BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 98


__ADS_3

Jihan menggelengkan kepalanya samar, "Aku tidak tau. Aku juga tidak bisa membedakannya." Jawab Jihan.


"Jadi...?" Tanya Gibran.


Jihan balik menatap mata Gibran yang sedari tadi terus menunggu jawaban Jihan. Lalu Jihan tersenyum dan menganggukkan kepalanya, seketika membuat Gibran langsung mengembangkan senyumnya.


"Terimakasih untuk kesempatan yang kamu berikan, Ji." Kata Gibran.


Jihan tersenyum, "Bolehkah aku memberitahu, Jidan?" Tanya Jihan.


"Kita tidak sedang merahasiakan hubungan kita, Ji." Ucap Gibran. "Kita go public ya." Katanyanya lagi dan diangguki oleh Jihan.


Jihan mengangguk. "Trimakasih, Gab. Aku akan slalu berusaha untuk membalas cintamu." Kata Jihan.


Gibran menggelengkan kepalanya, "Itu tugasku, aku akan membuatmu jatuh cinta padaku." Gibran mengecup punggung tangan Jihan.


Hari itu mereka resmi menjadi pasangan kekasih, Jihan memberikan kesempatan pada Gibran. Jihan pun berjanji pada dirinya sendiri akan membuka hatinya untuk Gibran.


Sore hari Jihan kembali kerumahnya, karna ia membawa mobil sendiri, membuat Gibran tidak bisa mengantarkannya, namun mereka membuat kesepakatan, 2 dari 5 hari masa kerja, Gibran akan mengantar jemput Jihan, dan 3 harinya Jihan akan membawa kendaraannya sendiri.


Jihan masuk begitu saja kekamar Jidan, "Jid..." Panggil Jihan.


"Hem.." Jawab Jidan datar yang masih menatap layar laptopnya.


"Aku ingin bicara." Kini Jihan duduk disofa. "Bisakah kau mendengarkanku?" Tanyanya.


Jidan menutup laptopnya, berdiri dan langsung duduk bersama Jihan. "Ada apa?" Tanyanya.


"Gab menyatakan cinta padaku." Kata Jihan mulai bercerita. "Apa itu aneh?" Tanya Jihan.


Jidan menghela nafas namun sesudahnya ia tersenyum, "Akhirnya dia menyatakan cintanya juga padamu."


"Kau tau itu, Jid?" Tanya Jihan.


"Gibran memang menyukaimu, aku bisa melihatnya dari caranya menatapmu." Jawab Jidan.


"Menurutmu, Gibran cinta atau obsesi terhadapku, Jid?" Tanya Jihan lagi.


Jidan tersenyum, tangannya mengusap rambut Jihan, "Menurutku dia benar menyukaimu sejak kecil, karna itu dia slalu mencari gara gara denganmu."


"Kau merestuinya, Jid?" Tanya Jihan ragu ragu.


Jidan mengangguk, "Aku percaya, Gab akan menjagamu seperti aku menjagamu, Ji."


Jihan memeluk Jidan. "Tapi kau harus terus menjagaku, Jid. Seumur hidupmu."


Jidan tertawa, "Tidak bisa, Ji. Suatu saat aku harus menikah juga dan menjaga wanita yang akan menjadi istriku." Kata Jidan.


Jihan melerai pelukannya, "Siapa wanita beruntung itu, Jid?"


Jidan menghela nafasnya, "Aku tidak tau." Kata Jidan.

__ADS_1


"Oh ya, Ji. Beberapa hari lagi aku akan stay di Jogja. Manajemen hotel disana sedang kacau, aku harus tangani langsung."


"Berapa lama?" Tanya Jihan seolah tak rela.


"Paling cepat satu bulan." Jawab Jidan.


"Andai pekerjaanku tidak banyak, aku juga ingin ke Joga, tempat penuh perjuangan kita semasa kecil ya, Jid." Kata Jihan sambil mengenang.


"Apa menurutmu aku harus membeli rumah yang pernah kita tumpangi, Ji?" Tanya Jidan. "Beberapa waktu lalu aku menerima kabar jika pemiliknya sudah meninggal dan rumah itu akan dijual oleh ahli warisnya."


"Beli saja, Jid. Kita hadiahkan untuk Ibu." Kata Jihan antusias.


"Hadiah dariku untuk mu dan Ibu." Jidan mengusap lembut kepala Jihan. "Kau harus bahagia ya, Ji. Smoga Gibran pria yang tepat untukmu." Doa tulus dari Jidan.


"Aamiin, dan semoga kau mendapatkan seorang wanita disana, Jid." Kata Jihan sambil tertawa.


Ceklekk.


Suara pintu terbuka menampilkan sosok Davan.


"Kalian disini, Twins?" Tanya Davan.


"Masuklah, Yah." Kata Jidan.


Davan melangkahkan kakinya. "Kalian sedang curhat apa?" Tanya Davan yang kini bergabung dengan anak kembarnya.


"Jidan akan berangkat ke Jogja, Yah." Kata Jihan.


"Ya, dan Jihan sudah memiliki kekasih, Yah." Balas Jidan.


"Hei, kau tidak sedang main rahasia rahasiaan kan?" Tanya Jidan lagi pada Jihan.


Davan sedikit terkejut, pasalnya beberapa waktu yang lalu, Aldrich mengabari jika Alaska terlihat mulai tertarik dengan Jihan.


"Tunggu." Sahut Davan.


"Jihan memiliki kekasih?" Tanyanya.


Jidan mengangguk sementara Jihan mengerucutkan bibirnya.


"Siapa?" Tanya Davan.


"Pemilik GAB Travel and Tours, Yah." Jawab Jidan.


Davan benar benar terkejut, lalu ia menatap sang putri. "Benar itu, Ji?" Tanya Davan.


Jihan mengangguk samar. "Bolehkah, Yah?" Tanya Jihan.


Hati Davan merasa kecewa, namun ia tidak ingin memperlihatkannya kepada kedua anak kembarnya. Davan memang masih mengharapkan Jihan menikah dengan Alaska.


Davan menunduk kemudian tersenyum, lalu mengangkat wajahnya untuk menatap wajah Jihan. "Semoga dia pilihan yang tepat untukmu, Ji." Kata Davan sebisa mungkin agar tidak terlihat kecewa.

__ADS_1


"Terimakasih Yah." Ucap Jihan.


"Ayo, tidurlah. Jangan mengganggu Jidan, dia juga harus istirahat." Ajak Davan.


"Jid, aku balik kekamar dulu ya, terimakasih sudah mau mendengarkan curhatku. Kau memang saudara terbaikku." Kata Jihan dan diakhiri dengan ciuman dipipi Jidan.


Davan merangkul pundak Jihan saat keluar dari kamar Jidan menuju kamarnya sendiri.


"Yah..." Panggil Jihan saat sudah berada didepan pintu kamarnya.


"Hem.." Jawab Davan.


"Apa Ayah kecewa padaku?" Tanya Jihan.


"Apa kau bahagia, Ji?" Tanya Davan balik.


"Biasa aja sih, Yah. Karna aku juga sedang belajar membalas perasaan Gab." Jihan menjeda kalimatnya sejenak, "Tapi hati aku sedikit merasa senang, Yah." Ucapnya lagi.


"Ayah mungkin sedikit kecewa, Ji. Tapi Ayah akan lebih kecewa dan mungkin menyesali pilihan Ayah jika kamu dan Jidan pergi dari hidup Ayah." Jawab Davan jujur.


"Ayah mendukung apapun pilihanmu, yang penting kau nyaman dan tidak terpaksa." Lanjutnya lagi.


Jihan memeluk Davan, "Ayah adalah Ayah terbaik yang Jihan miliki. Terimakasih, Yah." Ucap Jihan tulus.


Davan mengecup puncak kepala Jihan, "Tidurlah, Ji."


"Selamat Malam, Ayah, aku menyayangimu." Jihan mencium pipi kanan dan kiri Davan lalu masuk kedalam kamarnya.


Davan menghela nafas setelah Jihan menutup rapat pintunya, ia melangkahkan kakinya menuju kamarnya sendiri.


Dilihatnya Billa yang baru saja membersihkan wajahnya di meja rias.


"Aku habis melihat Jidan dan Jihan." Kata Davan yang kini duduk di tepi tempat tidur. "Jihan sudah memiliki kekasih, pemilik GAB Travel and Tours." Ucap Davan tak bersemangat.


Billa mendekati Davan dan duduk disebelahnya. "Benarkah?" Tanya Billa.


Davan mengangguk, "Kau tau apa yang membuatku kecewa, Dear?"


"Kau kecewa karna Jihan tidah menikah dengan Alaska?" Tebak Billa.


Davan menggelengkan kepalanya. "Karna bukan aku yang Jihan cari untuk pertama kali bercerita, Aku bukan cinta pertama untuk putri kandungku sendiri." Davan menghembuskan nafas beratnya.


Billa mengerti apa yang di maksud oleh Davan, "Jidan dan Jihan tidak terpisahkan, Mas. Mereka sudah bersama sedari dalam kandungan, lahir bersama, hidup bersama dan tumbuh bersama."


"Aku menyesali semua perbuatanku di masa lalu, yang membiarkan kau pergi dan membuat Jidan dan Jihan tidak merasakan kasih sayangku sebagai Ayah." Kata Davan penuh penyesalan.


"Kau sudah jadi Ayah yang baik, Mas. Jidan dan Jihan begitu menyayangimu." Ungkap Billa menenangkan perasaan berasaan bersalah Davan.


"Kau membesarkan mereka dengan begitu baik, Dear. Mereka saling menjaga satu sama lain, mereka saling mencari satu sama lain ketika merasa susah dan senang. Terimakasih karna kau mau memberikanku banyak kesempatan." Davan mengecup kening Billa dengan penuh sayang.


"Aku mencintaimu, Mas. Aku tidak menyangka jika kamu bertahan dan tidak menikah lagi." Ungkap Billa.

__ADS_1


"Karna aku hanya mencintaimu, Dear. Hanya kamu."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2