
Ceklekk,
Aldrich keluar dari walk in closet, ia langsung terkejut saat melihat penampilan Clara.
Clara yang merasa diperhatikan oleh Aldrich segera menghampirinya dan melingkarkan tangannya dileher Aldrich.
Aldrich terkesiap, "Ra...." Panggil Aldrich dengan perasaan yang tak kalah gugup.
Clara memberanikan diri mengecup bibir Aldrich sekilas.
"Ra.. Apa ini artinya kau sudah mencintaiku?" Tanya Aldrich lembut dengan tatapan penuh harap.
Clara mengangguk, "Sepertinya aku sudah mencintaimu saat masih bersamamu di Erlasha, hanya saja aku slalu menepisnya karna saat itu aku sudah....."
"Ssstttt." Aldrich menempelkan keningnya dikening Clara. "Aku mencintaimu, Ra. Entah sejak kapan, mungkin bisa saja saat kau membayarkanku secangkir kopi di kafe tanpa kau tau siapa aku." Aldrich mencium ujung hidung Clara, "Aku mencintaimu, Ra. Sangat mencintaimu."
Aldrich memiringkan wajahnya untuk mencium lebih dalam bibir Clara. Aldrich hanya mengikuti instingnya, sedangkan Clara masih kaku karna ini adalah pengalaman pertamanya meski ini juga yang pertama untuk Aldrich.
Aldrich melepaskan pagutannya dan menatap kedua mata Clara seolah olah ada yang terasa aneh baginya. "Bukankah Clara sudah berpengalaman? Mengapa rasanya masih kaku seperti orang yang baru pertama kali berciuman." Batin Aldrich.
Clara menggigit bibir bawahnya saat Aldirch melepaskan pagutannya.
Aldrich menggendong Clara menuju tempat tidur, menidurkan Clara dengan sangat hati hati.
"Boleh aku melakukannya sekarang, Ra?" Tanya Aldrich dengan suara berat karna menahan hasratnya.
Tangan Clara membelai rahang Aldrich yang tegas hingga menyentuh ujung hidung dan mengusp bibir Aldrich, kemudian Clara menganggukan kepalanya.
"Lakukanlah, Al... Aku milikmu." Ucapnya parau.
Aldrich mematikan lampu terang dan menggantinya dengan lampu temaram dengan stop kontak didekat nakasnya, ia pun menyalakan alat peredam suara dikamarnya agar tidak terdengar keluar suaranya.
Aldrich membuka pakaiaanya sendiri dengan cepat, kemudian kembali mencumbui tubuh istrinya, "Kamu se*xy sekali sayang. Ini akan menjadi candu untukku." Bisik Aldrich yang semakin membuat Clara meremang.
"Al... Ahhhh." Suara Se*xy Clara saat Aldrich bermain main dileher jenjangnya, Aldrich merobek lingerie tipis itu hingga kedua dada bulat Clara menyembul keluar.
__ADS_1
"Sangat pas di tanganku." Gumam Aldrich yang kini asik bermain diantara dua gunung itu.
Tangan Aldrich meraba kebagian bawah sensitif Clara, bermain main disana namun Aldrich kembali merasa heran saat Clara menahannya seperti sedang menahan sedikit sakit.
Aldrich kembali menatap wajah Clara yang kini terlihat sayu. Clara yang nenyadari ditatap oleh Aldrich pun merasa malu.
Aldrich memulai kembali permainannya, ia mencumbui dari ujung kepala hingga ujung kaki Clara, dan berhenti bermain sejenak dibagian inti Clara, mengobrak ngabrik isinya hingga nembuat Clara melenguh
"All... Please, a.. ku mau pi.. pisss.." Clara menjambak rambut Aldrich dan Aldrich segera mendongakan wajahnya menatap wajah Clara yang tengah menikmati pelepasan pertamanya itu.
"Enak, sayang?" Tanya Aldrich yang diangguki oleh Clara.
Clara mengatur nafasnya hingga kembali menatap wajah Aldrich. Tangan Aldrich terulur untuk menuntun tangan Clara agar menyentuh juniornya, Clara terkesiap saat tangannya nenggenggam sesuatu yang cukup besar menurutnya.
"Mainkan dia, Sayang." Bisik Aldrich.
Clara hanya menggigit bibir bawahnya, ia bingung bagaimana maksud yang dikatakan oleh Aldrich. Clara mencoba mengikuti instingnya, ia bergerak maju nundur untuk memainkannya, teelihat wajah Aldrich yang merasakan kenikmatan.
"Stop, Ra.. Aku ingin nelepaskannya didalam." Kata Aldrich yang kini sudah berada diposisi siap untuk memasuki rumah seumur hidupnya itu.
Perlahan Aldrich mengarahkan juniornya dan menyentuh bagian luar milik Clara, sedikit demi sedikit Aldrich mendorongnya namun terasa sulit menerobosnya. Cengkraman tangan Clara begitu terasa dipunggung Aldrich.
Clara tersenyum, "Surprise." Gumamnya yang terdengar oleh Aldrich.
Aldrich mengernyitkan dahinya seolah bertanya.
"Kamu yang pertama untukku." Bisik Clara.
"Bagaimana bisa? Bukankah Clara.." Batin Aldrich seolah meronta ingin tau. Namun Aldrich merasakan ada kebanggan tersendiri, mungkinkah ini hadiah dari tuhan untuknya karna sudah mencintai dan menerima Clara dengan tulus dan tanpa melihat statusnya.
Aldrich kembali pada kesadarannya, meneruskan apa yang sempat tertunda, ia mencoba kembali menerobos palang milik Clara.
"Alll..." Desis Clara menahan sakitnya.
Aldrich mengecup kening Clara dengan sayang, "Tahan sedikit lagi, Sayang." Bisik Aldrich parau.
__ADS_1
Perlahan tapi pasti, Aldrich berhasil menembusnya, sejenak Aldrich mendiamkan juniornya dan terasa aliran hangat mengalir disekitar juniornya.
Aldrich menatap Clara dengan penuh cinta, seolah ingin berkata terimakasih karna tlah menjadikan dirinya yang pertama, bersamaan dengan gerak Aldrich yang seirama dengan suara de$ahan se*xy dari Clara.
Nafas mereka saling memburu tidak beraturan, rasa perih yang sudah tergantikan oleh kenikmatan, kini suara mereka menggema diruangan yang kedap suara ini, hanya mereka yang tau, saling memberi dan menerima, seolah menyalurkan perasaan bahwa mereka saling mencintai.
"Al.. Aku..." Kata Clara terbata bata.
"Bersama, Sayang.." Aldrich semakin mempercepat pergerakannya hingga membuat Clara semakin mende$sahh kencang.
"Ahhhh, Alll."
Aldrich pun mengerang saat tiba dipelepasannya, "Eummhhhh."
Tubuh Aldrich ambruk diatas tubuh Clara, menenggelamkan wajahnya diceruk leher Clara. Tangan Clara terulur mengusap punggung Aldrich yang basah karna peluh.
Aldrich segera menggulingkan tubuhnya disebelah Clara, matanya menatap langit langit kamarnya, kamar yang kini menjadi saksi akan percintaan dua insan yang saling mencintai.
Setelah nafas mereka cukup beraturan, Aldrich membawa Clara kedalam dekapannya lalu menutup tubuh polos mereka dengan selimut tebal.
Tangan kekar Akdrich mengusap lengan Clara, mereka masih saling diam dan tenggelam dalam pikirannya masing masing.
"Aku menikah dengannya karna dijodohkan." Kata Clara tiba tiba.
"Dua bulan mengenalnya, dia mengajakku menikah."Kata Clara lagi memulai ceritanya. "Saat itu, aku mau diajak menikah karna kupikir dia pria yang baik, tidak pernah dekat dengan wanita apa lagi berpacaran, aku merasa bangga menjadi wanita pertama dihidupnya." Clara menghela nafas sejenak, "Sampai dihari hari pernikahan kami, dan dimalam pengantin itu, dia tidak menyentuhku sama sekali. Aku pikir dia lelah karna pesta pernikahan kami, namun hari berganti, dia tetap tidak pernah menyentuhku. Bahkan sampai satu tahun berlalu kondisi rumah tangga kami semakin memburuk, aku pergi dari rumah saat tidak tahan lagi dengannya dan juga ibunya, tapi saat aku kembali kerumah untuk mengambil barangku, aku melihatnya sedang bercumbu bersama kekasih sesama jenisnya." Clara terdiam mencoba mengatur emosinya. "Dia hanya menjadikan aku sebuah peran di drama pernikahan yang dia buat sendiri untuk menutupi prilaku menyimpangnya."
Aldrich semakin mengeratkan dekapannya. Terlalu bahagia membuatnya hingga sulit untuk berkata, Aldrich mencintai Clara apa adanya, Aldrich mencintai kepribadian Clara, dan Aldrich tidak pernah perduli dengan apa yang terjadi dimasa lalu Clara, yang penting sekarang adalah Clara milik Aldrich seorang.
"Ra, Om Tristan yang menjadi peengacaramu? Apa Om Tristan dan Chelsea tau soal ini?" Tanya Aldrich pada akhirnya.
"Aku pikir Chelsea diam diam akan memberitahumu, tapi ternyata Chelsea menepati janjinya." Jawab Clara yang cukup mewakili rasa penasaran Aldrich.
Aldrich mengecup puncak kepala Clara, "Hiduplah dengan bahagia bersamaku, Ra. Aku janji akan selalu membahagiakanmu." Ucapnya tepat di ubun ubun Clara.
Clara mendongakan kepalanya dan menatap wajah Aldrich. "Terimakasih tlah mencintaiku apa adanya, Al. Aku mencintaimu." Ucapnya.
__ADS_1
Aldrich mengecup kening Clara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...