
Billa merasa aneh, tapi inilah Davan, pria itu menyuruhnya belajar dan membayarnya.
Ini diluar ekspektasinya, apa yang ia dapatkan terasa seperti keberuntungan.
Davan mengantarkan Billa pulang saat sore jam kantor, sebelumnya ia membelokan mobilnya ketempat makanan cepat saji di jalur drive thrue. "Cheese burger satu, nasi ayam satu, mocca float satu." Ucap Davan pada mesin yang bersuara untuk memesan makanan.
Setelah selesai, Davan mengantarkan Billa hingga depan gang rumahnya.
"Besok langsung saja naik keruanganku." Kata Davan lalu memberikan bungkusan berisikan makanan berlogo kakek berjanggut pada Billa.
"Ini apa, Om?" Tanya Billa.
"Untuk makan malam kamu." Jawabnya.
"Tapi Om..."
"Kalau kamu tolak, kamu harus bayar makanan ini." Kata Davan.
"Makasih Om." Billa menerimanya.
"Dan satu lagi, Bill. Jangan panggil saya Om. Umur kita hanya beda delapan tahun." Ucap Davan.
Billa diam, dia bingung memikirkan harus memanggil Davan dengan panggilan apa.
"Dimana kontrakanmu?" Tanya Davan lagi.
Billa melihat kearah gangnya, "Masuk gang sini, terus belok kiri, ada lapangan. Nah kontrakanku percis didepan lapangan, cari aja kontrakan haji wahidin."
"Berapa biaya ngontrak disana?" Tanya Davan ingin tau.
"Lima ratus lima puluh ribu sebulan."
Davan mengernyitkan dahinya. "Sebesar apa kontrakannya?" Tanyanya.
"Kontrakan petakan, Om. Cuma ada kamar, dapur dan kamar mandi." Jawabnya.
Davan melihat kearah Billa, "Sejak kapan tinggal disitu?"
"Sejak masih ada Ibuku." Jawabnya lagi.
__ADS_1
"Tetanggamu berarti tau kalau ibumu..." Tanya Davan menggantung.
Billa mengangguk, "Mereka memandang sinis padaku, tapi aku cuek saja, karna aku tidak dihidupi oleh mereka." Jawab Billa.
"Kenapa masih bertahan disitu?" Tanya Davan semakin penasaran.
"Saat ini prioritasku hanya ingin menyelesaikan sekolahku dulu, dapat ijazah dan bekerja, lalu bisa mencari kontrakan lain dari gajiku nanti."
"Tidak ingin kuliah?" Davan memberanikan diri bertanya hal yang lebih.
Billa tersenyum getir, "Aku sangat ingin kuliah, meskipun ada jalur beasiswa. Namun aku tidak bisa kuliah karna aku juga harus memikirkan biaya ku sehari hari seperti makan dan juga tempat tinggal."
Entah mengapa Davan merasa menyesal bertanya soal itu, kini setelah Davan tau lebih dalam soal Billa, ia seolah semakin tidak bisa meninggalkan Billa sendirian. Entah itu perasaan apa, Davanpun belum menyadarinya.
Hari terus berganti, satu minggu sudah Billa belajar terus diperusahaan Davan.
"Ini gajimu." Kata Davan sambil memberikan uang satu juta rupiah pada Billa."
Billa menerimanya, "Ini bukan gajiku, Om." Kata Billa yang masih belum bisa merubah panggilannya itu. "Ini akan aku anggap sebagai pinjaman. Aku pasti akan mengganti semuanya Om." Kata Billa lagi.
"Kenapa kamu menganggap itu pinjaman?" Tanya Davan.
"Karna aku tidak bekerja apapun untuk anda, Om." Jawab Billa yang memang merasa seperti itu.
Billa merasa heran dan keheranannya itu tertangkap oleh Davan. "Jangan banyak berpikir macam macam. Kamu cukup belajar disini, dan jika kamu ingin menggantinya, cukup mendapatkan nilai yang tinggi." Kata Davan.
"Setelah lulus, boleh aku bekerja disini, Om?" Tanya Billa.
"Kemarin aku melihat iklan yang ditempel di pos satpam, ada lowongan sebagai resepsionist, bisakah menunggu dua bulan lagi sampai aku lulus, Om?" Tanya Billa.
Davan mengangguk, "Luluslah dengan baik, aku akan memberikanmu pekerjaan yang layak."
**
Chelsea tengah mencoba sebuah alat berbentuk pipih untuk mengetahui apa dirinya tengah hamil. Satu bulan setelah merayakan anniversary nya yang ke tiga, Chelsea merasa tubuhnya berbeda, ia merasa lebih malas dan agak sensitif, ditambah lagi bentuk dua buah dadanya yang terlihat lebih besar lagi.
Chelsea mememejamkan matanya saat mengangkat benda pipih yang bernamakan tespek itu, ia menahan nafasnya, Chelsea sudah sering megalami ini, ia juga sudah cukup sering mendapatkan kecewa, dan ketika kecewa itu datang slalu ada Zayn yang menguatkan. Tapi kali ini Chelsea mencobanya seorang diri, ia tidak ingin Zayn ikut kecewa dengannya meskipun Zayn tidak pernah menunjukan rasa kecewanya.
Perlahan mata Chelsea terbuka, ia segera membekap mulutnya sendiri saat melihat dua garis merah terpampang dengan sangat jelasnya. "Benarkah ini?" Tanyanya pada diri sendiri.
__ADS_1
Chelsea menangis dengan posisi duduk dilantai kamar mandi, ia tidak menyangka jika Allah memberi hadiah ulang tahun pernikahan yang ketiga berupa buah cintanya bersama Zayn.
Zayn yang baru saja pulang kerja merasa heran saat tidak mendapati Chelsea dikamarnya. Samar samar terdengar suara isakan dari dalam kamar mandi. Zayn segera mengetuk pintu kamar mandi namun tetap hanya suara isakan yang ia dengar. Zayn pun membuka pintu kamar mandi dan melihat Chelsea yang duduk dilantai kamar mandi sambil menangis, ia juga melihat tangan Chelsea tengah menggenggam alat test kehamilan.
"Sea..." Panggil Zayn lalu mendekat kearah istrinya itu Zayn mendekap Chelsea dengan kasih sayang, mengusap kepalanya dan menciumi puncak kepalanya.
"Tidak apa apa Sea, sungguh tidak apa apa. Kita harus kuat, seorang anak itu bukan kuasa kita Sea. Kita harus lebih banyak bersabar lagi." Kata kata Zayn yang slalu menguatkan Chelsea.
Chelsea mendongakan wajahnya melihat pada Zayn dan Zayn sedikit mengendurkan pelukannya. Zayn menghapus air mata yang membasahi pipi istrinya itu.
"Aku hamil, Kak." Ucap Chelsea pelan.
Zayn mengernyitkan dahinya dan Chelsea memberikan tespek itu pada Zayn. Zayn menerimanya dan seketika matanya mengembun.
"Sea, ini....." Kata Zayn yang tak sanggup meneruskan ucapannya.
Chelsea mengangguk, "Aku akan jadi seorang Mama, Kak." Chelsea masuk kembali kedalam pelukan Zayn.
Zayn mengangkat Chelsea untuk keluar dari kamar mandi dan mendudukannya disisi tempat tidur, sementara Zayn duduk dilantai dan meletakan kepalanya dipangkuan Chelsea.
"Terimakasih, Sea. Terimakasih sudah mau sabar bersamaku." Ucap Zayn lagi.
"Ini kayak mimpi, Kak." Ucap Chelsea sambil membelai kepala Zayn.
"Ini hadiah terindah di ulang tahun pernikahan kita, Sea."
Malam itu juga, Zayn membawa Chelsea untuk memeriksakan diri ke dokter. Mereka sepakat untuk tidak memberitahukannya pada keluarga besarnya sampai pemeriksaannya menyatakannya dirinya benar hamil.
"Enam minggu." Kata dokter wanita yang memeriksa kehamilan Chelsea.
"Apakah istri sy dan calon anak kami sehat, Dok?" Tanya Zayn antusias.
"Sehat, tensinya juga normal, hanya saja karna ini masih sangat muda, tolong dibatasi aktifitas seperti naik turun tangga dan angkat yang berat berat." Kata Dokter itu. "Dan batasi untuk hubungan suami istri sampai umur kehamilan cukup aman." Ucapnya lagi.
Zayn dan Chelsea terus mengulas senyum, Zayn meminta pada dokter untuk memberikan vitamin terbaik untuk istrinya itu.
"Sea, bagaimana jika kamu resign mengajar saja?" Tanya Zayn hati hati.
Chelsea tersenyum, "Itu sudah ada dalam pikiranku, Kak. Memang itu nadzar aku, jika aku hamil dan melahirkan, aku akan resign dari mengajar, dan aku cukup menjadi guru untuk anak anakku saja." Kata Chelsea yang sedari tadi tak hentinya mengusap perutnya yang masih rata.
__ADS_1
Zayn tersenyum, satu tangannya mengusap kepala Chelsea yang tertutup hijab, ia tidak menyangka jika Chelse mempunyai pikiran yang sama dengannya. Zayn semakin mencintai Chelsea, Chelsea yang slalu mengerti dirinya membuat Zayn tidak bisa berpaling darinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...