BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 60


__ADS_3

Stevi mengajak Clara berbelanja keperluan bayi disebuah Mall.


Clara tidak menyangka jika kali ini ia mendapatkan mertua yang sangat baik sekali. Apapun kebutuhan Clara, Stevi slalu memenuhinya.


"Ma.. Ini lucu ya." Kata Clara Sambil menunjukan baju romper bertuliskan like father like son.


Stevi melihat baju itu, "Ah lucu sekali. Ambil Ra." Kata Stevi. "Kalian sudah nenyiapkan nama?" Tanya Stevi.


"Aldrich maunya, nama anak kami ini awalan Al juga. Katanya biar sama kayak Papap Alfarizi dan juga nama Aldrich sendiri." Jawab Clara.


Stevi menepuk tangannya, "Wahh, Aldrich pintar juga. Kira kira siapa ya namanya." Pikir Stevi.


Bulan berganti, Aldrich memutuskan Clara untuk melahirkan dengan cara operasi, karna ia tidak ingin melihat Clara kesusahan saat mengejan, terlebih Clara memiliki asma meski sudah lama tidak kambuh.


Aldrich dengan setia menemani Clara diruangan operasi, tangannya terus mengusap pipi Clara.


"Al, siapa nama anak kita?" Tanya Clara pelan.


"Alaska King Dewantara." Jawab Aldrich. "Bagus gak, Ra?"


"Bagus." Jawab Clara. "Aku suka."


Oekk Oekk..


Suara bayi memecah ketegangan diruangan itu.


Aldrich mengecup kening Clara. "Alaska lahir, Ra." Kata Aldrich dengan mata menggenang.


"Kamu adzanin ya, Al." Pinta Clara.


Aldrich mengangguk, "Aku lihat putra kita dulu, Ra. Nanti aku kesini lagi."


Semua menyambut dengan suka cita anggota baru keluarga Dewantara itu, Stevi menggendong cucunya dengan penuh kasih sayang, Ia tak menyangka jika secepat ini mendapatkan generasi penerusnya.


**


"Kak, hari ini akikah nya Alaska." Kata Chelsea pada Zayn.


"Kamu datang sama Mama, Ya. Aku ada bimbingan mahasiswa nanti." Jawab Zayn sambil mengancingkan kemejanya.


"Aku nih kemana mana slalu sama Mama, padahal udah punya suami." Ucap Chelsea.


Zayn menoleh kearah Chelsea. "Kamu koq ngomongnya gitu sih, Sea?"


"Kak Zayn mikir gak sih, disetiap moment apa aku slalu datang sendiri, mereka slalu menanyakan Kakak kemana? Aku juga ingin Kakak dampingin aku disetiap acara, Kak." Chelsea mengeluarkan unek uneknya yang slama ini terpendam.


"Sea, jangan kekanak kanakan. Aku kan harus bekerja untuk menafkahi rumah tangga kita." Ucap Zayn. "Kamu kan tau sendiri, selain mengajar, aku juga mengurus yayasan dan juga universitas."


"Terus kapan Kakak mengurus aku dan Rayyan? Kami juga butuh waktu Kakak. Aku butuh figur seorang suami dan Rayyan butuh figur seorang Ayah." Chelsea menghela nafasnya. "Kakak suami aku, tapi aku lebih sering bersama Davan." Lirih Chelsea.

__ADS_1


"Sea, kamu tau kan kalau aku...."


"Sibuk dan banyak kerjaan?" Tanya Chelsea sinis. "Aku tau kak, tapi Kakak tau gak kewajiban seorang suami selain mencari nafkah?" Tanya Chelsea.


Chelsea berdiri dan menggendong Rayyan lalu berdiri dihadapan Zayn. "Silahkan Kakak sibuk dan asik dengan dunia pekerjaan Kakak, jangan salahkan aku jika aku dan Rayyan terbiasa tanpa adanya Kakak lalu kami tak menganggap Kakak ada ataupun tidak ada." Chelsea meninggalkan Zayn yang masih berdiri untuk keluar dari kamarnya.


Chelsea menggendong Rayyan yang masih berumur empat bulan, ia menuruni tangga dengan wajah yang kesal.


"Chel.." Panggil Ghea saat melihat menantunya itu terlihat tidak baik baik saja.


Chelsea menghentikan langkahnya saat Ghea mendekatinya.


"Mau kemana?" Tanya Ghea lembut.


"Maaf, Ma.. Chelsea mau kerumah Papi." Jawab Chelsea.


Ghea tau jika Chelsea tengah tidak baik baik saja. "Bertengkar dengan Zayn?"


Chelsea hanya diam.


"Chel.." Panggil Ghea lagi.


"Tidak Ma, kami tidak sedang bertengkar." Jawab Chelsea berbohong.


Ghea tersenyum, Chelsea memang bukanlah tipikal wanita yang suka mengadu, bahkan Chelsea cenderung menyimpan perasaannya sendiri.


"Tidak baik jika meninggalkan rumah dalam kondisi emosi dan marah, Chel." Kata Ghea mencoba berbicara lembut pada menantunya itu.


Ghea mengambil Rayyan dari gendongan Chelsea dan memberikannya pada PRT yang kebetulan melewati Ghea dan Chelsea. Ghea mengajak Chelsea untuk duduk ditaman belakang dan berbicara dari hati ke hati dan menenangkan Chelsea.


"Ceritakan pada Mama." Kata Ghea sambil mengusap punggung Chelsea.


Chelsea menggelengkan kepalanya. Ia tidak enak jika membicarakan suaminya sendiri.


"Zayn memukulmu?" Tanya Ghea.


Chelsea menggelengkan kepalanya.


"Ada orang ketiga diantara kalian?" Tanya Ghea lagi.


Lagi lagi Chelsea menggelengkan kepalanya.


Ghea menghela nafas, sungguh dua hal itu adalah dua hal yang paling ditakutkan oleh Ghea.


"Kak Zayn terlalu sibuk dengan dunianya sendiri, Ma.." Ucap Chelsea tiba tiba.


Ghea dengan sabar mendengarkan keluh kesah menantunya itu.


"Awalnya Chelsea kira, Kak Zayn seperti itu karna kami belum juga dikaruniai anak. Tapi ternyata setelah memiliki Rayyan, Kak Zayn tetap sibuk seperti itu." Ucap Chelsea.

__ADS_1


"Chelsea merasa lelah sendiri, Ma. Apalagi Chelsea sering pergi hanya seorang diri dan lelah mendengar pertanyaan orang yang menanyakan mana suami Chelsea. Termasuk hari ini saat nanti kita ke acara akikahnya Alaska."


Ghea dapat mengerti perasaan menantunya itu, Zayn memang jiplakan dari Fadhil, tapi sesibuk apapun Fadhil slalu keluarga menjadi prioritas.


"Sudah dibicarakan dengan Zayn?" Tanya Ghea.


Chelsea mengangguk pelan, "Kak Zayn hanya bilang jika banyak pekerjaan, dari mulai mengajar, mengurus yayasan dan juga universitas."


"Maafkan putra Mama ya, Chel..Biar nanti Mama yang bicara dengan Zayn." Kata Ghea.


"Tidak perlu, Ma.. Biarkan saja Kak Zayn merasa benar dengan pemikiriannya, Chelsea sudah lelah dan enggan berdebat."


"Chel..." Panggil Ghea.


Rayyan menangis dan Chelsea menghampiri putranya itu. "Chelsea kerumah Papi dulu ya, Ma." Pamit Chelsea.


Ghea segera naik kekamar Zayn, dilihatnya sang putra sedang duduk sambil memegang kepalanya. Ghea duduk percis disebelah Zayn.


"Zayn.. Apa kamu menyayangi Mama?" Tanya Ghea.


"Tentu saja, Ma." Jawab Zayn.


"Tapi tadi Chelsea menangis, hati Mama sakit, Zayn. Mama merasa tlah gagal mendidikmu." Kata Ghea hati hati.


"Chelsea menangis, Ma?" Tanya Zayn yang sedikit mulai panik.


"Chelsea adalah tempatmu pulang, Zayn. Jangan tertipu daya oleh pekerjaan duniawi. Chelsea dan Rayyan adalah rumah untukmu, apa yang kau kejar?" Tanya Ghea.


"Apa kau ingin kehilangan Chelsea dan terus tenggelam dalam kesibukan?" Tanya Ghea.


"Mama kecewa, Zayn. Harusnya kamu bisa berpikir bahwa Chelsea sudah mengorbankan banyak hal untukmu, bersusah payah mengandung anakmu, melahirkan dengan bertaruh nyawa, bahkan menyusui anakmu dengan Asi nya langsung, bahkan Chelsea resign dari pekerjaannya dan mengabdikan hidup untuk mengurus anakmu."


Zayn hanya diam mendengarkan apa yang disampaikan oleh mama nya itu.


"Zayn, apa pekerjaanmu sangat banyak?" Tanya Ghea. "Apa setiap malam jika Chelsea terbangun untuk menyusui Rayyan, kau juga ikut terbangun?" Tanya Ghea yang cukup menohok hatinya.


Zayn menggelengkan kepalanya.


"Untuk apa kamu bekerja keras jika pada akhirnya kamu kehilangan Chelsea dan Rayyan." Ucap Ghea yang membuat Zayn kembali berpikir.


"Pikirkanlah, Zayn.. Karna semua yang sudah berubah tidak akan bisa kembali sama."


"Maafin Zayn, Ma." Kata Zayn.


"Minta maaflah pada Chelsea. Kamu menyakiti ibu dari anakmu, Zayn. Tolong jangan seperti itu."


"Zayn gak bermaksud menyakiti Chelsea, Ma."


"Tidak ada yang berniat menyakiti pasangan kita, Zayn. Yang Mama takutkan, Chelsea tengah mengalami baby blues, hanya dukungan orang sekitarnya terutama kamu sebagai suaminya yang mampu membuat Chelsea merasa semangat kembali."

__ADS_1


Semua ucapan Ghea masuk kedalam pikiran Zayn. Ia menyadari bahwa dirinya banyak mengabaikan snag istri. Padahal Chelsea baru saja menjadi seorang ibu, dan bisa saja mengalami baby blues.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2