
Jidan menghentikan langkahnya, tanpa menoleh ia berkata. "Berani kau menyakiti saudariku sedikit saja, aku tidak akan segan untuk menghancurkanmu, Al." Ucap Jidan lalu beranjak menuju ruangan Aldrich.
Alaska yang tak mengertipun langsung menyusul Jidan keruangan Aldrich.
"Apa yang harus aku lakukan untuk melepaskan Jihan dari perjodohan ini?" Tanya Jidan pada Aldrich tanpa basa basi.
Aldrich mengerti apa maksud Jidan.
"Jid, Daddy akan menjelaskan semuanya." kata Aldrich.
"Tidak perlu!!" Kata Jidan tegas. "Selain Jihan, apa yang bisa aku lakukan agar anda bisa melepas Jihan dan tak menganggapnya berhutang budi karna tlah menemukan kami dan membawa Ayah pada kami?"
Aldrich melihat kilatan marah di mata Jidan, percis seperti melihat Davan jika sedang marah.
"Ini demi kebaikan Jihan, Jid." Kata Aldrich.
"Kebaikan Jihan atau kebaikan anda?" Tanya Jidan balik.
Aldrich benar benar merasakan kemarahan di diri Jidan, terbukti dengan Jidan tidak memanggilnya Daddy dan menggunakan kata kata Anda kepada Aldrich.
"Jid, kau sedang emosi, kita bicarakan ini baik baik." Bujuk Aldrich.
Jidan hanya bergeming, ia sudah menahan dan menekan semua emosinya.
"Kami tidak minta ditemukan, meski kami berharap bisa bertemu dengan Ayah kami. Tapi jika kami tau pertemuan kami dengan Ayah kami membuat masa depan Jihan hancur, lebih baik kami tidak pernah bertemu dengan Ayah." Jidan menghela nafasnya.
"Lepaskan Jihan, aku akan melakukan apapun untuk itu." Jawab Jidan tegas.
"Jid, Daddy menyayangi Jihan, Daddy ingin menjadikan Jihan anak Daddy juga." kata Aldrich pada akhirnya.
"Alaska sudah memiliki kekasih, nikahkan saja Alaska dengan kekasihnya. Apa Anda tidak berpikir, jika Alaska dan Jihan menikah mereka akan menyakiti satu sama lain, dan disini Jihan lah yang dikorbankan." Kata Jidan penuh penegasan.
"Daddy tidak akan membuat hal itu terjadi, Daddy akan mencoba membuat Alaska membahagiakan Jihan." Kata Aldrich meyakinkan.
"Hidup Jihan bukan untuk dicoba coba, bagaimana jika itu terjadi pada salah satu putri anda?" Balas Jidan. "Atau nikahkan saja salah satu putri anda denganku, terserah itu Alika atau Alfiqa, asal jangan Alaska dengan Jihan." Kata Jidan penuh penekanan.
"Jid, tidak seperti itu. Ini...."
"Tidak seperti itu, apa?" Potong Jidan cepat. "Bahkan anda sendiri tidak mau kan melepas salah satu putri anda untuk menikah tanpa cinta. Lalu mengapa anda meminta Jihan?" Jidan meninggikan nada suaranya.
"Jid..." Panggil Alaska yang sedari tadi hanya mendengar perdebatan itu dari celah pintu.
Jidan menatap sengit Alaska. "Katakan pada Daddymu, kembalikan saja aku, Jihan dan Ibuku ketempat kami semula, dan jauhkan Ayah kami dari kami bertiga. Aku menolak keras perjodohan ini."
__ADS_1
"Jid, Daddy tidak bermaksud seperti itu." Kata Aldrich berusaha meyakini Jidan.
"Lepaskan Jihan. Jika anda menginginkan dua keluarga jadi satu, aku saja yang akan menikah dengan salah satu putri anda." Kata Jidan.
"Aku akan menikah dengan Jihan, Jid." Kata Alaska pada akhirnya.
Jidan menatap sinis Alaska. "Kau sudah ada Rania, jangan berani beraninya menyakiti hati Jihan dengan mau menikahi Jihan."
"Aku sudah tidak berkomunikasi dengan Rania." Kata Alaska, entah mengapa Alaska mengelaknya. "Aku akan nenikahi adikmu, Jid." Ucap Alaska serius.
Jidan tersenyum sinis, "Kau takut jika aku menikahi salah satu adikmu dan kau melihat adikmu tersakiti?" Tanya Jidan. "Itulah yang juga aku rasakan, Al. Aku takut melihat Jihan tersakiti."
Alaska hanya diam, ia tak menyangka jika Jidan mampu menebaknya.
"Ucapkanku tadi tidak main main. Berani kau sakiti saudariku sedikit saja, aku akan menghancurkanmu, Al." Ucap Jidan lalu pergi meninggalkan ruangan Aldrich.
Alaska duduk dengan menggusar rambutnya sementara Aldrich duduk den menyandarkan kepalanya.
"Hentikan ini, Dad. Jangan memaksakan ini, Daddy hanya akan membuat dua keluarga menjadi hancur." Kata Alaska.
"Ini adalah permintaan Kakek Erick dan Nenek Diana, menjadikan satu keluarga." Ucap Aldrich.
"Mereka sudah tidak ada, Dad. Untuk apa memaksakan sesuatu yang tidak bisa bersatu." Kata Alaska frustasi.
"Kakekmu yang memintanya. Jangan menolaknya, dan lebih baik belajarlah mencintai Jihan, Daddy juga tidak mau mendengar nama wanita lain selain Jihan dihidupmu, Al." Kata Aldrich penuh penekanan.
Jidan menoleh dan menyipitkan matanya, seolah mengingat ingat siapa pria bertubuh tegap sepantaran dengan dirinya.
"Kau..." Kata Jidan ragu.
"Gibran." Gibran menjeda ucapannya, "Saudarimu biasa memanggilku Gab." Katanya sambil tertawa.
"Gibran? Kau disini?" Tanya Jidan tak percaya.
Gibran mengangguk, "Aku kesini untuk melihat Jihan." Kata Gibran.
"Kau tau Jihan disini?" Jidan menatap tak percaya.
"Tiga hari yang lalu kami dipertemukan dengan tidak sengaja, perusahaanku bekerjasama dengan perusahaan dimana Jihan bekerja." Ucap Gibran.
"Kalian tidak bertengkar?" Tanya Jidan.
Gibran tertawa, "Aku bukan lagi anak usil berusia delapan tahun, Jid." Kata Gibran.
__ADS_1
Jihan memang menghubungi Gibran sewaktu pulang dari bekerja, dan mereka intens berkirim pesan hingga tadi siang Gibran akan mengajak Jihan untuk makan siang bersama, namun Jihan memberitahunya jika kini dirinya tengah menjalankan perawatan di rumah sakit.
Dengan segera, Gibran mendatangi rumah sakit, namun dirinya melihat Jidan dan segera memanggilnya.
"Aku melebarakan sayap untuk membuka kantor di Jakarta, perusahaan travel milik orang tuaku sekarang aku yang memegangnya." Kata Gibran.
"Kau bisa bekerja sama dengan perusahaan Ayahku." Kata Jidan.
"Ya, Jihan bilang perusahaan Ayahmu di bidang hotel dan resort, bisa aku ajukan untuk kerjasama di travelku." Gibran menjeda kalimatnya. "Jid, maafkan aku yang dulu." Kata Gibran sambil mengulurkan tangannya.
Jidan tersenyum dan menyambut uluran tangan Gibran, "Sudahlah, dulu kita masih kecil, tidak tau apa yang kita perbuat."
"Kita sekarang teman?" Tanya Gibran memastikan.
"Ya, kita teman." Jawab Jidan dan kini mereka menuju lift untuk tiba dilantai teratas rumah sakit tempat dimana Jihan dirawat.
"Untuk apa kau membawa bunga, Gib. Jihan sakit harusnya membutuhkan buah, bukan bunga." Cibir Jidan.
Gibran tertawa, "Apa akan ada pria yang marah jika aku memberikan bunga pada Jihan, Jid?"
"Mungkin tidak, tapi aku jadi berpikir lain, jangan jangan kau ada maksud terselubung." Jawab Jidan.
Gibran pun kembali tertawa, "Kau berlebihan sekali, Jid. Aku hanya membawakannya bunga apa itu salah?"
Mereka tertawa bersama hingga tiba diruang perawatan Jihan.
"Sudah Yah, aku sudah kenyang." Kata Jihan menolak kembali suapan dari tangan Davan.
"Makanlah yang banyak, Ji. Karna bersedihpun harus memiliki tenaga." Jawab Jidan seolah menyindir Davan.
"Kau bersedih, princess?" Tanya Davan.
Jihan menatap tajam Jidan lalu menatap lembut pada Davan. "Tidak, Yah. Jidan hanya sedang menggodaku saja." Jawab Jihan.
Davan merasa ada yang tengah disembunyikan oleh Jidan dan Jihan, apalagi Davan merasa sikap Jidan kini agak dingin padanya.
"Gab, kau kesini? sudah bertemu dengan Jidan?" Tanya Jihan bertubi tubi.
"Satu satu nanyanya, Ji. Nanti Gibran shock kau berondong banyak pertanyaan." Ledek Jidan.
"Siapa dia, Ji?" Tanya Davan.
"Dia kekasih Jihan, Yah." Jawab jidan dan membuat Jihan juga Gibran saling mengernyitkan dahinya.
__ADS_1
"Kekasih?" Tanya Davan memastikan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...