
Ini kali pertama Alaska akan menginap dirumah keluarga Davan sebagai suami dari Jihan. Alaska masuk kedalam kamar Jihan dan melihat Jihan sedang menysui Jove dengan posisi membelakangi Alaska.
Bahu kanan hingga leher jenjang Jihan terekspos karna Jihan mengikat rambutnya tinggi, membuat Alaska menelan salivanya kasar.
"Ternyata menahan hasrat lebih berat dari pada hanya menahan rindu." Batin Alaska.
Jihan menoleh saat pintu kamar ditutup oleh Alaska. "Kak, aku lupa belum menyiapkan air hangat untukmu." Kata Jihan yang masih dengan posisi yang sama.
"Tidak apa, Ji. Aku bisa siapkan sendiri." Jawab Alaska. "Dimana handuk untukku, Ji?" Tanya Alaska.
"Aku belum bilang bibi untuk mengambilkan handuk bersih, sebentar ya Kak." Ucap Jihan.
"Pakai handukmu saja ya, Ji. Badanku sudah lengket, ingin segera mandi." Ucap Alaska.
Jihan merasa tidak enak, "Tapi emangnya gak apa apa, Kak?" Tanya Jihan.
"Gak apa apa, Ji. Kita kan sudah jadi satu." Kata Alaska tersenyum meski Jihan tidak melihatnya.
Alaska bergegas mandi, sementara Jihan berdiri dan menepuk nepuk pelan punggung Jove untuk membantu Jove bersendawa.
Lima belas menit kemudian, Alaska selesai dengan acara ritual mandinya, ia sudah memakai pakaian lengkap berupa celana pendek dan kaos oblong miliknya yang berada di mobilnya.
"Jove sudah tidur?" Tanya Alaska sambil mendekat kearah Jihan.
"Sudah. Tapi sepertinya Jove pup, Ini mau ku ganti diapersnya dulu." Kata Jihan.
"Biar aku saja, Ji." Kata Alaska antusias.
Alaska juga menyiapkan air hangat dan kapas bulat untuk membersihkan Jove, kemudian dengan telaten mengeringkannya dan memakaikannya diapers baru pada Jove. Jihan yang melihatnya merasa kagum, Alaska cepat sekali belajar mengganti diapers.
"Tidurlah, Ji. Kau pasti lelah. Biar aku yang menimang Jove." Ucap Alaska lalu menimang nimang Jove.
"Kakak tidak lelah?" Tanya Jihan.
"Aku lelah, tapi lelahku terbayarkan dengan menimang Jove." Jawabnya yang membuat Jihan menjadi melted.
"Oh ya, Ji. Mulai besok kamu pompa saja asimu, aku akan menyiapkan freezer untuk dikamar juga alat untuk menghangatkan asi. Biar setiap malam, aku saja yang menyusui Jove." Kata Alaska lagi.
"Memang kakak tidak cape?" Tanya Jihan.
Alaska mendekat pada Jihan, "Aku melewatkan masa kehamilanmu mengandung Jove. Aku akan menebusnya dengan cara seperti ini, mengurus Jove saat malam dan mengajaknya berbicara jika dia sedang tidak tidur. Aku tidak mau Jove merasa asing padaku, Ji." Kata Alaska.
"Asing? Asing bagaimana maksudnya?" Tanya Jihan heran.
"Aku baca di artikel, katanya bayi didalam perut harus sering diajak bicara agar pas lahir tidak merasa asing dengan Daddynya." Ucap Alaska. "Selama kau hamil kan aku melewatlan hal itu, Ji. Karna itu aku mau setiap Jove sedang tidak tidur, aku akan mengajaknya berbicara." Kata Alaska lagi.
Jihan tersenyum, "Hmm so sweet banget Daddynya Jove."
Alaska juga ikut tersenyum. "Aku akan menjadi orang yang pertama Jove cari jika dia membutuhkan sesuatu." Katanya dengan sungguh sungguh.
Jihan terlelap terlebih dahulu, sementara Alaska masih menimang Jove. "Anak Daddy bobo ya, bangun kalau haus aja ya, gak boleh nyusahin Mommy." Kata Alaska entah untuk keberapa kalinya.
Alaska menidurkan Jove di box bayi dengan hati hati, kemudian menyelimutinya. Setelahnya Alaska menuju tempat tidur untuk tidur bersama Jihan, Alaska juga membenahi selimut Jihan dan mencium kening Jihan, hal itu membuat Jihan sedikit terganggu.
"Jove sudah tidur?" Tanya Jihan dan Alaska mengangguk.
__ADS_1
"Tidurlah." Kata Alaska dengan lembut.
Jihan tersenyum, "Kakak tidak memelukku?" Tanya Jihan dan langsung membuat Alaska tersenyum.
Tanpa menunda, Alaska langsung merapatkan dirinya, tidur satu selimut dengan Jihan dan membawa Jihan kedalam dekapannya.
"Rumah tangga ini ibadah terpanjang, Ji. Semoga kamu mau slalu menjalaninya bersamaku." Ucap Alaska tulus dan Jihan mengangguk didalam dekapan Alaska.
**
Sementara dikamar yang lain, Jidan baru saja keluar dari dalam kamar mandi, ia mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
Amel yang melihatnya segera mendekat pada Jidan dan membantunya. Amel berjinjit untuk bisa membantu Jidan mengeringkan rambutnya.
"Kamu tinggi sekali." Kata Amel yang kini membantu mengeringkan rambut Jidan.
"Kamu yang terlalu pendek." Balas Jidan.
"Ishh.. Aku bukan pendek tapi imut." Ucap Amel percaya diri.
Jidan mengecup bibir Amel sekilas, "Kamu cantik, sedari kecil kamu sangat cantik." Kata Jidan.
"Kamu juga tampan, sedari kecil juga tampan, dan irit bicara. Kamu hanya bicara dengan Jihan saja dan tidak pernah bergaul." Kata Amel yang kini tangannya melingkar di leher Jidan.
"Karna miskin membuatku tidak percaya diri." Ucap Jidan.
"Sekarang? Sudah lebih percaya diri?" Tanya Amel.
Jidan mengangguk, "Dulu, Jihan yang membuatku percaya diri. Sekarang ada kamu yang membuatku percaya diri." Jawab Jidan.
"Kamu mau tinggal disini, atau mau pisah dengan orang tuku, Mel?" Tanya Jidan sambil mengusap lembut kepala Amel.
"Bolehkah jika tinggal dirumah ini, Jid?" Ibu dan Ayahmu sangat baik padaku, banyak yang ingin aku pelajari dari ibumu, mengapa bisa membuatmu jadi anak yang begitu baik dan penuh tanggung jawab." Kata Amel.
"Menurutmu aku orang yang seperti itu?" Tanya Jidan.
Amel mengangguk, "Aku terkadang iri pada Jihan, memiliki saudara lelaki yang begitu menyayanginya. Kamu tau sendiri keluargaku, kakakku perempuan semua, merantau dan menikah ditempat rantauannya, lalu mereka melupakanku begitu saja." Kata Amel dengan sendu.
Jidan membelai rambut Amel, "Sekarang ada aku yang akan menjagamu, jangan bersedih lagi." Kata Jidan dan Amel mengeratkan pelukannya.
"Mel.." Panggil Jidan lirih.
"Hem.." Jawabnya singkat.
"Kamu lelah, tidak?" Tanya Jidan dan Amel tau maksud Jidan.
Ini adalah malam pertama mereka sebagai suami istri, Jidan mempunyai hak penuh atas dirinya.
"Kamu mau malam ini, Jid?" Tanya Amel dengan malu malu.
"Bolehkah, Mel?" Tanya Jidan lagi.
Amel menganggukan kepalanya, Jidan mencium ubun ubun Amel sambil mendoakan kebaikan untuk istrinya itu.
Perlahan ciumannya turun ke kening dan berlabuh agak lama. Turun kehidung dan ke bibir manis Amel.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Ucap Jidan lalu mulai memagutnya.
Amel melingkarkan tangannya dileher Jidan, terbawa oleh permainan Jidan. Jidan mendorong Amel hingga berbaring ditempat tidurnya.
"Kamu benar tidak lelah?" Tanya Jidan sekali lagi.
Amel merasa bahagia karna Jidan begitu perduli dengan kondisinya, Jidan begitu perhatian terhadap dirinya.
"Tidak, lakukanlah kewajibanmu, Jid." Kata Amel.
Perlahan Jidan kembali menciumi bibir Amel, tangannya mulai berani melepas kancing piyama yang Amel kenakan. Sesekali tangannya menelusup kedalam pembungkus lalu membuka kaitannya.
"Ashhh.. Jid..." Panggil Amel saat Jidan menggesek gesekan juniornya tepat di miliknya.
Pikiran Amel mulai bertraveling, sebesar apa milik Jidan karna begitu keras terasa.
"Jid, aku takut." Kata Amel menahan pinggul Jidan meski mereka masih mengenakan segitiga ********** saja.
"Aku akan pelan pelan." Jawab Jidan sambil merapihkan anak rambut Amel.
"Tapi katanya sakit, Jid." Kata Amel sedikit meringis karna membayangkannya.
"Hanya sedikit, Mel. Selebihnya pasti enak." Balas Jidan sedikit merayu.
Amel menggigit bibir bawahnya, dan Jidan segera memagutnya kembali. Jidan membuat Amel sedikit rilex dengan ciumannya, beberapa kali Jidan menghisap titik titik sensitif di tubuh Amel sambil menurunkan penutup terakhir.
"Aku mulai ya, Mel." Kata Jidan sambil mengarahkan miliknya ke milik Amel. "Beritahu aku jika kamu merasa tidak nyaman."
Amel kembali menggigit bibir bawahnya saat milik Jidan menyentuh miliknya.
Jidan terus menatap wajah Amel dengan penuh cinta, sesekali mendorong miliknya dan Amel mencengkram erat bahu Jidan.
"Sakit?" Tanya Jidan lembut.
Amel mengangguk.
"Tahan ya, sedikit lagi." Ucapnya memastikan.
Jidan menenggelamkan kepalanya diceruk leher Amel, bersamaan dengan miliknya yang terdorong dan masuk sempurna.
"Terimakasih, sayang." Bisik Jidan lembut. Jidan merasakan aliran hangat mengalir dipangkal pahanya.
Setelah mengistirahatkannya sebentar dan membuat Amel rilex kembali, perlahan Jidan mulain menggerakan pinggulnya, memaju mundurkannya hingga membuat rasa sakit berganti dengan kenikmatan.
"Aku mencintaimu, Amelia Saputri." Erang Jidan dipuncak pelepasannya.
Jidan ambruk diatas Amel dan menahan tubuhnya dengan satu tangannya.
Dengan nafas yang masih terengah engah. Sementara Amel membelai rambut Jidan dengan sayang.
"Aku berharap semoga benihku cepat tumbuh di rahimmu." Kata Jidan.
Amel tersenyum dan mengecup bibir Jidan sekilas. "Aku juga berharap seperti itu."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1