
"Al.." Panggil Gibran saat melihat Alika akan memasuki lift.
Alika menoleh dan menyapa Gibran. "Hai, Mas."
"Sudah mau pulang?" Tanya Gibran.
"Ini sudah jam empat sore, aku mau mampir ke butik, fitting baju untuk resepsi pernikahan Kak Jihan dan Kak Alaska." Jawab Alika.
Gibran mengangguk. "Aku ikut deh, aku juga belum ada baju untuk keacara resepsi Jihan."
Alika langsung tersenyum, ia mengangguk cepat tanda memberi persetujuan.
"Mobilmu tinggal dikantor saja, besok pagi aku akan menjemputmu sekalian." Kata Gibran dan lagi Alika merasa senang karna esok hari, Gibran akan menjemputnya.
Alika mencoba gaun yang sudah didesain oleh perancang ternama, "Ininya kurang ketat." Kata Alika pada desainer sambil menunjukan bagian pinggulnya yang masih terasa longgar.
"Oke, nanti kita perbaiki." Ucapnya.
"Tapi model ini cocokkan untukku?" Tanya Alika.
"Cocok sekali." Bukan desainer yang menjawab melainkan Gibran.
Gibran mulai terpesona dengan Alika, apapun yang Alika pakai terlihat slalu cocok dan pantas.
"Serius cocok, Mas?" Tanya Alika.
Gibran mengangguk, "Sangat cocok untukmu."
"Tolong pilihkan saya setelan yang cocok dengan gaun yang dipakai Alika." Kata Gibran pada desainer.
"Tentu saja, Tuan. Asisten saya akan mengukur anda dulu." Ucap desainer kemudian memanggilkan asistennya.
"Couple?" Tanya Alika.
Gibran mengerdikan bahunya, "Hanya ingin terlihat memiliki pasangan." Jawabnya tertawa pelan.
"Ishh, dasar kamu, Mas." Kata Alika dengan tersenyum.
Semakin hari, hubungan Alika dan Gibran semakin dekat. Gosip di perusahaan milik Gibran pun tersebar, jika Alika mempunya affair dengan bos mereka.
Gibran pun mendengar kabar itu dan tidak mencoba untuk menampiknya. Baginya selama tidak ada yang dirugikan, itu bukan sebuah masalah.
Gibran mengantar Alika pulang kerumahnya, tentu saja Aldrich sangat senang melihat Alika yang semakin dekat dengan Gibran. Aldrich mengajak Gibran untuk makan malam bersama dan Gibran tidak menolaknya.
"Kalian semakin dekat." Kata Jihan pada Gibran saat mereka sedang berdua diruang tamu.
"Sangat jelas terlihat, ya?" Tanya Gibran balik.
Jihan mengangguk, "Kau mulai menyukai Alika?" Tanya Jihan.
__ADS_1
Gibran tampak berpikir, "Tidak sulit untuk menyukainya." Jawabnya, "Hanya saja...." Gibran tidak melanjutkan ucapannya.
Jihan tersenyum mengerti, Gibran tidak percaya diri bersanding dengan keturunan Dewantara, "Kenapa tidak menyatakan cinta pada Alika?" Tanya Jihan.
Gibran tertawa, "Tidak perlu terburu buru. Aku masih nyaman seperti ini dengan Alika, sampai benar benar yakin jika hati aku juga maunya Alika."
Jihan mengangguk paham, "Bukan karna tidak percaya diri kan?" Tebaknya.
"Aku hanya ingin memantaskan diriku dulu, Ji." Jawab Gibran yang memang terlihat tidak percaya diri.
"Kau tidak sedang dekat dengan wanita lain, Gab?" Tanyanya menyelidik. "Alika adalah adikku juga, aku tidak ingin kau memberi harapan palsu untuknya."
"Apa menurutmu aku orang yang seperti itu, Ji?" Tanya Gibran balik. "Dua adikku juga perempuan, Ji. Tidak mungkin aku mempermainkan seorang wanita."
Jihan mengangguk, "Aku percaya padamu, Gab."
"Awalnya aku mencoba membatasi diri dengan Alika, ternyata Alika wanita yang bisa menempatkan posisi, dimana urusan pribadi dan urusan pekerjaan. Aku dibuat nyaman olehnya, Ji." Kata Gibran.
"Ya, Alika memang gadis yang unik. Terkadang ia terlihat begitu mengejar, tapi ada kalanya ia terlihat ingin dikejar." Jawab Jihan.
Gibran mengangguk setuju.
**
Jove menangis saat haus ditengah malam, Alaska dengan begitu siaga bangun lalu menggendong Jove, Alaska juga menghangatkan asi yang sudah dibekukan. Sambil menghangatkan asi, Alaska menggendong dan mengajak bicara Jove. Sudah hampir sebulan ini Alaska melakukan hal ini, ia menepati janjinya untuk menebus kesalahannya pada Jihan dan Jove dengan bangun setiap malam dan memberikan asi pada Jove.
"Sayang, tidurlah lagi. Biar Jove sama aku." kata Alaska.
Jihan tersenyum, Alaska benar benar bertanggung jawab pada dirinya dan juga Jove. Bukan hanya tanggung jawab, melainkan juga menjadi Daddy siaga untuk Jove.
Jihan bangun dari tempat tidur dan memeluk Alaska dari samping yang berdiri dengan menggendong Jove. "Terimakasih." Ucap Jihan.
Alaska tersenyum, ia mengecup puncak kepala Jihan dengan begitu sayang.
Akhirnya, hari resepsi pernikahan Jihan dan Alaska digelar secara besar besaran di salah satu hotel unggulan milik keluarga Davan. Putra mahkota keluarga Dewantara bersanding dengan putri tercinta Davanka Fadhillah Latif pemilik Grand Royal Hotel dan Resort diberbagai pulau dan negara Asia.
Alaska terus saja mengembangkan senyumnya sambil menyambut ucapan selamat dari para tamu, terlihat wajah gembira diwajah Alaska.
"Tidak menyesal?" Tanya Alika pada Gibran.
Gibran menoleh kearah Alika, "Menyesal untuk apa?" Tanyanya.
"Karna telah merelakan kak Jihan untuk Kak Alaska." Ucap Alika.
Gibran menghela nafas, "Tidak ada penyesalan, takdir membawa Jihan berjodoh dengan Alaska. Ada Jove diantara mereka, dan Jove berhak mendapatkan keluarga yang utuh." Jawab Gibran bijaksana.
Alika tersenyum, "Tidak salah aku mengejar pria baik sepertimu, Mas."
"Jadi kau masih mengejarku?" Tanya Gibran.
__ADS_1
Alika mengangguk, "Mas nya saja yang tidak peka."
Gibran tertawa, ia sungguh merasa lucu pada Alika, bukan hanya lucu, Gibran merasa gemas pada Alika dan rasanya ingin sekali memeluk Alika, hanya saja Gibran masih menahan diri.
Pesta resepsi meriah itu akhirnya berakhir, Jihan beristirahat dikamar teratas, dimana hanya pemilik hotel yang bisa menikmati lantai berisikan kamar mewah itu.
Jangan ditanya dimana Jove, Jove berada bersama Billa karna hampir satu bulan ini Billa tak bertemu dengan Jove karna sibuk mengurus resepsi pernikahan Jihan dan selang sstu bulan lagi resepsi pernikahan Jidan pun akan digelar di hotel yang sama.
Jihan membuka kopernya, ia mengambil sesuatu yang tlah ia siapkan jauh jauh hari. Jihan sudah yakin akan menjalani rumah tangga yang sesungguhnya dengan Alaska.
Sementara itu Alaska tengah menghela nafas berkali kali, didalam kamar mandi, ia merasa tidak bersemangat karna berpikir masih belum bisa menyentuh Jihan.
Alaska pun tengah malu karna perbuatan dirinya saat hilang ingatan begitu membenci Jihan.
"Aku sudah meminta maaf berkali kali, bahkan sering. Tapi kenapa perasaan bersalah itu tidak hilang." Gumam Alaska didepan cermin kamar mandi.
Jihan merasa heran, mengapa Alaska begitu lama sekali dikamar mandi. Sudah hampir satu jam dan Alaska belum juga keluar dari dalam kamar mandi.
Jihan ingin mengetuk pintu kamar mandi, namun pintu kamar mandi terbuka dan memperlihatkan dada bidang milik Alaska.
"Kak, maaf." Kata Jihan.
Alaska tersenyum, "Kamu sudah gerah ya, ingin mandi?" Tanya Alaska.
Jihan mengangguk. Alaska melihat satu tangan Jihan kebelakang seperti menyembunyikan sesuatu, Alaska beranggapan jika Jihan tengan menyembunyikan pembalut miliknya.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat di bathtub." Kata Alaska dan Jihan segera melangkah masuk dan menutup pintu dengan rapat.
"Koq jadi deg degan ya?" Gumam Jihan saat merendamkan dirinya didalam bathtub.
Jihan memandangi sebuah lingerie yang ia gantung didalam kamar mandi. "Pantes gak ya aku pakai itu? Kak Al suka gak ya aku pakai itu?" Tanyanya pada diri sendiri.
Setelah merasa cukup rileks, Jihan membilas tubuhnya dengan shower, ia juga mengeringkan rambutnya didalam kamar mandi menggunakan hair dryer yang tersedia.
Perlahan Jihan membuka bath trubnya dan menggantinya dengan lingerie yang tadi ia persiapkan.
"Oh my God, aku terlihat seperti wanita nakal, Kak Al pasti memandang rendah aku." Gumamnya kemudian hendak menggantinya kembali dengan baju tidur namun Jihan urungkan. Jihan berpikir kembali dan mengingat jika malam ini adalah malam pengantin mereka.
"Aku harus tetap seperti ini, aku kan hanya berpenampilan seksi didepan Kak Al saja." katanya sedikit meyakinkan dirinya sendiri.
Jihan pun memakai parfum beraroma lembut namun dapat membangkitkan gairah Alaska.
"Semoga malam ini menjadi malam indah, tidak ada kata menyakitkan yang keluar dari mulut Kak Al." Doanya dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kasih aku hadiah kopi dong, dikasih plus plus nih di bab selanjutnya, dan ini bener minggu terakhir novel ini terbit lho..
yg blm ksh vote dan masih punya jatah vote, bolehlah kasih ke novelku ini.. 😁😁
__ADS_1