BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 29


__ADS_3

"Ayo, Ra." Ajak Joni.


"Tapi Pak, saya takut." Kata Clara.


"Ayo, Ra. Siapa tau nanti Bos berubah pikiran." Ajak Joni lagi.


Clara mau tak mau berdiri dan mengekori Joni.


Ceklekk.


Joni membuka pintu ruangan Aldrich, Clara merasakan aura mencekam didalam ruangan bosnya itu.


Clara hanya menunduk saat berjalan, ia berhenti tepat dibelakang Joni.


"Bos, sekertaris anda ada disini." Kata Joni tanpa menyebutkan nama Clara.


"Ini dokumen yang anda cari." Kata Joni sambil meletakan map yang sedari tadi ia bawa.


"Siapa namamu?" Tanya Aldrich dingin sambil membuka map yang tadi diberikan Joni tanpa melihat kearah Clara.


Seketika Clara mematung karna merasa familiar dengan suara bos nya itu.


Rasa penasaran yang tinggi membuat Clara ingin sedikit melihat lebih jelas wajah bosnya yang sedikit tertutup map.


"Al..." Gumam Clara yang terdengar oleh Joni dan Aldrich.


Aldrich tak kalah terkejutnya, ia membeku dengan kedua tangan yang memegang map. Aldrich pun mengenali suara itu.


Clara berjalan perlahan melewati Joni untuk lebih dekat melihat siapa pemilik suara yang slama ini ia cari itu, tak perduli jika Clara disebut lancang lalu dipecat, sungguh ia hanya sangat penasaran dengan pemilik suara itu.


"Aldi.." Panggil Clara lirih.


Aldrich meletakan mapnya dan matanya tertuju pada wajah cantik Clara.


"Ra.. Kamu, ini beneran kamu?" Tanya Aldrich lalu berdiri dari kursinya.


Lama mereka saling menatap, melihat wajah dengan seksama hingga Clara tersadarkan.


"Maaf.. Sepertinya saya terlalu lancang." Kata Clara menahan suara yang sedikit bergetar.


Aldrich pun tersadar, jika dirinya kini dengan status aslinya, bukan sedang menjadi Aldi, teman baiknya Clara.


Aldrich menatap tajam pada sang asisten, Joni. Sementara yang ditatapnya hanya menunduk.


"Ra..." panggil Aldrich sambil menghampiri Clara.


"Ra... Clara.." Panggil Aldrich lagi.


Clara mengangkat wajahnya melihat wajah Aldrich dengan penampilan yang berbeda. Bukan safari khas seragam supir yang dipakainya melainkan jas mahal yang membalut tubuhnya.

__ADS_1


"Al.. Bagaimana bisa kamu... Dan ini..." Kata Clara menggantung ucapannya.


"Al, Pak Joni ini majikan kamu kan? Kenapa sekarang Pak Joni jadi asistenmu?" Tanya Clara.


"Kamu seorang CEO? Lalu mengapa bisa waktu itu menjadi supir di Erlasha?" Tanya Clara yang tak dapat membendung rasa penasarannya lagi.


"Ra.. Kita duduk ya, kita bicara dulu." Ajak Aldrich.


"Maaf Al, pekerjaanku belum selesai dan ini masih di jam kerja." Kata Clara pada akhirnya.


Aldrich meraih pergelangan tangan Clara dan mendudukannya di sofa.


"Al..."


"Aku akan ceritakan semuanya, Ra." Kata Aldrich.


Aldrich melihat pergelangan tangannya, dilihatnya jam sudah memasuki jam makan siang. Lalu Aldrich melihat kearah Joni. "Joni, bilang ke sekertarisku untuk membelikan kami makan siang." Kata Aldrich pada Joni.


"Maaf Bos, sekertaris anda sekarang ada didepan anda." Kata Joni.


Aldrich menghela nafas. "Maksudku Rissa, Jon."


"Maaf lagi, Bos. Rissa sudah pindah jadi tim sekertaris Tuan besar." Jawab Joni.


"Kalau begitu kamu saja yang belikan, Jon!!" Kata Aldrich kesal karna Joni slalu saja bisa menjawabnya.


"Cukup, Al. Aku kesini karna kata Joni kamu mencariku, dan kamu marah karna dokumen itu. Joni bilang kamu akan memecatku, silahkan pecat aku, aku mau pulang." Kata Clara.


"Maaf Bos, saya keluar dulu." Joni dengan tergesa gesa keluar dari ruangan Aldrich, ia memilih nenghindar namun hatinya seolah tertawa puas.


Aldrich duduk didepan Clara. "Ra.."


"Joni bukan majikanmu, dan...." Clara diam, "Hah sudahlah, Al." Kata Clara seperti sudah malas.


"Aku mengejarmu ke Erlasha, Ra." Kata Aldrich pada akhirnya. "Aku terpesona dengan kebaikanmu saat kita bertemu di Bandung." Kata Aldrich lagi.


"Al.." Panggil Clara, tatapan Clara mengisyaratkan untuk meminta penjelasan lebih rinci saat ini juga.


"Aku pernah salah dan jatuh oleh seorang wanita, Ra. Tapi saat bertemu denganmu aku melupakan semua luka itu. Aku menyukai ketulusanmu yang membantuku membayarkan secangkir kopi, padahal saat itu kamu tidak mengenalku. Aku menyukai kesederhaanmu dan begitu nyaman bersamamu namun aku takut jatuh untuk kedua kalinya. Karna itu aku menyamar sebagai seorang supir di Erlasha demi bisa dekat dan mengenalmu lebih dalam. Sampai akhirnya aku tau statusmu, aku memutuskan mundur perlahan karna tidak ingin masuk terlalu dalam."Jelas Aldrich pada akhirnya.


Clara terdiam mencoba mencerna semua perkataan Aldrich. Tidak ada hal yang merugikan dirinya, hanya saja Clara merasa kehilang sosok seorang teman, kini setelah ia tau status Aldrich yang sebenarnya ada rasa canggung yang hinggap didirinya.


"Ra..." Panggil Aldrich lagi, karna sedari tadi Clara hanya diam saja.


Clara tersenyum samar, ia mengangguk. "Kita bukan teman lagi sekarang, Al. Hubungan kita hanya sebatas atasan dan bawahan saja."


"Tidak, Ra. Kita tetap teman." Kata Aldrich cepat.


"Al, jangan merubah apapun, jangan melewati batas apapun. Saat ini kita hanya sebatas atasan dan bawahan. Kamu Bos aku, dan aku sekertarismu. Setidaknya sampai kontrakku berakhir." Clara berdiri, ia ingin melangkahkan kakinya, namun sebelum itu ia kembali berbicara. "Maaf jika ada pekerjaanku yang tidak sempurna. Jika kamu ingin menggantiku dengan orang lain, dengan senang hati aku menerimanya." Clara melangkahkan kakinya keluar.

__ADS_1


Aldrich masih duduk dan menggusar rambutnya kebelakang. Ia tak menyangka bisa bertemu Clara dengan keadaan seperti ini dan tanpa persiapan apapun.


Tiba tiba Aldrich mengingat Joni, ia langsung mendial nomor ponsel Joni untuk segera datang keruangannya.


Joni pun sudah mempersiapkan hal itu, ia sudah mempersiapkan kemarahan sang bos nya.


Joni berjalan melewati meja Clara, "Clara." Panggil Joni.


"Mengapa bapak tidak bilang pada saya, Pak?" Tanya Clara.


"Maaf, Clara." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Joni.


"Bisakan saya mengundurkan diri dari perusahaan, Pak?" Tanya Clara penuh harap.


"Maaf Clara, kamu sudah terikat kontrak." Jawab Joni.


"Tidak bisakah saya dipindahkan kebagian lain?" Tanya Clara lagi.


Joni hanya diam, "Maaf saya masuk dulu." Kata Joni yang kini menjadi sedikit sopan.


Clara menghela nafas dan duduk kembali, entah apa yang ia khawatirkan. Hanya saja kini perasaanya tak menentu.


Sementara diruangan Aldrich.


"Sejak kapan Clara bekerja disini?" Tanya Aldrich dengan tatapan menghujam.


"Sebulan yang lalu, Tuan." Jawab Joni.


"Siapa yang membawanya kesini?" Tanya Aldrich lagi.


"Maaf tuan, Nona Clara melamar sendiri kesini via email. Itu saja yang saya temukan." Jawab Joni.


"Lalu mengapa kau tak memberitahuku, Jon?" Kesal Aldrich.


"Maaf Tuan. Saya bingung harus menceritakannya dari mana." Jawab Joni lagi.


"Siapa yang menempatkannya untuk jadi sekertarisku?" Tanya Aldrich lagi.


"Saya tuan. Tapi jika tuan tidak mau menerimanya, saya akan pindahkan Nona Clara untuk menjadi sekertaris direktur pemasaran saja, Biar Yuni yang menjadi sekertaris anda." Jawab Joni yang memang sudah menyiapkan jawaban jawaban itu jauh jauh hari.


Aldrich memijat pelipisnya. "Harusnya kau bilang padaku dulu, Jon."


"Maaf tuan, saya hanya tidak ingin tuan terus membohongi Nona Clara, percayalah jika Nona Clara memang berbeda dengan wanita lain." Kata Joni.


"Tapi dia istri orang, Jon." Aldrich mendessaahh kasar.


Joni menahan tawanya, sesuai intruksi dari Fariz, Joni harus tetap merahasiakan status Clara, demi melihat sejauh mana kesungguhan Aldrich.


"Memang kalau Nona Clara bukan lagi istri orang, Bos masih mau menngejar Nona Clara lagi?" Tanya Joni membuat Aldrich kembali menatap tajam kearah dirinya.

__ADS_1


"Salah lagi gue." Batin Joni.


***


__ADS_2