BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 58


__ADS_3

Fariz bersama Aldrich berjalan tergesa tergesa, Aji sang supir hanya mengatakan jika Clara pingsan dan dibawa kerumah sakit tanpa tau apa penyebabnya.


"Ra...." Panggil Aldrich saat membuka pintu ruang perawatan, ia langsung berjalan cepat kearah Clara yang sedang terbaring lemah, dengan wajah pucat dan selang infus ditangannya.


Belum sempat Aldrich memegang tangan Clara, Stevi menjewer telinga Aldrich, "Ini karna kamu terlalu membuat Clara kelah sepanjang malam hingga dia kelelahan dan dehidrasi." Kata Stevi mengomeli putranya itu.


"Ma, sakit Ma.. Ampun Ma.." Kata Aldrich menggaduh kesakitan.


"Jangan dekati anak Mama. Mama tidak akan membiarkan kamu dekat dekat dan membuatnya lelah." Omel Stevi yang melepaskan jewerannya.


Aldrich mengusap telinganya yang terasa panas, "Mama galak sekali, kenapa aku merasa Mama ini seperti mertua galak disinetron." Kata Aldrich nenggerutu.


"Biarin, kalau kamu gak mama kerasin, nanti kamu semakin jadi." Kata Stevi.


"Sudah, Ma.." Fariz mendekat pada Stevi dan merangkulnya lalu mengecup pelipisnya.


"Kasian anak bucin diomelin terus." Kata Fariz seolah meledek pada sang putra.


"Ck, anak bucin. Papap juga Papap bucin." Balas Aldrich lalu menggengam tangan Clara.


"Apa kata dokter, Ma?" Tanya Aldrich.


"Biar Clara nanti yang bilang padamu." Jawab Stevi.


"Pap, mama lapar, abis marahin anak bucin ini kenapa jadi lapar sekali." Kata Stevi pada Fariz.


"Oh Honey, energimu terkuras percuma hanya karna anak bucin ini, ayo kita ke kafetaria rumah sakit, aku tidak ingin nanti malam kamu lemah dan mengabaikanku." Fariz mengajak Stevi untuk keluar dari kamar perawatan.


Aldrich hanya memutar malas bola matanya, begitulah kelakuan Papap dan Mamanya, sebenarnya mereka lah pasangan bucin, tapi kenapa malah mengatakan Aldrich yang bucin?


"Ra.." Aldrich menciumi punggung tangan Clara.


Clara yang sebenarnya tidak terlalu tidur itu perlahan membuka matanya, "Al..." Kata Clara lemah.


"Maaf..." Kata Aldrich pelan.


"Aku hamil, Al. Kita akan memiliki anak, kita akan jadi orang tua." Kata Clara tersenyum.


Aldrich begitu terkejut, "Benarkah, Ra?" Tanya Aldrich.


Clara mengangguk lalu menunjuk lembaran foto hasil usg di atas nakas. Aldrich meraihnya dan melihat, matanya mengembun seketika. "Anak kita, Ra?" Tanya Aldrich.


"Tentu saja." Jawab Clara.


Ingin rasanya Aldrich melompat lompat saking bahagianya, namun ia kembali melihat kondisi Clara yang lemah. "Apa dia menyusahkanmu?" Tanya Aldrich.

__ADS_1


Clara menggelengkan kepalanya, "Aku ikhlas, Al. Aku ikhlas bersusah payah untuk anak kita."


Aldrich memeluk Clara, "Terimakasih, Ra. Aku mencintaimu."


Jika Aldrich sedang bahagia karna kehamilan istrinya, lain lagi dengan Davan yang merasakan kehampaan dalam hidupnya setelah tiga bulan bersana Billa, kini ia akan berjauhan dnegan Billa bertahun tahun lamanya.


Davan memasuki kamarnya, setelah dua minggu, akhirnya Davan kembali kekamarnya kamar yang hanya satu malam ia tempati bersama Billa.


Davan duduk disisi tempat tidur, tempat dimana Billa tertidur, ia meraba bantal yang dipakai Billa dan mengusapnya. "Ternyata aku memang mencintaimu, gadis kecil" Gumam Davan sambil tersenyum getir.


Davan menghela nafas kemudia ia menengadahkan kepalanya, "Cepat pulang, aku menunggumu."


**


"Awsshhh" Chelsea merasa perutnya tidak nyaman.


"Chel...!!" Seru Davan yang melihat Chelsea seperti menahan sakit sambil memegang perutnya yang sudah membuncit.


"Dav, sepertinya aku mau melahirkan." Kata Chelsea sedikit meringis.


Kandungan Chelsea memang sudah memasuki usia sembilan bulan, Chelsea memang tengah menunggu hari untuk kelahiran yang diprediksi berjenis kellamin laki laki.


"Ya ampun Chelsea.." Ghea menghampiri menantunya itu. "Dimana Zayn?" Tanya Ghea.


"Dav, panggil Kakakmu." Titah Ghea dan Davan segera memanggilkan Zayn.


"Kak.. Chelsea perutnya sakit." teriak Davan.


Zayn yang baru saja melipat sajadahnya langsung menghampiri Davan.


"Bantu Kakak siapin mobil, Dav. Mungkin Chelse mau lahiran." Kata Zayn.


Davan nengangguk dan langsung keluar, sementara Zayn mengganti sarung dengan celana panjangnya dan mengambil tas perlengkapan bayi yang sudah disiapkan Chelsea jauh jauh hari.


Zayn dan Ghea ikut mengantar Chelsea ke rumah sakit, saking paniknya mereka bahkan lupa mengabari orang tua Chelsea yang tinggal di sebrang rumahnya, untung saja mereka berpapasan dengan Yoda saat akan keluar rumah.


"Kak Davan, mau kemana?" Tanya Yoda yang kebetulan baru saja pulang kuliah.


"Yod, kasih tau Papi dan Mamimu, Chelsea mau melahirkan, kami akan membawanya kerumah sakit." Kata Davan.


"Kak, kakak gak apa-apa?" Tanya Yoda pada Chelsea.


"Gak apa apa, kamu kasih tau Papi dan Mami ya, dirumah sakit biasa Kakak periksa." Jawab Chelsea.


Yoda mengangguk, dan melihat mobil Davan meninggalkan rumah keluarga Fadhil.

__ADS_1


Yodapun terbawa panik segera masuk ke dalam rumah, dilihatnya Papinya yang sedang berbuat mesum pada Maminya.


"Papi.." Pekik Yoda.


Tristan yang sedang asik menelusuri leher jenjang Jessi, dengan santai menjawab panggilan Yoda. "Ada apa, Yo?"


Sementara Jessi langsung terkesiap karna perbuatan sang suami yang slalu tidak tau tempat jika sedang kepengen.


"Haishh Papi ini, sudah mau punya cucu kelakuan gak jauh sama anak kuliahan." Kesal Yoda.


"Hei, jangan bilang Papi sudah tua, Papi bahkan masih bisa membuatkanmu Adik." Jawab Tristan.


Yoda memutar malas bola matanya, "Gak usah adik, kelamaan, lagi kasian Mami dan juga Yoda gak mau punya saingan." Kata Yoda. "Papi dan Mami mending siap siap ke rumah sakit, barusan Yoda lihat Kak Chelsea kerumah sakit, katanya mau lahiran."


"Apa?!" Pekik Jessi.


"Kak Chelsea mau lahiran Mi, cepet kesana dirumah sakit biasa Kak Chelsea periksa kehamilannya." Jelas Yoda.


"Kenapa gak bilang dari tadi" Kata Tristan langsung menuju kamarnya, "Siapin mobil, Yo." Titah Tristan sebelum masuk kedalam kamarnya.


Yoda menghela nafas, "Papi gak mikir apa ada jones disini, Oh Tuhan kenapa aku harus lahir dari orang tua mesuman seperti itu." Umpat Yoda kemudian ia keluar lagi untuk menyiapkan mobil.


Dirumah sakit, Ghea menunggu didepan ruang bersalin bersama Davan. Fadhil menyusul setelah di beri kabar oleh Ghea.


Tidak lama, Tristan dan Jessi pun tiba dirumah sakit.


"Ghe.." Panggil Jessi.


Jessi memeluk Ghea. "Chelsea sedang berjuang didalam."


"Aku takut, Ghe." Kata Jessi yang kemudian duduk bersama Ghea.


"Doakan saja, Jess. Aku yakin Chelsea kuat." Kata Ghea yang sedari tadi tak hentinya berdoa dalam hati untuk keselamatan menantunya itu.


Disisi lain. Davan tengah memikirkan istrinya yang kini berada jauh darinya. Sudah empat bulan sejak kepergiannya namun Davan slalu merindukannya. Davan memilih tidak menghubungi Billa karna takut mengganggu konsentrasi kuliahnya, ia juga takut jika tidak bisa menahan diri dan menyusul Billa untuk menjadikan istri yang seutuhnya. Meski berpisah, Davan masih bertanggung jawab penuh soal Billa, ia yang membiayai seluruh kehidupan Billa diluar negri, Davan pun ikhlas berjauhan dengan Billa demi masa depan Billa, Billa adalah gadis yang pintar, sayang jika pendidikannya tidak dilanjut, ditambah demi kematangan pemikirian Billa soal rumah tangga, Davan melepas Billa untuk kembali bersama dengan usia Billa yang lebih matang lagi.


Billa tetap berhubunga baik dengan Ghea dan Chelsea, mereka berdua menjadi jembatan penghubung antara Davan dengan Billa.


"Adik kecil, jangan lupa sekarang udah punya suami, meski bule disana menggoda tapi Davan bisa lebih menggoda loh.." Pesan Chelsea pada Billa.


"Anak Mama jaga kesehatan, ya. Davan disini nunggu kamu. Belajarlah yang baik dan cepat pulang." Pesan Ghea pada Billa.


Billa tersenyum mendapat pesan pesan masuk dari mertua dan Kakak iparnya itu meski terkadang ia berharap ada pesan masuk dari suaminya juga, namun sayang, Davan tak pernah sekalipun mengirimi Billa sebuah pesan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2