BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 93


__ADS_3

"Siapa dia, Ji?" Tanya Davan.


"Dia kekasih Jihan, Yah." Jawab jidan dan membuat Jihan juga Gibran saling mengernyitkan dahinya.


"Kekasih?" Tanya Davan memastikan lalu melihat kearah Jihan, "Ji, kau sudah memiliki kekasih? Kenapa tidak cerita sama Ayah?" Tanya Davan.


"Jihan takut membuat Ayah kecewa." Bukan Jihan yang menjawab melainkan Jidan.


"Jid..." Panggil Jihan memperingatkan sambil menggelengkan kepalanya samar.


"Yah, kembalilah kerumah, biar aku yang menunggu Jihan disini." Ucap Jidan.


Davan menghembuskan nafas kasarnya, "Baiklah, Ayah akan pulang, besok Ayah akan kesini lagi." Ucap Davan lalu mengecup puncak kepala Jihan.


Jidan mencium punggung tangan Davan, saat Davan ingin memeluknya, Jidan mencoba menolak dengan mengalihkan pembicaraan.


"Ji, apa obatmu sudah diminum?" Tanya Jidan.


Davan merasakan hatinya bergemuruh melihat penolakan Jidan, meski Jidan tlah dewasa namun Davan sangat mengenal sikap Jidan, sikap yang sepertinya tengah kecewa terhadap Davan.


Davan keluar dan meninggalkan rumah sakit.


"Jid kenapa kau begitu sama Ayah." Kata Jihan.


"Jangan pikirkan itu, Ji. Biar aku yang menghadapi semuanya." Jawab Jidan.


Ekhemm


Suara Gibran berdehem membuat Jidan dan Jihan menyadari akan kehadirannya.


"Gib, maafkan aku, aku menyeretmu kedalam masalah keluarga kami." Kata Jidan.


Gibran mengangguk, "Aku tidak mengerti masalah apa yang tengah terjadi pada kalian, tapi apapun itu semoga masalah kalian cepat selesai." Kata Gibran yang kini bersikap lebih dewasa dan tidak semenyebalkan seperti sewaktu kecil.


"Kau sweet sekali, Gab. Tidak seperti waktu kecil." Jihan tertawa.


"Gib, Ji. Bukan Gab." Kata Jidan memperjelas.


"Dia suka dengan panggilan dari ku, Jid. Buktinya Travel milik orang tuanya ia ganti menjadi GAB Travel." Kata Jihan.


"Really?" Tanya Jidan. "Oh aku yakin jika dugaanku benar, Gab." Kata Jidan yang kini ikut ikutan memanggil Gab pada Gibran.


Mereka bertiga tertawa, mereka yang dimasa lalu tidak berhubungan baik kini menjadi sangat dekat bahkan memang benar yang dikatakan oleh Jidan, ada maksud terselubung yang Gibran sembunyikan.


Davan terus memikirkan semua perkataan Jidan dan sikap Jidan yang seolah menghindar darinya.


"Ada apa dengan anak itu? Apa aku ada salah dengannya?" Tanya Davan dalam hatinya.

__ADS_1


Billa masuk kedalam kamar dan melihat Davan yang tengah melamun sambil duduk bersandar ditempat tidur.


"Mas.." Panggil Billa lalu duduk disisi tempat tidur menghadap Davan. "Ada apa?" Tanya Billa.


Davan menghela nafas. "Aku tidak tau, Dear. Apa aku ada salah pada Jidan ya, Sikap Jidan berbeda padaku."


Billa berpikir, Jidan bukan type orang yang gampang tersinggung kecuali menyangkut dua hal, yakni dirinya dan Jihan.


"Mas, apa Jidan tau perjodohan Jihan?" Tanya Billa hati hati.


"Aku belum memberitahunya." Jawab Davan. "Apakah Jidan nengetahuinya?"


"Jidan pasti akan marah, Jidan sangat menyayangi Jihan, dan slalu melindunginya. Lebih baik kau ajak bicara Jidan baik baik, Mas." Ucap Billa.


Davan memejamkan matanya dan menghela nafas beratnya. "Aku hanya tidak enak menolak permintaan Aldrich, Dear. Apa lagi ini permintaan Kakekku sendiri."


"Apa karna Aldrich yang menemukan kami?" Tanya Billa.


Davan mengangguk.


"Tapi aku tidak ingin membuat Jihan menjadi alat untuk rasa balas budi ini, Mas." Kata Billa.


"Alaska pasti bisa menjaga Jihan, Dear. Alaska anak yang baik." Kata Davan meyakinkan.


"Kamu tidak mengerti kami, Mas. Jidan pasti akan menyuruhku untuk memilih tetap bersamamu atau pergi bersama Jidan." Kata Billa dengan nada sedih.


"Aku sangat mengenal anakku, Mas. Jidan tidak akan suka dengan perjodohan ini." Kata Billa.


Davan berpikir sejenak, ia akan mencoba untuk berbicara dengan Jidan terlebih dahulu kemudian berbicara dengan Aldrich.


Alaska merasakan ada yang kurang saat bekerja, sedari tadi Alaska slalu uring uringan dan marah marah saat bekerja. Tak jarang, Beni terkena omelannya.


"Bos marah marah mulu." Ucap Hadi, OB yang bertugas membersihkan ruangan Alaska.


"Lagi dapet kali, biasa tamu bulanan cewek." Jawab Beni asal.


Saat ini Beni tengah mempersiapkan berkas berkas untuk tanda tangan kontrak bersama pihak GAB Travel.


Gibran datang bersama asistennya, ia segera menuju ruangan Alaska untuk tanda tangan kontrak agar pembangunan gedungnya segera selesai.


Mereka saling berjabat tangan saat tanda tangan kontrak selesai.


"Pak Gibran, bagaimana jika kita makan siang bersama." Kata Alaska menawarkan.


Gibran tersenyum, "Maaf sekali, Pak Alaska. Saya sudah ada janji lain. Mungkin Pak Alaska mau ikut sekalian, karna saya akan menjenguk Jihan, asisten pribadi Anda."


Alaska seketika langsung tertegun mendengar Gibran yang akan menjenguk Jihan.

__ADS_1


"Pak Gibran duluan saja." Jawab Alaska pada akhirnya.


Gibran dan asistennya pamit, sementara hati Alaska semakin tak menentu. Entah mengapa ia tak menyukai Gibran yang seolah olah dekat dengan Jihan. Padahal jika Jihan memiliki kekasih, itu adalah hal yang bagus, perjodohan ini bisa dibatalkan, namun Alaska seperti tidak ingin menghindar dari perjodohan ini.


Gibran membawakan puding kelapa untuk Jihan, ia berharap Jihan menyukai apa yang ia bawa untuknya.


Gibran masuk kedalam ruang perawatan Jihan dan melihat Jihan yang sedang tertidur pulas tanpa ada yang menemani, Gibran menaruh puding kelapa didalam kulkas dan membenahi makanan lainnya. Pergerakan Gibran membuat Jihan terbangun.


"Gab, kau disini?" Tanya Jihan dengan suara serak khas bangun tidur.


"Hei, kau sudah bangun." Gibran menghampiri Jihan. "Kau sendirian?" Tanya Gibran.


Jihan mengangguk, "Tadi ada Ibu, tapi pergi lagi karna harus kesekolah Jaff."


"Jaff?" Tanya Gibran.


"Jaffin, dia adikku satu satunya." Jawab Jihan.


Gibran duduk disebelah brankar Jihan. "Tadi aku dari kantormu, tandatangan kontrak kerjasama untuk pembangunan kantorku di Jakarta."


"Harusnya itu jadi urusanku." Ucap Jihan yang menerima suapan puding kelapa dari Gibran.


"Kau yang pegang proyek itu?" Tanya Gibran.


"Tentu saja, aku yang sedari awal berhubungan dengan asistenmu." Jawab Jihan. "Kau tau, Gab? Sewaktu aku menerima proposal dari perusahaan travelmu yang bernama GAB Travel, aku sempat tertawa karna mengingat dirimu sewaktu kecil. Dan ternyata benar saja itu Travel milikmu."


"Tapi kau tidak mengenaliku sewaktu kita bertemu lagi." Kata Gibran.


"Tentu saja, Gab. Kau sangat berubah. Dulu kau kurus dan jelek sekali. Sekarang kau gagah dan sangat tampan."


Gibran tertawa, "Dulu aku tampan, hanya saja memang aku kurus."


"Kau narsis sekali." Ucap Jihan.


"Tapi sekarang kau yang bilang aku tampan dan gagah." Gibran tersenyum.


"Rosa pasti semakin tergila gila denganmu jika melihatmu yang sekarang." Kata Jihan, "Dia itu centil sekali, masih kecil sudah menyukai lawan jenis." Jihan tertawa mengingat masa kecilnya.


"Rosa bekerja denganku, dia memegang perusahaan cabang bersamaku, tapi sekarang aku stay di Jakarta untuk dijadikan kantor utama. Semoga dia tidak menyusulku." Ucap Gibran. "Dia slalu merepotkanku, Ji" Ucapnya lagi.


"Dia menyukaimu, menikah saja dengannya." Ucap Jihan enteng.


Gibran berdecak, "Aku sudah menyukai wanita lain yang sedang ku kejar." Jawabnya.


"Jangan dikejar, tapi langsung ditarik saja, Gab." Jihan tertawa dan Gibran pun ikut tertawa, tanpa Jihan sadari dirinya lah wanita yang dimaksud oleh Gibran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2