BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 108


__ADS_3

Di Jogja..


Hari ini Jidan berencana mengunjungi rumahnya dulu. Setelah tiga hari menyelesaikan urusan di Hotel, kini ia mempunyai waktu luang untuk melihat rumahnya.


Jidan memutuskan berjalan kaki, ia ingin mengenang jalan jalan yang memberikannya kenangan bersama Jihan.


Jidan berjalan di pinggir trotoar, Ia mengamati berbagai penjual disana, tidak ada satupun yang ia kenali. Ia terus berjalan menelusuri jalan sambil mengingat kenangan kenangan bersama Jihan.


Jidan pun melewati area tempatnya berjualan dulu, tiba tiba saja hatinya merasa sesak mengingat begitu susahnya kehidupan dirinya dulu bersama Jihan dan sang Ibu.


Hingga Jidan tiba disebuah gang menuju rumahnya dulu. Dari luar rumah itu tetap sama. Rumput yang tinggi sudah dibersihkan oleh orang suruhannya.


Jidan membuka pintu rumah itu, ia melihat bayang bayang dirinya semasa kecil berlarian bersama Jihan. Ia juga melihat bayang bayang sang Ibu yang slalu duduk didekat jendela sambil melamun. Disudut lain tepat di meja makan dengan kayu jati tua ia melihat bayang bayang dimana sang ibu menyajikan bayam dan tempe sebagai menu makan andalannya.


Melihat bayangan itu, Jidan memejamkan matanya. Terngiang suara Davan yang mengatakan mimpi buruk sudah lewat, Ayah akan mengukir mimpi indah untuk kalian. Kata Davan waktu itu.


Davan menepati janjinya. Apa yang Jidan dan Jihan butuhkan slalu ia penuhi, Davan juga mebebus waktu dengan banyak menghabiskan waktu bersamanya dan Jihan pada saat itu.


"Bagaimana Pak, Anda ingin rumah ini di renovasi seperti apa?" Tanya seseorang yang merupakan orang kepercayaan Jidan.


"Renovasi rumah ini menjadi sebuah masjid. Aku ingin mewakafkan tanah dan rumah ini untuk menjadi sebuah masjid untuk warga disini." Kata Jidan.


Tiba tiba saja Jidan merubah pikirannya, yang tadinya ingin membeli rumah ini untuk sang Ibu dan Jihan, kini ia merubahnya untuk dibuat masjid.


"Jihan pasti setuju." Gumam Jidan.


Setelah puas menikmati waktunya dirumah lama itu, Davan kembali ke hotel, kali ini dia memilih menaiki sebuah becak. Ia melewati sekolahannya dulu, tidak ada perubahan apapun, yang ada hanya jalanan yang semakin ramai dan penuh dengan warga sekitar.


Jidan masuk kedalam hotelnya, namun ia hampir terpeleset karna tidak melihat lantai yang sedang di pel oleh seorang pramubakti.


"Anda tidak apa-apa, Pak?" Tanya seseorang yang membantu menahan Jidan.


"Tidak, aku hanya hampir terpeleset." Jawab jidan tanpa melihat wajah pramubakti itu.


"Maaf, saya lupa memasang tanda peringatan lantai licin di depan sini." Kata Pramubakti itu.


"Mel, apa yang kau lakukan." Seorang manager hotel bernama Shinta menegur prubakti bernama Amelia.


Jidan langsung melihat wajah Amel dan menelisiknya.


"Maaf, Bu." Kata Amel.


"Ceroboh kamu." Omel Shinta.


"Amel?" Tanya Jidan.


Amel memberanikan diri menatap tatapan Jidan. "Maaf, Pak." Kata Amel lagi.


"Kamu Amelia Saputri?" Tanya Jidan lagi.


Amel mengangguk samar.

__ADS_1


"Maaf, Pak. Dia ini belum tiga bulan bekerja disini, saya akan melatihnya lagi." Kata Shinta.


"Tidak, Bu Shinta. Amelia ini teman lama saya, tidak usah diperpanjang lagi." Kata Jidan dengan pandangan tak lepas dari wajah Amel.


"Mel, ikut ke ruang kerja saya." Kata Jidan.


"Saya taruh ini dulu, Pak." kata Amel.


"Berikan pada rekanmu yang lain. Kamu ikut saya sekarang juga." Kata Jidan.


Amel mau tidak mau langsung mengikuti Jidan.


"Kamu kerja disini, Mel?" Tanya Jidan saat tiba diruang kerjanya.


"Iya, Pak." Jawab Amel.


"Hei, kita ini teman. Panggil saja Jidan jika tidak ada siapapun." Kata Jidan.


Amel hanya mengangguk. "Apa Jihan ikut kesini?" Tanya Amel.


"Minggu depan Jihan akan menyusul kesini." Jawab Jidan dengan wajah yang kini selalu tersenyum.


**


"Sudah siap, Ji?" Tanya Alaska.


Jihan mengangguk.


Alaska tidak berkedip saat melihat Jihan dengan gaun malam yang cantik dan elegan masih dengan batasan yang wajar.


"Disana banyak pengusaha muda, kita harus bisa bersikap baik karna membawa nama Dewantara." Ucap Alaska pada akhirnya, mengalihkan konsentrasinya.


Saat mereka tiba di loby hotel, dari jauh Rosa melihat Jihan bersama Alaska dan juga Beni.


"Itu orangnya." Kata Rosa pada beberapa temannya.


Lalu temannya bertanya pada resepsionis tentang acara dihotel itu dan resepsionis mengatakan adanya seminar untuk para pengusaha di hotel ini. Salah satu temannya membisikkan sesuatu pada Rosa dan Rossa mengangguk anggukan kepalanya sambil tersenyum jahat.


Jihan, Alaska dan Beni duduk bertiga di satu meja bundar. Setelah acara seminar ini selesai, akan ada acara ramah tamah dengan maksud mempererat tali silaturahmi antar pebisnis.


"Ji, aku kesana ya. Disana ada perwakilan dari grup sentosa, aku ingin menyapanya." Kata Beni pada Jidan. "Jangan kemana mana, si Bos bentar lagi balik dari toilet." Katanya lagi yang diangguki oleh Jihan.


"Anda mau minum?" Tanya seorang pelayan.


Jihan melihat hanya ada satu gelas di nampan yang pelayan itu bawa. "Terimakasih, kata Jihan sambil mengambil minumannya." Lalu pelayan itu pergi.


Jihan meneguknya sedikit dan tak lama kemudian Alaska datang menghampirinya kembali. Dengan santainya Alaska mengambil minuman milik Jihan dan meminumnya sampai habis.


"Ishh Kak, itu punyaku." Kata Jihan.


"Aku haus sekali, Ji." Kata Alaska.

__ADS_1


Jihan mengusap tengkuknya. "Ada apa, Ji?" Tanya Alaska.


"Tetiba saja aku merasa tidak nyaman." Kata Jihan.


"Kau mau pulang?" Tanya Alaska.


"Villa terlalu jauh, dan aku merasa panas." Kata Jihan.


"Ayo kita keluar." Ajak Alaska.


Alaska juga merasakan tubuhnya yang mulai tidak nyaman.


"Ji, aku akan memesankan kamar untukmu saja disini." Kata Alaska dan jihan hanya mengangguk pasrah.


Dengan kartu ajaib Alaska, Alaska dengan mudah mendapatkan kamar. Alaska merangkul pundak Jihan yang terlihat gelisah, membuat tubuh Jihan meremang seketika.


Alaska pun merasakan sesuatu yang tidak biasanya, tetiba saja bagian juniornya mengeras dan berontak seperti ingin dikeluarkan. Mereka yang sama sama awam akan hal itu tidak menyadari ada sesuatu yang tlah dicampurkan pada minuman tadi.


Jelas saja Rosa adalah pelakunya, tadinya ia ingin mengerjai Jihan dan memberikannya pada teman temannya yang hobi melakukan se*ks bebas, akan tetapi Alaska datang dan ikut meminumnya juga.


Rosa tidak ambil pusing, baginya jika sesuatu terjadi pada Jihan, akan berdampak pada hubungan Jihan dengan Gibran, dan rosa menantikan dimana Jihan hancur lalu meninggalkan Gibran, atau malah sebaliknya, Gibran yang akan menjauhi Jihan. Membayangkan hal itu, Rosa tertawa sangat puas.


Alaska membuka pintu kamar hotel, Jihan segera mengatur suhu ruangan agar terasa lebih dingin lagi. Sementara Alaska juga sudah tidak bisa menahan diri, ia membuka jas lalu dasinya dan melemparnya secara asal.


"Aku kenapa?" Tanya Jihan yang terlihat uring uringan.


Alaska melihat Jihan dengan tatapan entah.


Alaska mendekat kearah Jihan dan memegang lengannya.


"Ji... Kata Alaska dengan suara parau.


Jihan semakin meremang ketika telapak tangan Alaska memegang lengannya, Jihan memejamkan matanya menahan hasrat yang ada.


Alaska mengecup bibir Jihan dan Jihan tidak menolaknya, ada sensasi aneh yang Jihan rasakan, kesadarannya yang hanya sedikit mengalahkan keinginannya untuk disentuh secara lebih.


"Balas aku, Ji.." kata Alaska dengan suara parau dan Jihan berusaha membalasnya. Mereka berpagutan tanpa paksaan dibawah kesadarannya.


Tangan Jihan melingkar dileher Alaska dan Alaska mengusap punggung Jihan yang memang sedikit terbuka karna mengenakan gaun malam.


Alaska melepaskan pagutannya lalu menempelkannya dikening Jihan. "Ji, aku ingin... Tapi pasti Jidan akan membunuhku." Kata Alaska lirih.


Jihan semakin meremang, ia ingin menolak, tapi tubuhnya meminta sentuhan Alaska.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Omg.. Gimana nih??


Lanjut jangan??


Ada yang udah bisa tebak alurnya?

__ADS_1


__ADS_2