
Davan menggendong Jidan untuk menenangkannya, Pria kecil yang biasanya terlihat dewasa mendadak menjadi seperti anak kucing yang manja.
"Jihan akan baik baik saja." Kata Davan menenangkan Jidan.
"Aku tidak bisa menjaga Jihan dengan baik." Lirih Jidan.
"Tidak, kau sudah sangat baik menjaga adikmu. Selanjutnya, Ayah yang akan menjaga kalian." Kata Davan.
"Termasuk menjaga Ibu?" Tanya Jidan.
"Termasuk dengan Ibu." Jawab Davan yakin.
Jidan kembali memeluk Davan dengan melingkarkan lengannya di leher Davan. "Jangan pergi lagi, Yah. Kami membutuhkanmu." Kata Jidan.
Davan mengusap punggung Jidan. "Ayah janji tidak akan lagi membiarkan kalian menderita, Ayah akan membahagiakan kalian." Ucap Davan sambil sesekali mengecup kepala Jidan.
Lampu ruangan operasi tlah dipadamkan, Davan dan Billa segera mendekat kearah pintu saat dokter keluar dari ruangan operasi.
"Bagaiman keadaan putriku, Dok?" Tanya Davan.
"Operasi berhasil, Tinggal menunggu stabil dan akan dipindahkan kedalam ruang perawatan." Jawab Dokter.
Davan menghela nafas sambil memejamkan matanya, hatinya terus mengucap syukur, Tuhan masih berbaik hati memberinya satu kesempatan terakhir untuk menjadi Ayah yang hebat bagi Jidan dan Jihan. Davan berjanji dalam hatinya, tidak akan lagi menyinyiakan kesempatan ini.
Davan menempatkan putri tersayangnya diruangan eksekutif. Ruangan ternyaman di rumah sakit terbaik dikota ini. Ia juga mendekor ruangan itu dengan balon dan boneka teddy bear berwarna pink.
"Kamar Jihan bagus sekali, pasti Jihan akan cepat sembuh." Kata Jidan.
"Ayah juga akan membuatkan kamar yang bagus untukmu, Jid." Ucap Davan.
"Ada banyak mainan didalamnya?" Tanya Jidan penuh harap.
"Tentu saja, Kita akan mengisi kamar mu nanti dengan banyak mainan." Ucap Davan.
Aldrich berpamitan pulang setelah Jihan dipindahkan kekamar perawatan, Davan pun meghubungi Ghea dan menceritakan semuanya, ia berjanji jika kondisi Jihan sudah membaik, makan akan segera membawanya pulang ke Jakarta.
Davan meminta orang kepercayaannya di kota ini untuk membelikan pakaian ganti untuk Jidan dan Jihan.
"Ganti pakaianmu." Kata Davan pada Jidan.
Jidan melihat pakaiannya yang berlumuran darah Jihan yang sudah mengering.
__ADS_1
"Aku dan Jihan mengejar pencopet yang mengambil uang milik kami." Kata Jidan tiba tiba.
Sedari tadi, Jidan tidak mau bercerita soal kejadian yang membuatnya ketakutan setengah mati.
"Pulang sekolah tadi, kami berencana membelikan baju untuk Ayah, sebagai tanda kenang kenangan karna kami berpikir Ayah datang kerumah kami untuk berpamitan." Kata Jidan lagi.
"Copet itu merampas uang kami, aku mengejarnya, Jihan juga ikut berlari, tapi aku tidak tau mengapa Jihan turun ke jalan hingga terserempet motor dan terjatuh." Kata Jidan lagi.
Davan langsung memeluk Jidan, "Maafkan Ayah, Nak. Ayah memang akan kerumah kalian, namun bukan untuk berpamitan, melainkan untuk menjemput kalian." Kata Davan.
Billa terharu melihat kesungguhan Davan, ia baru mengetahui semuanya tentang Jidan dan Jihan yang menjadi pemandu wisata Davan selama dikota ini.
Billa mengingat saat dirinya masih dibangku SMA, saat itu Davan memodusinya seperti itu, bekerja dan digaji padahal Billa tidak melakukan apapun kecuali hanya belajar. Dan kini Davan melakukan hal yang sama pada anak anak mereka.
Davan membantu Jidan membersihkan tubuh putranya itu, rasanya ia begitu takjub melihat diri Jidan yang ternyata darah dagingnya.
"Ayah terlalu banyak melewatkan waktu bersamamu." Kata Davan sambil menyeka tubuh Jidan.
"Yah, apa kita nanti akan berenang bersama?" Tanya Jidan.
"Kau ingin berenang?" Tanya Davan balik.
Jidan mengangguk, "Aku sering mendengar teman temanku bercerita tentang mereka yang diajari berenang oleh Ayahnya. Mereka juga sering bermain bola bersama Ayahnya."
"Ayah akan membelikanku sepedah?" Tanya Jidan tak percaya.
"Tentu saja, bahkan Ayah akan membelikan kalian mobil untuk pulang dan pergi sekolah." Kata Davan.
"Waahhh itu keren sekali, Yah." Seru Jidan.
"Jihan pasti akan suka jika tau ini." Katanya lagi.
Davan menggendong Jidan dan keluar dari kamar mandi, Billa langsung meoleh kearah Davan yang seolah tak mau menurunkan Jidan.
Davan mendudukan Jidan disofa bersama Billa. "Makanlah, kalian pasti belum makan." Kata Davan sambil membuka paperbag berisikan makanan cepat saji ala bento.
"Makanlah." Kata Davan pada Billa.
"Terimakasih." Ucap Billa.
Davan begitu telaten menyuapi Jidan, sesekali tersenyum dan menanggapi cerita Jidan yang ingin sekali masuk ke ekskul futsal. Davan berjanji akan membelikan sepatu futsal yang bagus untuk Jidan.
__ADS_1
Setelah makan, Jidan tertidur dipangkuan Davan, kemudian Davan memindahkannya di tempat tidur untuk penunggu passien dan kembali duduk disofa bersama Billa.
"Jidan berubah menjadi manja sekali padamu." Kata Billa yang kini mulai bisa diajak bicara.
"Tentu saja, aku adalah ayahnya. Aku akan memanjakannya." Jawab davan.
"Istirahatlah, Dear. Kau pasti juga lelah. Biar aku yang menjaga Jihan." Kata Davan.
"Tidak, aku saja yang menjaga Jihan." Jawab Billa.
Davan menggenggam tangan Billa, "Maafkan aku."
"Waktu itu, aku tidak bermaksud bicara seperti itu. Aku mencintaimu, namun aku juga menyayangi keluargaku. Aku berada ditengah tengah hingga aku...."
"Memilih melepaskanku." Jawab billa cepat.
Davan menggelengkan kepalanya, "Tidak, tidak seperti itu."
"Tapi itu yang aku dengar." Kata Billa sendu.
"Saat itu aku sedang hamil, Merasakan tubuhku yang menjadi lemah karna kehamilanku, aku butuh perhatianmu, namun tiba tiba saja kamu mendiamiku, mematikan ponselmu dan tak memberi kabar padaku." Billa menghembuskan nafas kasarnya diselingi air mata yang berdesakan meluncur dipipinya.
"Maaf." Lirih Davan.
"Kamu tau? Hatiku sakit sekali, kamu berpikir untuk melepaskanku tanpa memikirkan perasaanku sedikitpun." Billa mulai menceritakan isi hatinya saat itu.
"Kamu bisa memahami perasaan orang tuamu, tapi mengapa tidak bisa sedikit saja menjaga perasaanku. Bukan mau ku terlahir dari wanita yang pernah menyakiti orang tuamu, tapi itu memang takdirku. Apa aku tetap harus di salahkan? Adilkah untukku?" Billa menatap mata Davan.
"Saat itu aku hanya butuh waktu." Kata Davan membela diri.
"Waktu yang kamu pakai untuk merenung pada akhirnya membuatku mengalah dan pergi dengan membawa janin yang ada didalam kandunganku."
"Maaf..." Entah keberapa kalinya, Davan mengucapkan kata maaf.
"Kamu tidak tau takutnya aku saat pergi seperti apa, tidak memiliki tempat tinggal, tidak memiliki keluarga maupun teman. Dan kamu tidak tau perasaanku saat aku mengetahui ada dua bayi didalam kandunganku, itu semua berat, Mas. Sangat berat untukku." Billa menangis.
"Bahkan disaat aku harus melakukan operasi, aku bersikeras untuk melahirkan normal meski membahayakan nyawaku, karna apa? Karna aku tidak memiliki uang untuk operasi, aku juga tidak memiliki keluarga sebagai penjamin, dan jika dioperasi, siapa yang akan mengurus kami? Bahkan sebagian perlengkapan baju Jidan dan jihan pun, mereka memakai pakaian bekas dari tetangga yang bermurah hati padaku." Billa meraung mengeluarkan sesak didadanya yang ia tahan selama lebih dari delapan tahun.
"Kamu jahat, Mas. Kamu tega sekali padaku, aku tidak bersalah tapi kamu menghukumku seolah aku juga ikut salah atas apa yang ibuku perbuat pada keluargamu." Billa memukul dada Davan.
"Aku menyesal, dan selama lebih dari delapan tahun ini hidupku dipenuhi penyesalan, tolong, maafkanlah kesalahanku, berikan aku satu kali lagi kesempatan. Aku akan menebusnya." Ucap Davan dengan derai air mata.
__ADS_1
"Aku sudah meminta maaf pada Mama atas kesalahan Ibumu, aku bilang pada Mama agar tak melibatkanmu, dan ternyata Mama dan Papa sudah memafkan kesalahan Ibumu demi meringankan bebannya. Maafkan aku yang telat memperjuangkanmu, aku mohon maafkan aku." Kata Davan lagi penuh dengan penyesalan, Bahkan Davan kini berlutut didepan Billa seakan memohon pengampunan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...