
"Davan sudah menikahi Billa tanpa ijin dari Papa dan Mama." Akhirnya kalimat itu keluar dari mulut Davan.
"APA.." Pekik Ghea dan Fadhil bersamaan.
Sementara Chelsea dan Zayn sama terkejutnya dengan hal ini, sedsngkan Aldrich hanya diam menyimak obrolan keluarga ini.
"Bilang pada Papa, apa yang terjadi, Dav?" Tanya Fadhil.
Davan melirik sekilas kearah Billa yang sedari tadi menunduk dan menggenggam jari jarinya sendiri.
"Dav.. Cerita sama Papa dan Mama apa yang sebenarnya terjadi?" Kata Ghea lembut namun terlihat penasaran dengan apa yang akan diceritakan oleh anak bungsunya itu.
"Kamu mengenal Billa saat diresort itu kan? Apa masih berlanjut hingga sekarang?" Tanya Ghea yang perlahan diangguki oleh Davan.
Ghea menghela nafas. "Kenapa tidak bilang pada Mama." Katanya dengan nada kecewa.
"Ma..." Panggil Davan yang merasa bersalah pada Ghea.
"Apa kamu menghamili Billa, Dav?" Tanya Ghea yang memang khawatir jika putranya merusak masa depan seorang gadis.
"Tidak, Ma. Tidak begitu. Bukan alasan itu Davan menikahinya." Kata Davan.
"Ceritakan semuanya." Kata Ghea pada akhirnya lalu melihat sekilas kearah Billa yang sedari tadi hanya menunduk.
Davan mulai bercerita dari awal saat ia bertemu Billa diresort, lalu bertemu kembali saat melihat Billa menjadi pedagang asongan menjajakan Tissue dilampu merah. Lalu Davan juga menceritakan soal Billa agar mau belajar di perusahaan dengan alasan agar Billa tidak keluyuran. Davan pun menceritakan tentang uang yang setiap minggu Davan berikan pada Billa agar gadis itu tidak perlu bekerja hingga lulus sekolah dan mempunyai ijazah untuk bekerja diperusahannya. Hingga ujungnya dihari ini, saat Davan ingin menemui Billa dan terjadi fitnah yang membuat Davan harus menikahi Billa.
"Kenapa tidak memanggil Papa, Dav? Atau kamu bisa memanggil Om Tristan untuk membantumu." Kata Fadhil.
"Mereka semua tidak memberikan kesempatan pada Davan dan Billa, Pa.. Jika Davan mengulur waktu, mereka akan mengarak Davan dan Billa keliling kampung."
Fadhil mengusap pelipisnya, Ghea pun masih terlihat shock akan keputusan yang Davan ambil.
__ADS_1
"Maaf, Pak.. Bu.. Ijinkan aku berbicara." Sahut Billa sedikit gugup.
Semua mata memandang pada Billa termasuk Davan.
"Om Davan menikahiku secara siri, Om Davan bisa menceraikan aku sekarang juga. Aku tidak keberatan, tolong jangan salahkan Om Davan, Om Davan Hanya ingin membantuku." Kata Billa dengan hati hati.
Davan menghembuskan nafas kasarnya. Ia cukup kecewa dengan ucapan Billa.
Ghea melihat guratan wajah kecewa di putranya itu meski Davan bersikap menutupinya.
"Berapa usiamu?" Tanya Fadhil.
"Tujuh belas tahun, Pak." Jawab Billa
"Kamu yang tadi menerima piagam penghargaan dariku kan?" Tanya Zayn yang baru menyadari jika tadi siang dirinya memberikan satu piagam penghargaan dan bea siswa untuk Billa karna prestasi yang diraih Billa bukan main. Billa mendapatkan juara nasional untuk nilai nilai ujiannya.
Fadhil melihat Billa dengan seksama, memang tadi ia diwakilkan oleh Zayn untuk memberikan piagam penghargaan kepada murid berprestasi.
"Billa usiamu masih sangat muda, kamu belum mengerti dan memahami makna dari pernikahan, Pernikahan itu mau siri atau resmi secara negara tetap sah dan bukan suatu hal yang main main." Kata Fadhil.
"Sah, Pa..." Jawab Davan. "Davan tidak akan menceraikan Billa." Jawab Davan lagi. "Davan harap, Papa dan Mama, juga Kak Zayn dan Chelsea, menerima Billa sebagai istri Davan dan anggota baru dikeluarga kita." Ucapnya tanpa ragu.
"Tapi, Om.." Billa ingin bicara namun seketika Davan menatap matanya dan menggelengkan kepalanya samar.
"Kamu mencintai Billa?" Kali ini Zayn yang bertanya, sebagai Kakak, ia tidak ingin adiknya terjebak oleh keadan.
"Tidak tau, Kak. Hanya saja aku yakin sejalannya waktu, akan ada rasa cinta didalam rumah tangga kami." Jawab Davan.
Fadhil yang mendengar ucapan dari sang putra langsung mengingat kejadian tiga puluh tahun yang lalu, dimana ia juga memulai pernikahan dengan Ghea tanpa saling mencintai, diawali dengan rasa perduli, rasa ingin melindungi, lalu menikah karna keadaan, kemudian saling jatuh cinta hingga kini menua bersama.
Saat itu, usia Ghea hanya berbeda satu tahun dengan Billa. Namun usia Fadhil jauh lebih tua dari Davan saat ini.
__ADS_1
"Billa, apa kamu mau meneruskan pernikahan ini?" Tanya Ghea lembut. Ia memposisikan dirinya seperti Miranti Mama mertuanya dulu yang begitu menerima dan menyayanginya.
"Aku tidak tau, Bu." Jawab Billa.
Ghea menghela nafas, Billa memanglah masih labil, apalagi ia hanya hidup sebatang kara.
"Kamu menyukai putraku?" Tanya Ghea lagi.
Billa terdiam, sungguh ia tidak menyangka jika akhirnya seperti ini. "Aku menyukai Om Davan sebagai teman, Bu. Dia temanku, dia yang banyak membantuku."
Ghea sungguh tidak tega pada gadis malang itu, ia merasa melihat dirinya sendiri di tiga puluh tahun yang lalu. Dipaksa menikah dan begitu ketakutan. Tapi Ghea meyakini jika sang putra bungsu tidak akan mungkin menyakiti Billa, sama seperti sang suami yang membuatnya nyaman, aman lalu jatuh cinta.
"Kamu nyaman bersama Davan?" Tanya Ghea untuk membuat dirinya yakin jika ia tidak akan salah memberi restu pada pilihan yang sudah digariskan oleh takdir.
Billa mengangguk samar.
Ghea menghela nafas, "Meski cara kalian salah, tapi tidak ada pernikahan yang salah. Jalanilah pernikahan ini, walaupun Mama tau kalian membutuhkan waktu, tapi Mama harap kalian meneruskan pernikahan ini." Kata Ghea.
"Segera daftarkan pernikahan kalian, Dav. Tidak baik mengikat seorang wanita tanpa status yang jelas, Papa tidak pernah mengajarimu untuk tidak menghargai wanita. Hargailah perasaan Billa karna dia kini istrimu. Pernikahan kalian benar adanya, Sah dimata Allah, hanya tinggal meresmikannya dinegara, jangan gampang mengucap kata cerai karna bagaimanapun kata kata itu yang dibenci oleh Allah." Nasihat Fadhil pada Davan juga untuk Zayn dan juga Aldrich.
"Pernikahan adalah ibadah terpanjang dalam hidup, Semoga Allah memberkahi pernikahan kalian, Papa merestuinya." Kata Fadhil pada akhirnya.
Ghea menghampiri Billa, "Mama menerimamu, Mama merestui pernikahan ini, belajarlah untuk saling menerima." Ghea memeluk Billa dan Billa menangis dipelukan Ghea.
"Jangan bersedih, Mama pastikan jika Davan akan membahagiakanmu." Bisik Ghea sambil mengusap punggung Billa.
Hati Davan seolah merasakan kelegaan saat mendapatkan restu dari orang tuanya terutama dari sang Mama. Dengan tangan terbuka Ghea menerima Billa yang mungkin asal usulnya saja tidak jelas. Sungguh Ghea berhati seperti malaikat. Membuat Davan semakin menyayangi Mamanya.
Ghea beralih pada putranya, ia menangkup wajah putra bungsunya, "Jangan kecewakan Billa, dia adalah tanggung jawabmu didunia, bimbinglah Billa untuk menjadi seorang istri, nasehatilah Billa dengan lembut jika dia melakukan kesalahan. Papa tidak pernah membentak mama sekalipun, Mama harap kamupun seperti itu terhadap istrimu." Ghea memeluk Davan dan Davan menangis sesenggukan dipelukan Ghea.
"Maafin Davan, Ma. Maafin Davan belum bisa membahagiakan Mama, Maafin Davan jika banyak mengecewakan Mama, terimakasih untuk restu Mama. Terimakasih Ma..." Kata Davan didalam pelukan Ghea. Ghea hanya mengusap punggung Davan dengan lembut, memberikan ketenangan lewat usapannya.
__ADS_1
Suasana haru itu membuat semua yang berada disana ikut meneteskan air mata, kebahagiaan campur rasa haru itu menyelimuti malam yang semakin larut.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...