BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 32


__ADS_3

Clara dan Joni asik mengobrol sambil menunggu Aldrich keluar dari Villa.


"Saya kira dulu bapak orangnya menyebalkan, ternyata asik juga." Kata Clara sambil tertawa.


"Kalo dikantor kan profesional, Ra." Jawab Joni.


Clara mengangguk. Clara baru mengetahui bahwa Joni adalah seorang duda yang ditinggal mati istrinya saat melahirkan anak mereka delapan tahun yang lalu.


"Jadi Bapak mau menikah lagi?" Tanya Clara.


"Ya mau lah Ra. Tapi kan cari istri gak segampang cari pacar." Jawab Joni.


Lalu mereka terdiam, Hingga Joni menanyakan sesuatu pada Clara.


"Jadi Rissa mantan kakak iparmu?" Tanya Joni.


Clara mengangguk, "Dia satu satunya keluarga mantan suamiku yang baik sama aku."


"Terus kenapa kamu gak bilang sama si Bos kalo sekarang statusmu sudah bercerai?" Tanya Joni.


"Kan Bapak yang suruh saya, untuk tetap dengan status saya karna data saya yang belum dirubah." Clara membalikan kata kata Joni.


Joni menggaruk tengkuknya, "Iya juga, ya." Kemudian Joni berkata lagi, "Tapi kan si Bos itu teman mu, Ra."


Clara menatap lurus kedepan. "Iya, dia temanku saat dia masih menjadi Aldi. Sekarang dia seorang Aldrich dewantata, dia atasanku."


"Si Bos suka sama kamu, Ra." Kata Joni tiba tiba. "Dia rela menyamar jadi orang biasa dan melepas embel embel Dewantara demi dekat denganmu."


Clara menghela nafasnya, "Enggak Pak Jon, Aldrich menyukai saya karna dia tau saya belum menikah. Pas dia tau saya udah menikah, Aldrich menjauhi saya. Mungkin sekarang dia udah lupa dengan perasannya."


"Kalo masih suka gimana, Ra? Tanya Joni menggoda.


"Ya jangan sampai suka lah, Pak. Saya janda, dia bujang, CEO pula, gak ada pantes pantesnya sama saya, Pak." Clara tertawa untuk menutupi perasaanya yang sedikit terasa sesak.


Aldrich datang dengan wajah dingin melihat kearah Joni, entah mengapa ia tidak suka melihat kedekatan Joni dengan Clara.


Pikiran Aldrich menelusuri masa lalu saat dirinya menyamar sebagai supir di Erlasha, ia bisa begitu dekat dengan Clara dan tertawa bersama seperti Joni dan Clara saat ini. Tidak seperti saat ini, terkadang Clara menjaga jarak dengannya dan Aldrich merasakannya.


Clara membuka pintu mobil depan untuk duduk bersama Joni.


"Ra, kamu duduk dibelakang sama aku." Kata Aldrich sedikit ketus.


Clara menurut tanpa membantah perintah Aldrich.


Clara melirik kearah Aldrich, pria itu sedari tadi hanya diam, tangannya masih menggenggam dasi yang belum terpasang di kerah bajunya.


Begitu sampai di lokasi, Joni turun namun Aldrich masih betah duduk diposisinya.


Clara yang masih duduk disamping Aldrich langsung menoleh kearah Aldrich, terlihat jelas ada yang ingin Aldrich sampaikan namun ia menahannya.

__ADS_1


Clara meraih dasi didalam genggaman Aldrich ia menghadapkan tubuhnya menghadap kearah Aldrich dan seketika membuat Aldrich pun menghadapkan dirinya kearah Clara.


Tanpa banyak bicara, Clara memasangkan dasi dikerah baju Aldrich. Hembusan nafas Aldrich begitu terasa diwajah Clara, Clara hanya fokus membuat simpul.


"Jangan menjaga jarak denganku, Ra." Bisik Aldrich saat Clara masih fokus memakaikan dasinya.


"Sudah sampai, ayo kita turun." Kata Clara lalu meninggalkan Aldrich.


Aldrich hanya menghela nafas, "Tak bisakah kita masih berteman, Ra?" Gumam Aldrich saat Clara sudah berada diluar.


Pada kenyataannya, Aldrich harus menerima status Clara yang ia pikir tlah manjadi istri orang.


Clara dan Aldrich bekerja seprofesional mungkin, ia menyelesaikan pekerjaan dengan begitu kompak, ditambah Joni yang memudahkan pekerjaan mereka.


"Makan makan dong Bos." Celetuk Joni dibalik kemudi.


Aldrich mengangguk yang terlihat oleh Joni dari spion.


Mereka duduk bertiga di satu meja, makan dalam keheningan dan sesekali membahas pekerjaan.


Keesokan harinya, Aldrich tengah membaca laporan perusahaan di laptopnya, ia melihat Clara yang berjalan terburu buru keluar. Seketika Aldrich nenutup laptopnya dan menyusul Clara.


"Ra.. Tunggu Ra..." Panggil Aldrich.


Clara menghentikan langkahnya dan menoleh.


"Mau kemana?" Tanya Aldrich lembut.


"Kenapa memangnya?" Tanya Aldrich bingung.


Clara melihat jam diponselnya, masih ada waktu tiga jam lagi sebelum datang ke acara peresmian proyek yang sudah selesai.


Clara mengira hanya memakai pakaian formal, tak taunya itu acara sekaligus pesta dan memakai pakaian resmi.


"Saya gak bawa baju untuk ke pesta, Pak." Lirih Clara.


"Aldrich, panggil aku Aldrich atau Al, Ra. Tolong jangan terlalu formal denganku." Aldrich menghela nafas sejenak. "Tunggu aku disini." Kata Aldrich kemudian meninggalkan Clara seorang diri.


Tidak sampai lima menit Aldrich datang dengan membawa kunci mobil. "Ayo ikut aku, Ra." Ajak Aldrich.


Aldrich mengajak Clara kesebuah butik.


"Al.. Ini butik mahal, aku gak mau beli disini." Kata Clara.


"Turun Ra, atau kupotong gajimu 50%" Kata Aldrich tegas.


Clara mengernyitkan dahinya, "Kenapa dia jadi galak?" Batin Clara.


"Ra..." Panggil Aldrich.

__ADS_1


"Al, aku bisa beli sendiri." Kata Clara yang akhirnya memanggil nama Aldrich diatas kesadarannya.


Aldrich mengela nafas. "Bisakah kita seperti dulu, Ra? Sebagai teman yang saling membantu."


Clara terdiam.


"Kamu bisa berbagi tawa dan cerita dengan Joni. Tak bisakah kamu membagi itu denganku juga? Seperti dulu, Ra." Lirih Aldrich.


Aldrich menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, "Andai aku bisa memilih, Ra. Aku lebih nemilih bisa menjadi Joni agar kamu bisa berbagi tawa dan cerita denganku, meski hanya sebagai teman seperti dulu."


"Al..."


Aldrich menoleh kearah Clara, "Kita berteman lagi ya, Ra."


Clara nengangguk seketika, membuat Aldrich menarik sudut bibirnya tersenyum.


"Tapi aku gak mau terima untuk kali ini, Al. Ini terlalu mahal untukku." Kata Clara.


Aldrich melirik jam dipergelangan tangannya. "Sudah tidak ada waktu lagi, Ra." Aldrich tampak berpikir, "Kali ini saja, Ra. Anggap saja ini hadiah pertemanan dariku."


Aldrich turun dari mobilnya dan menuju pintu mobil Clara untuk membukanya. "Kita temankan?" Tanya Aldrich.


Clara tersenyum, ia mengikuti Aldrich untuk masuk kedalam butik.


Aldrich pun memilih pakaian yang akan ia pakai, sementara Clara langsung di make up karna butik itu jadi satu dengan salon.


Aldrich menunggu Clara diruangan VIP sambil berbalas pesan dengan Davan yang akan pulang dalam waktu dekat.


Sesekali Aldrich melirik jam di pergelangan tangannya, menanti Clara untuk langsung berangkat ketempat acara peresmian.


Mata Aldrich tak berkedip saat melihat Clara berada didepannya. Clara terlihat sangat cantik dengan memakai dress berwarna hitam dan rambut yang ditata rapih juga make up natural yang menghiasi wajahnya.


"Clara..." Gumam Aldrich.


Clara mendekat pada Aldrich. "Al, apakah ini berlebihan?" Tanya Clara.


"Tidak Ra, kamu tidak terlihat berlebihan, kamu terlihat cantik sekali." Kata Aldrich.


Clara salah tingkah saat Aldrich mengucapkan dirinya cantik. Namun dirinya langsung terkesiap saat Aldrich tiba tiba saja menggenggam jari jemarinya.


Mereka terlihat seperti pasangan kekasih, bukan seperti Bos dengan sekertarisnya.


Joni mengulas senyum saat melihat Aldrich dan Clara tiba digedung peresmian, ia langsung memotret kebersamaan mereka dan mengirimkannya pada Fariz.


***


Dear Readers..


Novel ini diikut sertakan untuk mengikuti lomba menulis You Are A Writer Season 7 , Bantu aku ya di Novel ini, dengan memberikan Like dan Vote. Bintang 5 juga komentar untuk cerita.

__ADS_1


Karna dengan hal kecil itu membuatku semangat, 1 like, 1vote, 1komentar, itu sangat berati untuk menaikan semangatku.


Terimakasih Readers..


__ADS_2