
Perlahan Jihan memberanikan diri keluar dari dalam kamar mandi, ia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Alaska, pria yang kini menjadi suaminya. Jihan mengernyitkan dahinya tanda heran melihat Alaska yang berbaring di tempat tidur dengan posisi tertelungkup.
"Kak Al tidur?" Tanya Jihan pada dirinya sendiri.
"Ishh dia menyebalkan sekali, mana ada orang yang tidur di malam pengantin." Kesal Jihan lalu berjalan kearah tempat tidur dan berbaring disebelah Alaska sambil menarik selimut menutupi tubuhnya yang hanya memakai lingerie transparant.
"Benar benar menyebalkan." Gumamnya lagi lalu tertidur dengan posisi membelakangi Alaska.
Tanpa Jihan tau, Alaska sengaja tidur lebih cepat agar ia tak tergoda untuk menyentuh Jihan, Alaska masih berpikir jika Jihan masih berada dalam masa nifas. Alaska pun sengaja tidur dengan posisi tertelungkup untuk menahan hasratnya.
Namun ditengah malam, Alaska terbangun karna tenggorokannya merasa haus. Ia tersadar jika dirinya sudah tertidur duluan, Alaska membalikan tubuhnya dan melihat Jihan yang tidur membelakanginya.
Alaska mengernyitkan dahinya ketika melihat punggung Jihan yang hanya ditutupi oleh kain tipis transparant berwarna hitam, dengan tali satu dibahunya.
Alaska langsung membolakan matanya dan menyingkap selimut yang menutupi sebagian tubuh Jihan. Alaska menelan salivanya saat melihat ternyata Jihan tidak memakai pembungkus dibagian dadanya, ia juga melihat bagian bawah Jihan yang hanya memakai segitiga pengaman dengan model tali dikedua sisinya.
"Jihan sudah selesai nifas?" Tanya Alaska dalam hatinya sendiri, ia bisa menyimpulkan seperti itu karna tidak mungkin Jihan memakai pembalut dengan menggunakan segitiga pengaman dengan model seperti itu.
Alaska segera kekamar mandi untuk membasuh wajahnya, tidak lupa ia berkumur dengan menggunakan obat kumur beraromakan mint segar.
"Malam pengantinku." Gumam Alaska bersemangat.
Alaska mendekat pada Jihan, ia menempelkan tubuhnya ditubuh Jihan, sambil menciumi pundak hingga lengan Jihan yang terbuka.
Jihan merasa terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Alaska, ia melihat Alaska yang tengah menciumi lengannya.
"Kak.." Panggil Jihan dengan suara serak khas bangun tidur.
Namun Alaska tidak menjawabnya melainkan langsung naik keatas tubuh Jihan dan menyerang Jihan dengan ciumannya.
Jihan terkesiap, namun pada akhirnya Jihan yang tak siap mampu mengimbangi permainan dari bibir Alaska.
"Eummm.. Kak.." Kata Jihan melenguh saat Alaska mulai menelusuri leher jenjangnya.
Alaska mengangkat wajahnya dan menempelkan keningnya dikening Jihan, "Kenapa tidak membangunkanku?" Tanya Alaska dengan suara parau.
Jihan mendorong dada Alaska hingga Alaska terjatuh disisi Jihan, "Aku kesal karna kamu malah tidur duluan, padahal ini malam pengantin kita." Ucapnya lalu segera duduk.
Alaska juga ikut duduk dan menghadap Jihan, "Aku kira kamu masih nifas."
Jihan menggelengkan kepalanya, "Sudah berhenti satu minggu yang lalu, aku juga sudah cek ke dokter dan sudah bersih." Ucap Jihan.
__ADS_1
Alaska mendekatkan wajahnya kewajah Jihan, "Maaf, aku tidak tau." Kata Alaska kemudian mengecup sekilas bibir Jihan.
"Kamu nyebelin." Kata Jihan lagi.
"Kan aku gak tau, Sayang. Maaf ya." Bujuk Alaska lagi dengan wajah penuh damba.
Tangan Alaska mengusap pinggul Jihan, "Kamu sexy sekali, Sayang." Ucapnya.
Jihan menggigit bibir bawahnya, "Apa aku terlihat murahan?" Tanya Jihan sedikit takut.
Alaska segera menggelengkan kepalanya, "Kamu cantik dan seksi sekali. Kamu tidak terlihat murahan karna kamu sangat berharga untukku."
"Tapi katamu dulu, kalau aku....."
Alaska menempelkan jarinya di bibir Jihan. "Aku salah, aku bodoh, maaf." Katanya cepat dengan memotong ucapan Jihan.
"Kamu berharga sekali, Ji. Kamu wanita paling berharga. Kamu berharga untuk orang tuamu, untuk Jidan, dan kini kamu sangat berharga untukku dan Jove." Kata Alaska lagi.
Jihan tersenyum, ia meyakini dirinya jika Alaska memang tidak akan pernah menyakitinya lagi dengan kata kata pedasnya.
"Kamu suka aku berpakaian seperti ini?" Tanya Jihan sedikit malu.
"Tidak suka? Kenapa?" Tanya Jihan seolah kecewa. Tak taukah Alaska jika Jihan mempersiapkan pakaian ini jauh jauh hari sebelum hari resepsi pernikahannya.
"Karna aku lebih suka kamu tak memakai apapun." Kata Alaska dengan tersenyum jahil.
"Kak Al." Jihan menunduk malu.
Alaska mengangkat dagu Jihan, "Akan ku penuhi lemari pakaian kita dengan berbagai lingerie."
Jihan mengangguk, "Aku menunggu." Ucapnya menantang.
"Bolehkah, Sayang?" Tanya Alaska ambigu namun Jihan dapat memahaminya.
Jihan mengangguk, "Lakukanlah, Kak." Ucapnya memberi ijin.
Tanpa menunda waktu, Alaska kembali menciumi wajah Jihan, kemudian berlabuh lama di bibirnya, mendorong Jihan pelan agar berbaring kembali diatas bantal.
Alaska melepaskan sesaat pagutannya sambil merapihkan anak rambut Jihan yang berantakan. "Aku mencintaimu, Jihan Davina." Katanya dengan lembut.
Jihan tidak membalasnya, karna ia sendiri masih menyelami perasaannya. Jihan hanya menjalani rumah tangga ini semata mata demi Jove agar mendapatkan keluarga yang utuh. Tapi bukan berarti Jihan tidak akan menjalani kewajibannya, ia tetap akan menjalani rumah tangganya sebaik mungkin, memberikan hak untuk Alaska, melayaninya dan menghormatinya sebagai seorang suami. Jihan hanya berharap dengan ikhlasnya menerima takdirnya sebagai istri Alaska, membuat perasaan itu datang dengan sendirinya.
__ADS_1
Alaska mulai melucuti lingerie yang melekat ditubuh indah Jihan, ia pun dengan cepat membuka pakaiannya sendiri.
"Kamu seksi sekali sayang." Kata Alaska mulai meracau.
Alaska bermain dikedua gunung Jihan, seolah tak puas karna yang pertama kali Alaska lakukan dalam kondisi dibawah pengaruh obat perrangsaang.
Alaska pun menyiumi bagian perut Jihan dimana Jove pernah bertumbuh disana.
"Maafkan aku." Gumam Alaska sekali lagi yang terdengar oleh Jihan.
Alaska semakin kebawah hingga tiba diarea yang akan menjadi tempat favoritnya. Tanpa ragu Alaska menenggelamkan wajahnya disana dan memainkan milik Jihan dengan lidahnya, membuat Jihan melayang karna sentuhan Alaska.
"Kak.. Eumpppp." Jihan semakin melenguh, hingga sesuatu terasa membasahi area itu, Alaska tersenyum saat melihat wajah sayu Jihan karna mendapatkan pelepasan pertamanya.
Alaska mensejajarkan kembali wajahnya dengan wajah Jihan, mengecup sekilas bibir Jihan. "Aku akan mulai." Kata Alaska berbisik.
Jihan mengangguk pasrah.
"Ini tidak akan sakit, aku akan membuatmu terbang." Ucapnya lagi.
Alaska mulai bergerak liar diatas Jihan, memaju mundurkan pinggulnya hingga membuat Jihan bersuara merdu. Jihan menggusar rambut Alaska dan meremmassnya.
"Sayang, ini enak sekali, aku rasa aku akan minta tambah." Kata Alaska meracau.
"Lakukanlah, Kak. Aku milikmu." Balas Jihan.
"Mau cepat atau lambat, Sayang?" Tanya Alaska.
"Cepat Kak." Kata Jihan yang mulai terpancing gairahnya.
"Siap, Sayang. Aku akan turuti permintaanmu." Kata Alaska bersemangat.
Malam itu, mereka melakukan penyatuan untuk kedua kalinya, namun penyatuan kali ini membuat mereka tidak berada dalam tekanan, melainkan rasa saling memberi dan menerima dengan tulus dan ikhlas.
Alaska akan memerankan perannya sebagai seorang suami untuk Jihan dan sebagai Ayah untuk Jove. Dan Jihan pun demikian, akan menjalankan perannya untuk menjadi istri yang baik untuk Alaska.
Mereka akan menjalani perannya masing masing didalam pernikahan mereka, bukan sebuah drama pernikahan, tapi pernikahan yang memang jelas nyata adanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kopi mana kopi, mau lanjut boncahp gak? 😁😁
__ADS_1