
Jihan masuk kedalam ruang kerjanya yang ia tempati dulu bersama Beni. Jihan menatap meja Beni yang rapih, biasanya Beni akan nenyapanya dan mengajaknya ngobrol untuk mengembalikan moodnya.
"Bang Ben, aku merindukanmu." Gumam Jihan kemudian duduk dan mulai bekerja.
Beberapa waktu terlewati, Jihan kembali merasakan mual dan pusing yang luar biasa. Ingin rasanya merebahkan dirinya diatas tempat tidur, namun ia tetap harus menyelesaikan pekerjaannya.
"Mba Jihan, dipanggil si Bos, katanya bawain dokumen kerjasama dengan GAB Travel." Kata Silvia, sekertaris Alaska.
Jiihan mengangguk, pembangunan kantor pusat untuk GAB Travel memang hampir rampung, dan pasti Alaska bingung karna ia melupakan hal ini.
Jihan segera mengambil dokumen dan menuju ruangan Alaska. Namun Jihan terkejut saat melihat Gibran juga ada diruangan Alaska. Ini adalah kali pertama mereka bertemu kembali setelah pertemua mereka terakhir saat Jihan memutuskan hubungannya dengan Gibran.
Jihan menunduk dan berjalan kearah meja Alaska. "Ini dokumen yang anda butuhkan, Pak." Kata Jihan.
Alaska menerimanya, sementara tatapan Gibran terus tertuju pada Jihan.
Alaska mendiskusikan proyeknya bersama Gibran, dan Jihan lebih sering membantu menjelaskannya karna Alaska melupakan semuanya.
"Maaf, Pak. Saya ijin kembali keruangan." Kata Jihan yang mulai merasa tidak nyaman.
"Ji.. Tunggu." Kata Gibran.
"Pak Alaska, diskusi kita sudah selesai, saya ijin pamit dan mengajak Jihan untuk makan siang bersama." Kata Gibran.
Alaska melihat jam dipergelangan tangannya, memang benar sudah memasuki jam istirahat.
"Kalian saling mengenal?" Tanya Alaska.
"Kami teman semasa kecil." Jawab Jihan.
Alaska mengangguk,
"Kalau begitu silahkan." Jawab Alaska dingin.
"Ji, ikutlah denganku." Ajak Gibran.
Jihan sedikit melirik kearah Alaska namun Alaska hanya terlihat acuh. Pada akhirnya Jihan mengiyakan ajakan Gibran.
Dan disinilah mereka berada, duduk berhadapan di sebuah cafe yang dekat dengan kantor DW Group.
"Mau minum apa, Ji?" Tanya Gibran.
"Smoothies strawberry aja." Jawab Jihan.
Gibran tersenyum, "Lagi pengen yang asem asem ya?" Tanyanya lembut.
Jihan mengangguk samar.
__ADS_1
"Mau makan apa?" Tanya Gibran lagi.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Aku mual, Gab. Tidak ingin makan." Ucapnya.
"Makan walaupun sedikit, kasian bayimu, dia juga butuh nutrisi, Ji." Kata Gibran lagi.
Jihan hanya diam.
"Nasi goreng seafood kesukaanmu saja ya?" Tanya Gibran dan akhirnya Jihan mengangguk.
Gibran memesankan makanan dan minuman untuk mereka berdua, setelahnya Gibran kembali fokus pada Jihan.
"Ji, tidak bisakah kita mulai seperti dulu? Menjadi seorang teman." Tanya Gibran.
"Aku sudah menyakitimu, Gab." Ucap Jihan dengan tidak percaya diri.
Gibran menggenggam tangan Jihan, "Kita mulai dengan berteman lagi, ya?" Katanya dengan memastikan.
Jihan menatap wajah Gibran, "Terimakasih, Gab." Ucapnya.
"Ji, aku akan slalu ada untukmu, meski sebagai seorang teman. Kau jangan sungkan untuk meminta bantuan padaku, apapun itu." Kata Gibran.
Jihan merasa terharu, air matanyanya meleleh begitu saja di pipinya. Gibran adalah pria yang lembut dan baik hati. Andai saja tidak terjadi insiden kehamilan ini, mungkin saja Jihan sudah mencintai Gibran. Sungguh beruntung wanita yang nanti dinikahi oleh Gibran, batin Jihan.
Sepulang kerja, Jihan kembali mampir kerumah sakit. Ia ingin sekali memeriksakan kandungannya. Jihan merasa takjub melihat bayinya yang tumbuh berkembang di rahimnya. Ia mengingat saat terakhir memeriksakan kandungan diantar oleh Alaska, betapa wajah Alaska berbinar melihat adanya kehidupan bayi kecil di rahim Jihan.
Setelah memeriksakan kandungan, Jihan mendatangi kamar perawatan Beni, dan sesekali mengajaknya mengobrol seperti mereka saat kerja bersama. Joni dan Rissa sangat bersyukur karna Beni mempunyai sahabat yang begitu baik seperti Jihan.
Jihan bertahan meski Alaska slalu bersikap ketus dan datar padanya, slama tiga bulan ini juga Jihan melakukan hal hal yang bisa mengingatkan ingatan Alaska namun semua terlihat nihil. Alaska tetap saja belum mengingat apapun tentang perbuatannya kepada Jihan.
"Bolehkah Mommy menyerah, Nak?" Gumam Jihan sambil mengusap perutnya yang kini sudah terlihat sedikit membuncit.
Alaska berada diruangan Aldrich, "Dad, tidak bisakah Daddy memindahkan Jihan kebagian lain?" Tanya Alaska.
"Ada apa memangnya, Al?" Tanya Aldrich balik.
"Aku merasa risih bekerja dengan Jihan." Jawabnya.
"Kenapa kau bisa berkata seperti itu?" Tanya Aldrich menyelidik.
Alaska menghela nafas, "Jihan hamil dan tak jelas siapa prianya, coba saja Daddy berada di posisiku. Pasti Daddy juga akan merasa risih." Jawab Alaska.
"Beni belum ada perkembangan, dan Jihan slalu bisa membantu pekerjaanmu. Harusnya kau berterimakasih pada Jihan." Kesal Aldrich.
Alaska menghela nafas.
"Kau tau, Al? Daddy berharap kepalamu terbentur dengan sangat keras lalu ingatanmu yang sedikit hilang bisa kembali mengingat semuanya." Ucap Aldrich.
__ADS_1
Alaska mencebik, "Dari dulu Daddy slalu saja menyukai sikap Jihan, apa lebihnya gadis itu selain barbar dan bikin malu." Balas Alaska.
"Keluar, Al!!" Perintah Aldrich. "Daddy sedang banyak pekerjaan." Ucapnya lagi karna sudah malas berbicara dengan Alaska.
Alaska berjalan menuju ruangannya dan ketika ia tiba diruangannya, Alaska melihat seseorang yang sangat ia kenal tengah duduk di sofa.
"Rania." Panggil Alaska.
Rania menoleh lalu berhambur memeluk Alaska. "Al... Kenapa susah sekali menghubungimu." Kata Rania.
Alaska balik memeluk Rania. "Aku mencarimu, namun kau sudah tidak ada di Inggris." Kata Alaska.
Rania mengendurkan pelukannya lalu mengernyitkan dahinya. Jelas ia mengingat jika pernah bertemu dengan Alaska.
"Al, apa kau lupa jika aku pernah datang kesini dan kau menolakku?" Tanya Rania.
"Menolak?" Tanya Alaska memastikan dan Rania mengangguk. "Mana mungkin, Ran. Mana mungkin aku menolak wanita yang aku cintai." Kata Alaska.
Rania terdiam, jelas Alaska menolaknya tapi mengapa Alaska kini seolah tengah bersandiwara.
"Oh Rania, maaf. Beberapa bulan yang lalu aku kecelakaan dan mengakibatkan memory di ingatanku sedikit menghilang." Kata Alaska pada akhirnya.
"Maksudmu?"
"Aku tidak mengingat kejadian dua tahun belakangan ini. Terakhir aku mengingat adalah kejadian dimana aku, Rayyan dan Jidan bersiap datang ke pesta ulang tahunmu." Kata Alaska.
Rania mengingat saat dirinya berulang tahun, peristiwa itu tidak akan ia lupakan begitu saja dimana Rania menyatakan cinta pada Jidan dan Jidan menolaknya mentah mentah dengan alasan tidak mencintainya terlebih Rania adalah kekasih Alaska.
Alaska pun menyaksikan hal itu sehingga membuat Rania menghindar dan berpura pura lebih memilih karir dari pada hubungannya dengan Alaska.
"Ran.." Panggil Alaska.
Rania terkesiap, Alaska melupakan kejadian itu, kejadian saat dirinya menyatakan cinta pada Jidan.
"Dimana Jidan?" Tanya Rania mencoba memancing reaksi Alaska.
"Jidan memegang perusahaan Ayahnya. "Kau ingin bertemu dengannya?" Tanya Alaska seperti tak pernah terjadi sesuatu.
Rania memang dekat dengan Jidan, karna Rania adalah adik kelas Jidan dan umurnya satu tahun dibawah Jidan. Jidan menganggapnya hanya seorang teman, namun Rania menganggapnya lebih.
"Ran, aku masih merindukanmu. Aku masih ingin memelukmu." Kata Alaska dan Rania masuk kembali kedalam pelukan Alaska.
Praakkk
Arghhh...
"Rania!!" Pekik Alaska lalu menolong Rania yang ditarik oleh seseorang hingga tersungkur.
__ADS_1
Alaska menatap tajam pada Jihan. Tatapan memburu dan sinis menjadi satu. Jihan dengan berani menarik Rania dari dalam pelukan Alaska.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...