
Jihan dan Alaska segera menyusul Jidan kerumah sakit setelah Jaff mengabari Jihan.
Jaff merasa perlu mengabari Jihan mengingat Jihan adalah kembaran Jidan yang harus slalu terhubung satu sama lain.
"Jid, bagaimana Amel?" Tanya Jihan yang kini berada di rumah sakit.
"Masih stuck di pembukaan dua, sepertinya harus operasi." Jawab Jidan pasrah.
"Jid, tidak apa apa, operasi juga bentuk perjuangan seorang wanita untuk melahirkan anaknya. Kau harus tetap semangat dan meyakini jika semua berjalan dengan lancar." Kata Jihan menguatkan.
"Aku takut, Ji. Aku tidak bisa membayangkan Amel berada di meja operasi." Jawab Jidan.
"Temani Amel, Jid. Kau bisa mengajukan ijin khusus untuk menemani Amel di ruang operasi." Kata Jihan dan Jidan mengangguk.
Kini, Jidan menemani Amel diruang operasi, tangannya menggenggam erat tangan Amel, tak henti hentinya Jidan membacakan doa diubun ubun Amel.
"Kamu terlihat tegang sekali." Kata Amel serileks mungkin.
"Jelas aku tegang, melihatmu seperti ini hatiku sedikit nyeri, harusnya aku saja." Kata Jidan manis sekali.
"Kamu baik sekali, aku tidak menyangka mendapatkan suami sebaik kamu." Kata Amel.
"Karna sebaik baiknya seorang pria, adalah yang paling baik terhadap istrinya." Jawab Jidan.
Amel tersenyum, "Baby boy kita mau kamu beri nama siapa?"
Jidan menggelengkan kepalanya, "Bolehkah jika Jihan memberi nama baby boy kita?" Tanya Jidan.
Amel mengangguk, "Pasti Jihan akan memberikan nama yang keren sekali untuk Baby J."
Owekk.. owekk..
Suara tangis memecah ketegangan diruangan operasi.
"Selamat Ibu, Bapak, bayi laki laki kalian sudah lahir." kata Dokter yang mengangkat bayi itu lalu memberikannya pada bidan rumah sakit untuk dibersihkan.
"Alhamdulillah." Gumam Jidan mengucap syukur lalu kembali mengecup puncak kepala Amel dengan begitu sayang. "Terimakasih untuk perjuanganmu, Bund." Kata Jidan yang kini memanggil Amel dengan sebutan Bunda sesaat setelah putra mereka lahir.
"Adzani mereka, Mas." Pinta Amel dengan sebutan barunya pada Jidan.
"Aku melihat dulu Baby J, nanti menemuimu lagi." Pamitnya sebelum keluar meninggalkan Amel.
Dua jam kemudian, operasi Amel telah selesai, Amel pun segera dipindahkan keruang pemulihan lalu keruang perawatan.
Didalam kamar perawatan, terlihat Billa dan Davan juga Jaff berkumpul menyambut Billa. Billa langsung menghampiri Amel dan mencium keningnya seraya mengucapkan terimakasih untuk perjuangannya.
"Bayi ini tampan sekali. Siapa namanya?" Tanya Billa.
Jidan menatap Amel dan Amel menganggukan kepalanya. "Kami sepakat, meminta Jihan untuk memberi nama Baby boy kami, Bu." kata Jidan.
Jihan tersenyum lalu mendekat pada Billa untuk melihat Baby boy Jidan dan Amel. "Jayden." kata Jihan.
"Jayden?" Tanya Davan memastikan.
Jihan nengangguk. "Jayden yang berarti berterimakasih." Kata Jihan dan menjeda kalimatnya sesaat. "Aku sangat berterimakasih pada Jidan karna tlah menjagaku dengan sebaik mungkin, sedari kecil hingga tlah dewasa dan sebelum akhirnya aku menikah, Jidan tidak pernah meninggalkanku, tidak pernah berkata lelah menjagaku, aku sangat berterimakasih pada Jidan karna Jidan slalu ada untukku." Ucap Jihan pada akhirnya.
Jidan mendekat pada Jihan dan memeluknya dengan sangat erat, "Kau saudari terbaikku, selamanya tetap saudari terbaikku."
Billa mengusap air mata dipipinya, ia terharu melihat Jidan dan Jihan yang slalu akur. Bahkan Jaff pun ikut meneteskan air mata karna melihat kedua kakak kembarnya.
__ADS_1
Begitupun dengan Amel, Davan dan Alaska yang merasa begitu terharu.
Jidan melepaskan pelukannya pada Jihan dan mengambil alih Jayden dari gendongan Billa. "Jayden Fitra Davanka."
Davan bahagia karna namanyapun ikut disematkan pada anaknya Jidan.
"Itu terlalu keren untuk Jayden, Kak. Kekerenanku bisa tersaingi oleh Jayden." Sahut jaffin yang membuat suasana haru kini beralih menjadi sebuah tawa.
**
Alika dan Gibran datang bersama keacara akiqah Jayden dirumah keluarga Davan. Mereka tampak kompak memakai baju dengan warna senada, yakni putih sesuai dresscod acara.
Alika terus saja menempel pada Gibran, dan Gibran membiarkannya meski ia sendiri merasa risih, namun Gibran tidak ingin membuat Alika merasa tidak nyaman dengan penolakannya.
"Ada baiknya Alika segera dinikahkan saja, Riz." Kata Fadhil pada Fariz memberi saran.
"Iya, Mas. Tapi saya tidak enak bicaranya, bagaimanapun dari pihak kami adalah Alika, tidak mungkin Alika meminta segera dinikahi." Ucap Fariz yang memang masuk akal.
"Kalau begitu nasihati Alika agar tidak bersikap seperti itu pada Gibran. Itu membuat orang menilai Alika sebagai wanita yang tidak baik." Lanjut Fadhil.
Fariz mengangguk, "Iya Mas, nanti akan saya bicarakan pada Aldrich."
Setelah tamu tamu pulang dan acara selesai, tinggalah keluarga inti yang seperti biasanya berkumpul.
Fariz mengutarakan saran dari Fadhil kepada Aldrich. Aldrich pun menerima, ia memang akan mengijinkan jika Gibran meminang Alika.
Merekapun berkumpul untuk membicarakan hal ini pada Alika dan Gibran, awalnya Alika merasa tak enak pada Gibran. Gibran yang tadinya akan menjalankan keseriusannya saat Alika sudah lulus kuliah kini berganti rencana untuk menikahi Alika dalam waktu dekat.
Rencana Gibran tentu disambut baik oleh keluarga Aldrich, Fariz menentukan pernikahan mereka akan diselenggarakan kurang dari dua bulan lagi.
Sebagai sahabat, Jidan membantu persiapan untuk Gibran dengan memberikannya tempat untuk mereka menikah di Ballroom hotel milik keluarganya, Gibran sangat berterimakasih akan hal itu.
**
"Apa Jihan kecil seperti ini?" Tanya Davan pada Billa.
Davan membawa Jove tidur bersamanya setiap kali Jihan menginap dirumahnya.
Billa mengangguk, "Tapi hidung Jove lebih mirip ke Alaska, pipinya juga tidak terlalu tembem seperti Jihan kecil." Kata Billa.
"Benarkah?" Tanya Davan mencoba mengamati wajah Jove.
"Andai waktu itu bisa terulang." Gumam Davan lirih.
"Ini kita sedang mengulang waktu. Ada Jove dan juga Jayden dirumah ini." Kata Billa.
"Kamu wanita hebat." Kata Davan.
Billa tertawa, "Aku hebat karna keadaanku saat itu."
Sementara dikamar Jihan dan Alaska. Alaska masih belum selesai menuntaskan hasratnya, meski lelah namun ia terus saja bergerak diatas Jihan.
"Dad...." Panggil Jihan.
"Iya, Mommy..." Jawab Alaska
"Lelah?" Tanya Alaska kemudian.
"Tidak." Katanya sambil merremmas rambut Alaska.
__ADS_1
"Lalu?" Tanya Alaska.
"Aku ingin diatas." Kata Jihan yang membuat Alaska berhenti bergerak lalu merubah posisinya menjadi Jihan yang diatasnya tanpa melepas penyatuannya.
"Nakal." Kata Alaska menggoda.
Jihan mengambil posisi duduk dan mulai bergerak diatas Alaska.
"Tapi suka kan?" Tanya Jihan tak kalah menggoda.
Alaska tidak menjawab, ia menikmati setiap gerakan yang Jihan ciptakan.
"Mom, tahan dulu Mom, Dad ga tahan mau kelu.. ar... Ahh.." Kata Alaska menahan pinggul Jihan agar berhenti bergerak.
Namun Jihan terus saja menggoda Alaska dengan bergerak sensual diatasnya.
"Ahhh shitttt..Dad kalah Mom." Kata Alaska saat ia mencapai puncak pelepasannya.
Jihan tertawa karna berhasil mengalahkan Alaska. Ia berhenti bergerak namun masih tetap duduk diatas Alaska.
"Aku hamil, Dad." Kata Jihan lalu tersenyum.
"Whatt??" Alaska langsung membolakan matanya.
"Aku hamil. Sudah masuk tujuh minggu." Lalu Jihan mengambil sebuah tespek dan hasil usg yang ia simpan dibawah bantalnya lalu menunjukannya pada Alaska.
Alaska mengamati tespek dan hasil usgnya lalu mengernyitkan dahinya. "Ini apa artinya, sewaktu Jove tidak seperti ini." Tanya Alaska.
"Dua titik, Dad. Aku hamil twins." Kata Jihan dengan senyum mengembang.
Alaska terkejut mendengar apa kata Jihan, bagaimana bisa sesantai ini, apalagi mereka baru saja melewati malam panas dan Jihan bergerak liar diatas Alaska.
"Mom, serius?" Tanya Alaska.
Jihan mengangguk.
"Oh my god, Mom. Bagaimana bisa kamu sesantai ini, ada dua lho ini." Kata Alaska sambil mengusap perut Jihan.
"Kejutan." kata Jihan. "Selamat ulang tahun Daddy." Kata Jihan yang tepat mengucapkan di jam 12 malam.
Alaska memejamkan matanya mengucap syukur, baginya ini adalah kado terindah untuknya.
"Sejak kapan kamu tau?" Tanya Alaska yang kini membawa Jihan kedalam dekapannya.
"Satu minggu yang lalu, aku curiga karna periodeku tak datang." Ucap Jihan. "Bagaimana ini Dad, Jove baru berusia 7 bulan." Ucap Jihan.
"Tidak apa, Mom. Kita akan membesarkan semua anak anak kita. Aku juga akan menebus kesalahanku pada Jove dengan menjadi Daddy siaga untuk kedua adik Jove."
Jihan mengangguk, "Terimakasih, Dad. Besok aku akan bilang pada Ibu. Dan saat pulang, aku akan bicara dengan Mommy Clara."
**
Dua bulan kemudian, Akhirnya pernikahan Gibran dan Alika resmi digelar secara khidmat.
Dalam satu kali tarikan nafas, Gibran menjadikan Alika sebagai istrinya.
Dhifa dan Dila sebagai keluarga Gibran merasa senang karna kini sang kakak telah memiliki pendamping hidup. Terlebih sikap Alika yang begitu baik dan perhatian pada kedua adik adik Gibran.
Pesta digelar dengan sangat mewah, terlebih keluarga Dewantara bukan sembarang orang, kini perusahaan Gibran yang tengah berkembangpun mulai dilirik banyak investor, ada juga yang ingin mengajak kerjasama dalam pengadaan transportasi dari berbagai departemen.
__ADS_1
Alika bertekad setelah menikah membantu mengembangkan usaha milik suaminya, kecerdasannya dan wawasan yang luas, sangat disukai oleh Gibran. Gibranpun mengijinkan Alika mengembangkan potensi dirinya diperusahaan miliknya,.perusahaan yang tentunya juga akan menkadi perusaahan Alika.
...*********** TAMAT ***********...