
Deg...
Pikiran Davan teringat saat mengajak Billa berbicara dipinggir pantai. Billa yang tidak memiliki Ayah dan mencari pekerjaan.
"Ibumu tidak melarang kalian bekerja?" Tanya Davan menyelidik.
"Awalnya melarang, tapi kami bekerja secara diam diam. Namun tetap saja pada akhirnya Ibu tau. Dan ibu mengijinkan selama aku bisa menjaga adikku dan tidak melupakan sekolah." Jawab Jidan.
Davan melihat kearah keranjang yang dipegang oleh Jidan.
"Kubeli semua dagangan kalian. Kebetulan aku ingin membagikannya pada karywanku." Kata Davan.
Jidan mengangguk, "Ini masih ada tujuh pak lagi. 140 ribu, Pak." Ucap Jidan.
"Jid, kita bisa membeli telur untuk makan malam ini." Kata Jihan antusias. "Kita juga bisa membeli dua pasang sepatu baru untuk sekolah besok." Ucapnya lagi.
Jidan mengangguk sambil membereskan barang dagangannya.
"Terimakasih Bu, Pak." Kata Jidan hormat saat transaksi mereka sudah selesai.
Davan tersenyum dan mengusap kepala Jidan dan Jihan. "Jadilah anak yang baik, semoga kalian bisa menjadi anak yang sukses." Entah mengapa perasaan Davan begitu bergemuruh saat mengatakan hal itu pada Jidan dan Jihan.
Ghea dan Davan menatap Jidan dan Jihan yang keluar dari area perhotelan, namun lagi lagi Ghea merasa takjub saat melihat Jidan memberikan uang pecahan sepuluh ribu kepada pengemis yang duduk ditrotoar.
"Ibunya pasti membesarkannya dengan sangat baik." Gumam Ghea yang terdengar oleh Davan.
"Ya mereka anak anak anak yang baik, Ma. Mereka tidak mau aku melebihkan pembayarannya, dan kembalian untuk Mama malah mereka berikan pada pengemis." Ucap Davan yang kemudian merangkul Ghea untuk masuk kedalam hotel miliknya.
"Anak itu mirip sekali denganmu sewaktu kecil, Dav. Mungkin jika kamu mengadopsinya, orang akan menyangka itu anakmu sendiri." Kata Ghea.
"Aku sudah memiliki anak, Ma. Aku masih terus mencarinya." Jawab Davan yang kini terlihat sendu.
Ghea mengusap punggung Davan. "Mama yakin mereka akan kembali padamu."
Davan nengangguk, "Aku berharap seperti itu, Ma."
Jihan dan Jidan pulang dengan wajah berseri, mereka membeli seperempat telur untuk makan malamnya nanti bersama sang Ibu.
"Kalian sudah pulang?" Kata Billa yang sedang memersihkan rumah.
"Bu jualan kami hari ini diborong orang baik, aku bisa membeli telur untuk makan kita malam ini." Kata Jihan.
Billa duduk dikursi dan memegang kedua tangan Jidan dan Jihan.
"Bu, jangan marah, Jihan ingin sekali makan telur." Kata Jidan seolah tau jika ibu ingin mengatakan sesuatu.
"Maafkan Ibu, maafkan Ibu yang bahkan tidak bisa membeli telur untuk kalian." Kata Billa sendu.
__ADS_1
"Bu, jika nanti Jidan sudah besar, Jidan akan membahagiakan Ibu dan Jihan. Jidan tidak akan membiarkan Ibu dan Jihan bekerja." Kata Jidan membuat Billa menitikan air matanya kemudian memeluk Jidan dan Jihan.
Keesokan harinya Ghea dan Davan menuju rumah sakit tempat dimana Clara melahirkan putri ketiganya. Tempat Exekutif itu terlihat sangat nyaman, bahkan selain sofa, ada juga meja makan dan satu kamar untuk tamu. Benar benar seperti sebuah apartemen.
Davan menggendong putri kedua Aldrich yang bernama Alika.
"Melahirkan dikota orang." Kata Davan pada Aldrich.
"Tapi ini takdir, Dav. Karna Clara melahirkan disini aku bisa bertemu dengan seseorang." Kata Aldrich.
"Siapa? Mantan pacar?" Tanya Davan meledek.
"Siapa nama putri ketiga kalian?" Tanya Ghea mengalihkan pembicaraan.
"Belum tau, Tante..Yang jelas awalan huruf Al." Kata Aldrich.
"Alay saja kalau begitu." Celetuk Davan yang mendapat tatapan tajam dari Aldrich.
"Sepertinya aku berpikir dua kali untuk mempertemukanmu dengan seseorang." Ucap Aldrich sinis.
"Mau menjodohkanku? Sorry, aku sudah punya istri." Jawab Davan.
"Ya, aku akan mempertemukan dengan seseorang yang sudah berjodoh dneganmu tapi dia meninggalkanmu."
Davan kangsung menatap wajah Aldrich. "Apa maksudmu?" Tanya Davan serius. Jika sudah menyangkut nama Billa, ia tidak ingin bercanda.
Aldrich mengangguk, ia mengambil Alika dari Gendongan Davan. "Main dulu dengan Kak Alaska ya." Kata Aldrich lembut pada sang putri sambil mendudukannya dengan Alaska dimeja makan.
Aldrich mengajak Davan untuk duduk bersama di sofa dan memberika sebuah map coklat.
Davan menerimanya dengan perasaan tak menentu.
"Aku menemukan Billa dan anak anakmu." Kata Aldrich.
"Anak anak?" Tanya Ghea meyakinkan.
"Billa melahirkan anak kembar, kini usianya hampir delapan tahun." Kata Aldrich.
Ghea membekap mukutnya sendiri seolah tak percaya, Davan menuruni gen dari keluarga Fadhil yang memiliki anak kembar. Padahal dulu Ghea berharap memiliki anak kembar, namun ia slalu memiliki janin tunggal disetiap kehamilannya.
"Lihatlah, Dav. Didalam itu semua informasi mengenai istri dan anak anakmu." Kata Aldrich yang hanya melihat Davan mematung.
Ghea menghampiri Davan. "Bukalah, Mama ingin segera tau keberadaan Billa dan cucu cucu Mama, Dav."
Davan melihat wajah Ghea. "Dua, Ma. Billa melahirkan dan membesarkan dua anakku selama delapan tahun." Kata Davan yang semakin menyesali perbuatannya di masa lalu.
"Dav... Kamu baik baik saja?" Tanya Ghea khawatir.
__ADS_1
"Kuatlah, Dav. Jangan sampai mereka menghilang lagi." Kata Aldrich.
Davan segera membuka map itu, "Jidan Davanka, Jihan Davina." Gumam Davan lalu ia mengingat kejadian kemarin sore.
Nama yang sama seperti anak yang kemarin, Jidan dan Jihan.
Davan membaca tempat mereka lahir yang hanya ditolong oleh bidan desa tepat tujuh bulan setelah kepergian Billa dari rumah Ghea.
Davan pun membaca pekerjaan Billa yang hanya admin onlineshop dengan gaji satu juta perbulan. Perasaan Davan seketika bergemuruh, satu juta perbulan, bagaimana bisa Billa menghidupi dirinya dan kedua anak mereka.
Davan membuka lembar demi lembar, tentang prestasi anaknya disekolah, bahkan Jihan ia mahir bela diri diperguruan silat, sementara Jidan dia unggul semua mata pelajaran terutama matematika.
Davan membuka lembaran foto, Foto Billa yang sedang berjalan menelusuri trotoar untuk mencapai ketempat kerjanya, setiap hari Billa harus berjalan sejauh 4 KM untuk mencapai tempat kerjanya demi bisa menghemat uangnya. Penyesalan Davan pun semakin dalam.
Davan melihat kembaran foto lainnya, dimana dua anak berbeda gender sedang berjualan souvenir khas kota tersebut.
Deg..
Bukankah ini anak yang kemarin ia beli dagangannya.
Seketika Davan menjatuhkan lembaran lembaran kertas dan foto foto itu.
Ghea yang ikut melihat itupun tak karuan menahan perasannya, "kami sudah bertemu dengan mereka kemarin, Al." Kata Ghea.
"Ternyata mereka anak anakmu, Dav." Kata Ghea.
"Dimana mereka tinggal?" Tanya Davan.
"Aku tidak bisa memberitahumu. Billa terlihat shock dengan kedatanganku tempo hari." Kata Aldrich.
"Aku tidak perduli, Al. Aku harus bertemu dengan Billa." Kata Davan tidak sabar.
"Kamu akan membuat Billa pergi kembali jika kamu memaksanya. Billa masih merasa sakit hati karna mendengarmu yang berniat akan melepaskannya dan tidak memperjuangkannya." Kata Aldrich.
Davan terlihat frustasi dengan menyugar rambutnya. "Putra putriku, Ma.. Aku ingin memeluk mereka." Kata Davan terlihat kacau kembali setelah sekian lama ia stabil.
"Dav, mulailah dengan mendekatkan diri dengan JJ." Kata Aldrich.
"JJ siapa?" Tanya Davan.
"Jidan dan Jihan. Terlalu panjang jika aku menyebut nama mereka satu persatu. cukup dengan JJ saja." Kata Aldrich santai.
"Ck kau ini, sebut nama anak anakku dengan jelas!! Billa sudah memberikan nama yang begitu indah pada putra putriku." Kata Davan tegas.
Aldrich memutar malas bola matanya, "Bahkan kau menamai anak ketigaku saja dengan Alay, aku tidak komplain. Mengapa kamu keberatan aku menanggil twins dengan JJ."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1