BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 50


__ADS_3

Keesokan harinya, Billa mendatangi kantor Davan dengan masih mengenakan seragam sekolahnya, ia tengah bingung berdiri di sebrang gedung, ia ragu untuk masuk kedalam gedung.


perusahaan besar yang berkembang dibidang hotel dan resort itu sangatlah besar, mengingat sudah lebih dari enam puluh tahun sejak Erick mendirikan perusahaan resminya itu.


Perushaan itu kini dipegang oleh generasi ketiga, yakin Damian putra Brian dan Davan sebagi putra dari Ghea, sedangkan Aldrich meskipun ia hanya cucu tiri, Aldrich tetap mendapatkan saham diperusahaannya itu. Terlebih karna Aldrich memiliki perusahaan sendiri dari kakek buyutnya yang diwariskan pada sang nenek, lalu turun ke Ayahnya dan kini dijalankan oleh Aldrich, jadi sangat tidak mungkin Aldrich ikut mengelola perusaan Erick itu.


Zayn memang tidak mau terjun kedunia bisnis, ia mewarisi sifat Fadhil sang Ayah yang lebih menyukai dunia pendidikan dan mendirikan yayasan pendidikan dan menyediakan beasiswa bagi siswa berprestasi bersama sang Ayah.


Akhirnya Billa melangkahkan kakinya masuk kedalam perusahaan dimana Davan menjabat sebagai CEO. Billa mengedarkan pandangannya lalu matanya tertuju pada resepsionist dan menghampirinya.


"Permisi, Mbak." Ucap Billa sopan.


Seorang gadis yang duduk dikursi meja resepsionist itu berdiri dan tersenyum. "Iya Dek, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya.


"Maaf mbak, saya mau tanya, kalau mau ketemu Pak Davan gimana ya? Soalnya saya gak bisa hubungin beliau." Kata Billa ragu.


"Apa maksud anda Bapak Davanka Fadhilah Latief? CEO disini." Tanya resepsionist itu meyakinkan.


Billa bingung karna ia tidak mengetahui nama lengkap Davan. "Saya tidak tau nama panjangnya, tapi saya disuruh datang kesini dan bertemu dengan beliau."


"Boleh sebutkan nama anda? Biar saya hubungi dulu staff CEO." Ucapnya ramah.


"Nabilla." Jawab Billa.


Resepsionist itu menghubungi staff CEO kemudian ia mengangguk anggukan kepalanya. Setelah menunggu beberapa saat, resepsionist itu mengajak Billa untuk naik kelantai dimana Davan bekerja.


"Mari saya antar." Kata Resepsionist itu.


Mereka naik kelantai atas menggunakan lift. Hingga tiba di tujuan. Seorang pria sudah menunggunya didepan lift.


"Kamu ikut sama Pak Samsul, nanti dia yang antarkan keruangan Pak Davan." Kata resepsionist lalu undur diri.


"Silahkan Nona Billa, ikut saya." Kata pria yang mungkin berusia diatas Davan itu.


Samsul mengantar hingga masuk kedalam ruangan Davan.


"Pak ini tamu anda." Kata Samsul dengan hormat.


Davan mendongakan kepalanya, melihat gadis remaja dihadapannya dengan pakaian seragam sekolah putih abu abu, dengan menggendong ranselnya khas anak sekolah.


"Oke, trimakasih." Ucap Davan. "Oh ya, jika ada Aldrich dari DW group, bilang saya tidak ada, antarkan saja langsung Aldrich ke ruangan Kak Dami." Ucapnya lagi.

__ADS_1


Samsul yang sedikit heranpun hanya menganggukan kepalanya lalu undur diri.


Davan berdiri dan menuju sofa yang ada didalam ruangannya, Billa pun mengekorinya.


"Duduk." Kata Davan pada Billa.


Billa duduk bersebrangan dengan Davan. "Kamu dari sekolah langsung kesini?" Tanyanya.


Billa mengangguk, "Iya Om."


"Gak kerumah dulu terus ganti baju baru kesini?"


Billa menggelengkan kepalanya, "Nanti lama, Om. Bisa mengurangi waktu bekerjaku."


Davan mengangguk anggukan kepalanya.


"Keluarkan bukumu." Kata Davan.


Billa mengeluarkan beberapa buku yang memang ia bawa.


Davan nengambil satu buku dengan tulisan tes ujian. "Ini buku soal ujian dua tahun lalu, kamu tidak punya untuk menghadapi soal ujian tahun ini?" Tanya Davan.


"Tapi ini sudah terisi sebelumnya kan." Kata Davan kemudian Davan berdiri dan menelpon Samsul untuk segera keruangannya.


"Carikan buku latihan soal menghadapi ujian yang baru." Kata Davan. "Satu jam dari sekarang harus sudah ada." Ucapnya lagi. "Dan bawakan kami makan siang."


Samsul segera keluar untuk mencari buku yang dimaksud Aldrich. Beruntung perusahaan Davan bersebelahan dengan Mall hingga memudahakan Samsul mencarinya di toko buku ternama.


"Om, aku kan kesini untuk bekerja, kenapa jadi pusingin soal buku." Kata Billa.


"Kerjaan kamu ada hubungannya dengan buku itu." Jawab Davan kemudian kembali duduk dikursi kebesarannya menyelesaikan pekerjaannya.


"Terus sekarang aku harus ngapain, Om?" Tanya Billa bingung.


"Duduk aja dulu sambil nunggu bukumu. Kamu pasti lelahkan pulang sekolah langsung kesini." Ucap Davan tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.


Billa menunggu dengan bosan, ia tidak memiliki ponsel untuk mengalihkan kebosanannya. Ponsel satu satunya yang ia miliki akhirnya mati total saat kembali dari study tournya.


Diam diam Davan memperhatikan gerak gerik Billa, Davan mulai berpikir, bagaimana bisa di jaman milenial begini, Billa bisa bertahan tanpa sebuah ponsel, bukankah anak muda sekarang khususnya pelajar seperti Billa sedang asik asiknya berselancar di media sosial?


Davan nengerti, Billa memang tidak seberuntung orang orang yang berada disekitarnya, hidupnya sebagai predikat anak dari kupu kupu malam membuat Billa harus tetap bertahan hidup meski dicemooh oleh banyak orang.

__ADS_1


Davan juga salut pada Billa, karna meski Billa tinggal bersama ibunya dulu, namun Billa tidak terjerumus dikehidupan bebas seperti ibunya.


Entah apa maksud Davan melakukan hal ini pada Billa, ia hanya ingin menolong sesama manusia, karna seperti yang Fadhil sering ucapkan. Menolong manusia itu sama seperti menolong diri kita sendiri.


Kurang dari satu jam, Samsul kembali membawa beberapa buku untuk latihan soal menghadapi ujian sekolah. Samsul pun membawa makanan cepat saji dari restoran jepang.


"Makan." Kata Davan sambil memberikan satu diantara dua kotak makanan yang ada kepada Billa.


Billa menerimanya dan membuka kotak makanan itu, isi kotak makanan itu membuat mata Billa berbinar karna Billa tidak pernah memakan makanan seperti itu. Daging slice dengan bumbu yakiniku, potongan eggroll dan shimproll juga salad dengan mayonise.


"Terimakasih, Om." Kata Billa tersenyum.


Davan terus memperhatikan Billa yang seolah menikmati makanan yang berada dipangkuannya itu, padahal Davan sendiri kurang nenyukai makanan cepat saji, Davan terbiasa makan makanan yang dimasak langsung karna Ghea slalu memasakannya setiap hari.


"Kamu suka sama makanannya?" Tanya Davan.


Billa mengangguk, "Seumurku, ini baru pertama kali aku makan makanan jepang begini, Om." Jawab Billa.


"Memang berapa umurmu?" Tanya Davan.


"Selesai lulus ujian, umurku tujuh belas tahun." Jawabnya.


"Sama sekali belum pernah makan ini?" Tanya Davan heran sambil menunjuk kotak makanannya.


Billa menggelengkan kepalanya, "Bahkan jika aku ingin makan ayam crispy khas amerika itu, aku hanya membelinya di penjual ayam crispy pinggir jalan yang dijual sepuluh ribuan." Jawab Billa polos.


Davan tidak bertanya lebih, ia cukup mengerti dengan kondisi ekonomi Billa.


Selesai makan, Davan membuka paper bag berisikan buku buku soal latihan ujian.


"Selesaikan ini setiap kamu datang kesini." Kata Davan.


Billa mengernyitkan dahinya. "Lho, Om. Lalu kerjaanku mana?"


"Kerjaanmu ya ini. Belajar sampai kamu lulus sekolah. Aku tidak mungkin memperkerjakan seorang pelajar, bisa bisa aku kena sanksi dari komnas perlindungan anak." Jawabnya.


"Tapi, Om...." Billa hendak melayangkan protes.


"Tidak ada tapi tapian. Kamu kesini untuk belajar diruanganku setiap hari setelah pulang sekolah, dari hari senin hingga jumat. Dan aku akan tetap menggajimu, satu juta perminggu dan dibayarkan dihari Jumat." Kata Davan dengan nada tidak mau dibantah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2