BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 124


__ADS_3

"Kau baik baik saja?" Tanya Jidan pada Jihan.


Jihan mengangguk, "Jangan khawatir, Jid." Balas Jihan.


"Kau sudah memikirkan nama untuk bayimu?" Tanya Jihan mengalihkan pembicaraan.


Jihan menggelengkan kepalanya.


"Aku akan menamainya Jovelyn, yang berarti wanita tegas. Bagaimana menurutmu?"


Jihan menganggukan kepalanya, "Bagus, semoga anakku akan menjadi wanita yang tegas daan tidak mudah ditindas." Kata Jihan lalu tersenyum.


Alaska membawa Rania kerumahnya, namun tidak ada penyambutan yang diharapkan oleh Rania. Seluruh keluarga Alaska terlihat biasa saja. Apa lagi Alika dan Alfika terlihat sangat cuek.


"Duduklah dulu disini." Kata Alaska pada Rania diruang tamu.


Alaska bergegas mendatangi orang tuanya yang sedang duduk di ruang televisi.


"Mom, Dad. Ada Rania di ruang tamu." Kata Alaska.


"Hem." Jawab Aldrich datar.


"Mom, Dad. Al mohon terimalah Rania sebagai calon istri Al." Kata Alaska memohon.


Clara hanya melirik kearah Aldrich dan Aldrich terlihat cuek.


"Kau yang akan menikah dan menjalani hidup, atur saja sesukamu. Jika nanti sudah menikah jangan bawa istrimu untuk tinggal disini." Kata Aldrich tanpa menatap wajah Alaska.


Alaska menghembuskan nafasnya kasar. "Dad, kali ini saja tolong berbaik hatilah dengan Rania." Pinta Alaska.


Aldrich berdiri. "Setelah itu apa?" Tanya Aldrich menantang tapi Alaska hanya diam.


"Setelah itu kau minta dilamarkan dan menikahinya sementara hubungan Daddy dan Om Dav belum membaik karna kau menghina habis habisan Jihan?" Kata Aldrich.


"Dad, sudah." Kata Clara.


Clara kini menatap sang putra. "Benar kata Daddy mu, Al. ini tidak tepat. Hubungan dua keluarga sedang renggang dan itu karnamu. Tidak baik jika kau memaksakan kehendakmu menikahi kekasihmu dalam waktu dekat." Kata Clara.


"Tapi jika kau memaksa, silahkan persiapkan semua dengan sendiri, Mommy dan Daddy akan datang sebagai tamu karna menghormati keputusanmu, dan sesudahnya jangan bawa istrimu tinggal disini." Kata Clara lagi.


Alaska hanya terdiam.


"Untuk kali ini Mommy akan temui kekasihmu, namun kedepannya jangan harap lagi, Al. Karna Mommy masih merasa bersalah dengan keluarganya Jihan." Kata Clara.


"Daddy tidak bisa, silahkan jika Mommy mau menemuinya." Kata Aldrich lalu berjalan menuju kamarnya.


Clara dan Alaska berjalan menuju ruang tamu, dilihatnya Rania yang duduk seorang diri. Rania berdiri ketika melihat Clara dan alaska.


"Malam, Tante." Sapa Rania.


Clara tersenyum, "Malam. Silahkan duduk." Balas Clara.


Rania terlihat sekali ingin mengambil hati Clara, namun Clara hanya bersikap seperti biasa saja. Sesekali menanggapi apa yang diceritakan oleh Rania.


Clara pun mengajaknya makan malam bersama meski tanpa adanya Aldrich bersama mereka.

__ADS_1


**


Jihan merasakan perutnya yang tengah lapar. Ia melihat kearah Jam dan menunjukan pukul 11 malam.


Jihan keluar kamar untuk mencari makanan, ia membuka kulkas dan mengambil puding kelapa yang Gibran belikan.


"Kamu akan membuat Mommy gendut, Nak." Kata Jihan seraya mengajak bayinya berbicara.


"Ji, kau belum tidur?" Tanya Davan yang kebetulan ingin mengambil air minum ke dapur.


"Bayiku lapar, Yah. Padahal tadi aku sudah makan." Jawab Jihan sedikit manja dan Davan menyukai putrinya yang seperti itu.


"Ayah akan memasakan sesuatu untukmu." Kata Davan.


"Masak apa, Yah?" Tanya Jihan berbinar.


"Nasi goreng seafood, mau?" Tanya Davan.


Jihan mengangguk, "Mau banget, Yah." Kata Jihan. "Sedikit pedas." Pintanya dan Davan menganggukinya.


Davan segera memulai aksinya untuk memasakan apa yang putrinya inginkan.


"Kalian sedang apa?" Sahut Jidan yang juga belum tidur.


"Jihan katanya lapar, Ayah membuatkan nasi goreng seafood kesuakaannya." Jawab Davan yang sedang mengupas bawang.


"Kalau begitu, Jid juga mau, Yah." Ucap Jidan dan tentu saja Davan tidak menolaknya.


"Jaff juga mau, Yah." Sahut Jaffin yang ternyata ikut bergabung.


"Quadruple J, Yah." Kata Jidan.


"Oh, ya? Kau sudah memberi namanya Jid?" Tanya Davan.


Jidan mengangguk, "Jovelyn, yang berarti wanita tegas." Kata Jidan.


"Ponakanku perempuan, Kak Jid?" Tanya Jaff.


Jidan mengangguk.


"Kalau begitu aku akan memanggilnya Jove. Itu lebih keren didengar." Kata Jaff.


"Kau akan menyayangi Jove, Jaff?" Tanya Jihan.


"Pertanyaan macam apa itu, Kak? Tentu saja aku akan sangat menyayanginya dan menjaganya. Aku juga akan sangat protektif pada keponakanku, menjauhkan dari hama hama playboy diluaran sana." Kata Jaff.


"Hama seperti dirimu maksudnya, Jaff?" Tanya Jidan menggoda.


Jaff tertawa, "Kakak benar.. Karna aku playboy, maka dari itu aku takut jika keponakanku nanti mendapatkan playboy sepertiku."


Malam itu, susana rumah Davan sangat hangat, dengan cerita dan juga penuh dengan rencana yang diceritakan oleh ketiga anak anaknya.


Davan berharap keluarganya slalu hidup rukun dan bahagia.


Tidak seperti keluarga Davan, Keluarga Aldrich merasakan kekosongan. Ini kali pertama Aldrich tidak ikut bergabung makan malam dan itu membuat Alaska merasa bersalah.

__ADS_1


Alaska berdiri di dekat jendela dan menatap halaman rumahnya, entah mengapa ia merasa tidak bahagia sama sekali merencanakan pernikahan dengan Rania, seperti tengah melakukan kesalahan.


"Sebenarnya apa yang terjadi padaku? Setahun ini? Bagaimana hubunganku dengan Jihan dan Beni sebelum kecelakaan?" Gumamnya.


Alaska tetap tidak mengingat apapun namun ia sering mengingat kata kata dirinya entah apa yang dia lakukan.


"Ji, bolehkah?"


"Aku tidak bisa menghentikannya, Ji"


"Oh tuhan, Jidan benar benar akan membunuhku."


Arghhh,


"Sebenarnya apa yang terjadi?" Kata Alaska frustasi.


Keesokan harinya, Gibran sudah bertamu kerumah Jihan. Jidan mengajaknya untuk sarapan bersama. Tentu saja Jidan juga mengajak Amel.


"Roti bakar buatan ibuku enak sekali, kau harus mencobanya, Gab." kata Jidan dan Gibran mengangguk.


"Kopi buatan Jihan juga enak sekali, Jid." Jawab Gibran.


"Hei, jangan memuji Jihan berlebihan. Dia bukan gadis lagi yang bisa kau kejar." Kata Jidan dengan tertawa pelan, namun disetiap perkataannya ada rasa kecewa.


"Ya, Jihan memang bukan gadis lagi, tapi dia tetap single kan?" Kata Gibran dengan senyum kemenangan.


Jidan menaikam satu halisnya.


"Aku akan tetap mengejar Jihan, Jid. Aku mencintai saudarimu tanpa syarat. Aku tetap akan mencintainya dan menyayangi anaknya." Balas Gibran dengan mantap. "Aku harap kau merestuiku, Jid." Kata Gibran dengan tulus.


Jidan tidak bisa berkata kata, dia sangat bersyukur ada pria yang begitu tulus mencintai Jihan. Jidan berharap, Jihan mau membuka hati kembali untuk Gibran meski Jihan slalu merasa tidak percaya diri.


Begitupun dengan Gibran, ia tidak lelah menunggu Jihan untuk menerima cintanya kembali, sungguh Gibran tidak pernah mempermasalahkan apa yang terjadi pada Jihan. Gibran tetap menganggap bahwa Jihan adalah wanita terbaik yang pernah dimilikinya, karna itu Gibran akan mengejar Jihan kembali.


"Hai, kalian sedang bicara apa?" Tanya Amel saat menghampiri Jidan dan Gibran yang duduk bersama.


"Jidan bilang mau ngomong cinta sama kamu, tapi takut di tolak, Mel." Gibran yang menjawab dan tentu saja jawaban yang Gibran berikan adalah kebohongan dan Jidan memberikan tatapan tajam pada Gibran.


"Belum ngomong udah takut ditolak." Ledek Amel seperti memberikan kode.


"Sinyal tuh, Jid." Sahut Jihan yang menyusul Amel sambil membawakan kopi permintaan Gibran.


Jidan hanya tersenyum kikuk. Ia cukup merasa lega karna ucapan Amel seperti memberikan jalan untuk Jidan.


Sementara Jihan dan Gibran saling melirik dan melempar senyum.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai Readers, Novel ini sedang dipromosikan pihak NT karna seringnya update.


Tadinya, Novel ini akan tamat beberapa hari lagi, tapi koq aku berat namatinnya ya.


Pengen nyambung cerita Jaffin disini, Bukan Drama Pernikahan Jilid 2.


Kali aja klo Bab nya terus bertambah, Novel ini bisa naik level.

__ADS_1


Dan hari senin nih, bantu aku kasih Vote, like, hadiah dan sapa aku dikomentar ya.


__ADS_2