenyum dan mengangkat jempolnya.


"Biasanya Alaska dijemput oleh Beni, kenapa sekarang jadi Jihan?" Tanya Billa.


"Jihan juga asisten Alaska, Bu." Jawab Jidan.


"Apa Kak Alaska mendekati Kak Jihan?" sahut Jaff.


"Kau masih kecil, Jaff. Tau apa soal mendekati." Kata Jidan.


"Hei Kak Jid, aku sudah 13 tahun, disekolah banyak wanita yang mendekatiku dan menyatakan cinta padaku." Jawab jaff.


Jidan berdecak, "Belajarlah dengan serius, Jaff, wanita yang baik tidak akan mengejar ngejar serorang pria.


"Kakak terlalu kolot, tidak apa bersenang senang mumpung masih muda, Kak." Jawab Jaff yang memang terlihat playboy sedari kecil.


"Hei, Jaff. Tidak boleh seperti itu. Kak Jidan benar, dia sedang menasehatimu." Sahut Davan.


"Iya benar, Jaff. Kau tidak boleh seperti itu. Umurmu baru 13 tahun, belajarlah sungguh sungguh." Ucap Billa.


Jaffin menghela nafas, "Iya Yah, Bu." Kata Jaffin, "Maafkan Jaff, Kak." Ucap Jaffin pada Jidan.


Jaffin memang berbeda dengan kedua kakak kembarnya, Jaff lebih terlihat cuek dan sleyengan, namun ia tetap menghormati orang tua dan kedua kakak kembarnya.


Jaff juga anak yang supel, meski umurnya 13 tahun, ia menjadi pria tampan incaran anak ABG di lingkungan sekolahnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Aku udah siapin cerita untuk Jaffin atau yang biasa dipanggil Jaff, cuma masih belum tau diterusin disini jadi Season 4 atau terpisah, karna ceritan Jaff ini masuk ke kategori Teen yang bercerita kehidupan masa anak remaja dengan segala kenakalannya semasa di SMA.


Kalau nanti novel ini tamat, Jangan dulu ditagih ya cerita soal Jaff.


Masih belum tau, dilanjut di NT atau di FP lain, lihat dulu rating novel ini dulu, kalo dapat apresiasi dr pihak NT, aku akan terusin di NT.

__ADS_1


Karna jujur, capek juga nulis tapi gak dapet apresiasi.. hihihi..


Maafkan aku yang curhat sama kalian ya..


__ADS_2