
"Ji.. Hari ini Ayah mau ke kantor Dewantara." Kata Davan pada Jihan saat sarapan bersama.
"Ayah janjian dengan Daddy Al?" Tanya Jihan.
Davan mengangguk. "Sekalian mau tau pekerjaanmu, Daddy Al bilang kau slalu berhasil memenangkan tender dan penawaranmu slalu menguntungkan untuk Dewantara." Kata Davan.
"Harusnya kau pindah kekantor Ayah, Ji." Kata Billa, "Bantu Jidan disana." Jawabnya lagi.
Jihan mengerdikan bahunya. "Jidan saja mau pergi ke Jogja."
Bila menatap putra sulungnya itu, "Kau ke Jogja, Jid?" Tanya Billa.
Jidan nengangguk. "Hotel disana sedang ada masalah, manajamennya sedang kacau, Bu. Karna itu Jid akan kesana dalam waktu dekat." Ucap Jidan.
"Kau tidak bilang pada Ibu." Kata Billa.
"Ini sedang bilang, Bu." Jidan berbicara mencoba menenangkan hati Billa.
"Sudahlah, Dear. Jidan mungkin lupa. Ia terlalu banyak pekerjaan di kantor. Belum lagi menghandel hotel hotel dengan manajemen yang sedang kacau." Ucap Davan pada istrinya itu.
"Berapa lama, Jid?" Tanya Billa.
"Sekitar satu bulan saja, Bu." Kata Davan.
"Ah Ibu ini berlebihan sekali. Kak Jidan hanya ke Jogja satu bulan, Bu." Sahut Jaffin. "Waktu Kak Jidan ke Inggris empat tahun, Ibu tidak mencemaskannya seperti ini." lanjutnya lagi.
Jidan memahami kecemasan sang Ibu, kota Jogja adalah kota penuh kenangan pahit. Billa hanya takut hati Jidan tidak baik baik saja disana, mengingat masa kecilnya yang penuh kepahitan di kota itu.
"Bu, aku tidak apa apa. Aku sudah dewasa, bahkan nanti Jihan juga menyusulku." Kata Jidan menenangkan kembali sang ibu.
"Ya kan, Ji?" Tanya Jidan pada Jihan.
Jihan mengangguk, "Iya, Bu. Jangan mencemaskan Jidan, dia sudah besar." Belanya.
Billa hanya tersenyum samar, sementara Jidan dan Jihan saling melirik dan Jihan mengedipkan satu matanya pada Jidan.
Alaska mulai kembali bekerja kembali, perban di pelipisnya menarik perhatian Aldrich.
"Hai Son, ada apa dengan pelipismu?" Tanya Aldrich percis didepan Davan.
Alaska mengusap sedikit bagian perbannya, "Biasa, Dad. Jagoan." Jawabnya cengengesan.
"Hai, Om Dav. Apa kabar?" Sapa Alaska.
"Baik, Al." Jawab Davan.
"Om Dav mencari Jihan?" Tanya Alaska.
"Tidak, Om mencari Daddy mu." Kata Davan sambil tertawa.
Alaska tersenyum kikuk, "Baiklah, Om, Dad. Alaska keruangan Alaska dulu." Pamitnya yang diangguki oleh Davan dan Aldrich.
__ADS_1
"Pantas saja Alaska tidak pulang kerumah, ternyata dia habis berantem." Kata Aldrich setelah Alaska meninggalkan ruangannya.
"Ya, putramu takut Clara mengomelinya dan mencabut ijin untuk tinggal di apartemen." Balas Davan yang diangguki oleh Aldrich.
"Jadi Jihan sudah memiliki kekasih?" Tanya Aldrich.
Davan menatap wajah sepupu tiri sekaligus sahabatnya itu, "Maafkan aku, Al." Ucap Davan tak enak.
Aldrich mengusap pelipisnya. "Aku begitu menyayangi Jihan seperti putriku sendiri. Tapi aku tidak bisa menjadikannya menantu juga istri untuk Alaska."
"Dav, ini diluar kendaliku. Aku tidak ingin Jidan membawa Jihan pergi jika sampai Jihan merasa terpaksa dengan perjodohan ini." Kata Davan menjelaskan.
"Aku tau, Dav. Sudahlah, kita lupakan semuanya." Jawab Aldrich.
Jam makan siang, Jihan berencana untuk menemui Gibran dikantornya. Kebetulan hari ini Jihan tidak terlalu banyak pekerjaan dan membuatnya sedikit agak santai. Jihan ingin membuat kejutan untuk Gibran dengan datang ke kantornya.
"Permisi, Saya mau bertemu dengan Gibran." Ucap Jihan ramah pada respsionistnya.
"Sudah ada janji sebelumnya?" Tanya sang resepsionist.
"Belum, tapi bilang saja Jihan mau bertemu." Katanya pada resepsionist.
"Nona Jihan." Panggil seseorang yang ternyata adalah Anton, asisten Gibran yang mengenali Jihan.
"Pak Anton." Sapa Jihan balik.
"Mau ketemu dengan Pak Gibran?" Tanya Anton dengan hormat.
Jihan mengangguk dan tersenyum.
Anton membawa Jihan untuk naik menggunakan lift. "Anda membuat kejutan untuk Pak Gibran?" Tanya Anton memulai pembicaraan.
"Iya Pak. Dia ada kan?" Tanya Jihan.
"Ada, Non." Jawab Anton.
"Pak Anton panggil saya Jihan saja. Kita sama sama seorang asisten CEO." Ucap Jihan.
"Tapi kan Nona Jihan anak pemilik Grand Royal Grup dan saudara kembar Pak Jidan juga kekasih Pak Gibran. Tidak sopan rasanya jika saya memanggil nama." Kata Anton.
Jihan hanya tersenyum. Mereka keluar dari lift dan menuju ruangan Gibran.
"Pak Anton tadi dari mana?" Tanya Jihan.
"Habis dari luar, kirim berkas ke kantor Kakak anda." Ucap Anton.
"Kalau ke kantor Jidan, Gibran koq gak ikut?" Tanya Jihan.
"Tadi Pak Gibran ada meeting dengan Divisi keuangan." Jawabnya lagi.
Hingga mereka tiba didepan ruangan Gibran dan Anton mengetuk pintu atasannya tersebut.
__ADS_1
Anton membawa Jihan masuk setelah Gibran nenyuruhnya masuk.
"Pak Gibran, ada Nona Jihan datang berkunjung." Ucap Anton.
Gibran yang sedang membaca dokumen pentingnya pun langsung menoleh kearah anton dan dilihatnya wanita yang menjadi pujaan hatinya berdiri didekat Anton.
"Hei.." Panggil Gibran lalu berdiri dan menghampiri Jihan.
"Surprise.." Kata Jihan tersenyum sambil mengangkat paperbag berisikan makan siang.
Gibran tersenyum, ia tak menyangka jika Jihan bisa berbuat semanis ini padanya.
"Terimakasih Anton, kau bisa beristirahat." Jawab Gibran dengan ramah. Satu hal yang Jihan sukai, Gibran selalu saja ramah terhadap siapapun, sikapnya dimasa kecil yang arogan tidak terlihat pada diri Gibran yang sudah dewasa.
Gibran membawa Jihan untuk duduk di sofanya. "Aku ingin makan siang denganmu." Kata Jihan sambil mengeluarkan isi di dalam paperbag.
"Harusnya aku yang menjemputmu." kata Gibran.
"Aku ingin tau kantormu." Jihan tersenyum.
"Masih kantor yang kecil Ji, kantor utamaku sedang dibangun oleh Dewantara dan sekitar tahun depan baru jadi." Balas Gibran.
"Semua juga dimulai dari nol, Gab." Kata Jihan.
"Seperti hubungan kita?" Tanya Gibran yang diangguki oleh Jihan.
Mereka saling tersenyum, dan memulai makan siang bersama.
"Gab.." panggil Jihan sambil makan.
"Hem.." Kata Gibran.
"Sepertinya aku mulai menyukaimu." Kata Jihan kemudian tersenyum.
Gibran meletakan makanannya diatas meja kemudian menatap Jihan. "Benarkah, Ji?" Tanya Gibran tak percaya.
"Tiba tiba saja hari ini aku banyak memikirkanmu, tersenyum setiap apa yang kamu lakukan padaku, tiba tiba saja aku ingin menemuimu kesini dan membawakanmu makan siang." Kata Jihan, "Apa hal seperti itu sudah bisa dibilang menyukaimu, Gab?" Tanya Jihan.
Gibran menarik sudut bibirnya tanda tersenyum, "Trimakasih sudah memikirkanku hari ini, Ji." Katanya, "Dan trimakasih untuk makan siangnya." Katanya lagi.
Mereka melanjutkan makan siang dengan hati yang gembira, terutama Gibran yang slalu tersenyum menanggapi apapun yang diceritakan oleh Jihan.
Ceklekk..
"Gib..." Seorang wanita masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu dan memanggil nama Gibran.
Gibran dan Jihan melihat kearah pintu yang terbuka, Jihan mengenali siapa wanita itu, dia adalah Rosa, teman yang tidak menganggapnya selama di SD dulu. Namun Rosa tidak mengenali Jihan karna Jihan kini menjadi wanita yang sangat cantik dan berkelas.
Rosa melihat tidak suka kearah Jihan meski ia tidak mengenali Jihan, lalu berjalan ke arah Gibran dan duduk menempel layaknya cicak.
Jihan hanya bersikap acuh, sementara Gibran melepaskan lengannya yang dipegang oleh Rosa.
__ADS_1
"Kenapa kau disini?" Tanya Gibran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...